Jumat, 17 Agustus 2012

PEMBERIAN TUGAS OLEH GURU DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA A. Pemberian Tugas 1. Pengertian Pemberian Tugas Kegiatan interaksi pembelajaran harus selalu ditingkatkan efektivitas dan efesiensinya. Dengan banyaknya kegiatan pembelajaran di sekolah, dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa untuk melakasanakan kegiatan belajar. Untuk mengatasi keadaan tersebut guru perlu memberikan tugas-tugas. Menurut Roestiyah NK (2001:133) mengatakan : “Teknik pemberian tugas atau resitasi biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi”. Searah dengan itu Inne Ibrahim dan Nana Syaodih S. (2003:107) bahwa : “Metode pemberian tugas dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada siswa melakukan tugas atau kegiatan yang berhubungan dengan pelajaran seperti mengerjakan soal-soal, mengumpulkan kliping, dan sebagainya”. Dari pendapat di atas bahwa pemberian tugas adalah cara yang diberikan oleh guru untuk merangsang anak didik aktif belajar melaksanakan latihan-latihan agar hasil belajar lebih baik. untuk lebih memantapkan pengusaan terhadap materi yang telah disampaikan, maka siswa diberikan tugas, misalnya membuat kesimpulan atau generalisasi dari hasil penyampaian atau mengerjakan pekerjaan rumah. 2. Pelaksanaan Pemberian Tugas Sebelum guru memberikan tugas kepada siswa, guru harus mempertim- bangkan penggunaan metode ini. Apakah tugas-tugas itu wajar diberikan, apakah memberatkan siswa, apakah siswa mampu melaksanakannya atau ada kemungkinan-kemungkinan lain yang mengganggu siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Untuk itu Roestiyah NK (2001:136) bahwa dalam pelaksanaan pemberian tugas guru perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut : a. Merumuskan tujuan khusus dari tugas yang diberikan. b. Mempertimbangkan betul-betul apakah pemilihan teknik resitasi itu telah dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan. c. Guru perlu merumuskan tugas-tugas dengan jelas dan mudah dimengerti. Dari pendapat diatas, guru dalam menggunakan teknik ini agar sasarannya dapat tercapai, maka perlu mempertimbangkan apakah tujuan yang akan di capai dengan tugas cukup jelas. Untuk itu Nursid Sumaatmadja (1984:110) dalam memberikan tugas, guru dalam merumuskan tujuan yang jelas adalah: a. Merangsang untuk bekerja lebih baik, memupuk tanggung jawab, inisiatif dan berdidri sendiri. b. Membengkitkan minat siswa untuk mengisi waktu luasng dengan kegiatan sekolah. c. Memperkaya pengalaman-pengalaman sekolah dengan kegiatan-kegiatan di luar sekolah. d. Memperkuat hasil belajar di sekaolah dengan latihan-latihan berharga, penting dan terintegrasi. Setelah siswa memahami tujuan dan makna tugas, maka siswa akan melaksanakan tugas dengan belajar sendiri dengan tujuan-tujuan yang telah digariskan dari penjelasan guru. Dalam proses ini guru perlu mengontrol pelaksanaan tugas, lebih-lebih pada saat tugas yang dikerjakan di sekolah. Jika tugas yang dikerjakan oleh siswa tidak sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan, maka guru dapat mem berikan bentuk tugas lain, agar apa yang diharapkan dapat tercapai. Dalam pelaksanaan metode ini guru dapat memberikan tugas berupa pemberian tugas dalam proses pembelajaran dan pemberian tugas di rumah. 3. Pemberian Tugas dalam Proses Pembelajaran Bentuk-bentuk tugas yang dapat diberikan pada pekerjaan sekolah maupun pekerjaan rumah dapat dibedakan ke dalam dua bagian, yaitu tugas individual dan tugas kelompok. Menurut Nursid Sumaatmadja (1984:111) bahwa: “Tugas individual lebih ditekankan kepada pembinaan kognitif-afektif-psikomotor siswa secara individual”. Sedangkan menurut Nana Sudjana (1996:86) bahwa : “Tugas kelompok lebih menekankan aktivitas belajar siswa secara bersama dalam kelompok sehingga mengembangkan hubungan sosial dalam pemecahan masalah belajar”. Dari pendapat di atas menurut S. Nasution (2000:119) bahwa sifat-sifat tugas individual ini adalah : 1. Self-Intructive Tugas ini biasanya di cetak atau distensil. Anak-anak harus membaca sendiri instruksi atau petunjuk-petunjuk tentang cara melakukan tugas itu, sedapat mungkin tanpa bantuan dari pihak guru, jadi berdasarkan maximum self help, yakni menolong diri secara maksimal. 2. Self-Corrective Artinya berisi jawaban sehingga anak itu dapat memeriksa pekerjaannya sendiri dan dengan demikian mengetahui hasil belajarnya. Anak dapat memperbaiki kesalahannya sendiri. Tugas individual di atas siswa dituntut menurut kesanggupan dan kerajinan masing-masing. Sungguhpun demikian, tugas individual ini siswa di beri kesempatan untuk berdialog dengan siswa lain, namun tetap tugas yang harus diselesaikannya bersifat perorangan. Langkah langkah yang harus di tempuh oleh guru dalam pemberian tugas individual ini menurut Nana Sudjana (1996:83) adalah : a. Berdasarkan tujuan dan bahan yang telah disiapkan sebelumnya (pada satpel), guru menjelaskan tujuan pengajaran yang harus dicapai siswa (TIK) dan cara siswa belajar dengan model mengajar perorangan. b. Guru menjelaskan bahan pengajaran secara sistematis dan logis. Pokok bahan iytu di tulis di papan tulis. Beri kesempatan kepada siswa untuk bertanya sampai bahan tersebut dikuasai betul oleh para siswa (tugas tanpa bahan). Bagikan bahan atau sumber belajar, misalnya buku pelajaran atau buku modul untuk dipelajari oleh siswa. Jika tidak ada buku sumber, bahan itu di buat oleh guru secara tertulis agar dapat dipelajari siswa (tugas dengan bahan). c. Bagikan lembaran kerja untuk setiap siswa. Lembaran kerja berisi tugas-tugas ataupun soal-soal yang bersumber dari bahan yang telah dijelaskan oleh guru atau dipelajari siswa. Tugas atau soal biasanya berisi pertanyaan ingatan dan atau pikiran, membuat atau mencari contoh-contoh dari setiap konsep yang telah dipelajari, aplikasi dari konsep dalam pemecahan masalah, membuat diagram (grafik)atau uraian tentang konsep yang telah dipelajarinya, membuat ikhtisar (rangkuman) dari bahan, dan lain-lain. Jika kerja tidak tertulis oleh para siswa pada buku mereka masing-masing. Lembaran kerja dikerjakan oleh setiap siswa secara perorangan. d. Guru memantau dan memeriksa kegiatan belajar siswa dalam mengerjakan lembaran kerja, sekaligus memberi bantuan, arahan bagi siswa yang memerlukannya. e. Setelah selesai, diperiksa bersama-sama dengan cara menukar pekerjaan dengan teman lain, lalu guru menjelaskan setiap jawabannya. f. Kekeliruan dan kesalahan jawaban diperbaiki oleh setiap siswa. Jika ada yang belum jelas, guru memberi kesempatan bertanya kepada siswa tugas-tugas mana yang masih perlu penjelasan lebih lanjut. Hasil pekerjaan siswa dijadikan bahan penilaian guru. g. Akhiri pelajaran dengan memberikan tugas-tugas pekerjaan rumah, baik yang berkenaan dengan bahan yang telah dipelajari atau dengan bahan yang akan dipelajari berikutnya. Dari pendapat di atas bahwa metode pemberian tugas sekolah secara inividual ini biasanya lebih efektif, karena siswa dihadapkan kepada tugas-tugas dan pekerjaannya masing-masing. Kelas lebih tertib dan sederhana, tak perlu mengubah posisi tempat seperti pada tugas sekolah yang berbentuk kelompok. Selain tugas individu, pekerjaan sekolah dapat diberikan dalam bentuk pekerjaan kelompok. Karena kelas di bentuk ke dalam kelompok-kelompok maka pengelompokan siswa perlu pertimbangan-pertimbangan tertentu. Menurut Nana Sudjana (1996:86) adalah : a. Siswa sebagai individu memiliki kemampuan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini harus diupayakan agar tidak menimbulkan efek psikologis bagi siswa yang prestasina rendah. Melalui belajar kelompok diharapkan perbedaan-perbedaan kemampuan dan prestasi yang dicapainya bisa ditingkatkan sebab dapat memperoleh informasi tambahan dari kelompoknya. Ia bisa belajar dari teman kelompoknya. b. Siswa sebagai makhluk sosial memiliki dorongan yang kuat untuk menampilkan keakuannya di depan orang lain, dan memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Melalui diskusi kelompok, keakuan dan kebutuhan tersebut dapat disalurkan bahkan diarahkan kepada kreativitas belajar sesuai dengan kapasitasnya. c. Tidak semua masalah belajar dapat dipecahkan sendiri sehingga dibutuhkan bantuan dan pendapat orang lain. Pemecahan masalah oleh banyak orang akan lebih tepat dan akurat dibandingkan dengan pendapat sendiri. d. Proses dan hasil belajar yang diperoleh dari diskusi kelompok lebih kaya dan komprehensif. Siswa memperoleh kesempatan untuk belajar berbicara mengemukakan pendapatnya, belajar menghargai pendapat orang lain, toleransi sosial, keberanian berbicara menanggapi pendapat orang lain, belajar dasar-dasar berorganisasi dan lain-lain. e. Penggunaan diskusi kelompok dapat dilakukan di dalam kelas atau di luar kelas untuk mengerjakan tugas sekolah. Dengan demikian bisa membantu para siswa menyelesaikan tugas dan tuntutan belajarnya. Keberhasilan memberikan tugas kelompok kepada siswa sangat bergantung pada masalah yang di angkat oleh guru. Masalah harus bersumber dari bahan pelajaran agar relevan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Adapun jenis tugas kelompok yang dapat digunakan oleh guru adalah : a. Tugas Kelompok di dalam Kelas Tugas kelompok di dalam kelas merupakan kegiatan yang diberikan oleh guru dan dilaksanakan di dalam kelas. Tugas kelompok di dalam kelas, biasanya berupa diskusi kelompok. Menurut Nana Sudjana (2000:79) bahwa: “Diskusi adalah tukar menukar infomasi, pendapat dan unsur pengalaman secara teratur dengan amaksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama”. Sejalan dengan itu JJ. Hasibuan dan Ibrahim (1991:98) mengatakan: “Diskusi adalah suatu percakapan atau pembicaraan antara dua orang atau lebih”. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa diskusi adalah tukar menukar informasi secara teratur antara beberapa orang. Diskusi selalu terjadi dalam kelompok, baik kelompok besar maupun kelompok kecil. Sesuai dengan penggunaan dalam proses pembelajaran, maka diskusi kelompok harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Menurut Hasibuan J.J. dan Ibrahim (1991:99) syarat-syarat tersebut adalah : 1) Melibatkan kelompok anggotanya berkisar antara 3-9 orang. 2) Berlangsung dalam interaksi secara bebas (tidak ada tekanan atau paksaan) dan langsung, artinya semua anggota kelompok mendapat kesempatan untu saling beradu pandang dan dan saling mendengar serta berkomunikasi satu dengan yang lain 3) Mempunyai tujuan tertentu yang akan di capai dengan kerja sama antara anggota kelompok. 4) Berlangsung menurut suatu proses yang teratur dan sistematis menuju suatu kesimpulan. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa diskusi kelompok dalam proses pembelajaran adalah suatu proses percakapan yang teratur yang melibatkan kelompok siswa dalam interaksi tatap muka yang bebas dan terbuka dengan tujuan berbagi informasi dan pengalaman serta mengambil keputusan bersama. Menurut Masnur dan Nur Hasanah (1992:86) ada tiga bentuk diskusi yang dilaksanakan di kelas, yaitu: 1) Pertemuan untuk memecahkan masalah sosial, yang berkenaan dengan masalah-masalah tingkah laku sosial. Siswa berusaha membagi tanggung jawab belajar dan bertingkah laku dengan memecahkan masalah-masalah mereka di dalam kelas. 2) Pertemuan terbuka (opended meeting). Siswa di minta mendiskusikan persoalan-persoalan yang bertalian dengan hidup mereka dan yang mungkin pula bertalian dengan kurikulum kelas. 3) Pertemuan diagnostik kependidikan, yang berhubungan langsung dengan apa yang sedang dipelajari di kelas itu. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk diskusi yang dilaksanakan bermaksud untuk membantu siswa mengalami tingkah laku sesuai dengan tujuan, sehingga mereka lebih responsif terhadap lingkungannya. Kegiatan diskusi dapat berlangsung secara efektif harus didahului perencanaan dan persiapan yang matang. Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum guru memberikan tugas diskusi kelompok menurut JJ. Hasibuan dan Ibrahim (1991:103) adalah: 1) Pemilihan topik. 2) Perumusan masalah. 3) Penyiapan informasi pendahuluan. 4) Penyiapan diri sebaik-baiknya sebagi pemimpin diskusi. 5) Penetapan besar kelompok. 6) Pengaturan tempat duduk. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan dan persiapan diskusi akan mempengaruhi pelaksanaan diskusi kelompok tersebut. Selanjutnya JJ. Hasibuan dan Ibrahim (1991:105) kembali menegaskan bahwa : Setelah perencanaan dan persiapan dilakukan maka guru sebagai pemimpin diskusi kelompok, perlu memiliki keterampilan, yaitu: 1) Memusatkan perhatian. 2) Memperjelas masalah atau urunan pendapat. 3) Menganalisis pandangan siswa. 4) Meningkatkan urunan siswa. 5) Menyebarkan kesempatan berpartisipasi. 6) Menutup diskusi. Dari pendapat di atas maka dalam melaksanakan diskusi yang merupakan tugas kelompok yang dilakukan di dalam kelas, guru harus melaksanakan dengan baik apa yang menjadi tujuan yang telah ditetapkan. Dalam memberikan tugas kepada siswa tentunya guru dapat melihat kebaikan dan kelemahan dalam pemberian tugas tersebut. Kebaikan dan kelemahan pemberian tugas kelompok di dalam kelas ini menurut Masnur dan Nur Hasanah (1992:88), yaitu : 1) Kebaikan tugas kelompok di dalam kelas. a) Guru bebas melaksanakan dan memberikan bantuan kepada siswa. b) Melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar. c) Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi. d) Siswa yang berperan serta dalam suatu tugas dapat mengembangkan rasa percaya diri (self confidence). e) Membantu siswa menyadari bahwa pemecahan suatu masalah adalah berkat sumbangan orang lain. f) Pengumpulan dan pemusatan informasi bersumber dari para anggota kelompok yang berbeda-beda latar belakang dan pengalamannya. g) Tugas ini memberikan kemudahan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial di sekolah. h) Mendorong siswa mempraktekkan proses-proses intelektual. i) Tugas ini dapat digunakan secara bervariasi. j) Tugas ini menuntut sikap saling memberi dan menerima unutk membantu siswa untuk memahami dan mempersiapkan diri untuk berperan dalam masyarakat. k) Menyediakan kesempatan kepada siswa dan guru untuk mengembangkan hubungan antar insani yang efektif. l) Memperluas kemandirian intelektual siswa dan tidak bergantung pada pendapat guru saja. 2) Kelemahan tugas Kelompok di kelas. a) Tugas ini tidak menjamin dalam mengambil keputusan. b) Tugas ini tidak dapat diramalkan. c) Tugas ini tidak akan berfungsi dengan baik jika peserta dalam kelompok tidak memiliki latar belakang kemampuan umum. d) Tugas ini membutuhkan pengaturan fisik. b. Tugas Kelompok di Luar kelas Tugas kelompok di luar kelas merupakan kegiatan yang diberikan oleh guru dan dilaksanakan di luar kelas. Tugas kelompok di luar kelas dapat berupa penelitian kelompok. Menurut Masnur dan Nur Hasanah (1992:92) bahwa: “Penelitian kelompok adalah kegiatan sekelompok siswa yang di organisasi untuk melakukan studi. Mereka di pilih atau ditempatkan oleh guru, bekerja sama dalam rangka menjawab atau memecahkan suatu masalah”. Sedangkan Nana Sudjana (2000:82) bahwa: “Penelitian kelompok adalah bekerja dalam situasi kelompok untuk menemukan suatu permasalahan”. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian kelompok adalah suatu kegiatan yang diberikan oleh guru untuk menemukan atau pemecahan masalah. Penelitian kelompok merupakan tugas kelompok yang diberikan oleh guru untuk dilaksanakan atau dikerjakan atau di luar sekolah. Untuk itu dasar pengelompokan harus sesuai dengan keadaan siswa, agar pelaksanaan akan dapat terkoordinir secara tepat. Menurut Nana Sudjana (2000:82) kelompok bisa di buat berdasarkan : 1) Perbedaan individual dalam kemampuan belajar, terutama bila kelas itu sifatnya heterogen dalam belajar. 2) Perbedaan minat belajar, di buat kelompok yang terdiri atas siswa yang punya minat yang sama. 3) Pengelompokan berdasarkan jenis pekerjaan yang diberikan. 4) Pengelompokan atas dasar wilayah tempat tinggal siswa. 5) Pengelompokan secara random atau lotre. 6) Pengelompokan atas dasar jenis kelamin. Dari pernyataan di atas, sebaiknya kelompok satu dengan kelompok lain harus seimbang, baik dari segi kemampuan belajar maupun jenis kelamin. Penelitian kelompok pada dasarnya adalah suaru proses alami sejak jaman dahulu dan dan diterapkan dalam proses pembelajaran. Dalam melaksanakan penelitian kelompok harus diperhatikan teknik pelaksanaaan penelitian kelompok. Menurut Masnur dan Nur Hasanah (1982:95) bahwa teknik pelaksanaan penelitian kelompok adalah : 1) Guru menentukan suatu topik yang dipelajari oleh kelas yang bersumber dari suatu bidang studi tertentu. 2) Guru dan siswa merinci topik yang akan dipelajari, menjadi sub topik atau masalah. 3) Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan masalah 4) Tiap kelompok melakukan kegiatan penelitian (investigation) di pimpin oleh ketua kelompok melalui tahap-tahap: a) Perencanaan. b) Pengumpulan infomasi. c) Mengorganisasi informasi. d) Merangkum. 5) Pada waktu kelompok belajar/melakukan, guru harus berkunjung atau melihat tiap-tiap kelompok. 6) Setiap kelompok memberikan laporan kepada kelas. 7) Menyimpulkan hasil penelitian semua kelompok. Dari pendapat di atas maka untuk mencapai hasil yang baik dari pelaksanaan penelitian kelompok pemecahan masalah dapat di pandang suatu unit di pecahkan bersama dan dikerjakan bersama-sama pula. Penelitian kelompok tidak sama dengan pengajaran kelompok kecil. Pengajaran kelompok kecil pada hakikatnya adalah pengajaran individual, di mana guru menggunakan macam-macam strategi mengajar. Sedangkan penelitian kelompok menuntut pola tingkah laku guru ang membantu siswa melaksanakan tujuan-tujuan kerjasama kelompok.Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan tugas kelompok di dalam kelas tidak selalu efektif karena para siswa harus berpartisipasi dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru. 4. Pemberian Tugas di Rumah Melihat terbatasnya waktu proses pembelajaran dan banyaknya materi yang harus diberikan kepada siswa, maka guru bisa memberikan pekerjaan rumah kepada siswa. Pekerjaan rumah merupakan salah satu metode pemberian tugas oleh guru. Sama halnya dengan pekerjaan sekolah, pekerjaan rumah dapat dikerjakan secara individu maupun secara kelompok. Kelebihan dari tugas ini, siswa memiliki waktu yang banyak sehingga lebih leluasa untuk mnengerjakannya. Menurut Nursid Sumaatmadja (1984:111) jenis tugas yang dapat diberikan adalah : 1) Menjawab pertanyaan dan memecahkan persoalan secara individual. 2) Menyusun karya tulis baik secara individual maupun kelompok. 3) Membuat laporan kunjungan ke berbagai obyek yang dilakukan secara individual ataupun kelompok. 4) Membuat laporan buku secara individual. 5) Mengumpulkan artikel-artikel dari majalah dan surat kabar secara individual. 6) Membuat media pelajaran yang sederhana yang berkenaan dengan pengajaran, baik secara individual maupun kelompok. Dari pendapat di atas, bahwa secara garis besar pemberian tugas berupa pekerjaan rumah harus melihat waktu untuk mengerjakannya, sehingga apa yang diinginkan dari tugas tersebut dapat tercapai dengan baik. 5. Kelebihan dan Kelemahan Metode Pemberian Tugas. Setelah siswa selesai mengerjakan tugas, maka mereka harus membuat laporan yang bentuknya telah disesuaikan dengan tujuan tugas. Guru harus memiliki kebenaran hasil pekerjaan tersebut, terutama menghindari terjadinya penipuan, peniruan dan pengupahan tugas oleh orang lain. Penyimpangan yang demikian itu, harus dapat di cegah sedini mungkin. Guru harus mampu mengevaluasi pekerjaan siswa akibat pemberian tugas tersebut. Dalam metode tugas, ini memiliki kebaikan dan kelemahannya. Menurut Roestiyah (2001:135) manyatakan : Frekuensi tugas yang terlalu sering, ditambah lagi dengan bobot yang terlalu berat dapat menimbulkan kejemuan pada diri siswa. Sehingga minat mereka melaksanakan tugas dan bahkan pada pelajaran PPKn sendiri menjadi menurun. Hal ini dapat mengurangi keberhasilan pencapaian tujuan instruksional yang telah di susun. Hal itulah yang menjadi perhatian guru dalam menerapkan metode tugas. Metode pemberian juga tidak tidak terlepas dari kelemahan-kelemahannya seperti siswa kemungkinan hanya meniru kemungkinan hanya meniru pekerjaan temannya. Kelemahannya bila guru tidak dapat mengawasi langsung pelaksanaan tugas itu. Kemungkinan lain orang lain yang mengerjakan tugas itu terlebih-lebih orang tua siswa atau keluarganya yang lain. Sebagai tindak lanjut pelaksanaan metode pemberian tugas, segala tugas dikerjakan siswa harus dievaluasi dan hasilnya diberikan kepada siswa. Hal ini dilakukan untuk memotivasi siswa untuk mengerjakan tugas-tugas selanjutnya. B. Aktivitas Belajar Siswa 1. Pengertian Aktivitas Belajar Kondisi Belajar yang efektif adalah adanya aktivitas siswa dalam belajar. Aktivitas merupakan suatu sifat yang menetap pada diri seseorang siswa. Aktivitas ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan aktivitas seorang siswa akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa aktivitas seorang siswa tidak mungkin melakukan sesuatu. Aktivitas belajar siswa di maksud di sini adalah aktivitas jasmaniah maupun aktivitas mental. Menurut Moh Uzer Usman (2002:22) aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa hal, yaitu: a. Aktivitas visual, seperti membaca, menulis, melakukan eksprimen, dan demontrasi. b. Aktivitas lisan, seperti bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi, menyanyi. c. aktivitas mendengarkan, seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan. d. Aktivitas gerak, seperti senam, atletik, menari, melukis e. Aktivitas menulis seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat. Setiap jenis aktivitas tersebut di atas memilki kadar atau bobot yang berbeda bergantung pada segi tujuan mana yang akan di capai dalam kegiatan belajar. Yang jelas aktivitas belajar siswa hendaknya memiliki kadar atau bobot yang lebih tinggi. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan-perubahan aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Geoch (1990:20) mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice”. Sependapat dengan itu Hilgard (1986:4) mengatakan : Learning is the prosess by which an activity originates or is changed through training procedures (whether in laboratory or in the natural environment) as distinguished from changes by factors not attributable to training”. (Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah) yang dibedakan dari perubahan-perubahan oleh faktor-faktor yang tidak temasuk latihan.) Dari kedua pendapat asing di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang diarahkan kepada suatu tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Sebagai konsep, aktivitas belajar siswa adalah suatu proses kegiatan belajar subjek didik sehingga ia betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Untuk melihat terwujudnya aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran ada empat aktivitas belajar siswa, menurut Nana Sudjana (1996:21) adalah: a. Keinginan, keberanian menampilkan minat, kebutuhan dan permasalahannya. b. Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar. c. Penampilan berbagai usaha atau kekreatifan belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar mengajar sampai mencapai keberhasilannya. d. Kebebasan atau keleluasaan melakukan hal tersebut di atas tanpa tekanan guru atau pihak lainnya (kemandirian belajar) Dengan adanya aktivitas di atas, akan lebih mudah bagi siswa merencanakan dan melaksanakan belajar. Setidak-tidaknya memberikan rambu-rambu bagi siswa dalam melaksanakan aktivitas belajarnya. Dari segi proses, Nana Sudjana (2000:46) perbuatan belajar dapat dilihat: a. Belajar Signal. Bentuk belajar ini Paling sederhana yaitu memberikan reaksi terhadap perangsang. b. Belajar mereaksi perangsang melalui penguatan, yaitu memberikan reaksi yang berulang-ulang manakala terjadi reinforcement atau penguatan. c. Belajar membentuk rangkaian, yaitu belajar menghubung-hubungkan gejala, faktor satu dengan yang lain, sehingga menjadi satu kesatuan (rangkaian) yang berarti). d. Belajar asosiasi verbal, yaitu memberikan reaksi dalam bentuk kata-kata, bahasa, terhadap perangsang yang diterimanaya. e. Belajar membedakan hal yang majemuk, yaitu memberikan reaksi yang berbeda terhadap perangsang yang hampir sama sifatnya. f. Belajar konsep, yaitu menempatkan objek menjadi satu klasifikasi tertentu. g. Belajar kaidah atau belajar prinsip, yaitu menghubung-hubungkan beberapa konsep. h. Belajar memecahkan masalah yaitu menggabungkan beberapa kaidah atau prinsip untuk memecahkan persoalan. Perbuatan belajar di atas disusun dari yang paling sederhana sampai kepada yang kompleks. Dengan kata lain mempunyai hubungan hirarki. Belajar dari segi proses memberi petunjuk bagaimana perbuatan belajar itu dilakukan, atau bagaimana terjadinya perbuatan belajar. 2. Aktivitas Siswa Mengikuti Proses Pembelajaran Kondisi pembelajaran yang efektif adalah melihat aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pelajaran. Aktivitas belajar merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang ssiswa. Aktivitas belajar ini besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar, sebab dengan adanya aktivitas seseorang akan melakukan sesuatu yang diinginkannya. Sebaliknya tanpa aktivitas seseorang tidak akan melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dalam mengikuti pelajaran khususnya pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, erat kaitannya dengan sifat-sifat siswa itu sendiri, baik yang bersifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat maupun bersifat afektif seperti motivasi, rasa percaya diri dan minatnya. Dalam meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran, guru hendaknya mengajar dapat memperhatikan setiap siswa yang dihadapinya, dan juga memperhatikan apa yang sedang diucapkannya. Dengan demikian, guru tidak hanya memperhatikan pelajarannya, tetapi juga segala sesuatu yang terjadi disekitarnya. Oleh karena itu, guru berusaha untuk memusatkan perhatian siswa terhadap apa yang disampaikannya. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat pengajaran dalam menyajikan materi pelajaran kepada anak didiknya. 3. Aktivitas Siswa Mengerjakan Tugas Pemberian tugas dapat dilaksanakan dengan beberapa macam bentuk kerja. Sebagian terlasana di dalam kelas, sedangkan sebagian di luar kelas. Tugas ini dirasakan banyak manfaat, mengingat bahwa siswa perlu di didik untuk dapat mengatasi sendiri masalah yang dialaminya. Hal tersebut dapat dilakukan setelah pengajaran selesai menjelaskan sesuatu materi. Siswa termotivasi untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Tidak semua materi pelajaran diberikan tugas. Tugas yang selalu diberikan akan berakibat kejenuhan pada diri siswa. Oleh karena itu, guru harus selektif terhadap tugas yang diberikan, sehingga aktivitas siswa untuk mengerjakan tugas-tugas tidak menurun. 4. Aktivitas siswa dalam Memanfaatkan Perpustakaan Perpustakaan dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan motivasi siswa untuk belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat timbul akibat pengaruh dari luar dirinya. Motivasi yang timbul dari dalam individu siswa biasa di kenal dengan motivasi instrinsik. Menurut Sardiman AM. (2001:87) bahwa : “Motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu di rangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu”. Sedangkan motivasi yang diakibatkan dari luar di sebut motivasi ekstrinsik. Menurut Moh. Uzer Usman (2002:29) bahwa: “Motivasi ekstrinsik timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar”. Siswa yang mempunyai motivasi belajar di perpustakaan adalah siswa yang aktif dan kreatif, yaitu siswa yang benar-benar memanfaatkan waktunya untuk belajar dengan menggunakan bahan-bahan perpustakaan,misalnya saat beristirahat, siswa berusaha untuk mencari, membaca, meringkas buku-buku yang relevan dengan pelajarannya di kelas ataupun yang berkaitan dengan tugas yang diberikan guru. Jadi dari pendapat di atas bahwa motivasi timbul disebabkan oleh motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Untuk membangkitkan motivasi belajar siswa tidak mudah. Untuk itui guru perlu mengenal siswa, dan mempunyai kesanggupan kreatif untuk menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan dan minat siswa. Buku-buku yang tersedia di dalam perpustakaan sekolah bukanlah hanya sekedar menjadi barang koleksi yang dipajang atau mengisi ruang perpustakaan sekolah saja, tetapi keberadaan buku-buku bacaan/perpustakaan sangat besar artinya bagi guru-guru dan siswa dalam pelaksanaan proses belajar dan membaca buku-buku yang relevan dengan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan guru-guru dan siswa untuk lebih memudahkan dalam mempelajari dan memahami buku bacaan hendaknya siswa harus tahu bagaimana cara mempelajari bahan dan buku-buku bacaan yang ada di perpustakaan. Berikut ini diberikan beberapa petunjuk begaimana caranya mempelajari bahan dari buku perpustakaan. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1992:70) cara mempelajarinya adalah : a. Tentukan dahulu masalah atau bahan apa yang ingin diketahui dari buku tersebut. Tentukan dengan keperluan sehubungan dengan bahan yang akan dipelajari. b. Lihat daftar isi buku yang akan dipelajari untuk menentukan bab berapa dalam buku tersebut yang memuat bahan yang ingin dipelajari. c. Bukalah halaman bab yang dikehendaki, lalu periksa butir-butir yang di muat dalam bab tersebut. Seandainya bahan yang diperlukan ada dalam butir tertentu dari bab tersebut, bacalah butir tersebut dan anda tidak terlalu penting membaca butir lainnya. Catat pokok-pokoknya untuk kemudan anda gabungkan dengan catatan sendiri. d. Jika semua butir yang ada dalam bab tersebut anda perlukan, bacalah terlebih dahulu semua butir yang ada di dalamnya sampai selesai sambil memberi tanda pada bagian-bagian tertentu yang anda perlukan. e. Ulangi membaca bab tersebut secara lebih mendalam, terutama bagian-bagian yang ana telah tandai. Catatlah hal-hal yang anda pentingkan dan satukan dengan catatan yang anda miliki. Jangan lupa membaut pertanyaan dari bahan tersebut pada catatan anda. f. Hampir sebagian besar buku yang di tulis dalam bahasa asing terutama bahasa Inggris, di bagian belakangnya disertakan indeks. Indeks memudahkan kita mempelajari atau menemukan bagian penting yang kita inginkan. Indeks di susun menurut alfabet dan disertai nomor halaman. g. Kesulitan bahasa asing akan dapat anda atasi apabila anda rajin mempelajarinya dan tidak bosan membuka kamus. Dengan melihat petunjuk di atas diharapkan dapat memberi manfaat bagi siswa, meskipun petunjuk ini baru sebagian besar saja namun bila di coba tidak mustahil membawa manfaat bagi kita sendiri. Di setiap sekolah terdapat perpustakaan, karena perpustakaan merupakan sumber utama untuk memperoleh bahan bacaan bagi para siswa. Itulah sebabnya di dalam perpustakaan disediakan buku-buku yang sangat diperlukan siswa di sekolah. Perpustakaan memang berarti kumpulan buku-buku. Siswa dapat memenuhi kebutuhan bahan bacaan yang diperlukan diperpustakaan.Sejalan dengan uraian tersebut M. Sudomo (1979:239) mengatakan:” Hal lain yang perlu diperhatikan oleh guru ialah usaha untuk memperkaya pengetahuan siswa melalui buku-buku bacaan yang disediakan dalam perpustakaan”. Bahan bacaan itu dapat berupa bacaan yang berhubungan langsung dengan pelajaran, tetapi juga dapat berupa pengetahuan-pengetahuan lain dan pengetahuan yang baru. Semua itu akan menambah wawasan yang lebih luas kepada siswa. Itulah sebabnya perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar yang mendukung pembelajaran dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang dapat digunakan sebagaimana mestinya, maka perpustakaan dengan kurikulum sekolah, petugas pengelola perpustakaan, waktu buka perpustakaan sekolah dan ruang perpustakaan sekolah, semakin baik pengelolaan dan semakin berfungsinya perpustakaan akan meransang siswa untuk berkunjung, banyak membaca, belajar di perpustakaan sekolah, maka akan semakin tinggi hasil prestasi belajar siswa, dengan demikian siswa dapat memanfaatkan perpustakaan sekolah secara maksimal baik itu secara mandiri, berkelompok maupun dengan cara diskusi. C. Hubungan antara Pemberian Tugas dengan Aktivitas Belajar Usaha siswa dalam mencapai hasil belajar yang optimal sangat berkaitan dengan materi yang diajarkan oleh guru. Untuk menyampaikan materi diperlukan metode pengajaran. Salah satu metode yang dapat meningkatkan hasil beljar adalah metode pemberian tugas. Menurut Nana Sudjana (2000:81) bahwa tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan : 1. Tujuan yang akan di capai. 2. Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut. 3. Sesuai dngan kemampuan siswa. 4. Ada petunjuk/sumber yang dapat membawa pekerjaan siswa. 5. Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas. Diketahui bahwa metode pemberian tugas adalah metode pengajaran yang merangsang siswa untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara berkelompok. Oleh sebab itu dengan metode pemberian tugas diharapkan dapat meningkatkan aktivitas, minat serta motivai siswa untuk belajar sehingga tercapainya hasil belajar yang diharapkan. Disinilah letak hubungan antara metode pemberian tugas dengan aktivitas belajar siswa. Teknik pemberian tugas atau resitasi biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melaksanakan tugas. Sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat terintegrasi. Hal itu terjadi disebabkan siswa mendalamin situasi atau pengalaman yang berbeda dalam menghadapi masalah-masalah baru. Di samping itu untuk memperoleh pengetahuan melaksanakan tugas akan memperluas dan memperkaya pengetahuan serta keterampilan siswa di sekola, melalui kegiatan-kegiatan di luar. Dengan kegiatan melaksanakan tugas siswa aktif belajar dan merasa terangsang untuk meningkatkan belajar yang lebih baik, memupuk inisiatif dan berani bertanggung jawab sendiri. Banyak tugas yang harus dikerjakan siswa, hal itu diharapkan mampu menyadarkan siswa untuk memanfaatkan waktu senggangnya untuk hal-hal yang menunjang belajarnya dengan mengisi kegiatan-kegiatan yang berguna dan konstruktif.


A.     Pemberian Tugas
1.   Pengertian Pemberian Tugas
Kegiatan interaksi pembelajaran harus selalu ditingkatkan efektivitas dan efesiensinya. Dengan banyaknya kegiatan pembelajaran di sekolah, dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa untuk melakasanakan kegiatan belajar. Untuk mengatasi keadaan tersebut guru perlu memberikan tugas-tugas. Menurut Roestiyah NK (2001:133) mengatakan : “Teknik pemberian tugas atau resitasi biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi”. Searah dengan itu Inne Ibrahim dan Nana Syaodih S. (2003:107) bahwa : “Metode pemberian tugas dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada siswa melakukan tugas atau kegiatan yang berhubungan dengan pelajaran seperti mengerjakan soal-soal, mengumpulkan kliping, dan sebagainya”.
Dari pendapat di atas bahwa pemberian tugas adalah cara yang diberikan oleh guru untuk merangsang anak didik aktif belajar melaksanakan latihan-latihan agar hasil belajar lebih baik. untuk lebih memantapkan pengusaan terhadap materi yang telah disampaikan, maka siswa diberikan tugas, misalnya membuat kesimpulan atau generalisasi dari hasil penyampaian atau mengerjakan pekerjaan rumah.
2.   Pelaksanaan Pemberian Tugas
Sebelum guru memberikan tugas kepada siswa, guru harus mempertim- bangkan penggunaan metode ini. Apakah tugas-tugas itu wajar diberikan, apakah memberatkan siswa, apakah siswa mampu melaksanakannya atau ada kemungkinan-kemungkinan lain yang mengganggu siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Untuk itu Roestiyah NK (2001:136) bahwa dalam pelaksanaan pemberian tugas guru perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
a.  Merumuskan tujuan khusus dari tugas yang diberikan.
b.  Mempertimbangkan betul-betul apakah pemilihan teknik resitasi itu telah dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
c.   Guru perlu merumuskan tugas-tugas dengan jelas dan mudah dimengerti.

Dari pendapat diatas, guru dalam menggunakan teknik ini agar sasarannya dapat tercapai, maka perlu mempertimbangkan apakah tujuan yang akan di capai dengan tugas cukup jelas. Untuk itu Nursid Sumaatmadja (1984:110) dalam memberikan tugas, guru dalam merumuskan tujuan yang jelas adalah:
a.  Merangsang untuk bekerja lebih baik, memupuk tanggung jawab, inisiatif dan berdidri sendiri.
b.  Membengkitkan minat siswa untuk mengisi waktu luasng dengan kegiatan sekolah.
c.   Memperkaya pengalaman-pengalaman sekolah dengan kegiatan-kegiatan di luar sekolah.
d.  Memperkuat hasil belajar di sekaolah dengan latihan-latihan berharga, penting dan terintegrasi.

Setelah siswa memahami tujuan dan makna tugas, maka siswa akan melaksanakan tugas  dengan belajar sendiri dengan tujuan-tujuan yang telah digariskan dari penjelasan guru. Dalam proses ini guru perlu mengontrol pelaksanaan tugas, lebih-lebih pada saat tugas yang dikerjakan di sekolah. Jika tugas yang dikerjakan oleh siswa tidak sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan, maka guru dapat mem berikan bentuk tugas lain, agar apa yang diharapkan dapat tercapai. Dalam pelaksanaan metode ini guru dapat memberikan tugas berupa pemberian tugas dalam proses pembelajaran dan pemberian tugas di rumah.
3.    Pemberian Tugas dalam Proses Pembelajaran
Bentuk-bentuk tugas yang dapat diberikan pada pekerjaan sekolah maupun pekerjaan rumah dapat dibedakan ke dalam dua bagian, yaitu tugas individual dan tugas kelompok. Menurut Nursid Sumaatmadja (1984:111) bahwa: “Tugas individual lebih ditekankan kepada pembinaan kognitif-afektif-psikomotor siswa secara individual”. Sedangkan menurut Nana Sudjana  (1996:86) bahwa : “Tugas kelompok lebih menekankan aktivitas belajar siswa secara bersama dalam kelompok sehingga mengembangkan hubungan sosial dalam pemecahan masalah belajar”.
Dari pendapat di atas menurut S. Nasution (2000:119) bahwa sifat-sifat tugas individual ini adalah :
1.     Self-Intructive
Tugas ini biasanya di cetak atau distensil. Anak-anak harus membaca sendiri instruksi atau petunjuk-petunjuk tentang cara melakukan tugas itu, sedapat mungkin tanpa bantuan dari pihak guru, jadi berdasarkan maximum self help, yakni menolong diri secara maksimal.
2.     Self-Corrective
Artinya berisi jawaban sehingga anak itu dapat memeriksa pekerjaannya sendiri dan dengan demikian mengetahui hasil belajarnya. Anak dapat memperbaiki kesalahannya sendiri.

Tugas individual di atas siswa dituntut menurut kesanggupan dan kerajinan masing-masing. Sungguhpun demikian, tugas individual ini siswa di beri kesempatan untuk berdialog dengan siswa lain, namun tetap tugas yang harus diselesaikannya bersifat perorangan. Langkah langkah yang harus di tempuh oleh guru dalam pemberian tugas individual ini menurut Nana Sudjana (1996:83) adalah :
a.  Berdasarkan tujuan dan bahan yang telah disiapkan sebelumnya (pada satpel), guru menjelaskan tujuan pengajaran yang harus dicapai siswa (TIK) dan cara siswa belajar dengan model mengajar perorangan.
b.  Guru menjelaskan bahan pengajaran secara sistematis dan logis. Pokok bahan iytu di tulis di papan tulis. Beri kesempatan kepada siswa untuk bertanya sampai bahan tersebut dikuasai betul oleh para siswa (tugas tanpa bahan). Bagikan bahan atau sumber belajar, misalnya buku pelajaran atau buku modul untuk dipelajari oleh siswa. Jika tidak ada buku sumber, bahan itu di buat oleh guru secara tertulis agar dapat dipelajari siswa (tugas dengan bahan).
c.   Bagikan lembaran kerja untuk setiap siswa. Lembaran kerja berisi tugas-tugas ataupun soal-soal yang bersumber dari bahan yang telah dijelaskan oleh guru atau dipelajari siswa. Tugas atau soal biasanya berisi pertanyaan ingatan dan atau pikiran, membuat atau mencari contoh-contoh dari setiap konsep yang telah dipelajari, aplikasi dari konsep dalam pemecahan masalah, membuat diagram (grafik)atau uraian tentang konsep yang telah dipelajarinya, membuat ikhtisar (rangkuman) dari bahan, dan lain-lain. Jika kerja tidak tertulis oleh para siswa pada buku mereka masing-masing. Lembaran kerja dikerjakan oleh setiap siswa secara perorangan.
d.  Guru memantau dan memeriksa kegiatan belajar siswa dalam mengerjakan lembaran kerja, sekaligus memberi bantuan, arahan bagi siswa yang memerlukannya.
e.  Setelah selesai, diperiksa bersama-sama dengan cara menukar pekerjaan dengan teman lain, lalu guru menjelaskan setiap jawabannya.
f.    Kekeliruan dan kesalahan jawaban diperbaiki oleh setiap siswa. Jika ada yang belum jelas, guru memberi kesempatan bertanya kepada siswa tugas-tugas mana yang masih perlu penjelasan lebih lanjut. Hasil pekerjaan siswa dijadikan bahan penilaian guru.
g.  Akhiri pelajaran dengan memberikan tugas-tugas pekerjaan rumah, baik yang berkenaan dengan bahan yang telah dipelajari atau dengan bahan yang akan dipelajari berikutnya.

Dari pendapat di atas bahwa metode pemberian tugas sekolah secara inividual ini biasanya lebih efektif, karena siswa dihadapkan kepada tugas-tugas dan pekerjaannya masing-masing. Kelas lebih tertib dan sederhana, tak perlu mengubah posisi tempat seperti pada tugas sekolah yang berbentuk kelompok.
Selain tugas individu, pekerjaan sekolah dapat diberikan dalam bentuk pekerjaan kelompok. Karena kelas di bentuk ke dalam kelompok-kelompok maka pengelompokan siswa perlu pertimbangan-pertimbangan tertentu. Menurut Nana Sudjana (1996:86) adalah :
a.  Siswa sebagai individu memiliki kemampuan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini harus diupayakan agar tidak menimbulkan efek psikologis bagi siswa yang prestasina rendah. Melalui belajar kelompok diharapkan perbedaan-perbedaan kemampuan dan prestasi yang dicapainya bisa ditingkatkan sebab dapat memperoleh informasi tambahan dari kelompoknya. Ia bisa belajar dari teman kelompoknya.
b.  Siswa sebagai makhluk sosial memiliki dorongan yang kuat untuk menampilkan keakuannya di depan orang lain, dan memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Melalui diskusi kelompok, keakuan dan kebutuhan tersebut dapat disalurkan bahkan diarahkan kepada kreativitas belajar sesuai dengan kapasitasnya.
c.   Tidak semua masalah belajar dapat dipecahkan sendiri sehingga dibutuhkan bantuan dan pendapat orang lain. Pemecahan masalah oleh banyak orang akan lebih tepat dan akurat dibandingkan dengan pendapat sendiri.
d.  Proses dan hasil belajar yang diperoleh dari diskusi kelompok lebih kaya dan komprehensif. Siswa memperoleh kesempatan untuk belajar berbicara mengemukakan pendapatnya, belajar menghargai pendapat orang lain, toleransi sosial, keberanian berbicara menanggapi pendapat orang lain, belajar dasar-dasar berorganisasi dan lain-lain.
e.  Penggunaan diskusi kelompok dapat dilakukan di dalam kelas atau di luar kelas untuk mengerjakan tugas sekolah. Dengan demikian bisa membantu para siswa menyelesaikan tugas dan tuntutan belajarnya.

Keberhasilan memberikan tugas kelompok kepada siswa sangat bergantung pada masalah yang di angkat oleh guru. Masalah harus bersumber dari bahan pelajaran agar relevan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Adapun jenis tugas kelompok yang dapat digunakan oleh guru adalah :

a.  Tugas Kelompok di dalam Kelas
Tugas kelompok di dalam kelas merupakan kegiatan yang diberikan oleh guru dan dilaksanakan di dalam kelas. Tugas kelompok di dalam kelas, biasanya berupa diskusi kelompok. Menurut Nana Sudjana (2000:79) bahwa: “Diskusi adalah tukar menukar infomasi, pendapat dan unsur pengalaman secara teratur dengan amaksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama”. Sejalan dengan itu JJ. Hasibuan dan Ibrahim (1991:98) mengatakan: “Diskusi adalah suatu percakapan atau pembicaraan antara dua orang atau lebih”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa diskusi adalah tukar menukar informasi secara teratur antara beberapa orang. Diskusi selalu terjadi dalam kelompok, baik kelompok besar maupun kelompok kecil. Sesuai dengan penggunaan dalam proses pembelajaran, maka diskusi kelompok harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Menurut Hasibuan J.J. dan Ibrahim (1991:99) syarat-syarat tersebut adalah :
1)     Melibatkan kelompok anggotanya berkisar antara 3-9 orang.
2)     Berlangsung dalam interaksi secara bebas (tidak ada tekanan atau paksaan) dan langsung, artinya semua anggota kelompok mendapat kesempatan untu saling beradu pandang dan dan saling mendengar serta berkomunikasi satu dengan yang lain
3)     Mempunyai tujuan tertentu yang akan di capai dengan kerja sama antara anggota kelompok.
4)     Berlangsung menurut suatu proses yang teratur dan sistematis menuju suatu kesimpulan.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa diskusi kelompok dalam proses pembelajaran adalah suatu proses percakapan yang teratur yang melibatkan kelompok siswa dalam interaksi tatap muka yang bebas dan terbuka dengan tujuan berbagi informasi dan pengalaman serta mengambil keputusan bersama.
Menurut Masnur dan Nur Hasanah (1992:86) ada tiga bentuk diskusi yang dilaksanakan di kelas, yaitu:
1)  Pertemuan untuk memecahkan masalah sosial, yang berkenaan dengan masalah-masalah tingkah laku sosial. Siswa berusaha membagi tanggung jawab belajar dan bertingkah laku dengan memecahkan masalah-masalah mereka di dalam kelas.
2)  Pertemuan terbuka (opended meeting). Siswa di minta mendiskusikan persoalan-persoalan yang bertalian dengan hidup mereka dan yang mungkin pula bertalian dengan kurikulum kelas.
3)  Pertemuan diagnostik kependidikan, yang berhubungan langsung dengan apa yang sedang dipelajari di kelas itu.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk diskusi yang dilaksanakan bermaksud untuk membantu siswa mengalami tingkah laku sesuai dengan tujuan, sehingga mereka lebih responsif terhadap lingkungannya.
Kegiatan diskusi dapat berlangsung secara efektif harus didahului perencanaan dan persiapan yang matang. Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum guru memberikan tugas diskusi kelompok menurut JJ. Hasibuan dan Ibrahim (1991:103) adalah:
1)     Pemilihan topik.
2)     Perumusan masalah.
3)     Penyiapan informasi pendahuluan.
4)     Penyiapan diri sebaik-baiknya sebagi pemimpin diskusi.
5)     Penetapan besar kelompok.
6)     Pengaturan tempat duduk.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan dan persiapan diskusi akan mempengaruhi pelaksanaan diskusi kelompok tersebut. Selanjutnya JJ. Hasibuan dan Ibrahim (1991:105) kembali menegaskan bahwa :
Setelah perencanaan dan persiapan dilakukan maka guru sebagai pemimpin diskusi kelompok, perlu memiliki keterampilan, yaitu:
1)  Memusatkan perhatian.
2)  Memperjelas masalah atau urunan pendapat.
3)  Menganalisis pandangan siswa.
4)  Meningkatkan urunan siswa.
5)  Menyebarkan kesempatan berpartisipasi.
6)  Menutup diskusi.

Dari pendapat di atas maka dalam melaksanakan diskusi yang merupakan tugas kelompok yang dilakukan di dalam kelas, guru harus melaksanakan dengan baik apa yang menjadi tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam memberikan tugas kepada siswa tentunya guru dapat melihat kebaikan dan kelemahan dalam pemberian tugas tersebut. Kebaikan dan kelemahan pemberian tugas kelompok di dalam kelas ini menurut Masnur dan  Nur Hasanah (1992:88), yaitu :
1) Kebaikan tugas kelompok di dalam kelas.
a)     Guru bebas melaksanakan dan memberikan bantuan kepada siswa.
b)     Melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar.
c)     Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi.
d)     Siswa yang berperan serta dalam suatu tugas dapat mengembangkan rasa percaya diri (self confidence).
e)     Membantu siswa menyadari bahwa pemecahan suatu masalah adalah berkat sumbangan orang lain.
f)      Pengumpulan dan pemusatan informasi bersumber dari para anggota kelompok yang berbeda-beda latar belakang dan pengalamannya.
g)     Tugas ini memberikan kemudahan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial di sekolah.
h)     Mendorong siswa mempraktekkan proses-proses intelektual.
i)       Tugas ini dapat digunakan secara bervariasi.
j)       Tugas ini menuntut sikap saling memberi dan menerima unutk membantu siswa untuk memahami dan mempersiapkan diri untuk berperan dalam masyarakat.
k)     Menyediakan kesempatan kepada siswa dan guru untuk mengembangkan hubungan antar insani yang efektif.
l)       Memperluas kemandirian intelektual siswa dan tidak bergantung pada pendapat guru saja.
2) Kelemahan tugas Kelompok di kelas.
a)     Tugas ini tidak menjamin dalam mengambil keputusan.
b)     Tugas ini tidak dapat diramalkan.
c)     Tugas ini tidak akan berfungsi dengan baik jika peserta dalam kelompok tidak memiliki latar belakang kemampuan umum.
d)     Tugas ini membutuhkan pengaturan fisik.

b. Tugas Kelompok di Luar kelas
Tugas kelompok di luar kelas merupakan kegiatan yang diberikan oleh guru dan dilaksanakan di luar kelas. Tugas kelompok di luar kelas dapat berupa penelitian kelompok. Menurut Masnur dan Nur Hasanah (1992:92) bahwa: “Penelitian kelompok adalah kegiatan sekelompok siswa yang di organisasi untuk melakukan studi. Mereka di pilih atau ditempatkan oleh guru, bekerja sama dalam rangka menjawab atau memecahkan suatu masalah”. Sedangkan Nana Sudjana (2000:82) bahwa: “Penelitian kelompok adalah bekerja dalam situasi kelompok untuk menemukan suatu permasalahan”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian kelompok adalah suatu kegiatan yang diberikan oleh guru untuk menemukan atau pemecahan masalah. Penelitian kelompok merupakan tugas kelompok yang diberikan oleh guru untuk dilaksanakan atau dikerjakan atau di luar sekolah. Untuk itu dasar pengelompokan harus sesuai dengan keadaan siswa, agar pelaksanaan akan dapat terkoordinir secara tepat. Menurut Nana Sudjana (2000:82) kelompok bisa di buat berdasarkan :
1)  Perbedaan individual dalam kemampuan belajar, terutama bila kelas itu sifatnya heterogen dalam belajar.
2)  Perbedaan minat belajar, di buat kelompok yang terdiri atas siswa yang punya minat yang sama.
3)  Pengelompokan berdasarkan jenis pekerjaan yang diberikan.
4)  Pengelompokan atas dasar wilayah tempat tinggal siswa.
5)  Pengelompokan secara random atau lotre.
6)  Pengelompokan atas dasar jenis kelamin.

Dari pernyataan di atas, sebaiknya kelompok satu dengan kelompok lain harus seimbang, baik dari segi kemampuan belajar maupun jenis kelamin. Penelitian kelompok pada dasarnya adalah suaru proses alami sejak jaman dahulu dan dan diterapkan dalam proses pembelajaran.
Dalam melaksanakan penelitian kelompok harus diperhatikan teknik pelaksanaaan penelitian kelompok. Menurut Masnur dan Nur Hasanah (1982:95) bahwa teknik pelaksanaan penelitian kelompok adalah :
1)  Guru menentukan suatu topik yang dipelajari oleh kelas yang bersumber dari suatu bidang studi tertentu.
2)  Guru dan siswa merinci topik yang akan dipelajari, menjadi sub topik atau masalah.
3)  Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan masalah
4)  Tiap kelompok melakukan kegiatan penelitian (investigation) di pimpin oleh ketua kelompok melalui tahap-tahap:
a)  Perencanaan.
b)  Pengumpulan infomasi.
c)  Mengorganisasi informasi.
d)  Merangkum.
5)  Pada waktu kelompok belajar/melakukan, guru harus berkunjung atau melihat tiap-tiap kelompok.
6)  Setiap kelompok memberikan laporan kepada kelas.
7)  Menyimpulkan hasil penelitian semua kelompok.

Dari pendapat di atas maka untuk mencapai hasil yang baik dari pelaksanaan penelitian kelompok pemecahan masalah dapat di pandang suatu unit di pecahkan bersama dan dikerjakan bersama-sama pula. Penelitian kelompok tidak sama dengan pengajaran kelompok kecil. Pengajaran kelompok kecil pada hakikatnya adalah pengajaran individual, di mana guru menggunakan macam-macam strategi mengajar. Sedangkan penelitian kelompok menuntut pola tingkah laku guru ang membantu siswa melaksanakan tujuan-tujuan kerjasama kelompok.Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan tugas kelompok di dalam kelas tidak selalu efektif karena para siswa harus berpartisipasi dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru.
4.  Pemberian Tugas di Rumah
Melihat terbatasnya waktu proses pembelajaran dan banyaknya materi yang harus diberikan kepada siswa, maka guru bisa memberikan pekerjaan rumah kepada siswa. Pekerjaan rumah merupakan salah satu metode pemberian tugas oleh guru. Sama halnya dengan pekerjaan sekolah, pekerjaan rumah dapat dikerjakan secara individu maupun secara kelompok. Kelebihan dari tugas ini, siswa memiliki waktu yang banyak sehingga lebih leluasa untuk mnengerjakannya. Menurut Nursid Sumaatmadja (1984:111) jenis tugas yang dapat diberikan adalah :
1)     Menjawab pertanyaan dan memecahkan persoalan secara individual.
2)     Menyusun karya tulis baik secara individual maupun kelompok.
3)     Membuat laporan kunjungan ke berbagai obyek yang dilakukan secara individual ataupun kelompok.
4)     Membuat laporan buku secara individual.
5)     Mengumpulkan artikel-artikel dari majalah dan surat kabar secara individual.
6)     Membuat media pelajaran yang sederhana yang berkenaan dengan pengajaran, baik secara individual maupun kelompok.

Dari pendapat di atas, bahwa secara garis besar pemberian tugas berupa pekerjaan rumah harus melihat waktu untuk mengerjakannya, sehingga apa yang diinginkan dari tugas tersebut dapat tercapai dengan baik.
5.   Kelebihan dan Kelemahan Metode Pemberian Tugas.
Setelah siswa selesai mengerjakan tugas, maka mereka harus membuat laporan yang bentuknya telah disesuaikan dengan tujuan tugas. Guru harus memiliki kebenaran hasil pekerjaan tersebut, terutama menghindari terjadinya penipuan, peniruan dan pengupahan tugas oleh orang lain. Penyimpangan yang demikian itu, harus dapat di cegah sedini mungkin. Guru harus mampu mengevaluasi pekerjaan siswa akibat pemberian tugas tersebut.
Dalam metode tugas, ini memiliki kebaikan dan kelemahannya. Menurut Roestiyah (2001:135) manyatakan :
Frekuensi tugas yang terlalu sering, ditambah lagi dengan bobot yang terlalu berat dapat menimbulkan kejemuan pada diri siswa. Sehingga minat mereka melaksanakan tugas dan bahkan pada pelajaran PPKn sendiri menjadi menurun. Hal ini dapat mengurangi keberhasilan pencapaian tujuan instruksional yang telah di susun. Hal itulah yang menjadi perhatian guru dalam menerapkan metode tugas.

Metode pemberian juga tidak tidak terlepas dari kelemahan-kelemahannya seperti siswa kemungkinan hanya meniru kemungkinan hanya meniru pekerjaan temannya. Kelemahannya bila guru tidak dapat mengawasi langsung pelaksanaan tugas itu. Kemungkinan lain orang lain yang mengerjakan tugas itu terlebih-lebih orang tua siswa atau keluarganya yang lain. Sebagai tindak lanjut pelaksanaan metode pemberian tugas, segala tugas dikerjakan siswa harus dievaluasi dan hasilnya diberikan kepada siswa. Hal ini dilakukan untuk memotivasi siswa untuk mengerjakan tugas-tugas selanjutnya.

B.   Aktivitas Belajar Siswa

1.     Pengertian Aktivitas Belajar
Kondisi Belajar yang efektif adalah adanya aktivitas siswa dalam belajar. Aktivitas merupakan suatu sifat yang menetap pada diri seseorang siswa. Aktivitas ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan aktivitas seorang siswa akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa aktivitas seorang siswa tidak mungkin melakukan sesuatu.
Aktivitas belajar siswa di maksud di sini adalah aktivitas jasmaniah maupun aktivitas mental. Menurut Moh Uzer Usman (2002:22) aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa hal, yaitu:
a.  Aktivitas visual, seperti membaca, menulis, melakukan eksprimen, dan demontrasi.
b.  Aktivitas lisan, seperti bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi, menyanyi.
c.   aktivitas mendengarkan, seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan.
d.  Aktivitas gerak, seperti senam, atletik, menari, melukis
e.  Aktivitas menulis seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat.

Setiap jenis aktivitas tersebut di atas memilki kadar atau bobot yang berbeda bergantung pada segi tujuan mana yang akan di capai dalam kegiatan belajar. Yang jelas aktivitas belajar siswa hendaknya memiliki kadar atau bobot yang lebih tinggi.
Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan-perubahan aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Geoch (1990:20) mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice”. Sependapat dengan itu Hilgard (1986:4) mengatakan :
Learning is the prosess by which an activity originates or is changed through training procedures (whether in laboratory or in the natural environment) as distinguished from changes by factors not attributable to training”. (Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah) yang dibedakan dari perubahan-perubahan oleh faktor-faktor yang tidak temasuk latihan.)

Dari kedua pendapat asing di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang diarahkan kepada suatu tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Sebagai konsep, aktivitas belajar siswa adalah suatu proses kegiatan belajar subjek didik sehingga ia betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Untuk melihat terwujudnya aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran ada empat aktivitas belajar siswa, menurut Nana Sudjana (1996:21) adalah:
a.  Keinginan, keberanian menampilkan minat, kebutuhan dan permasalahannya.
b.  Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar.
c.   Penampilan berbagai usaha atau kekreatifan belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar mengajar sampai mencapai keberhasilannya.
d.  Kebebasan atau keleluasaan melakukan hal tersebut di atas tanpa tekanan guru atau pihak lainnya (kemandirian belajar)

Dengan adanya aktivitas di atas, akan lebih mudah bagi siswa merencanakan dan melaksanakan belajar. Setidak-tidaknya memberikan rambu-rambu bagi siswa dalam melaksanakan aktivitas belajarnya. Dari segi proses, Nana Sudjana (2000:46) perbuatan belajar dapat dilihat:
a.  Belajar Signal. Bentuk belajar ini Paling sederhana yaitu memberikan reaksi terhadap perangsang.
b.  Belajar mereaksi perangsang melalui penguatan, yaitu memberikan reaksi yang berulang-ulang manakala terjadi reinforcement atau penguatan.
c.   Belajar membentuk rangkaian, yaitu belajar menghubung-hubungkan gejala, faktor satu dengan yang lain, sehingga menjadi satu kesatuan (rangkaian) yang berarti).
d.  Belajar asosiasi verbal, yaitu memberikan reaksi dalam bentuk kata-kata, bahasa, terhadap perangsang yang diterimanaya.
e.  Belajar membedakan hal yang majemuk, yaitu memberikan reaksi yang berbeda terhadap perangsang yang hampir sama sifatnya.
f.    Belajar konsep, yaitu menempatkan objek menjadi satu klasifikasi tertentu.
g.  Belajar kaidah atau belajar prinsip, yaitu menghubung-hubungkan beberapa konsep.
h.  Belajar memecahkan masalah yaitu menggabungkan beberapa kaidah atau prinsip untuk memecahkan persoalan.

Perbuatan belajar di atas disusun dari yang paling sederhana sampai kepada yang kompleks. Dengan kata lain mempunyai hubungan hirarki. Belajar dari segi proses memberi petunjuk bagaimana perbuatan belajar itu dilakukan, atau bagaimana terjadinya perbuatan belajar.
2.     Aktivitas Siswa Mengikuti Proses Pembelajaran
Kondisi pembelajaran yang efektif adalah melihat aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pelajaran. Aktivitas belajar merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang ssiswa. Aktivitas belajar ini besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar, sebab dengan adanya aktivitas seseorang akan melakukan sesuatu yang diinginkannya. Sebaliknya tanpa aktivitas seseorang tidak akan melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dalam mengikuti pelajaran khususnya pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, erat kaitannya dengan sifat-sifat siswa itu sendiri, baik yang bersifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat maupun bersifat afektif seperti motivasi, rasa percaya diri dan minatnya.
Dalam meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran, guru hendaknya mengajar dapat memperhatikan setiap siswa yang dihadapinya, dan juga memperhatikan apa yang sedang diucapkannya. Dengan demikian, guru tidak hanya memperhatikan pelajarannya, tetapi juga segala sesuatu yang terjadi disekitarnya. Oleh karena itu, guru berusaha untuk memusatkan perhatian siswa terhadap apa yang disampaikannya. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat pengajaran dalam menyajikan materi pelajaran kepada anak didiknya.


3.     Aktivitas Siswa Mengerjakan Tugas
Pemberian tugas dapat dilaksanakan dengan beberapa macam bentuk kerja. Sebagian terlasana di dalam kelas, sedangkan sebagian di luar kelas. Tugas ini dirasakan banyak manfaat, mengingat bahwa siswa perlu di didik untuk dapat mengatasi sendiri masalah yang dialaminya. Hal tersebut dapat dilakukan setelah pengajaran selesai menjelaskan sesuatu materi. Siswa termotivasi untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.
Tidak semua materi pelajaran diberikan tugas. Tugas yang selalu diberikan akan berakibat kejenuhan pada diri siswa. Oleh karena itu, guru harus selektif terhadap tugas yang diberikan, sehingga aktivitas siswa untuk mengerjakan tugas-tugas tidak menurun.
4.     Aktivitas siswa dalam Memanfaatkan Perpustakaan
Perpustakaan dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan motivasi siswa untuk belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat timbul akibat pengaruh dari luar dirinya. Motivasi yang timbul dari dalam individu siswa biasa di kenal dengan motivasi instrinsik. Menurut Sardiman AM. (2001:87) bahwa : “Motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu di rangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu”. Sedangkan motivasi yang diakibatkan dari luar di sebut motivasi ekstrinsik. Menurut Moh. Uzer Usman (2002:29) bahwa: “Motivasi ekstrinsik timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar”.
Siswa yang mempunyai motivasi belajar di perpustakaan adalah siswa yang aktif dan kreatif, yaitu siswa yang benar-benar memanfaatkan waktunya untuk belajar dengan menggunakan bahan-bahan perpustakaan,misalnya saat beristirahat, siswa berusaha untuk mencari, membaca, meringkas buku-buku yang relevan dengan pelajarannya di kelas ataupun yang berkaitan dengan tugas yang diberikan guru.
Jadi dari pendapat di atas bahwa motivasi timbul disebabkan oleh motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Untuk membangkitkan motivasi belajar siswa tidak mudah. Untuk itui guru perlu mengenal siswa, dan mempunyai kesanggupan kreatif untuk menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan dan minat siswa.
Buku-buku yang tersedia di dalam perpustakaan sekolah bukanlah hanya sekedar menjadi barang koleksi yang dipajang atau mengisi ruang perpustakaan sekolah saja, tetapi keberadaan buku-buku bacaan/perpustakaan sangat besar artinya bagi guru-guru dan siswa dalam pelaksanaan proses belajar dan membaca buku-buku yang relevan dengan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan guru-guru dan siswa untuk lebih memudahkan dalam mempelajari dan memahami buku bacaan hendaknya siswa harus tahu bagaimana cara mempelajari bahan dan buku-buku bacaan yang ada di perpustakaan.
Berikut ini diberikan beberapa petunjuk begaimana caranya mempelajari bahan dari buku perpustakaan. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1992:70) cara mempelajarinya adalah :
a.  Tentukan dahulu masalah atau bahan apa yang ingin diketahui dari buku tersebut. Tentukan dengan keperluan sehubungan dengan bahan yang akan dipelajari.
b.  Lihat daftar isi buku yang akan dipelajari untuk menentukan bab berapa dalam buku tersebut yang memuat bahan yang ingin dipelajari.
c.   Bukalah halaman bab yang dikehendaki, lalu periksa butir-butir yang di muat dalam bab tersebut. Seandainya bahan yang diperlukan ada dalam butir tertentu dari bab tersebut, bacalah butir tersebut dan anda tidak terlalu penting membaca butir lainnya. Catat pokok-pokoknya untuk kemudan anda gabungkan dengan catatan sendiri.
d.  Jika semua butir yang ada dalam bab tersebut anda perlukan, bacalah terlebih dahulu semua butir yang ada di dalamnya sampai selesai sambil memberi tanda pada bagian-bagian tertentu yang anda perlukan.
e.  Ulangi membaca bab tersebut secara lebih mendalam, terutama bagian-bagian yang ana telah tandai. Catatlah hal-hal yang anda pentingkan dan satukan dengan catatan yang anda miliki. Jangan lupa membaut pertanyaan dari bahan tersebut pada catatan anda.
f.    Hampir sebagian besar buku yang di tulis dalam bahasa asing terutama bahasa Inggris, di bagian belakangnya disertakan indeks. Indeks memudahkan kita mempelajari atau menemukan bagian penting yang kita inginkan. Indeks di susun menurut alfabet dan disertai nomor halaman.
g.  Kesulitan bahasa asing akan dapat anda atasi apabila anda rajin mempelajarinya dan tidak bosan membuka kamus.

Dengan melihat petunjuk di atas diharapkan dapat memberi manfaat bagi siswa, meskipun petunjuk ini  baru sebagian besar saja namun bila di coba tidak mustahil membawa manfaat bagi kita sendiri.
Di setiap sekolah terdapat perpustakaan, karena perpustakaan merupakan sumber utama untuk memperoleh bahan bacaan bagi para siswa. Itulah sebabnya di dalam perpustakaan disediakan buku-buku yang sangat diperlukan siswa di sekolah. Perpustakaan memang berarti kumpulan buku-buku. Siswa dapat memenuhi kebutuhan bahan bacaan yang diperlukan diperpustakaan.Sejalan dengan uraian tersebut M. Sudomo (1979:239) mengatakan:” Hal lain yang perlu diperhatikan oleh guru ialah usaha untuk memperkaya pengetahuan siswa melalui buku-buku bacaan yang disediakan dalam perpustakaan”.
Bahan bacaan itu dapat berupa bacaan yang berhubungan langsung dengan pelajaran, tetapi juga dapat berupa pengetahuan-pengetahuan lain dan pengetahuan yang baru. Semua itu akan menambah wawasan yang lebih luas kepada siswa. Itulah sebabnya perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar yang mendukung pembelajaran dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang dapat digunakan sebagaimana mestinya, maka perpustakaan dengan kurikulum sekolah, petugas pengelola perpustakaan, waktu buka perpustakaan sekolah dan ruang perpustakaan sekolah, semakin baik pengelolaan dan semakin berfungsinya perpustakaan akan meransang siswa untuk berkunjung, banyak membaca, belajar di perpustakaan sekolah, maka akan semakin tinggi hasil prestasi belajar siswa, dengan demikian siswa dapat memanfaatkan perpustakaan sekolah secara maksimal baik itu secara mandiri, berkelompok maupun dengan cara diskusi.

C.   Hubungan antara Pemberian Tugas dengan Aktivitas Belajar

Usaha siswa dalam mencapai hasil belajar yang optimal sangat berkaitan dengan materi yang diajarkan oleh guru. Untuk menyampaikan materi diperlukan metode pengajaran. Salah satu metode yang dapat meningkatkan hasil beljar adalah metode pemberian tugas. Menurut Nana Sudjana (2000:81) bahwa tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan :
1.   Tujuan yang akan di capai.
2.   Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut.
3.   Sesuai dngan kemampuan siswa.
4.   Ada petunjuk/sumber yang dapat membawa pekerjaan siswa.
5.   Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas.
Diketahui bahwa metode pemberian tugas adalah metode pengajaran yang merangsang siswa untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara berkelompok. Oleh sebab itu dengan metode pemberian tugas diharapkan dapat meningkatkan aktivitas, minat serta motivai siswa untuk belajar sehingga tercapainya hasil belajar yang diharapkan. Disinilah letak hubungan antara metode pemberian tugas dengan aktivitas belajar siswa.
Teknik pemberian tugas atau resitasi biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melaksanakan tugas. Sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat terintegrasi. Hal itu terjadi disebabkan siswa mendalamin situasi atau pengalaman yang berbeda dalam menghadapi masalah-masalah baru. Di samping itu untuk memperoleh pengetahuan melaksanakan tugas akan memperluas dan memperkaya pengetahuan serta keterampilan siswa di sekola, melalui kegiatan-kegiatan di luar. Dengan kegiatan melaksanakan tugas siswa aktif belajar dan merasa terangsang untuk meningkatkan belajar yang lebih baik, memupuk inisiatif dan berani bertanggung jawab sendiri. Banyak tugas yang harus dikerjakan siswa, hal itu diharapkan mampu menyadarkan siswa untuk memanfaatkan waktu senggangnya untuk hal-hal yang menunjang belajarnya dengan mengisi kegiatan-kegiatan yang berguna dan konstruktif.

1 komentar: