Sabtu, 21 Juli 2012


BELANDA   PERANG   TUMBANG  TITI
Pada  tahun 1914  kerajaan matan telah terlibat menandai   tangani   momok rakyat yang terkenal  di kalimantan barat korte veklaring (pelekat pendek). Isinya memaksa rakyat harus membayar blasting kepada Belanda. Pada waktu itu rakyat sangat merasa keberatan, karena  sifatnya sangat memaksa tanpa pikir kesusahan rakyat. Rasa keadilan dari rakyatdan rasa   kemanusian dari kompeni belanda, bersama   sekali tidak  ada.   Selalu bertindak   keras   tak punya   kasihan.
Hal ini  telah membawa rakyat  kje alam gelisah. Pengemuka-pengemuka    rakyat lebih tertekan perasaan, karena tindakan  kerajaan yang begitu    ceroboh, tanpa  berunding terlebih dahulu telah menanda tanganinya.  Siang  malam   telah menjadi buah mulut  berunding. Mereka   bersatu    mengatursiasat untuk  berontak   terhadap penjajah  yang tak tahu malu, tak terbayarkan. Kita harus bangun membela rakyat yang terindas. Dibentukalah  pasukan-pasukan   tempur,   pasukan   penghadang  dan pasukan  bertahan.
Pasukan penyerang dipimpin oleh Uti Usman alias Uti unggal   pembantunya, uti   makhmud, daeng uti  tentamak dll.   Pusat  pertahanan ditetapkan   di kampung   kedang  hilir tumbang titi. Di tempat   ini akan   dibuat  benteng    bambu bercampur tanah. Segala  macam   senjata   disiapkan. Barupa senapan lantak, tombak, utar-utar (persial),  memandau parang  dan  lain sebagainya.
Sedang mereka mengadakan persiapan tersebut, belanda telah menciumnya. Tak  dapat disangkal, bahwa kaki tangan belanda   juga tak   kurang mengintai dan  mempelajari situasi.
Pasukan belanda yang terkenal dengan sebutan kompenie, pimpinan   kapten Frendrik Alexander Brans, segera dikerahkan menyerang.  Untunglah  pasukan  tumbang  titi selalu waspada. Selalu mengadakan   pengintaian dan penyelidikan serta penjaga dari segala penjuru   yang ada   kemungkinan masuknya pasukan musuh. Pasukan tumbang titi sangat berhati-hati sekali, mengahadapi musuhnya. Tiba-tiba berita     menjangkau pendengaran mereka.
Pasukan sedang datang hendak menyerang. Pimpinan pasukan   tumbang titi dengan tegas memerintahkan agar segera menempatkan   pasukan penghadang. Segala penjuru yang dikirakan musuh  akan  masuk, kesanalah   pasukan   penghadang  diberangkatkan. Beberapa  lokasi  penghadangan ditunjuk  khusus,  seperti  di matai   bedug, sesuatu   tempat  padang lalang melulu, pasukan   lain ditempatkan    ke pebihinga, kecamatan tumbang   titi juga. Yang lain tetap di tempat   mengatur  siasat (pos komando)  ditumbang   titi.   Pimpinan   telah menyerahkan   segala kebijaksanaan penghadangan kepada   komandan  tentemak.
Pada tanggal   22 mei  1914, sedang sang surya  memancarkan  sinar keemasan di ufuk timu yang cemerlang menarik telah mengajak ria akan pasukan pimpinan tentamak mengangkat mata memandang musuhnya. Belanda yang sedang masuk daerah kantongnya dinatai bedug. Kapten brans berjalan didepan memimpin pasukan dengan gagahnya. Lagak langkah-langkahnya mengharapkan kemenangan yang gemilang. Tanpa  disadarinya laras lantak senapan, tentemak telah menjurus ke dahinya siap   memuntahkan  pelurunya.
Dengan teriakan bersemangat tentamak berseru sekuat tenaga    terimalah   belasting tiga   suku. Sekaligus  pelurunya telah  menembusi   dahi kapten brans. Kapten brans gugur seketika itu juga, tanpa     perlawanan sedikitpun. Pasukan kompenie belanda kocar kacir, tak menentu   lari berlindung. Spontan  timbul perasaan tak puas tentemak     dengan kematian  kapten   berans  jika kepala  kapten  berans tidak dibawanya pulang  sebagai adat menang   perang. Tanpa pikir panjang    melombatlah tentemak ke tubuh yang sedang  terpakar tak berdaya   dengan mandau  terhunus siap  memenggal leher kapten   brans.  Sedang tentemak meletakkan mandaunaya ke leher kapten Brans melayangkan sebatang peluru pistol musuh menyelinap ke dadanya dan telah merenggut nyawanya bersusunlah kedua tubuh pemimpin musuhan itu dan telah gugur ditelan maut.
            Pasukan Tumbang Titi mendengar ledakan yang bersahutan itu yang telah mengajakmereka serentak membakarpadang lalang dari segala jurusan. Nyala api pembakaran padang lalang berkobar – berkobar telah membungkus rapat pasukan Belanda, sehingga kompeni Belanda jadi kelabakan lari mau menyelamatkan dirinya masing – masing.
            Setelah pertempuran redah, sang pemimpin Tentemak dicari anak buahnya, tapi tak diketemukan janazahnya. Entah kemana hilangnya, hingga kini tak dijumpai seorangpun.
            Sedangkan makam Kapten Brans kedapatan rapih berhias rantan kelilingnya dengan tulisan nama lengkap  di sudut jalan kota Ketapang bersebrangan jalan dengan lapangan RAHADI USMAN.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar