Jumat, 04 Mei 2012


MENGENANG PROF.DR.H.HADARI NAWAI
Oleh: HAMID DARMADI
Guru Besar Kopertis Wilayah XI Kalimantan DPK Pada STKIP-PGRI Pontianak

Tulisan mengenang Prof.DR.H.Hadari Nawawi ini saya buat dalam dua bagian yaitu; bagian pertama mengenang Prof.DR.H.Hadari Nawawi sebagai contoh teladan dan inspirasi pendidikan dan bagianj yang kedua mengenang Prof.DR.H.Hadari Nawawi sebagai ilmuan dan pendidik sejati.

A.   Mengenang Prof.DR.H.Hadari Nawawi Sebagai Contoh Teladan dan Inspirasi Pendidikan

Saya mulai mengenal Prof.DR.H.Hadari Nawawi tahun 1975. Ketika itu beliau menjadi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat. Beliau punya kebijakan untuk mengambil putra/putri lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dari 6 daerah Kabupaten/Kota yang ada di Kalimantan Barat ketika itu, yaitu: dari Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sambas, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang dan Kabupaten Ketapang masing-masing dua orang lulusan setiap Kabupaten/Kota, untuk ditempatkan (di tugaskan di Kota Pontianak). Lulusan SPG Kabupaten Kapuas Hulu tergabung dalam lulusan SPG Kabupaten Sintang, sehingga lulusan SPG Kabupaten Kapuas Hulu diwakili oleh lulusan SPG Kabupaten Sintang.

Ketika itu ada pengangkatan guru Inpres yang bertujuan untuk mengisi kekurangan guru Sekolah Dasar di seluruh wilayah Indonesia seperti Inpres Nomor 10 Tahun 1973 dan Inpres Nomor 6 Tahun 1974 dan sejumlah nomor Inpres lainnya. Saya tergabung dalam pengangkatan guru Inpres Nomor 6 Tahun 1974 mewakili Kabupaten Sintang yang ditugaskan di Kota Pontianak untuk di tempatkan pada Sekolah Dasar Negeri Nomor (SDN) 67 Kota Pontianak Barat.

Sebagai Guru Sekolah Dasar yang ditempatkan di Kota Pontianak kami diwajibkan oleh beliau (Prof.DR.H.Hadari Nawawi) untuk mengikuti pendidikan lanjutan atau kuliah. Sejumlah kawan kami yang berjumlah 12 orang tersebut langsung melanjutkan pendidikannya di FIP  Untan Pontianak, karena pada waktu itu FIP masih berada dalam keadaan transisi (FIP-IKIP Bandung Cabang Pontianak) yang akan segera bergabung dalam FKIP Untan, sementara saya dan beberapa rekan lainnya, menunda mengikuti kuliah pada tahun berikutnya. Sebagai putra daerah yang baru menginjakkan kaki ke kota Pontianak, saya sangat merasa asing, dan merasa kurang “pede”, sehingga tahun pertama datang ke Kota Pontianak saya belum masuk kuliah. Namun berkat arahan dan motivasi beliau yang sangat humanistis maka pada tahun kedua berada di Kota Pontianak, saya merasa terdorong untuk bangkit membenahi diri, mengisi segala kekurangan dan mengejar ketertinggalan melalui bangku kuliah sesuai dengan arahan beliau saya mengambil jurusan : Administrasi Pendidikan (AP)  

Kesan pertama yang saya rasakan sangat mendalam terhadap beliau adalah dimana ketika itu saya mendaftar menjadi calon mahasiswa Untan Pontianak ditolak oleh Panitia karena tidak menyertakan “Buku Raport” disamping persayaratan lainnya yang diperlukan untuk masuk suatu perguruan tinggi. Sementara “Buku Rapor” kami (saya) tidak dibagikan ketika menerima Ijazah kelulusan SPG Negeri Sintang tahun 1974. Harapan saya” pupus” dan bingung. Untuk mengambil “Buku Rapor” ke Sintang hampir tidak mungkin, karena eksis jalan Pontianak- Sintang dan Sintang-Pontianak ketika itu hanya menggunakan jalan air atau menumpang motor air (motor bandung) atau motor dagang (belum ada motor tambang) waktu itu, yang memakan waktu tidak kurang dari 5 sampai 7 hari sekali jalan, pulang-pergi berarti perlu waktu 10 sampai 14 hari hari itupun kalau motor tumpangan ada, karena motor air yang bisa ditumpang tidak banyak seperti sekarang ini, disisi lain motor dagang yang bisa ditumpang juga sangat sedikit. Transfortasi darat tidak ada/belum  seperti sekarang ini. Sungguh memprihatinkan jalannya.  

Saya bingung memikirkan langkah apa yang sebaiknya dapat saya tempuh agar buku “Raport” yang belum dibagikan itu dapat segera didapat Dalam keadaan seperti itu saya teringat beliau (Prof.DR.H.Hadari Nawawi) waktu itu Drs.Hadari Nawawi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat yang menugaskan kami di Kota Pontianak untuk mengajar di Sekolah Dasar Negeri Inpres yang tersebar pada empat kecamatan di Kota Pontianak ketika itu. Saya mendatangi beliau (Prof.DR.H.Hadari Nawawi) untuk menceritakan keadaan yang saya alami. Oleh beliau saya diberi nota untuk diserahkan kepada Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Untan Potianak. Dengan berbekal nota tersebut kembali saya menghadap Panitia PMB Untan. Oleh Panitia PMB saya diterima, dan “Buku Raport” saya yang tinggal di Sintang diperbolehkan diserahkan menyusul. Alangkah gembiranya hati saya, dan bangga pada kepedulian beliau pada perjuangan hidup saya. Kenangan ini terpatri kuat dalam lubuk hati sanubari saya yang paling dalam hingga saat ini, bahkan selama hidup saya tak terlupakan.

Perkuliahan waktu itu dilakukan dengan sistim tahunan, tidak dengan sistem semester (SKS) seperti sekarang ini, sehingga waktu tempuh/kuliah memakan waktu lama (5 sampai 7 tahun) satu tahun satu tingkat, mungkin lebih dari itu. Mahasiswa yang boleh melanjutkan ke tingkat IV adalah setelah yang bersangkutan lulus ujian Sarjana Muda (BA). Selama perkuliahan  terutama setelah sarjana muda, saya tergabung dalam kelompok belajar bersama bapak Drs.Syarif Saleh keponakan beliau. Kami tergabung dalam satu kelompok belajar yang mengambil tempat belajar di rumah beliau. Hal ini  lebih menambah lagi keakraban saya dengan beliau. Karena itu sebelum belajar kelompok dimulai atau setelah belajar kelompok berakhir, saya sering diminta beliau untu “mengurut”  atau jadi tukang urut beliau. Saya bangga bisa melakukan sesuatu yang baik buat beliau. Beliau sering bercerita tentang suka dukanya dan sejarah perjuangan hidupnya dari sekolah pendidikan guru, menjadi staf pengajar di IKIP Bandung, menjadi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat, kemudian mendirikan STKIP-PGRI Pontianak, hingga menjadi Rektor Untan Pontianak Sungguh mengagumkan pengalaman beliau.

Ketika menjabat sebagai Rektor Untan, beliau menyerahkan jabatannya sebagai Dekan Koordinator STKIP PGRI Pontianak (istiliah waktu itu) kepada bapak HM. ALI., SH. Pada masa kepemimpinan bapak HM. ALI., SH inilah saya selesai studi S1 dari FKIP Untan Pontianak, tepatnya tanggal, 7 Mei 1984. Waktu itu saya masih menjadi guru Sekolah Dasar Negeri 67 Pontianak. Seminggu setelah ujian saya mendapat rekomendasi dari beliau untuk  membantu pada bagian staf akademik STKIP-PGRI Pontianak disamping bertugas sebagai dosen luar bisa, karena belum ada pengangkatan dosen PNS yang dipekerja pada Perguruan Tinggi Swasta ketika itu.  Betapa senangnya hati saya mendapat tugas tambahan dari beliau, disamping sebagai guru SD saya juga ditugaskan beliau sebagai tenaga pengajar pada STKIP-PGRI Pontianak. Ini kali keduanya saya mendapatkan kepedulian dari beliau yang sangat besar. Terukir sebagai tinta emas dalam perjalanan hidup saya yang kelam.

Sesungguhnya saya sudah mulai mengapdi di STKIP-PGRI Pontianak sejak saya berada di tingkat IV dan tingkat V tahun 1982 s/d 1983. Ketika itu saya akrab sekali dengan Syarif Saleh.BA (sekarang Drs.Syarif Saleh) keponakan beliau, Syarif Saleh.BA ketika itu menjabat sebagai Pembantu Dekan Koordinator Tiga bidang kemahasiswaan. Kami tergabung dalam satu kelompok belajar, sehingga selalu bersama-sama memecahan masalah dan kesulitan belajar kelompok. Keakraban kami ini dimanfaatkan beliau untuk membawa Kami (saya) mengawas setiap ujian akhir tahun pelajaran pada STKIP-PGRI Pontianak. Saya senang membantu Drs.Syarif Saleh, kebersamaan dan keakraban kami tak ubahnya seperti bersaudara. Drs.Syarif Saleh sangat berkompetensi dan pandai sekali berorganisasi, beliau (Drs.Syarif Saleh) banyak membantu saya mengenalkan lembaga STKIP-PGRI yang relative masih muda usia berdirinya ketika itu. Beliau juga  banyak memotivasi saya untuk terus memacu diri meningkatkan kemampuan melalui belajar dan berorganisasi.

Setahun kemudian setelah saya bertugas sebagai staf dan dosen di STKIP-PGRI Pontianak disamping masih berstatus sebagai guru SD, tepatnya bulan Maret 1985, saya terinspirasi oleh Drs.Asrori (sekarang Prof.DR.H.Asrori.M.Pd) yang melamar dan diterima menjadi dosen FKIP Untan. Saya juga ingin melamar menjadi dosen FKIP Untan untuk mencoba merubah nasib dari guru SD menjadi dosen. Tetapi ketika beliau tahu saya melamar di FKIP-Untan Pontianak beliau menasehati dan mengingatkan saya supaya menjadi dosen tetap STKIP-PGRI Pontianak saja. Beliau berjanji untuk memperjuangkan kami (saya) menjadi dosen tetap STKIP-PGRI-Pontianak. Beliau menugaskan saya untuk mencari kawan-kawan untuk diusulkan menjadi dosen PNSD yang dipekerjakan pada STKIP-PGRI Pontianak. Saya berupaya menjalankan tugas yang beliau berikan walaupun hati saya masih ragu karena niat saya ingin menjadi dosen FKIP-Untan Pontianak. Atas arahan beliau orang yang pertama saya hubungi adalah ibu Dra.Hj.Urai Titin Hiswari (sekarang Dra.H.Urai Titin Hiswari.M.Si) disusul kedua bapak Drs.Marhaki (sekarang almarhum) kemudian almarhum Drs.Marhaki mengajak bapak Drs.Zuldafrial (sekarang Drs.Drs.Zuldafrial.M.Si) yang kebetulan waktu itu Drs.Zuldafrial sebagai Staf beliau pada Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar. Selanjutnya disusul dengan bapak Drs.Siswoyo (sekarang Drs.H.Siswoyo.M.Pd) yang telah lebih dulu mengajar sebagai dosen luar biasa di STKIP-PGRI Pontianak sejak 1983, juga bersedia meninggalkan jabatannya sebagai guru STM Negeri 1 (sekarang SMKN 1) meskipun beliau telah berpangkat III.b dan masa kerja lama rela meninggalkan STM  untuk menjadi dosen PNSD di STKIP-PGRI Pontianak dengan masa kerja nol tahun kembali. Saya yakin kami hanya segelintir orang yang ditolong/dibantu beliau, artinya masih banyak kami-kami yang beliau bantu dalam perjuangan hidupnya mencapai kesuksesan.

Kamilah yang pertama kali diangkat menjadi dosen tetap PNSD dipekerjakan pada STKIP-PGRI Pontianak tahun 1986 oleh Kopertis Wilayah II Palembang ketika itu.  Sekarang STKIP-PGRI Pontianak masuk dalam jajaran Kopertis wilayah XI Kalimantan yang berkedudukan di Banjarmasin. Periode berikutnya tepatnya tahun 1987 masa kepemimpinan bapak H.M.ALI AS.,SH direkrut kembali orang pilihan beliau melalui bapak Drs.H.Syarif Said Alkadrie (Pembantu Ketua I, waktu itu merangkap sebagai Ketua AMPI Kalbar, sekarang mantan Anggota DPRRI). Mereka adalah bapak Drs.Samion AR (sekarang Prof.DR.H.Samion H.AR.M.PD) Ketua  STKIP-PGRI Pontianak dan Dra.Sulha (Sekarang Dra.Hj.Sulha,M.Si Sebagai Pembantu Ketua II)

Sebagai guru SDN Inpres Nomor 6 Tahun 1974 yang sudah mengajar dengan masa kerja kurang lebih 10 tahun sejak tahun 1975 di SDN 67 Pontianak hingga tahun 1985 dengan pangkat dan Golongan III.b,  saya ragu untuk bisa menjadi dosen STKIP-PGRI, apalagi untuk menjadi dosen harus mengulang masa kerja nol tahun kembali. Sungguh saya ragu, karena masa itu calan mahasiswa yang masuk STKIP-PGRI tidak pernah lebih dari 100 orang dari emempat Jurusan yang ada waktu itu yaitu : Jurusan Administrasi Pendidikan (AP), Bimbingan dan Konseling (BK), Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Matematika.   Tetapi berkat motivasi yang tinggi dan kepiawaian beliau mengadakan pendekatan, saya menjadi yakin dan terus maju sekalipun harus mengulang masa kerja nol tahun kembali. Beliau selalu menekankan prinsip hidup hemat, terus berkarya, mulai dari yang sekecil apapun untuk mencapai sesuatu besar demikian beliau berucap.Prinsip beliau yang tak pernah terlupakan salah satunya adalah “sehari sehelai benang setahun sehelai kain” Prinsip beliau ini masih saya rasakan menggema dalam lubuk hati sanubari yang paling dalam. Itulah yang membuat saya tidak ragu-ragu lagi melepaskan jabatan saya sebagai guru SD sekalipun harus kehilangan masa kerja lebih kurang 10 tahun. Sebab dibalik itu saya yakin dengan menjadi dosen saya dapat mengejar ketertinggalan saya dalam segala hal.Hipotesa ini terbukti dan menjadi kenyataan tanggal 15 Septembar 2006 saya dilanting menjadi guru besar STKIP-PGRI Pontianak. Semua ini tidak lepas dari motivasi bisikan-bisikan beliau yang selalu saya amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau dulu saya merasa ragu menjadi dosen STKIP-PGRI Pontianak, Sekarang saya bangga, karena berkat menjadi dosen STKIP-PGRI Pontianak saya bisa meningkatkan derajat hidup saya sperti sekarang ini serta bisa mengajar di STKIP-PGRI Pontianak yang saat ini memiliki mahasiswa tidak kurang dari empat belas ribu orang.

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan kami diangkat menjadi dosen tetap PNSD pada STKIP-PGRI Pontianak adalah tidak lepas dari kegigihan bapak Drs.H.Syarif Said Alkadrie (mantan anggota DPRRI)  yang banyak punyal “andil”  dalam memperjuangkan kami menjadi dosen tetap PNSD STKIP-PGRI Pontianak. Prof.DR.H.Hadari Nawawi pada waktu sudah menjabat Rektor UntanPontianak. Beliau bersikeras berupaya agar STKIP–PGRI Pontianak segera memiliki dosen tetap PNSD.Sungguh luar biasa perjuangan beliau-beliau ini tanpa pamrih, tanpa harap balas jasa, tanpa pilih kasih, patut untuk ditiru dan diteladani.

Delapan tahun telah berlalu, tepat tahun 1992 beliau selalu mengingatkan saya setiap kali ketemu agar terus meningkatkan kemampuan diri dengan terus belajar, dan mengambil pendidikan S2 jika ada kesempatan demikian ungkap beliau. Sungguh saya “salut”  sekalipun tidak lagi menjabat sebagai Dekan Koordinator di STKIP-PGRI (istilah Ketua pada waktu itu) beliau masih tetap menyadarkan saya untuk terus belajar dan menuntut ilmu. Atas dasar itu pula saya mencari informasi untuk masuk pendidikan S2 yang pada waktu itu dipandang sangat “sacral” sekali. Saya mencari dan terus mencari informasi, akhirnya dapat bahwa IKIP-Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) menerima calon mahasiswa S2. Dan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Juga menerima calon mahasiswa S2. Saya mengikuti tes kedua-duanya ternyata juga kedua-duanya lulus. Hanya di UGM lulus tanpa “Beasiswa”  sedangkan di IKIP-Malang lulus dengam “Beasiswa”  (TMPD istilah waktu itu). Tertarik dengan mendapat TMPD saya pilih di IKIP Malang, saya mulai belajar di IKIP-Malang 20 Agustus 1992 dan selesai S2 16 Januari 1995. Setelah selesai S2 saya kembali mengabdi di STKIP-PGRI Pontianak. Setelah mengabdi/mengajar kembali di STKIP-PGRI Pontianak, tahun 1995 sampai dengan tahun 1999  saya kembali melanjutkan pendidikan S3 di IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia) dan selesai 25 April  2003.

Tali silaturahmi antara saya dan beliau tidak pernah putus sekalipun beliau sudah berdomisili  di Jakarta, apalagi menjelang hari besar keagamaan beliau selalu menelpon saya beliau kurang suka dengan SMS, kalau di SMS pasti segera menjawab dengan menelpon langsung. Ketika Promosi guru besar saya tanggal 15 September 2006, saya tidak dapat  mendatangkan beliau mengikuti prosesi acara pelantikan saya sebagai guru besar karena kondisi ekonomi saya yang waktu sangat lemah. Saya sangat sedih, sampai-sampai saya harus menangis tak terkendali ketika menyampaikan orarasi ilmiah pidato pengukuhan guru besar saya. Tambahan lagi orangtua saya (ayah saya) baru meninggal setahun ketika saya dilantik menjadi guru besar. Ibu saya telah lama meninggal  ketika saya kelas I SMP di Sintang. Semua orang yang saya sayangi dan saya cintai, baik secara fisik maupun secara ilmuan tidak bisa hadir ketika saya dikokohkan menjadi guru besar di STKIP-PGRI Pontianak. Suatu penyesalan dan kenangan yang amat menyakitkan bagi saya selama hidup di dunia ini. Itulah yang terjadi waktu itu apa hendak dikata. Sebulan setelah Promosi Guru Besar saya, beliau datang ke Pontianak mengajar S2 Pasaca Sarjana Magister Hukum (MH) Untan. Beliau sangat bangga atas keberhasilan saya dapat mencapai gelar doctor dan apalagi mengetahui saya telah dikokohkan menjadi Guru Besar STKIP-PGRI Pontianak Perguruan Tinggi yang beliau sendiri “lahirkan” (dirikan). Hal itu tampak sekali diraut wajah beliau ketika menerima teks pidato pengukuhan guru besar yang saya berikan. Dengan sigap beliau berpesan agar selalu menjaga nama almamater dan kesehatan 

Keberhasilan dan karier beliau sebagai putra Kalbar yang brilian Sejak 1965-1969 dosen pada IKIP Bandung Cabang Pontianak. Tahun 1969-1991 dosen dan guru besar pada FKIP-Universitas Tanjungpura Pontianak. Guru Besar kepala UPBJJ-Universitas Terbuka Pontianak (1991). Dosen dan guru besar UT di Jakarta (1995). Selama 31 tahun bertugas di Pontianak menjadi dosen dan guru besar tidak tetap di Fakultas Tarbiyah Pontianak (1965-1996), pendiri STKIP-PGRI Pontianak dan Singkawang (1980-1996). Memiliki Konsentrasi bidang Psikologi, Manajemen/ Administrasi Pendidikan, dan Metode Penelitian. Serta sejak 1994 aktif mengajar pada program MM di berbagai perguruan tinggi, dengan konsentrasi bidang ajar Manajemen SDM dan Perencanaan SDM dan penunjang Metodologi Penelitian dan Andragogy. Pengalaman kepemimpinan/manajemen beliau diperoleh dari jabatan di Perguruan Tinggi sebagai Ketua Jurusan, Pembantu Dekan, Dekan di lingkungan FKIP-IKIP Pontianak, FKIP-Universitas Tanjungpura dan Ketua STKIP-Pontianak, Rektor Universitas Tanjungpura selama 2 periode (1982-1991) dan diakhiri sebagai Kepala UPBJJ-UT Pontianak (1991-1996), saya pikir adalah merupakan eksistensi nyata bahwa beliau adalah “seorang ilmuan dan pendidik sejati” yang pantas disebut sebagai pahlawan pendidikan

Juni tahun 2010 ketika mendengar informasi saya sakit jantung, beliau  langsung menelpon  saya supaya segera berobat (operasi) di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta karena beliau pernah operasi jantung disitu katanya. Setelah saran beliau itu saya sering bolak balik Pontianak-Jakarta Jakarta-Pontianak untuk berobat jantung. Beliau selalu mengecek keberadaan saya. Akhirnya 24 Juli 2010 jantung saya dipasang 5 sten (balon) oleh DR.Dr.Fuad di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta. Beliau tidak putus-putusnya menghubungi/mengecek keberadaan saya ketika kurang lebih 2 minggu saya berada di rumah sakit. Saya merasa terhibur oleh suara beliau yang khas, apalagi ditempat yang jauh secara geografis antara Jakarta-Pontianak tidak ada keluarga dan kerabat dekat yang mengunjungi saya, kecuali saudara-saudara kandung yang mendampingi saya operasi. Suara beliau, kepedulian beliau memonitor keadaan saya ketika sakit  merupakan obat mujarab dan kehormatan tersendiri bagi saya untuk bangkit dan sembuh kembali.

Keadaan saya membaik, beliau terus memonitor meskipun saya sudah pulang ke Pontianak. Oleh Dokter saya diwajibkan untuk periksa “Chek Up” Jantung secara berkala minimal 2 bulan sekali di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta. Kegiatan ini saya laku berulang-ulang hingga saat ini. Pada suatu hari Selasa 21 Februari 2012 sungguh saya terkejut seperti gelegar petir disiang hari mendengar informasi beliau “sudah tiada” dalam hati saya meronta dan menenagis meneteskan air mata. Hal ini semakin membuat saya bertambah sedih karena dimana ketika seminggu lagi saya akan ke Jakarta untuk berkonsultasi “Chek Up” Jantung di rumah sakit Jantung Harapan Kita Jakartan sesuai yang beliau sarankan kepada saya dan saya merencanakan sekalian akan ketemu beliau, terdengar kabar bahwa beliau telah berpulang ke “rah matullah” dipanggil menghadap Sang Pencipta. Semakin Jantung saya terasa sakit menahan gejolak jiwa dan perasaan sedih yang tak terkendali, saya tertegun, nafas sesak, badan tak berdaya, semangatku lemah gemulai, jiwaku meronta-meronta menangis terus meneteskan air mata, pikiranku melayang tak tentu arah mengenang jasa baik dan didikan yang telah beliau tanamkan dalam diri saya sejak tahun 1974 hingga beliau (Prof.DR.H.Hadari Nawawi) wafat 21 Februari 2012 di RSPAD Gatot Subroto pada jam 15.00wib, semoga Arwah beliau di terima di sisi-NYA. Alamat Rumah: Gudang Peluru Timur III J No 236, RT 5/3 Kebon Baru Tebet Jakarta, merupakan wujud nyata bahwa beliau adalah seseorang tokoh pendidik dan ilmuan yang hidupnya bersahaja.

Jujur saya katakan ; Sebagai lulusan SPG Negeri Sintang bisa bertugas mengajar sebagai guru SD Inpres Nomor 6 Tahun  1974 ke Kota Pontianak karena kebijakkan beliau, saya bisa masuk kuliah  juga karena kebijakkan beliau, saya pertama kali menjadi staf dan dosen di STKIP-PGRI Pontianak tanggal 11 Mei 1984 juga karena nota beliau, saya bisa sperti sekarang ini juga tidak lepas dari motivasi dan inspirasi dari beliau yang selalu menanamkan hidup hemat dan berdisplin kapanpun dan dimanapun kita berada. Pendek kata semua perjuangan hidup saya tidak lepas dari kebijakkan dan sepak terjang beliau sebagai tokoh pendidik di Kalimantan Barat ini.  


Inilah kenangan manis dan panjang dari beliau dalam membentuk kepribadian dan karakter saya hingga saya bisa jadi sperti sekarang ini. Kenangan ini akan tetap terus terukir dan tertanam dalam hati sanubari saya yang paling dalam dan tidak pernah terlupakan selama hayat dikandung badan. Selamat jalan ayahku, selamat jalan guruku, tiada intan permata, tiada emas mutiara yang dapat nandamu persembahkan sebagai balas budi dan jasa, hanyalah tangis dan Do’a ku selalu menyertai kepergianmu menghadap Sang Pencipta. Semoga Arwah guruku, ayahndaku di terima di sisi-NYA. Amin


B.   Mengenang Prof.DR.H.Hadari Nawawi Sebagai Ilmuan dan Pendidik Sejati
Prof. Dr. H. Hadari Nawawi adalah Guru Besar Utama pada Universitas Terbuka Jakarta. Lahir di Kab. Sambas Kalimantan Barat, pada 18 Januari 1942. Meraih gelar Doktor dalam bidang Manajemen Pendidikan dari IKIP Jakarta pada tahun 1980. Beliau memulai karier sebagai pendidik sejak masih menjadi mahasiswa di Bandung (1962-1965). Sejak 1965-1969 dosen pada IKIP Bandung Cabang Pontianak. Tahun 1969-1991 dosen dan guru besar pada FKIP-Universitas Tanjungpura Pontianak. Guru Besar Kepala UPBJJ-Universitas Terbuka Pontianak (1991). Dosen/guru besar UT di Jakarta (1995).  Selama 31 tahun bertugas di Pontianak menjadi dosen dan guru besar tidak tetap di Fakultas Tarbiyah Pontianak (1965-1996), Pendiri STKIP-PGRI Pontianak dan Singkawang (1980-1996). Konsentrasi bidang Psikologi, Manajemen/ Administrasi Pendidikan, dan Metode Penelitian. Sejak 1994 aktif mengajar pada program MM di berbagai perguruan tinggi, dengan konsentrasi bidang ajar Manajemen SDM dan Perencanaan SDM dan penunjang Metodologi Penelitian dan Andragogy adalah seorang ilmuan dan tokoh pendidik sejati yang dekat dengan mahasiswa dan masyarakat. Beliau adalah seorang dosen yang sangat disiplin dan selalu memanfaatkan waktu luang. Masa saya studi, perkuliahan bedliau selalu dilakukan pada setiap jam 05.00 pagi hari. Hampir semua mata kuliah beliau dilakukan seperti itu. Kedisiplinan beliau dan kepintaran beliau mengatur waktu terpatri dan melekat dalam hidup saya sebagai anak asuhannya. Itupulah yang membuat saya merasa ada yang salah atau ada sesuatu yang kurang kalau saya belum berada dikampus STKIP-PGRI Pontianak pada jam 05.30 setiap hari kerja, kecuali dalam keadaan sakit. Dalam keadaan sakit sekalipun spanjang bisa bangun dan berjalan tetap saya upayakan untuk bisa hadir di kampus.
Pengalaman kepemimpinan/manajemen yang beliau peroleh dari jabatan di Perguruan Tinggi sebagai Ketua Jurusan, Pembantu Dekan, Dekan di lingkungan FKIP-IKIP Pontianak, FKIP-Universitas Tanjungpura dan Ketua STKIP-Pontianak, Rektor Universitas Tanjungpura selama 2 periode (1982-1991) dan diakhiri sebagai Kepala UPBJJ-UT Pontianak (1991-1996). Pengalaman kepemimpinan/manajemen juga diperoleh dari jabatan selaku Kepala Perpustakaan Daerah Kalbar (4 tahun), Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dati I Propinsi Kalimantan Barat (1971-1982) dan sejak 1997 selaku Kepala LPPM-UPI YAI Jakarta, menunjukkan bahwa beliau sebagai adalah sosok seorang pemimpin umat, pemimpin masyarakat yang patut di teladani.
Dalam memberi perkuliahan  setiap materi yang beliau (Prof.DR.H.Hadari Nawawi) sampaikan selalu tersusun secara sistimatis sehingga mudah dipahami oleh para mahasiswa. Selain mengesankan dan kepiawaiannya dalam menyusun materi dan memilih strategi mengajar, sosok Prof.DR.H.Hadari Nawawi amat lekat dikalangan mahasiswa dan masyarakat, karena kewibawaannya yang menonjol. Setiap memberikan perkuliahan beliau selalu tampil rapi dan tuntas menyajikan materi. Materi perkuliahan yang sesungguhnya sulit seperti metode eksperimen yang banyak menggunakan rumus-rumus perhitungan statistic dan metode penelitian yang merupakan pedoman untuk membuat skripsi (karya ilmiah) yang tidak gampang diserap semua orang menjadi mudah dicerna dan dipelajari jika beliau menyajikannya. Sungguh saya kagum atas kepintaran beliau. Kepiawaian beliau mengajar dan menyajikan materi khususnya mata kuliah metode eksperimen dan metode penelitian inilah yang telah menginspirasi saya untuk berbuat berani melangkah menerbitkan buku “Metode Penelitian” yang dicetak oleh CV. Alfhabeta Bandung yang kini sudah beredar di tokoh-tokoh buku seluruh Indonesia.
Kesan saya yang amat mendalam dan tidak kalah pentingnya terhadap sosok Prof.DR.H.Hadari Nawawi adalah ketika kami ujian mata kuliah metode eksperimen di kampus lama FKIP-Untan Pontianak (sekarang dipakai untuk SMA Santun Untan). Beliau memberikan ujian mata kuliah “Metode Eksperimen”. Ujian dimulai jam 07.00 s/d jam 14.00 siang. Peserta ujian diperboleh membawa bekal masing-masing. Tepat jam 14.00 semua pekerjaan ujian harus dikumpulkan tidak peduli selesai atau tidak selesai ujian itu. Banyak diantara kami peserta ujian yang tidak dapat lulus sekali tempuh  ujian, bahkan ada yang harus menempuh sampai tiga (3) kali ujian atau lebih mata kuliah itu. Sungguh beliau mengharapkan semua mahasiswa asuhannya mengerti dan memahami materi yang beliau telah ajarkan. Tidak hanya itu saja menurut saya, makna yang dapat diambil disini adalah semua mahasiswa asuhannya diharapkan bisa mengajar atau menyajikan mata kuliah yang pernah beliau sampaikan.
Sementara itu sikap religius beliau amat tampak dalam kehidupan kesehariannya sebagai seorang mulim. Sikap religius beliau tampak pula ketika beliau menetapkan motto Untan sebagai kampus yang ilmiah, edukatif dan religious. Sikap itu pula yang menyebabkan beliau sangat berdisiplin dalam hal waktu shalat, sehingga pernah keluar anjuran beliau agar  seluruh dosen dan mahasiswa berhenti kuliah sejenak ketika adzan berkumandang. Saya sangat menghargai kebijakkan beliau. Sikap multikulturalnya juga amat menonjol, tampa memandang suku, agama dan golongan. Hal ini dapat dibuktikan ketika beliau membangun Auditorium Untan jelas tampak bernuansa; Dayak, Melayu dan Cina sebagai etnis terbesar di Kalbar ini
Kepemimpinan beliau yang kuat juga terpancar amat jelas. Selain tampak ketika beliau menjadi Rektor Untan juga sejak beliau memulai kariernya sebagai pendidik sejak beliau masih menjadi mahasiswa di Bandung tahun 1962-1965. Tahun 1965-1969 sebagai dosen IKIP Bandung Cabang Pontianak. Tahun 1969-1991 dosen/guru besar FKIP-Universitas Tanjungpura Pontianak.Guru Besar Kepala UPBJJ-Universitas Terbuka Pontianak tahun 1991. Dosen dan Guru Besar UT di Jakarta tahun 1995.  Selama 31 tahun beliau bertugas di Pontianak menjadi Dosen dan Guru Besar tidak tetap di Fakultas Tarbiyah Pontianak tahun 1965-1996, Sebagai pendiri STKIP-PGRI Pontianak dan Singkawang tahun 1980-1996. Beliau juga memiliki konsentrasi ilmu bidang Psikologi, Manajemen/Administrasi Pendidikan, dan Metode Penelitian. Sejak 1994 aktif mengajar pada program MM di berbagai perguruan tinggi, dengan konsentrasi bidang ajar Manajemen SDM dan Perencanaan SDM dan penunjang Metodologi Penelitian dan Andragogy adalah seorang ilmuan dan tokoh pendidik sejati yang dekat dengan mahasiswa dan masyarakat, tidak membedakan suku,  agama, ras dan golongan semakin menguatkan keyakinan saya bahwa beliau memang sosok tokoh  ilmuan dan pendidik sejati yang patut diteladani dan pantaslah kira disebut “Pahlawan Pendidikan Kalimantan Barat”. Semoga. Penulis adalah Guru Besar Kopertis Wilayah XI Kalimantan dipekerjakan pada STKIP-PGRI Pontianak.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar