Minggu, 13 Mei 2012

SEJARAH LAHIR METODE PENELITIAN



A. PENDAHULUAN
Untuk mengetahui sesuatu yang masih baru, seorang peneliti dapat diibaratkan sebagai orang baru yang baru saja tiba di kota atau di negara baru. Semuanya tampak asing, mau pergi kemana tidak tahu letaknya geografis dan penduduknya, padahal mungkin jaraknya dekat dan banyak kendaraan seperti taksi, bus, angkot, oplet, becak, ojek dan sebagainya tetapi tidak tahu menggunakan kendaraan atau alat transportasi yang ada untuk menuju kesuatu tempat yang akan dituju itu. Banyak dan sering dijumpai or­ang-orang lewat di sekitarnya, mau bertanya juga kurang berani karena mungkin beda budaya, beda kepentingan, dan mengganggu kesibukan orang lain dengan orang-orang yang ada di sekitar tempat tersebut. Banyak kenalan di tempat tinggal yang lama tetapi jauh tempat tinggalnya dan tidak tahu nomor telepon untuk menghubunginya. Orang lain di sekitarnya juga menganggap asing pula terhadap dia. Dia memerlukan bantuan agar dapat memecahkan masalah keterasingannya tersebut. Tetapi siapa dan kemana agar memperoleh bantuan untuk mencapai arah yang dituju itu.
Keterasingan para peneliti terutama peneliti muda, juga terjadi seperti keterasingan orang yang tinggal di tempat baru. Banyak masalah penelitian tetapi tidak mengetahui bagaimana mengenali dan memilih masalah yang layak untuk sebuah penelitian; banyak instrumen untuk mengambil dan mengumpulkan data tetapi kurang mengetahui apa instrumen yang baik itu banyak alat analisis data tetapi tidak dapat memilih yang tepat dan dapat memberikan informasi. Mereka bingung dan bahkan sebagian ada yang frustrasi untuk melakukan penelitian.
Mereka memerlukan alat untuk dapat memecahkan problem keterasingan tersebut. Alat atau instrumen yang hendak dibahas secara luas dan sistematik adalah metodologi penelitian yang biasanya berisi tentang cara­-cara menggunakan beberapa metode pendekatan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Ada pendekatan dari yang global menuju ke spesifik, dari spesifik menuju ke global dan ada pula pendekatan ilmiah dan scientific.
Modal yang pertama adalah mengetahui sesuatu tersebut dimulai dari yang global atau besar menuju ke arah lebih mendetail atau khusus. Untuk mengetahui struktur mobil misalnya, seseorang dapat menguasainya dengan dimulai dari apa fungsi dan kegunaan mobil itu bagi manusia, apa peranan mobil, kearah apakah bagian utama dari mobil, mekanisme kerja mobil, dan apa material setup bagian dari mobil itu.
Model yang kedua adalah menggunakan pendekatan dari yang spesifik menuju ke arah yang global. Seseorang untuk mengetahui tentang apakah mobil itu dimulai dengan mengadakan kunjungan kerja ke bagian bengkel. Di sana ditunjukkan bagian-bagian utama kendaraan mobil dan diajarkan pula bagian-bagian dan proses kerja mobil baik yang dua tak maupun empat tak baru mengarah kepada bagian lain yang lebih besar sehingga orang tersebut mengetahui secara menyeluruh apakah dan bagaimanakah fungsi mobil tersebut.
Cara mengetahui dengan model kedua ini banyak diterapkan pada ilmu­ilmu biologi, kedokteran, dan sebagainya. Kedua pendekatan tersebut juga populer disebut sebagai model deduktif dan induktif.
Modal ketiga adalah menggunakan pendekatan secara ilmiah. Tokoh yang mempelopori pendekatan ini diantaranya ialah John Dewey. Untuk mengetahui sesuatu seseorang dapat memulai dengan mencari masalah, mencari data pendukung, dan mencari jawaban permasalahan tersebut. Cara ini adalah yang banyak dimanfaatkan dan dikembangkan dalam metodologi penelitian yang biasa disebut dengan menggunakan model pendekatan ilmiah.
Ketiga cara tersebut pada prinsipnya baik dan akan memberikan keberha­silan yang memuaskan, bila dilaksanakan secara intensif dan teliti. Dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan pendekatan penelitian yang sering dilakukan dan diterapkan dalam bidang pendidikan.
Manusia selalu ingin mencari jawaban atas sebab musabab dari suatu atau serentetan akibat. Dengan berbagai cara manusia ingin memperoleh berbagai pengetahuan tentang berbagai fenomena. Semenjak dahulu kala,manusia menunjukan hasratnya yang besar untuk mengetahui rahasia alam sekelilingnya, bahkan juga manusia berikhtiar ingin menguasainya. Karena rendahnya kemampuan berfikir manusia, bukan manusia yang menguasai alam tetapi justru sebaliknya,manusia justru takut dan mendewa-dewakan kekuatan alam. Iklim ini menyuburkan kepercayaan terhadap dukun itulah yang dipandang dapat berkomunikasi dengan sumber kekuatan gaib yang mereka sakralkan. Dengan demikian otoritas kebenaran berada ditangan para dukun. Di masyarakat yang sederhana hal ini berlaku turun-temurun dan berakar kuat yang sudah barang tentu menghambat cara berfikir ilmiah.
Hasrat manusia yang tak pernah padam untuk memperoleh pengetahuan dan untuk dapat memanfaatkan alam mendorong manusia untuk selalu mengembangkan metode-metode pendekatan tertentu sesuai dengan tingkat kemampuannya. Pada prinsipnya pendekatan-pendekatan itu dapat digolongkan menjadi dua, yaitu metode non ilmiah dan metode ilmiah.

1.      Metode Non Ilmiah

Ada beberapa pendekatan metode non ilmiah yang banyak digunakan, yaitu; pendapat otoritas, pengalaman, penemuan secara kebetulan dan coba-coba  (Trial and Error), metode a priori dan sebagainya.
a.  Pendapat Otoritas
Pendapat otoritas ilmiah berasal dari orang-orang yang biasanya telah menempuh pendidikan formal tertinggi atau orang yang telah mempunyai pengalaman kerja ilmiah dalam suatu bidang/ilmu. Pendapat-pendapat mereka sering diterima orang tanpa diuji; selalu dipandang benar.
Kadang-kadang ada pendapat yang tidak benar namun karena merupakan pendapat orang yang mempunyai wewenang, orang awan menganggap pendapat itu suatau kebenaran. Sejarah membuktikan bahwa sebelum diperkenalkan teori Copernicus, orang percaya bahwa matahari adalah satelit dari bumi. Bumi adalah pusat dari alam semesta. Copernicus dan kawan-kawanya dengan gigih membuktikan teori baru yang sekarang dipercaya kebenarannya bahwa sebenarnya bumi dan satelit-satelit yang lainya berbutar mengelilingi matahari. Ini sekaligus mengakhiri teori salah yang telah sekian lama selalu dianggap benar karena teori itu berasal dari orang yang memiliki wewenang.
b.  Pengalaman
Untuk memperoleh sesuatu yang mereka inginkan manusia seringkali menggunakan pengalaman-pengalamannya. Contoh misalnya anak kecil kerapkali menggunakan pengalaman-pengalamannya untuk mendapatkan sesuatu yang dikehendaki dari orang tuanya. Misalnya; anak kecil menggunakan pengalamanya bahwa kalau ia selalu patuh terhadap orang tua dan berprestasi selalu mendapat ganjaran dari orang tuanya. Sebaliknya, kalau ia tidak patuh dan tidak berprestasi ia kena marah. Dengan pengalaman-pengalaman seperti itu, anak-anak cenderung patuh dan ingin mendapatkan prestasi yang setinggi-tingginya agar memperoleh pujian dan ganjaran dari orang tuanya.
Pengalaman memang kadang-kadang banyak membantu. Tetapi jika tidak digunakan secara kritis bisa merugikan. Anak kecil yang terbiasa rakus kalau di rumah ; Selalu memilih kue-kue yang besar waktu ibunya membagi kue-kue kemungkinan anak itu akan memilih hadiah yang dibungkus dalam bungkusan yang lebih besar meskipun mungkin isinya barang yang tak berharga.
c.  Penemuan Coba-Coba ( Trial and Error )
Penemuan secara kebetulan banyak terjadi dan banyak diantaranya sangat berguna, Misalnya, Newton menemukan hukum grafitasi bumi waktu ia secara kebetulan melihat buah apel yang jatuh. Archimedes, menemukan dalil Archimedes yang sangat terkenal  itu sewaktu ia mandi berendam dalam suatu bak yang penuh air. Ada seorang penderita malaria yang secara kebetulan menemukan obat penyakitnya pada waktu mandi dikolam yang berisi air pahit yang berasal dari kulit pohon kina yang pohonya tumbang ke dalam parit. Penemuan-penemuan seperti itu di peroleh tanpa rencana, tidak pasti, dan tidak melalui langkah-langkah yang sistimati dan terkendali.
Penemuan coba-coba ( trial and error ) di peroleh tanpa kepastian untuk memperoleh suatu kondisi tertentu untuk pemecahan suatu masalah. Usaha seperti ini umumnya merupakan serangkaian percobaan tanpa arah dan tanpa keyakinan yang pasti untuk suatu pemecahan masalah. Pemecahan terjadi secara kebetulan setelah dilakukan serangkaian usaha coba-coba. Penemuan tersebut pada umumnya tidak efisien dan tidak terkontrol.
d.  Metode A Priori
Metoda a priori juga disebut metoda intuisi. Dalam pendekatan ini orang menentukan pendapat mengenai sesuatu berdasar atas pengetahuan yang langsung ( didapat dengan cepat tanpa proses dan pemikiran yang matang. ) Dalil-dalil dan kesimpulan yang diterima menurut metode tersebut semata-mata berdasar alasan yang tidak dipertimbangkan dengan pengalaman.
Kelemahan pengambilan kesimpulan yang semata-mata berdasarkan alasan rasional yang satu sama lain bertentangan. Kesimpulan mana yang benar ?

2.  Metode Ilmiah

Di banding cara memperoleh kebenaran terhadap suatu kebenaran dengan metoda non ilmiah metoda ilmiah (the scientific method ) adalah lebih efisien dan dapat dipercaya. Meskipun tidak ada pendekatan yang benar-benar memuaskan, pendekatan-pendekatan  ( Misalnya melalui pengalaman, pihak berwenang, penalaran induktif dan penalaran deduktif ) itu sangat efektif  apabila digunakan bersama-sama sebagai komponen metoda ilmiah yang integral.
Pada dasarnya metode ilmiah mencakup induksi dari hipotesis-hipotesis berdasarkan pengamatan (observasi), deduksi dari implikasi hipotesis, pengujian implikasi-implikasi tersebut,dan komfirmasi (diterimanya) atau diskonfirmasi (ditolaknya) hipotesis.
Ilmu pengetahuan dan penelitian diibaratkan dua sisi mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Mereka saling menunjang untuk mencapai tujuan yang sama. Tujuan semua usaha ilmiah adalah untuk memberikan penjelasan, membuat prakiraan, dan/atau mengentrol kejadian atau fenomena. Tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk menyiapkan dan menyajikan teknik-teknik dasar yang logis,dengan apa dan yang mana orang bisa memperoleh pemahaman, wawasan interprestasi, prediksi serta pengontrolan terhadap situasi yang mempunyai interrelasi yang serba kompleks. Tujuan itu bisa tercapai melalui metode ilmiah.

B.   PENELITIAN BERDASARKAN TUJUAN

Penelitian (riset) adalah penggunaan metode ilmiah yang bersifat formal dan sistimatis untuk mempelajari sesuatu masalah. Dalam dunia pendidikan kita kenal adanya “Penelitian Pendidikan,” yaitu penggunaan metode ilmiah yang bersifat formal dan sistematik untuk mempelajari masalah-masalah pendidikan.
Perbedaan pokok antara penelitian pendidikan dan sosial dengan penelitian ilmiah yang lain terletak pada sifat dasar dari kejadian atau gejala yang dipelajari. Di bandingkan dengan penelitian ilmiah yang lain, penelitian pendidikan dan sosial lebih kompleks sebab sulitnya menjelaskan, membuat perkiraan, dan mengontrol keadaan-keadaan yang menyangkut manusia.
Banyak variabel yang diketahui, atau tidak diketahui, berpengaruh terhadap lingkungan pendidikan dan sosial yang sangat sulit digeneralisasikan. Kontrol yang ketat yang dapat dilakuan dan dijaga pada laboratorium kimia tidak mungkin dilaksanakan pada bidang pendidikan dan sosial. Sebagai contoh ; pengamat bisa menjadi subyektif dalam membuat “ record “ tentang tingkah laku , dan orang yang diamati mungkin bertingkah laku tidak seperti biasanya karena sedang dalam pengamatan.Dalam bidang pendidikan dan sosial juga sulit menciptakan kondisi-kondisi penelitian seperti yang dikehendaki peneliti. Lagipula, kondisi obyek penelitian tidak bisa diulangi. Seandainya dilakukan pengulangan, hasilnya tidak akan sama seperti kondisi yang pertama.
Selain daripada itu pengukuran yang cermat sulit dilaksanakan dalam penelitian pendidikan. Sebagian besar pengukuran adalah pengukuran tidak langsung, tidak ada instrumen yang sebanding dengan alat dengan alat ukur panas atau alat ukur arus listrik untuk pengukuran misalnya : kecerdasan, pencapaian, atau sikap.
Meskipun ada perbedaan dalam sifat dasar gejala yang dipelajari, langkah-langkah dalam melakukan penelitian pendidikan / sosial adalah sama dengan langkah-langkah dalam melakukan penelitian yang lain yaitu : pemilihan dan pembatasan masalah, pelaksanaan prosedur-prosedur penelitian ( pengumpulan data ), pembuatan analisis data, dan pembuatan dan penarikan kesimpulan.

Secara penggolongan penelitian dapat dibedakan dalam dua bagian yaitu “Penelitian Murni dan Penelitian Terapan”. Sulit mengatakan bahwa kedua jenis penelitian tersebut terpisah karena keduanya sebenarnya dalam suatu kesatuan kegiatan. Pada bentuk aslinya, penelitian murni dilakukan semata-mata untuk keperluan pengembangan dan pemurnian / perbaikan teori . Sedangkan penelitian terapan seperti terlihat dari namanya, dilakukan untuk keperluan pengetrapan atau pengujian dari teori dan penilaian kegunaanya dalam penyelesaian masalah-masalah.

Penelitian murni berkaitan dengan penciptaan konsep-konsep umum tentang pemahaman (learning), sedangkan penelitian terapan berkaitan dengan penggunaannya dalam dunia pendidikan. Misalnya, suatu penelitian murni dilakukan pada binatang untuk mempelajari masalah ganjaran ( hadiah / hukuman ) dan pengaruhnya terhadap pemahaman. Penelitian tersebut berlanjut dengan penelitian terapan yaitu menguji konsep-konsep tersebut untuk menetapkan efektivitasnya dalam penyempurnaan pemahaman dan tingkah laku.
1.  Penelitian Evaluasi (Evaluation Research)
Tujuan dari penelitian evaluasi adalah untuk mempermudah pembuatan keputusan sehubungan dengan kebaikan atau keunggulan relatif dari dua tindakan pilihan atau lebih.
2.  Penelitian dan Pengembangan (Research and Development)
Tujuan utama dari riset dan pengembangan (Research and Development) adalah bukan untuk merumuskan atau menguji teori tetapi mengembangkan hasil-hasil yang efektif untuk dimanfaatkan di sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga lainnya.
3.  Penelitian Aksi (Action Research)
Tujuan dari Action Research adalah untuk memecahkan masalah-masalah setempat (misalnya kelas) dengan menggunakan metoda ilmiah. Penelitian ini, hanya memperhatikan masalah setempat; tidak peduli apakah hasil-hasil yang diperoleh juga dapat diberlakukan pada tempat-tempat lain atau tidak.

C.   PENELITIAN BERDASARKAN METODE

Pada umumnya penelitian menempuh strategi dan langkah yang hampir sama. Langkah-langkah itu terdiri dari pembuatan statemen masalah, pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan.
1.  Penelitian Sejarah (Historical Research)
Penelitian sejarah berkaitan dengan penyelidikan, pemahaman, dan penjelasan kejadian-kejadian masa lampau. Tujuan dari penelitian sejarah adalah untuk mencapai kesimpulan sehubungan dengan sebab, akibat, atau kecendrungan dari kejadian masa lampau yang dapat membantu menjelaskan kejadian masa kini dan membantu mengatisipasi kejadian yang akan datang. Penelitian sejarah biasanya tidak mengumpulkan data dengan pengelolaan instrumen (missal menguji dengan suatu tes) terhadap individual, tetapi mencari data yang sudah ada. Pada penelitian sejarah dikenal adanya sumber data primer dan skunder. Sumber data primer merupakan pengetahuan dari tangan pertama (misalnya laporan saksi mata, dan dokumentasi asli); sumber data skunder merupakan informasi dari tangan kedua. Evaluasi terhadap data penelitian sejarah terdiri dari kritik dalam dan kritik luar. Dalam hubungan ini, kritik luar menaksir/menilai keotentikan dari data; kritik dalam menilai kemanfaatan data tersebut.
2.  Penelitian Deskriptif (Deseriptive Research)
Penelitian deskriptif berkaitan dengan pengumpulan data untuk memberikan gambaran atau penegasan suatu konsep atau gejala, juga menjawab pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan suatu subjek penelitian pada saat ini, misalnya sikap atau pendapat terhadap individu, organisasi, dan sebagainya. Data deskriptif pada umumnya dikumpulkan melalui suatu surve angket, wawancara, atau observasi. Karena penelitian pada umumnya membuat pertanyaan-pertanyaan untuk keperluan yang tertentu maka instrumen-instrumen harus dibuat untuk setiap penyelidikan, sesuai dengan hipotesisnya. Suatu hambatan yang umum pada penelitian deskriptif adalah kurangnya respon - keenganan subjek untuk mengembalikan angket atau tidak hadirnya subjek pada wawancara yang dijadwalkan.
3.  Penelitian Korelasi (Correlational Research)
Penelitian korelasi bertujuan untuk menentukan ada tidaknya hubungan, dan seberapa jauh hubungan ada antara dua variabel (yang dapat diukur) atau lebih. Misalnya hubungan antara kecerdasan dengan kreativitas, semangat dengan pencapaian, tinggi badan dengan umur, niali bahasa inggris dengan nilai statistika, dan sebagainya. Tujuan dari suatu penyelidikan korelasi adalah untuk menetapkan atau mengungkapkan suatu hubungan atau menggunakan hubungan-hubungan dalam membuat prediksi (prakiraan)
Meskipun dari kenyataan ada hubungan yang erat antara dua variabel, seseorang tidak dapat menyimpulkan bahwa variabel yang satu adalah penyebab dari variabel yang lain. Hal ini disebabkan mungkin ada faktor ketiga yang mempengaruhi variabel pertama, atau variabel kedua, atau mungkin mempengaruhi kedua-duanya. Dengan mengabaikan ada atau tidaknya suatu hubungan sebab akibat, adanya hubungan yang erat menungkinkan kita untuk membuat prakiraan. Tingkat hubungan antara dua variabel biasanya dinyatakan dengan suatu koefisien korelasi antara 0,00 sampai dengan 1,00.
4.  Penelitian Kausal-Komparatif dan Eksperimen.
Penelitian kausal-komparatif dan eksperimen kedua-duanya berupaya untuk menciptakan hubungan sebab akibat; keduanya melibatkan kelompok-kelompok perbandingan, perbedaannya adalah pada penelitian eksperimen, penyebab yang “dicuriga” dimainkan (dimanipulasi), pada penelitian kausual komparatif. Pada penelitian eksperimen, kegiatan atau sifat yang dipercaya membuat suatu perbedaan adalah penyebab atau pelayanan atau tindakan (treatmen), dan lebih umumnya sebagai variabel bebas (independent variabel). Pada penelitian eksperimen, penelitian memainkan (memanipulasi) sekurang-kurangnya satu variabel bebas dan mengamati efeknya pada satu variabel tergantung (variabel tidak bebas) atau lebih.
Topik untuk penelitian eksprimen, misalnya “efek ganjaran terhadap prestasi belajar siswa. “Di sini variabel bebas, atau penyebab, adalah jenis ganjaran (reinforcement). Ganjaran disini mungkin berupa hadiah, atau hukuman ,atau dengan tanpa ganjaran. Variabel tidak bebas atau efek adalah prestasi belajar siswa (Prestasi belajar dua kelompok siswa yang memperoleh ganjaran yang berbeda). Dua kelompok murid tersebut diperoleh secara random sebelum dilakukan ekspimen. Kemudian kelompok-kelompok tersebut memperoleh pengalaman yang sama, kecuali jenis ganjaran yang diterima. Setelah beberapa lama, prestasi belajar mereka dibandingkan.
Prosedur pemilihan kelompok secara acak (random) yang dimiliki oleh penelitian eksprimen, tidak ada pada metoda riset yang lain. Lebih dari itu, karena adanya manipulasi dan kontrol yang langsung, penelitian ekspimen benar-benar dapat menentukan hubungan sebab-akibat. Pada penelitian kausal-komparatif, variabel bebas, atau penyebab, tidak dimanipulasi; hal uni sudah terjadi. Pada penelitian tersebut, perbedaan antara kelompok yang terjadi pada variabel bebas di tentukan oleh peneliti. Karena kurang memanipulasi dan kontrol, hubungan sebab-akibat yang diperoleh dari penelitian kausal-komparatif adalah sangat lemah dan bersifat sementara.
Tofik untuk penelitian kausal-komparatif, misalnya “efek pendidikan TK pada prestasi belajarsiswa,pada ulangan umum akhir kelas I”. Di sini, variabel bebas atau penyebab adanya Pendidikan TK (murid yang masuk sekolah Dasar melewati sekolah Taman Kanak-Kanak lebih dulu atau langsung masuk sekolah Dasar). Variabel tidak bebas atau efeknya, adalah prestasi belajar pada ulangan umum akhir kelas I. Dua kelompok murid tersebut (kelompok yang masuk sekolah Dasar melewati Taman Kanak-Kanak dan kelompok yang tidak). Selama duduk dikelas I memperoleh treatmen dan pengalaman yang sama. kemudian prestasi belajar pada ulangan umum akhir kelas I masing- masing dibandingkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar