Jumat, 17 Agustus 2012



A.  Latar Belakang Penelelitian
Sejalan dengan pembangunan Nasional pada hakekatnya membangun manusia Indonesia seutuhnya adalah membangun masyarakat Indonesia guna mewujudkan masyarakat adil makmur baik material maupun spiritual berdasarkan Pancasila. Pemerintah memberikan penegasan tentang pendidikan nasional diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa dan kwalitas sumber daya manusia, mengembangkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraqlak mulia berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan keahlian keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani serta kepribadian yang mantap dan mandiri. Pendidikan memegang peranan penting dan kebutuhan akan pendidikan tidak dapat ditawar lagi. Selain itu pendidikan merupakan wadah kegiatan yang dapat dipandang sebagai pencetak sumber daya manusia yang bermutu tinggi. Dengan demikian pendidikan merupakan suatu proses yang rumit untuk menuju peningkatan kwalitas. Pendidikan melibatkan kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan terutama bila diinginkan suatu hasil yang baik. Salah satu bidang studi yang perlu diperhatikan dalam upaya menigkatkan mutu pendidikan adalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Berdasarkan Undang-Undang, maka tujuan pendidikan nasional diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa dan kualitas sumber daya manusia mengembangkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, kepribadian yang mantap dan mandiri. Sejalan dengan itu Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam rangka mencapai tujuan yang telah digariskan tersebut, maka Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting dan wajib diberikan pada semua sekolah.
Pendidikan Kewarganegaraan mengarahkan pada pembentukan moral yang diharapkan dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Melalui Pendidikan Kewarganegaraan ini, para siswa diharapkan mampu mengembangkan potensinya baik secara pribadi, anggota masyarakat, bangsa dan Negara, mampu  sebagai anggota masyarakat dunia. Di samping itu, melalui Pendidikan Kewarganegaraan ini juga siswa dibekali ilmu pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan warga negara.
Dalam pelaksanaan pendidikan pada umumnya, terutama pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan guru sungguh mempunyai peranan penting dan besar pengaruhnya untuk berhasilnya tujuan pendidikan yang telah digariskan. Guru Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan mampu mengintegrasikan secara utuh hubungan antara tujuan pendidikan, materi, metode dan evaluasi Pendidikan Kewarganegaraan selaras dengan tingkat perkembangan psikologi serta kebutuhan siswa. Masalahnya bagaimanakah cara agar Pendidikan Kewarganegaraan dapat berhasil mencapai tujuannya. Karena itu maka metode penyajian merupakan salah satu unsur penting dalam proses pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Lebih-lebih metode yang memungkinkan para siswa menjadi tertarik untuk secara aktif meningkatkan pemahaman tentang materi pelajaran.
Kegiatan interaksi pembelajaran harus selalu ditingkatkan efektifitas dan efesiensinya. Dengan banyaknya kegiatan pendidikan di sekolah, dalam usaha meningkatkan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa untuk melaksanakan kegiatan pembeljaran tersebut. Untuk mengatasi keadaan tersebut guru perlu memberikan tugas-tugas pelajaran.
Metode pemberian tugas dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada siswa melakukan tugas atau kegiatan yang berhubungan dengan pelajaran, seperti mengerjakan soal-soal, mengumpulkan kliping, dan sebagainya. Metode ini dapat dilakukan dalam bentuk tugas/kegiatan individual ataupun kerja kelompok.
Metode pemberian tugas biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih teritegrasi. Hal itu terjadi disebabkan siswa mendalami situasi atau pengalaman yang berbeda, waktu menghadapi masalah-masalah baru. Di samping itu untuk memperoleh pengetahuan melaksanakan tugas dan memperkaya pengetahuan serta ketrampilan siswa di sekolah. Dengan kegiatan melaksanakan tugas siswa aktif belajar dan merasa terangsang untuk untuk meningkatkan belajar yang lebih baik, memupuk inisiatif dan berani bertangung jawab sendiri. Banyak tugas yang harus dikerjakan siswa, hal itu diharapkan mampu menyadarkan siswa untuk selalu memanfaatkan waktu senggangnya untuk hal-hal yang menunjuang belajarnya dengan mengisi kegiatan-kegiatan yang berguna dan konstruktif. Para guru diharapkan dalam menggunakan metode ini agar sasaran yang disebutkan di atas dapat tercapai, maka perlu mempertimbangakan apakah tujuan-tujuan yang akan di capai dengan tugas itu cukup jelas.
Untuk memenuhi hal tersebut di atas guru di tuntut mampu mengelola proses pembelajaran yang memberi rangsangan kepada siswa sehingga ia mau belajar karena memang siswalah subjek utama dalam belajar. Dengan demikian aktivitas belajar siswa sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga siswa yang seharusnya banyak aktif, sebab siswa sebagai subjek didik adalah merencanakan, dan ia sendiri yang melaksanakan belajar.
Pada kenyataannya di sekolah-sekolah sering kali guru yang aktif sehingga siswa tidak di beri kesempatan untuk aktif. Betapa pentingnya aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran di tentukan dengan aktif tidaknya siswa dalam melakukan belajar. Aktivitas belajar diartikan sebgai sistem belajar, yang menekankan keaktifan secara fisik, mental, intelektual, dan emosional untuk memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara kognitif, afektif dan psikomotor.
Dalam kehidupan sekolah sering terjadi siswa masih diperlakukan sebagai objek didik, yang seolah-olah dapat di bentuk sekehendak pendidik dan di anggap mempunyai kemampuan yang sama. Belajar aktif merupakan konsep yang sukar untuk didefinisikan secara tegas sebab sebenarnya semua aktivitas belajar itu mengandung unsur keaktifan pada diri siswa, meskipun kadar keaktifan berbeda-beda. Keaktifan dapat muncul dalam berbagai bentuk seperti kektifan dalam mendengarkan, melihat, bertanya, mengorganisasikan dan mengerjakan.
Akan tetapi, untuk mencapai keaktivitasan tersebut diperlukan keterlibatan intelektual emosional siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dalam kenyataannya tugas yang diberikan guru dapat menurunkan hasil belajar siswa. Sebab tugas tugas yang diberikan dapat menjadi beban, terlebih-lebih bila tugas tersebut diberikan terlalu banyak. Banyak siswa meniru pekerjaan temannya, karena siswa tidak menghayati sendiri tugas yang diberikan padanya.
Kalau dilihat secara seksama guru Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 01 Sintang  telah memberikan tugas kepada siswanya, baik tugas yang dikerjakan di sekolah maupun di rumah. Namun ada kalanya siswa tidak mengerjakannya, ini menunjukkan bahwa siswa kurang aktivitas dalam melaksanakan tugasnya. Ini dilihat siswa tidak mengumpulkan tugas yang telah diberikan oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan.
Bertolak dari uraian di atas timbul suatu pertanyaan/permasalahan yaitu “Bagaimanakah Korelasi Antara Pemberian Tugas Oleh Guru Pendidikan Kewarganegaraan dengan Aktivitas Belajar  Siswa SMP  Negeri 01 Sintang”. Masalah tersebut masih bersifat praduga atau hipotesa sementara. Untuk mengetahui permasalahan tersebut secara objektif, maka perlu dibuktikan kebenarannya melalui penelitian ilmiah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar