Rabu, 11 Juli 2012


HAKEKAT PENELITIAN

Secara teoritis ada beberapa permasalahan yang sering berkaitan dengan hakikat penelitian, diantara hakikat penelitian dimaksud adalah Apakah penelitian itu?! Apakah sumber-sember ilmu pengetahuan?! Bagaimanakah membedakan antara tipe-tipe penelitian yang ada?! dan sebagainya.

A.     HAKEKAT ILMU
Pada dasarnya ilmu memiliki hakikat tertentu, yaitu: ontologi ilmu, epistimologi ilmu, aksiologi ilmu (Yuyun S, 1991). Ketiga hal ini menjadi tolok ukur utama dari karya ilmiah. Adapun model pendekatan penulisan karya ilmiah dibedakan menjadi tiga hal, yaitu: deduktif, induktif dan gabungan dari keduanya.
1. Ontologi Ilmu
Ontologi Ilmu berkenaan dengan segala sesuatu yang kita ketahui yang dinamakan pengetahuan. Pengetahuan dapat digolongkan menjadi dua hal, yaitu: pengetahuan yang bersifat fisik dan metafisik. Pengetahuan yang bersifat metafisik yaitu yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat non-fisik atau yang tak tampak, tidak dapat diamati dengan indera manusia dan tidak dapat diukur. Hal-hal yang bersifat metafisik yaitu tentang dosa, surga, neraka dan lain sebagainya. Semua yang bersifat metafisik tidak dapat dibuktikan keberadaannya. Sampai saat ini belum ada yang dapat membuktikan keadaan-keadaan di neraka, surga ataupun alam baka bagi arwah yang mungkin dapat kembali ke dunia. Kebenaran yang dapat diterima pada pengetahuan yang bersifat metafisik adalah didasarkan pada keyakinan/kepercayaan masing-masing.
Pengetahuan fisik ditemukan berdasarkan pengamatan yang menyimpulkan gejala alam yang nyata secara empiris, misalnya tentang adanya suatu rumus dalam matematika yang bila ragu tentang rumus tersebut dapat dibuktikan kembali. Pengetahuan yang berdasarkan pengamatan yang nyata itulah yang dapat menjadi dasar ilmu yang ilmiah, bila memenuhi sifat yang lainnya.
2. Epistimologi Ilmu
Epistimologi Ilmu berkenaan dengan Ilmu yang diperoleh dengan proses tertentu yang disebut dengan metode ilmiah yang menggunakan nalar manusia. Nalar adalah proses berpikir manusia. Yuyun. S (1991) menyatakan bahwa secara umum tiap perkembangan dalam ide, konsep dan sebagainya dapat disebut berfikir. Oleh karena itu, berfikir adalah perkembangan ide dan konsep. Berfikir keilmuan adalah pemikiran yang sungguh-sungguh, yaitu suatu cara berfikir yang berdisiplin dimana seseorang yang berfikir tidak membicarakan ide dan konsep yang sedang difikirkannya tetapi dalam daerah yang luas yang semua itu diarahkan pada tujuan tertentu yang dalam hal ini adalah pengetahuan. Berfikir keilmuan adalah cara berfikir yang berdisiplin dan diarahkan kepada pengetahuan.
Ada dua arah cara berfikir manusia, yaitu berfikir dengan pola induktif dan berfikir dengan pola deduktif. Berfikir dengan pola induktif adalah dimulai dari fakta/data yang berdasarkan pengetahuan lapangan/ empiris. Data disusun, diolah kemudian ditarik maknanya dalam bentuk kesimpulan yang bersifat umum. Sebaliknya, berfikir deduktif yaitu kesimpulan dari pernyataan umum lalu meyimpulkan karakteristik kasus-kasus atas dasarnya. Contoh: suatu benda apabila dipanaskan akan memuai. Hal-hal khusus seperti besi, tembaga, aluminium dll, bila dipanaskan akan memuai.
Berfikir ilmiah sesungguhnya adalah menggunakan kedua nalar, yaitu deduktif dan induktif sekaligus dalam suatu nalar yang utuh. Suatu kegiatan ilmiah harus didahului oleh suatu masalah. Ada empat langkah pokok dari suatu karya tulis ilmiah yaitu:
1.            Adanya masalah.
2.            Adanya jawaban sementara atas masalah.
3.            Adanya data yang akan dianalisis untuk menguji jawaban sementara.
4.            Adanya kesimpulan.
3. Aksiologi Ilmu
Aksiologi ilmu adalah bagaimana ilmu itu dimanfaatkan. Pemanfaatan ini lebih banyak berhadapan dengan etika. Kemajuan ilmu dan teknologi dalam rekayasa genetika sangat pesat perkembangannya sehingga mampu menghasilkan manusia cerdas/unggul, atau telah banyak dihasilkan rekayasa genetika seperti bayi tabung. Namun demikian, alasan-alasan etika masih belum mentolerir pemanfaatan ilmu dengan tujuam yang melanggar norma dan etika. Secara umum tidak ada yang menyangkal bahwa tujuan ilmu adalah untuk kemaslahatan manusia, hal ini yang dinamakan aksiologi ilmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar