Selasa, 10 April 2012

BELAjAR PENDIDIKAN KARAKTER DARI THOMAS LICKONA


Pendidikan karakter adalah perihal menjadi sekolah karakter, tempat terbaik untuk menanamkan karakter.1
Thomas Lickona

    Effective character education is not adding a program or set of programs to a school.
Rather it is a transformation of the culture and life of the school.
Marvin Berkowitz



1. Pentingnya Karakter
"Kesejahteraan sebuah bangsa bermula dari karakter kuat warganya".2 Kata-kata itu diungkapkan Marcus Tulius Cicero (106-43 SM), cendekiawan Republik Roma, untuk mengingatkan semua warga kekaisaran Roma mengenai manfaat praktis kebajikan (Yunani: arete)3 dalam kehidupan nyata. Sejarah peradaban di berbagai penjuru dunia membuktikan kebenaran ungkapan itu.
Kita ketahui, bangsa-bangsa yang memiliki karakter tangguh lazimnya tumbuh berkembang makin maju dan sejahtera. Contoh terkini, antara lain India, Cina, Brazil,dan dan Rusia. Sebaliknya, bangsa-bangsa yang lemah karakter umumnya justru kian terpuruk, misalnya, Yunani kontemporer serta sejumlah negara di Afrika dan Asia. Mereka menjadi bangsa yang nyaris tak punya kontribusi bermakna pada kemajuan dunia, bahkan menjadi negara gagal. Mengenai hal ini, sejarawan ternama, Arnold Toynbee, pernah mengungkapkan, "Dari dua puluh satu peradaban dunia yang dapat dicatat, sembilan belas hancur bukan karena penaklukan dari luar, melainkan karena pembusukan moral dari dalam"4 alias karena lemahnya karakter.
Demikianlah, karakter itu amat penting. Karakter lebih tinggi nilainya daripada intelektualitas.5 Stabilitas kehidupan kita tergantung pada karakter kita. Karena, karakter membuat orang mampu bertahan, memiliki stamina untuk tetap berjuang, dan sanggup mengatasi ketidakberuntungannya secara bermakna.6
Para genius pendiri negara-bangsa Indonesia pun amat menyadari hal itu. Perhatikan, misalnya syair lagu kebangsaan Indonesia Raya. Di dalam lirik lagu tersebut terlebih dulu ditandaskan perintah: "bangunlah jiwanya", barulah kemudian "bangunlah badannya". Perintah itu menghujamkan pesan bahwa membangun jiwa mesti lebih diutamakan daripada membangun badan; membangun karakter mesti lebih diperhatikan daripada sekadar membangun hal-hal fisik semata. Itulah kunci agar Indonesia berjaya.
(Celakanya, sekian lama bangsa kita cenderung mengabaikan tugas maha penting itu. Alih-alih membangun karakter, bangsa kita justru asyik melaksanakan model pembangunan yang lebih mengutamakan hal-hal fisik, seperti perkantoran mewah untuk para kepala daerah, pemukiman mahal, pusat-pusat bisnis, gedung-gedung bertingkat nan megah, jalan tol, pusat-pusat perbelanjaan, dan terutama mini market di seluruh penjuru negeri.7 Tugas membangun karakter cenderung terabaikan.
Akibatnya, perlahan tapi pasti, semua lini kehidupan bangsa kita pun mengalami kerusakan parah. Korupsi dan berbagai macam kejahatan merajalela. Berita utama harian kompas pernah mengungkapkan kondisi kekinian kita, berikut petikannya: "Kerusakan moral bangsa sudah dalam tahap sangat mencemaskan karena terjadi di hampir semua lini, baik di birokrasi pemerintahan, aparat penegak hukum, maupun masyarakat umum. Jika kondisi ini dibiarkan, negara bisa menuju ke arah kehancuran...".8
Karena itu, kinilah saatnya kita berupaya membangun karakter secara sungguh-sungguh. Pendidikan harus kita fugsikan sebagaimana mestinya, sebagai sarana terbaik untuk memicu kebangkitan dan menggerakkan zaman.9 Sekolah di seluruh penjuru negeri mesti bersama-sama menjadikan dirinya: sekolah karakter, tempat terbaik untuk menumbuh-kembangkan karakter.

2. Pengertian Karakter
Apa itu karakter? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Istilah 'karakter' berarti 'sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak'. 10
Bila dilihat dari asal katanya, istilah 'karakter' berasal dari bahasa Yunani karasso, yang berarti 'cetak biru', 'format dasar' atau 'sidik' seperti dalam sidik jari.11 Pendapat lain menyatakan bahwa istilah 'karakter' berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti 'membuat tajam' atau 'membuat dalam'.12
Secara konseptual, lazimnya, istilah 'karakter' dipahami dalam dua kubu pengertian. Pengertian pertama, bersifat deterministik. Di sini karakter dipahami sebagai sekumpulan kondisi rohaniah pada diri kita yang sudah teranugerahi atau ada dari sononya (given).n Dengan demikian, ia merupakan kondisi yang kita terima begitu saja, tak bisa kita ubah. Ia merupakan tabiat seseorang yang bersifat tetap, menjadi tanda khusus yang membedakan orang yang satu dengan lainnya.
Pengertian kedua, bersifat non deterministik atau dinamis. Di sini karakter dipahami sebagai tingkat kekuatan atau ketangguhan seseorang dalam upaya mengatasi kondisi rohaniah yang sudah given. Ia merupakan proses yang dikehendaki oleh seseorang (willed) untuk menyempurnakan kemanusiaan nya.14
Bertolak dari tegangan (dialektika) dua pengertian itu, muncullah pemahaman yang lebih realistis dan utuh mengenai karakter. Ia dipahami sebagai kondisi rohaniah yang belum selesai. Ia bisa diubah dan dikembangkan mutunya, tapi bisa pula diterlantarkan sehingga tak ada peningkatan mutu atau bahkan makin terpuruk.
Berdasarkan pemahaman itu, maka orang yang bersikap pasrah pada kondisi-kondisi diri yang sudah ada, disebut berkarakter lemah. Di sisi lain, mereka yang tak mau begitu saja menerima kondisi-kondisi diri yang sudah ada, melainkan berusaha mengatasinya, disebut berkarakter kuat atau tangguh. Mereka senantiasa berupaya menyempurnakan diri, meskipun menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam.15
Wacana kontemporer di dunia pendidikan cenderung memahami karakter secara realistis, utuh, dan optimis.
Maksudnya, karakter (yang lemah sekali pun) sesungguhnya bisa diubah dan diperbaiki sehingga menjadi lebih kuat. Diyakini, bahwa semua orang, terutama kaum muda, melalui proses belajar yang terarah dan wajar,16 bisa (dan harus terus-menerus berusaha untuk bisa) membentuk diri (dan dibentuk) sedemikian rupa sehingga memiliki karakter yang semakin kuat dan tangguh.17
Karena itu, kita tak perlu merasa risi dan risau terhadap pandangan yang menyatakan bahwa orang-orang Indonesia ditakdirkan sebagai bangsa berkarakter lemah.18 Pandangan deterministik itu merupakan peninggalan zaman kolonial. Anehnya, hingga kini pandangan itu masih sering dirujuk (bahkan dipercaya) banyak orang.
Tentu saja, pandangan itu tidak benar. Yang benar, tidak ada satu bangsa pun yang ditakdirkan berkarakter lemah, termasuk kita, bangsa Indonesia, juga tidak ditakdirkan menjadi bangsa berkarakter lemah.
Tapi memang benar, bahwa banyak di antara warga bangsa kita (masih) berkarakter lemah. Menurut Koentjaraningrat dan Mochtar Lubis, inilah sejumlah karakter lemah kita, yaitu: meremehkan mutu, suka menerabas, tidak percaya diri sendiri, tidak berdisiplin, mengabaikan tanggung jawab, hipokrit, lemah kreativitas, etos kerja buruk, suka feodalisme, dan tak punya malu.19
Sekali lagi, sepuluh karakter lemah itu bukan takdir. Karakter lemah itu semua bisa kita ubah. Founding fathers kita sudah membuktikannya, misalnya Soekarno, Hatta, Syahrir, dan Tan Malaka. Mereka orang Indonesia, namun bisa memiliki karakter tangguh. Dunia mengakuinya. Begitu pula Warga masyarakat biasa seperti Ibu Siami, yang hidup sezaman dengan kita, juga bisa memiliki karakter tangguh.20 Maka, kita pun pasti bisa memiliki karakter yang makin tangguh.
3. Karakter yang Baik
Seperti apakah gambaran orang yang memiliki karakter tangguh? Mereka adalah siapa saja yang memiliki karakter yang baik (good character). Cirinya, mereka tahu hal yang baik (knowing the good), menginginkan hal yang baik (desiring the good), dan melakukan hal yang baik (doing the good).21
Karakter tampak dalam kebiasaan (habitus).22 Karena itu, seseorang dikatakan berkarakter baik manakala dalam kehidupan nyata sehari-hari memiliki tiga kebiasaan, yaitu: memikirkan hal yang baik (habits of mind), menginginkan hal yang baik (habits of heart), dan melakukan hal yang baik (habits of action).23
Lantas, apa isi (substansi) dari karakter yang baik itu? Isi karakter yang baik adalah kebajikan (virtue).24 Kebajikan adalah kecenderungan untuk melakukan tindakan yang baik menurut sudut pandang moral universal.25 Misalnya, memperlakukan semua orang secara adil. Tindakan macam itu lazimnya dilakukan oleh orang yang memiliki kualitas-kualitas yang secara objektif maupun secara intrinsik baik.
Secara objektif baik, maksudnya bahwa kualitas-kualitas itu diakui dan dijunjung tinggi oleh agama-agama dan masyarakat beradab di segenap penjuru dunia.26 Secara intrinsik baik, maksudnya kualitas-kualitas itu merupakan tuntutan dari hati nurani manusia beradab.27 Karena itu, kualitas-kualitas itu dianggap mengatasi ruang dan waktu. Ia berlaku di mana pun dan kapan pun (walaupun bentuk ekspresi konkretnya bisa jadi berbeda-beda antara daerah yang satu dengan lainnya, demikian pula antara zaman dulu, sekarang serta masa depan).
Sebagai contoh: keadilan, kejujuran, dan kerendahan hati adalah kebajikan. Sebab, secara objektif, ketiganya diakui sebagai hal yang baik oleh masyarakat beradab dan agama-agama di segenap penjuru dunia. Juga, secara intrinsik, ketiganya diakui sebagai hal yang baik karena menjadi tuntutan hati nurani manusia beradab. Demikianlah, keadilan, kejujuran, dan kerendahan hati diakui sebagai hal yang baik di berbagai penjuru dunia, pada zaman dulu, sekarang, dan di masa depan.
Menurut Lickona, bertolak dari kriteria objektif dan Intrinsik di atas, ada dua kebajikan fundamental yang dibutuhkan untuk membentuk karakter yang baik, yaitu rasa hormat (respect) dan tanggung jawab (responsibility).28 Kedua kebajikan itu merupakan nilai moral fundamental yang harus diajarkan dalam pendidikan karakter.29
Rasa hormat berarti mengungkapkan penghargaan terhadap seseorang atau sesuatu. Hal itu terwujud dalam tiga bentuk, yaitu rasa hormat terhadap: diri sendiri, orang lain, dan segala bentuk kehidupan beserta dengan lingkungan yang mendukung keberlangsungannya (misal, rasa hormat terhadap milik dan rasa hormat terhadap otoritas). Demi rasa hormat, maka kita tidak boleh menyakiti orang lain. Jadi, rasa hormat merupakan penunaian kewajiban mengenai hal yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang (kewajiban negatif).
Sedangkan tanggung jawab adalah perluasan dari rasa hormat. Ia merupakan tindakan aktif untuk menanggapi secara positif kebutuhan pihak lain. Sebab, tidaklah mencukupi manakala orang hanya, misalnya, tidak menyakiti orang lain (sebagai ekspresi rasa hormat). Lebih positif dari itu, ia harus membantu orang lain. Jadi, tanggung jawab merupakan pemenuhan kewajiban mengenai hal yang harus dilakukan oleh seseorang (kewajiban positif).
Selain dua kebajikan fundamental itu, ada sepuluh Kebajikan esensial yang dibutuhkan untuk membentuk karakter yang baik. Kesepuluh kebajikan esensial itu adalah: kebijaksanaan (wisdom), keadilan (justice), ketabahan (fortitude), pengendalian-diri (self-control), kasih (love), sikap positif (positive attitude), kerja keras (hard work), integritas (integrity), penuh syukur (gratitude), dan kerendahan hati (humility)30 (periksa Apendiks-1).
Tentu saja, dalam pendidikan karakter, kita bisa menambahkan kualitas-kualitas lain. Hal itu dapat dilakukan sejauh kualitas-kualitas itu tidak hanya baik menurut kita sendiri (maupun kelompok kita), melainkan benar-benar 'secara objektif baik'. Konkretnya, kualitas-kualitas itu mesti memenuhi beberapa kriteria etis-universal berikut ini: (a) makin memanusiawikan seseorang, (b) mempromosikan kebahagiaan otentik, (c) melayani kebaikan bersama, dan (d) memenuhi prinsip 'timbal balik' (apakah Anda suka diperlakukan demikian?) dan prinsip 'dapat diperluas' (apakah Anda ingin agar semua orang bertindak dengan cara demikian dalam situasi yang serupa?). 31
Atau, secara lebih operasional, prinsipnya adalah: kualitas-kualitas itu diperlukan demi: perkembangan diri yang lebih sehat, memelihara hubungan interpersonal, terwujudnya masyarakat yang lebih manusiawi dan demokratis, serta terwujudnya dunia yang lebih adil dan damai.52
Demikianlah, selain dua kebajikan fundamental dan sepuluh kebajikan esensial, sekolah bisa menambahkan kebajikan lain dalam pendidikan karakter. Dalam hal ini, misalnya, kebajikan sebagaimana terkandung dalam Pancasila, seperti: menghargai kebinekaan, toleransi, proeksistensi damai, keugaharian atau sikap moderat, perikemanusiaan, keberadaban, kesetaraan, gotong royong, musyawarah, kebijaksanaan, adil, solidaritas sosial, dan kesederhanaan. Kebajikan-kebajikan itu terbukti memenuhi keempat syarat di atas.33
Jadi, dengan tetap memperhatikan kebajikan fundamental dan kebajikan esensial, sekolah bisa menyusun sendiri daftar mengenai nilai-nilai yang ingin ditumbuhkembangkan melalui pendidikan karakter.34 Justru dengan cara demikian, pendidikan karakter itu akan relevan dan bermanfaat karena sungguh-sungguh menjawab kebutuhan nyata para pemercaya sekolah dan masyarakat yang menjadi konteks di mana sekolah berada. Itulah pendidikan karakter yang kontekstual.

4. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan dengan Sengaja untuk mengembangkan karakter yang baik (good character) berlandaskan kebajikan-kebajikan inti (core virtues) yang secara objektif baik bagi individu maupun masyarakat.35 Kebajikan-kebajikan inti di sini merujuk pada dua kebajikan fundamental dan sepuluh kebajikan esensial sebagaimana telah diuraikan di atas.
Dalam paradigma lama, keluarga dipandang sebagai tulang punggung pendidikan karakter.36 Hal ini bisa dipahami, karena pada masa lalu, lazimnya keluarga-keluarga bisa berfungsi sebagai tempat terbaik bagi anak-anak untuk mengenal dan mempraktikkan berbagai kebajikan. Para orang tua biasanya memiliki kesempatan mencukupi serta mampu memanfaatkan tradisi yang ada untuk mengenalkan secara langsung berbagai kebajikan kepada anak-anak melalui teladan, petuah, cerita/dongeng, dan kebiasaan setiap hari secara intensif. Demikianlah, keluarga-keluarga pada masa lalu umumnya dapat diandalkan sebagai tulang punggung pendidikan karakter.
Akan tetapi, proses modernisasi membuat banyak keluarga mengalami perubahan fundamental.37 Karena tuntutan pekerjaan, kini banyak keluarga yang hanya memiliki sangat sedikit waktu bagi berlangsungnya perjumpaan yang erat antara ayah, ibu, dan anak. Bahkan, makin banyak keluarga yang, karena tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup, memilih untuk tidak tinggal dalam satu rumah, melainkan saling berjauhan tempat tinggal antara ayah, ibu, dan anak. Belum lagi, makin banyak keluarga bermasalah: tidak harmonis, terjadi berbagai kekerasan dalam rumah tangga, bahkan perceraian.
Singkat kata, kini makin banyak keluarga yang tidak bisa berfungsi sebagai tempat terbaik bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan karakter.38 Itulah sebabnya amat baik bila sekolah menyelenggarakan pendidikan karakter. Bahkan, sekolah perlu terus berupaya menjadikan dirinya sebagai tempat terbaik bagi kaum muda untuk mendapatkan pendidikan karakter.
Sedikitnya, ada empat alasan mendasar mengapa sekolah pada masa sekarang perlu lebih bersungguh-sungguh menjadikan dirinya tempat terbaik bagi pendidikan karakter. Keempat alasan itu adalah:
(a)    Karena banyak keluarga (tradisional maupun non tradisional) yang tidak melaksanakan pendidikan karakter;
(b)    Sekolah tidak hanya bertujuan membentuk anak yang cerdas, tetapi juga anak yang baik;
(c)     Kecerdasan seorang anak hanya bermakna manakala dilandasi dengan kebaikan;
(d)   Karena membentuk anak didik agar berkarakter tangguh bukan sekadar tugas tambahan bagi guru, melainkan tanggung jawab yang melekat pada perannya sebagai seorang guru.39

Secara historis, pendidikan karakter di sekolah memiliki sejarah amat panjang. Hal itu sudah dipraktikkan sejak zaman Yunani kuno, yaitu zaman Homeros.40 Di berbagai tempat, pendidikan karakter di sekolah mengalami masa pasang dan surut.41 Hal itu terjadi seirama dengan pergumulan nyata masyarakat di mana pendidikan itu berlangsung. Yang jelas, pendidikan karakter mendapat perhatian besar terutama dalam masyarakat yang mengalami (dan berupaya bangkit dari) kebangkrutan moral.42
Sebagai contoh, di Amerika Serikat. Munculnya gerakan nasional pendidikan karakter sejak tahun 1990-an, tak lepas dari kesadaran berbagai pihak terhadap tanda-tanda keruntuhan moral masyarakat pada umumnya dan (khususnya) moral kaum muda.43 Ketika itu, mereka sangat prihatin terhadap meningkatnya kejahatan, bunuh diri di kalangan remaja, perceraian, aborsi, kebiasaan menyontek di kalangan siswa, kebiasaan mencuri barang di toko di kalangan remaja, dan lain-lain. Di sisi lain, banyak orang meyakini bahwa tanpa kebajikan-kebajikan yang membentuk karakter yang haik, orang tak akan bisa sungguh-sungguh hidup bahagia dan masyarakat tak akan dapat berfungsi secara efektif.44
Hal serupa kini terjadi di Indonesia. Berbagai pihak menyuarakan tentang pentingnya pendidikan karakter (di sekolah). Pendidikan karakter dianggap sebagai salah satu cara penting untuk mengatasi kerusakan moral masyarakat yang sudah berada pada tahap sangat mencemaskan.
Tentu, pendidikan karakter amat penting bagi kaum muda. Kita tahu, kondisi kehidupan moral kaum muda kita makin mencemaskan. Terutama, berkaitan dengan meluasnya perilaku menyimpang di kalangan kaum muda, seperti: mencontek, mengkonsumsi narkoba, tindakan kekerasan, pornografi, seks bebas, tak acuh pada sopan santun, dan lain-lain.
Jadi, rasanya jelas, mengapa kini banyak orang menginginkan agar sekolah makin peduli pada pendidikan karakter. Itu karena pendidikan karakter ibarat sauh yang membuat kita semua punya alasan kuat untuk tetap memiliki harapan dan sikap optimis bahwa masyarakat yang lebih baik akan terwujud kelak di kemudian hari.
Maka, sungguh sayang manakala ada sekolah yang mengabaikan atau bersikap setengah hati dalam menanggapi keinginan masyarakat itu. Sekolah yang berdedikasi, pastilah akan menerima dengan antusias tanggung jawab sosial yang cukup menantang itu.
Manakala sekolah akan melaksanakan pendidikan karakter, pertama-tama perlu memperhatikan prinsip-prinsip pendidikan karakter. Ada sebelas prinsip pendidikan karakter, meliputi:45
(a) Sekolah harus berkomitmen pada nilai-nilai etis inti; (h) Karakter harus dipahami secara utuh, mencakup pengetahuan atau pemikiran, perasaan, dan tindakan;
(c)     Sekolah harus bersikap proaktif dan bertindak sistematis dalam pembelajaran karakter dan tidak sekadar menunggu datangnya kesempatan;
(d)   Sekolah harus membangun suasana saling memperhatikan satu sama lain dan menjadi dunia kecil (mikrokosmos) mengenai masyarakat yang saling peduli;
(e)    Kesempatan untuk mempraktikkan tindakan moral harus bervariasi dan tersedia bagi semua;
(f)      Studi akademis harus menjadi hal utama;
(g)    Sekolah perlu mengembangkan cara-cara meningkatkan motivasi intrinsik siswa yang mencakup nilai-nilai inti;
(h)  Sekolah perlu bekerja bersama dan mendialogkan norma
mengenai pendidikan karakter;
(i)   Guru dan siswa harus berbagi dalam kepemimpinan
moral sekolah;
(j)  Orang tua dan masyarakat harus menjadi rekan kerja
dalam pendidikan karakter di sekolah; (k) Harus dilakukan evaluasi mengenai efektivitas pendidikan
karakter di sekolah, terutama terhadap guru dan karyawan,
serta siswa.

5. Desain Komprehensif
Sebagaimana sudah disinggung dalam prinsip kedua di atas, bahwa pendidikan karakter yang utuh, mengolah tiga aspek sekaligus, yaitu pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action).46
Patut diingat, bahwa ketiga aspek karakter itu saling terkait satu sama lain. Pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral tidak berfungsi secara terpisah, melainkan satu sama lain saling merasuki dan saling mempengaruhi dalam segala hal. Ketiganya bekerja sama secara kompleks dan simultan sedemikian rupa, sehingga ada kemungkinan kita tidak menyadarinya.
Yang jelas, dalam praktik pendidikan karakter, ketiga aspek itu perlu diterjemahkan ke dalam desain komprehensif. Tentu, hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai pemahaman konseptual mengenai pendidikan karakter, sebagaimana telah dikemukakan di muka.
Adapun garis besar desain komprehensif praktik pendidikan karakter itu, mencakup dua belas strategi.47 Sembilan strategi pertama adalah tuntutan terhadap guru untuk:
(a)    Bertindak sebagai sosok yang peduli, model, dan mentor. Dalam hal ini, guru memperlakukan siswa dengan kasih dan hormat, memberikan contoh yang baik, mendorong perilaku sosial, dan memperbaiki perilaku yang merusak.
(b)   Menciptakan komunitas moral di kelas. Guru membantu siswa untuk saling mengenal satu sama lain, hormat dan saling memperhatikan satu sama lain, serta merasa dihargai sebagai anggota kelompok.
(c)    Mempraktikkan disiplin moral. Guru menciptakan dan menegakkan aturan sebagai kesempatan untuk membantu pengembangan alasan-alasan moral, kontrol diri, dan penghargaan kepada orang lain pada umumnya.
(d)   Menciptakan lingkungan kelas yang demokratis. Guru melibatkan siswa dalam pembuatan keputusan dan membagi tanggung jawab dalam menjadikan kelas sebagai tempat yang baik untuk berkembang dan belajar.
(e)    Mengajarkan nilai-nilai melalui kurikulum. Guru menggunakan mata pelajaran akademis sebagai sarana untuk mempelajari isu-isu etis.
(f)     Menggunakan pembelajaran kooperatif. Guru mengajar siswa mengenai sikap dan berbagai keterampilan untuk saling membantu satu sama lain dan bekerja sama.
(g)   Membangun "kepekaan nurani". Guru membantu siswa mengembangkan tanggung jawab akademis dan menghargai pentingnya belajar dan bekerja.
(h)  Mendorong refleksi moral, melalui membaca, menulis,
berdiskusi, berlatih membuat keputusan, dan berdebat.
(i)   Mengajarkan resolusi konflik, sehingga murid memiliki
kapasitas dan komitmen untuk menyelesaikan konflik
secara adil dan wajar, dengan cara-cara tanpa kekerasan.

Sedangkan tiga strategi selebihnya menghendaki sekolah untuk:
(a)    Mengembangkan sikap peduli yang tidak hanya sebatas kegiatan di kelas. Hal ini dilakukan melalui model-model peran dan kesempatan-kesempatan yang inspiratif dengan melayani sekolah dan masyarakat. Intinya, siswa diajak untuk belajar bersikap peduli dengan cara bertindak peduli.
(b)   Menciptakan budaya moral yang positif di sekolah. Ini berarti mengembangkan seluruh lingkungan sekolah (melalui kepemimpinan kepala sekolah, disiplin sekolah, rasa kekeluargaan sekolah, keterlibatan siswa secara demokratis, komunitas moral di antara guru dan karyawan, serta waktu untuk membicarakan keprihatinan moral) yang membantu dan memperkuat pembelajaran nilai-nilai yang berlangsung di kelas.
(c)     Melibatkan orang tua siswa dan masyarakat sebagai partner dalam pendidikan karakter. Dalam hal ini, sekolah membantu para orang tua bertindak sebagai guru moral pertama bagi anak; mendorong orang tua agar membantu sekolah dalam berdaya upaya mengembangkan nilai-nilai yang baik; dan mencari bantuan dari masyarakat (misalnya: agamawan, kalangan bisnis, dan praktisi media) dalam memperkuat nilai-nilai yang sedang diupayakan atau diajarkan oleh sekolah.

Pengalaman menunjukkan, strategi komprehensif itu perlu ditopang oleh empat 'kunci keberhasilan'. Keempat kunci keberhasilan pendidikan karakter itu adalah: (a) keterlibatan guru dan karyawan sekolah, (b) keterlibatan siswa, (c) keterlibatan orang tua siswa, dan (d) keterlibatan komunitas karakter.48
Tiga yang pertama bersifat menentukan keberhasilan sekolah karakter. Sedangkan yang keempat, yaitu keterlibatan komunitas karakter, bersifat mendukung keberhasilan itu. Sekolah yang berkomitmen menjadikan dirinya sekolah karakter senantiasa harus berfokus pada upaya menumbuhkan, memelihara, dan mengoptimalkan keterlibatan keempat pihak itu.


6. Menggerakkan Orang Dalam
Keterlibatan 'orang-orang dalam' sekolah, yaitu guru dan karyawan serta siswa amatlah penting. Sekolah mesti mampu menggerakkan mereka untuk terlibat secara optimal dalam mewujudkan sekolah karakter.
Ada sejumlah langkah praktis untuk melibatkan guru dan karyawan serta siswa. Langkah praktis ini didasarkan pada studi terhadap sekolah-sekolah yang telah mendapatkan penghargaan sebagai sekolah karakter. Adapun beberapa langkah praktis penting untuk melibatkan guru dan karyawan itu antara lain, sebagai berikut49:
(a) Buatlah janji yang mengungkapkan nilai-nilai dan aspirasi bersama dari semua anggota komunitas sekolah. Janji itu berisi pernyataan tentang "Siapa Kami". Pernyataan itu misalnya demikian: Di Sekolah SD Insan Mulia, kami selalu memilih tindakan terpuji /Kami sungguh-sungguh peduli pada diri sendiri, orang lain, dan sekolah kami/Kami menunjukkan penghargaan dengan kata-kata dan tindakan yang santun, mendengarkan dengan penuh perhatian, menepati janji kami, dan selalu bertanggung jawab atas perilaku dan prestasi belajar kami/Seperti itulah kami, meskipun tak seorang pun mengawasi kami.
(b)    Miliki semboyan berbasis karakter. Semboyan ini perlu untuk memudahkan guru, karyawan, dan siswa mengingat esensi janji sekolah serta esensi budaya sekolah. Misalnya, semboyan itu adalah: "Kami selalu memilih tindakan terpuji".
(c)     Dapatkan dukungan dari kepala sekolah untuk memprioritaskan karakter. Hal ini penting karena prioritas kepala sekolah akan menjadi prioritas warga sekolah.
(d)   Bentuklah tim-tim kepemimpinan. Dalam hal ini masing-masing tim memiliki tugas khusus, misalnya: penyedia bahan kurikulum, poster-poster tentang karakter, penghargaan kepada siswa, pelayanan kepada masyarakat, kegiatan ekstrakurikuler, dan lain-lain. Sebaiknya tim-tim itu mewakili semua kelompok yang ada: guru, administrasi, staf pendukung (staf umum, petugas kafetaria, hingga satpam), siswa, dan orang tua siswa.
(e)    Bentuklah "pusat pengetahuan". Divisi ini berfungsi sebagai penyedia berbagai bahan yang dibutuhkan oleh berbagai tim tersebut di atas. Bahan itu dikumpulkan dari berbagai macam sumber, seperti: situs Internet, buku-buku, kunjungan ke sekolah lain yang telah melaksanakan pendidikan karakter, dan lain-lain.
(f)      Kenalkan program pendidikan karakter kepada setiap guru dan karyawan. Momen ini penting untuk mengajak semua guru dan karyawan ambil peran sebagai model mengenai karakter yang baik bagi siswa. Dalam forum ini perlu dikemukakan empat hal mendasar, yaitu: (i) apa sasaran-sasaran pendidikan karakter; (ii) apa yang dikehendaki agar dilakukan guru dan karyawan dalam pekerjaannya; (iii) akan menjadi seperti apakah keadaan sekolah bila guru dan karyawan melakukannya; (iv) apa keuntungan yang diperoleh sekolah bila guru dan karyawan melakukannya.
(g)  Analisislah budaya moral dan intelektual di sekolah.
Caranya dengan melakukan analisis terhadap empat
hal, yaitu: (i)
pengalaman positif (pengalaman pendidikan
karakter macam apa yang selalu diberikan kepada siswa?)
(ii)
kelalaian (pengalaman penting macam apa yang
tidak/belum diberikan dengan baik?) (iii)
titik masalah
(perilaku buruk apa saja yang dilakukan siswa, guru dan
karyawan yang tidak ditangani secara memadai?) (iv)
inkonsistensi (tindakan sekolah macam apa sajakah yang
bertentangan dengan kualitas karakter yang baik dan
hendak dikembangkan sekolah?)
(h)  Pilihlah dua prioritas untuk perbaikan budaya sekolah.
Caranya, lakukan survei dengan mengedarkan daftar
sejumlah budaya sekolah yang perlu diperbaiki. Mintalah
guru, karyawan, siswa, dan orang tua siswa memilih dua
prioritas utama. Pilihan terbanyak, itulah yang dijadikan
prioritas (periksa Apendiks-2).
(i)   Susun rencana program pendidikan karakter berkualitas.
Rencana ini merupakan substansi dari program pendidikan
karakter (periksa Apendiks-3).
(j) Pilihlah strategi pengorganisasian untuk mengkampanyekan berbagai kebajikan (periksa Apendiks-4).
(k) Buatlah penilaian sebagai bagian dari perencanaan.
(1) Bangunlah komunitas kaum dewasa yang kuat. Hal ini penting, karena kualitas pendidikan karakter sangat tergantung pada kualitas komunitas kaum dewasa di sekolah (kepala sekolah, guru, dan karyawan).
(m) Memperkaya dan memperdalam karakter. Hal ini dilakukan dengan menyediakan waktu secara periodik untuk saling berbagi dan belajar bersama berbagai buku bermutu mengenai karakter. Misalnya buku: Thomas Lickona, Educating for Character; William J. Bennet, Book of Virtue; Steven Covey, 7 Kebiasaan Yang Paling Efektif; Victor Frankl, Man's Search for Meaning, dan lain-lain.
Sedangkan langkah praktis untuk melibatkan siswa secara optimal dalam pelaksanaan pendidikan karakter adalah sebagai berikut50:
(a)    Libatkan siswa dalam merencanakan dan melaksanakan program pendidikan karakter. Misalnya, libatkan mereka dalam menentukan tema karakter bulanan, membuat poster-poster, merencanakan bentuk-bentuk kegiatan, dan lain-lain.
(b)    Gunakan diskusi kelas sebagai sarana bagi siswa untuk mengungkapkan aspirasi dan belajar bertanggung jawab. Intinya, dalam diskusi kelas interaktif ini, siswa diajak untuk mendiskusikan berbagai gagasan dan inisiatif untuk membuat kelas dan sekolah menjadi lebih baik.
(c)     Libatkan siswa dalam pembuatan kebijakan pengelolaan sekolah secara partisipatif. Intinya, memberikan kesempatan bagi siswa untuk membangun norma yang bisa memberikan pengaruh positif kepada teman sebaya mereka. Sebab, berbagai perilaku menyimpang siswa, hakikatnya merupakan "budaya teman sebaya". Hal itu tidak bisa diatasi dengan semata-mata mengacu pada pola pikir orang dewasa. Keterlibatan siswa untuk mengatasinya, amat penting artinya.
(d)   Berikan kesempatan informal kepada siswa untuk memberikan masukan demi perbaikan sekolah. Misalnya, melalui kegiatan istirahat di kantin, siswa diminta untuk menuliskan jawaban pada sebuah papan/kertas mengenai pertanyaan berikut: (i) apa satu hal yang paling kalian suka dari sekolah kita?; (ii) apa satu hal yang akan membuat sekolah kita lebih baik lagi? Pertanyaan sederhana ini akan bisa memberikan dampak lain pada suasana sekolah.
(e)    Beri tantangan kepada siswa untuk mengkampanyekan perbaikan perilaku tertentu ke seluruh warga sekolah. Misalnya, mengkampanyekan untuk selalu berpakaian rapi, bertegur sapa dengan santun, dan lain-lain. Intinya, kampanye itu diarahkan untuk merespons apa yang menjadi keprihatinan sekolah.
(f)     Mantapkan sistem mentoring. Di sini, siswa yang lebih senior (kakak kelas) bertugas menjadi mentor dari siswa yang lebih junior (adik kelas). Tentunya, siswa yang lebih senior sudah dilatih oleh guru mengenai berbagai kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi mentor yang baik.
(g)   Bentuk dan perkuat kelompok karakter. Dalam hal ini, di kalangan siswa dibentuk kelompok-kelompok minat mengenai kegiatan tertentu. Masing-masing kelompok memiliki misi berbeda-beda. Misalnya, kelompok minat mengenai mediasi konflik, kelompok minat mengenai kampanye kesadaran kebinekaan, dan lain-lain.
(h) Hargai kepemimpinan siswa. Di sini, sekolah memberikan
penghargaan kepada siswa atau kelompok siswa yang
dinilai memiliki kontribusi penting dalam perbaikan
budaya sekolah.


7. Menggerakkan Pihak Luar
Kunci keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter tidak hanya ditentukan oleh keterlibatan orang-orang dalam. Melainkan, ia juga ditentukan oleh adanya keterlibatan 'orang-orang luar' sekolah. Mereka adalah orang tua siswa dan komunitas karakter. Sekolah perlu menggerakkan mereka agar terlibat secara optimal dalam mewujudkan sekolah karakter.
Adapun langkah praktis untuk melibatkan orang tua siswa, antara lain sebagai berikut51:
(a) Tegaskan bahwa keluarga merupakan pendidik karakter utama. Dalam hal ini, sekolah mengambil posisi bahwa: (i) keluarga adalah yang utama dan mempunyai pengaruh paling penting dalam pembentukan karakter anak; (ii) tugas sekolah adalah memperkuat nilai-nilai karakter yang positif yang diajarkan di rumah. Jadi, keluarga yang meletakkan dasarnya, lalu sekolah membangun di atas dasar itu.
(b)    Mintalah orang tua siswa untuk berpartisipasi. Dalam hal ini, ajak sebanyak mungkin orang tua untuk ambil bagian dengan menjadi sukarelawan dalam pendidikan karakter di sekolah.
(c)     Berikan insentif untuk keterlibatan orang tua siswa. Misalnya, insentif diberikan dalam bentuk: hanya orang tua yang hadir memenuhi undangan pertemuan-pertemuan dengan sekolah yang bisa menerima rapor siswa.
(d)   Selenggarakan program bimbingan orang tua siswa (parenting). Tentunya, program ini harus mempunyai keterkaitan yang jelas dengan program pendidikan karakter di sekolah.
(e)    Kirimkan program kepada orang tua siswa. Program bimbingan orang tua siswa biasanya hanya diikuti oleh sebagian kecil orang tua siswa. Bila ini terjadi, maka sekolah justru perlu bersikap proaktif dengan mengirimkan program sekolah kepada orang tua siswa. Misalnya, mengirimkan tema karakter bulanan/mingguan (contoh: tentang ketekunan), saran-saran mengenai kegiatan siswa bersama keluarga di rumah, saran buku bacaan bagi orang tua, tugas yang perlu diberikan orang tua kepada anaknya untuk mendukung program pendidikan karakter di sekolah, dan lain-lain.
(f)      Berikan PR keluarga. Dalam hal ini, sekolah memberikan pekerjaan rumah yang terkait dengan karakter bagi siswa untuk dikerjakan bersama dengan orang tua mereka.
(g)    Libatkan orang tua dalam perencanaan program pendidikan karakter di sekolah. Dalam hal ini, beri mereka kesempatan untuk memberikan masukan. Misalnya, sekolah mengirimkan daftar berisi belasan kualitas karakter kepada orang tua siswa. Minta mereka menandai tiga kualitas karakter yang paling penting untuk dikembangkan di sekolah.
(h)  Ciptakan forum pertemuan berkelanjutan bagi orang tua
siswa. Forum ini dimaksudkan untuk menggali masukan
orang tua secara berkesinambungan. Suasana forum ini
diupayakan bersifat terbuka, saling percaya, dan saling
mendengar.
(i)   Susunlah panduan moral ringkas bersama dengan orang
tua siswa. Panduan ini penting untuk menghindarkan
adanya salah paham ketika siswa melakukan kesalahan
di sekolah. Juga, ini penting untuk memperjelas nilai-
nilai yang perlu dikembangkan bersama oleh sekolah
dan orang tua siswa. Panduan ini perlu diperbarui secara
berkala, dikembangkan ke dalam berbagai bentuk disiplin
konkret di sekolah, serta dikembangkan untuk melawan
dampak media di rumah siswa.
(j) Bersikaplah tanggap terhadap masukan orang tua siswa. Daya tanggap sekolah akan memperkokoh keterlibatan orang tua siswa. Adalah bijak manakala secara berkala, sekolah melakukan survei, berisi dua hal berikut: (i) Apakah putra Anda merasa nyaman di sekolah?; (ii) Deskripsikan setiap pengalaman yang menyebabkan anak Anda merasa tidak nyaman atau diperlakukan tidak baik di sekolah!
(k) Tingkatkan komunikasi positif antara sekolah dan orang tua siswa. Misalnya, dengan mengirimkan daftar kegiatan bulanan sekolah. Dengan demikian, mereka mengetahui kegiatan yang akan dilakukan oleh sekolah.
(I) Beritahukan kepada orang tua siswa kegiatan-kegiatan apa saja yang diharapkan dikerjakan oleh siswa dan kirimkan laporan berkala kepada mereka. Hal ini akan membantu para orang tua siswa dalam mendorong anak-anak mereka untuk bertanggungjawab terhadap kegiatan sekolah.
Sedangkan beberapa langkah praktis untuk melibatkan masyarakat luas dalam pendidikan karakter yang dilakukan oleh sekolah, misalnya sebagai berikut52:
(a)    Perkuat kerja sama sekolah dengan berbagai komunitas. Dalam hal ini, terutama kerja sama dengan berbagai pihak yang peduli pada pengembangan pendidikan dan pengembangan moral kaum muda.
(b)   Perkuat keluarga-keluarga siswa. Karena basis komunitas karakter yang kuat adalah keluarga yang kuat, maka sekolah perlu ikut serta membantu terwujudnya keluarga yang kuat (keluarga orang tua siswa). Dalam arti, membantu mereka menjadi keluarga yang makin peduli terhadap pengembangan pendidikan dan pengembangan moral anak-anaknya.
(c)     Berkomitmen membentuk komunitas karakter.
Sekolah berperan serta dalam mendorong kerja sama dengan berbagai pihak untuk bersama-sama mengembangkan komunitas karakter di daerah di mana sekolah itu berada.
(d)   Libatkan dunia bisnis. Dunia bisnis memiliki potensi besar dalam pendidikan karakter. Terutama, mereka yang peduli pada pengembangan nilai-nilai profesionalisme di dunia kerja. Sekolah bisa melibatkan mereka untuk ikut berkontribusi dalam pendidikan karakter disekolah.
(e)    Kampanyekan kesadaran karakter kepada masyarakat. Salah satu tantangan penting dalam membangun komunitas karakter adalah upaya menarik perhatian masyarakat. Sekolah bisa menggunakan berbagai cara untuk mempromosikan pentingnya membangun komunitas karakter. Misalnya, melalui media lokal, Internet, spanduk, even tertentu, dan lain-lain.
(f)      Ciptakan peran khusus untuk polisi. Polisi mempunyai banyak informasi berharga mengenai perkembangan mutakhir perilaku kaum muda. Secara berkala, sekolah bisa bertukar informasi dengan pihak kepolisian mengenai hal itu.
(g)  Beri anak-anak peran kepemimpinan. Sekolah,
bekerja sama dengan berbagai pihak, bisa mendorong
terwujudnya kelompok-kelompok kegiatan positif bagi
kaum muda di daerah di mana sekolah berada. Peran-peran
kepemimpinan yang nyata dalam kelompok-kelompok itu,
akan sangat berarti bagi pendidikan karakter.
(h)  Hargai karakter yang baik. Sekolah bisa bekerja sama
dengan pihak-pihak tertentu di daerah di mana sekolah
berada, secara berkala memberi penghargaan terhadap
individu/kelompok masyarakat yang berkontribusi penting
dalam membangun karakter yang baik.
(i)   Libatkan sukarelawan masyarakat untuk
mengajar karakter di sekolah.
Sukarelawan bisa
sangat berkesan bagi siswa. Karena itu, akan sangat baik
manakala sekolah bisa merekrut sukarelawan untuk secara
berkala mengajarkan karakter kepada siswa. Sukarelawan
itu bisa siapa saja, terutama kaum dewasa atau pensiunan,
yang suka berbagi kebiasaan yang baik dengan kaum muda.
Sampai di sini, tampak jelas bahwa pendidikan karakter yang berhasil merupakan buah dari kerja sama yang baik antara pihak keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karakter yang baik yang telah diajarkan kepada anak di rumah dan di sekolah, membutuhkan peneguhan dalam masyarakat. Itulah sebabnya, sekolah karakter yang efektif adalah mereka yang tidak hanya bekerja sendirian (eksklusif), melainkan mereka yang bersedia bekerja sama secara optimal dengan orang tua siswa dan berbagai komunitas karakter (inklusif) (periksa Apendiks-5).
Kinilah saatnya sekolah di seluruh penjuru negeri ini berusaha menjadikan dirinya sekolah karakter yang efektif: tempat terbaik untuk menumbuhkembangkan karakter.***
Catatan:
* Thomas Lickona adalah tokoh pendidikan karakter. Ia memiliki pengaruh luas di dunia akademis dan sekolah-sekolah di berbagai negara. Pakar psikologi perkembangan ini adalah guru besar pendidikan di State University of New York di Cortland; penerima Sandy Lifetime Achievement Award dari the Character Education Partnership. Bukunya Educating for Character dan Character Matters (rujukan utama bab ini) oleh berbagai kalangan dianggap sebagai "kitab suci gerakan pendidikan karakter". Buku lain yang ditulisnya, adalah: Moral Development and Behavior: Theory, Research and Social Issues (editor); Raising Good Children; Character Development 'm School and Beyond (editor); ,sex, Love & You: Making Right Decision; dan Character Quotations: Activities That Build Character and Community.

Endnotes:
1         Thomas Lickona.2004.Character Matters. New York: Somon & Schuster, p. 221.
2         Lickona 2004: 4.
3         Para Sofis (450-380 SM), termasuk Cicero, mengungkapkan pandangan baru mengenai kebajikan (Arete). Sebelumnya, ketika itu, arete dipahami sebagai hal yang hanya bisa diperoleh seseorang karena keturunan (seseorang terlahir dalam keluarga bangsawan). Namun, menurut para Sofis, arete bisa dipelajari dan diajarkan melalui retorika. Retorika tidak dipahami sebagai metode berbicara di depan publik, melainkan jalan filosofis untuk menggali kebijaksanaan sehingga orang mampu membangun visi kebajikan dan membumikannya menjadi aksi nyata. Periksa Ronnie Lessem.1992.Total Quality Learning: Building A Learning Organization. Oxford: Blackwell.
4         Lickona 2004: 4.
5         Kata-kata Ralph Waldo Emerson, cendekiawan dan pengajar Harvard University, dalam Lickona 2004.
6         Kata-kata Frank Pittman, psikiater, dalam Lickona 2004.
7         Contoh paling dramatis-ironis mengenai hal ini adalah sikap ngotot luar biasa yang pernah ditunjukkan oleh para anggota DPR untuk membangun gedung baru DPR. Padahal, produktivitas kerja DPR amat rendah, lagi pula banyak anggota DPR yang integritasnya dipertanyakan oleh publik. Untunglah, niat DPR untuk membangun gedung baru itu akhirnya urung diwujudkan berkat adanya tekanan yang sedemikian kuat dari masyarakat untuk mengurungkannya. H    "Kerusakan Moral Mencemaskan" Kompas, 20 Juni 2011, halaman 1.
8         Hal ini tampak jelas dalam sejarah Indonesia modern, terutama pada awal abad XX. Bandingkan misalnya M.C. Riclefs.2001. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Hampshire: Palgrave.; R.E. Elson.2008. The Idea of Indonesia: Sejarah Pemikiran dan Gagasan. Jakarta: Serambi.
9         Depdiknas.2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, p. 623.
10     Doni Koesoema A.2007. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo.
11     Lorens Bagus.1996. Kamus Filsafat.Jakarta: Gramedia, p. 392.
12     Bandingkan dengan istilah karasso, yang berarti 'cetak biru', 'format dasar' atau 'sidik'.
13     Bandingkan dengan istilah charassein, yang berarti "membuat tajam" atau "membuat dalam".
14     Thomas Lickona.1991. Educating for Character. New York: Bantam Books, p. 51.
15     Mengubah karakter menjadi lebih tangguh tak bisa dilakukan secara instant. Ia hanya bisa dilakukan melalui proses belajar dalam rentang waktu yang mencukupi. Inti dari proses belajar itu adalah membangun tiga macam kebiasaan, yaitu: kebiasaan memikirkan hal yang baik (habits of mind), kebiasaan mengingini hal yang baik (habits of heart) dan kebiasaan melakukan hal yang baik (habits of action).
16     Lickona 1991, 2004;
17     Orang Indonesia (inlander) digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki kekuatan watak, lekas marah, dungu, dan tidak pernah positif. Hal ini misalnya dapat dibaca dalam buku Inleiding tot de Volkenkunde van Nederlandsch Indie, yang ditulis oleh guru besar Universitas Amsterdam dan Direktur Koloniaal Institute te Amsterdam yaitu Pof. J.C. van Eerde (Haarlem, 1920).

19    Koentjaraningrat.1974. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.; Mochtar Lubis.1991. Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
20    Jaleswari Pramodhawardani."Kejujuran Itu Bernama Siami".
Kompas, Kamis 16 Juni 2011, halaman 6. Siami dan putranya mengungkapkan contekan massal Ujian Nasional di SD Gadel II/577, Tandes, Surabaya.
21     Lickona 1991:51.
22     Lickona 2004:36, 44-46.
23     Lickona 1991: 51; Akin et al 1995:2.
24     Lickona 2004:7.
25     Thomas Lickona membedakan nilai-nilai moral menjadi dua macam. Yaitu, nilai-nilai moral universal dan nilai-nilai moral non-universal. Nilai moral universal membawa serta kewajiban moral universal, yaitu kewajiban yang mengikat semua orang di manapun mereka berada untuk menghargai martabat kemanusiaan fundamental setiap orang. Sedangkan nilai moral non-universal tidak membawa serta kewajiban moral universal, melainkan kewajiban moral individual. Misalnya kewajiban moral yang muncul dari nilai-nilai agama (berdoa, bersembahyang, dll). Karakter lebih terkait dengan nilai-nilai moral universal yang tentunya membawa serta kewajiban moral universal.
26     Lickona 2004:7.
27     Lickona 2004:7.
28     Lickona 1991:43.
29     Lickona 1991:45.
30     Lickona 2004:8-11.
31     Lickona 2004:7.
32     Lickona 1991:43.
33     Periksa, Yudi Latif.2011. Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila, Jakarta: Gramedia.
34     Lickona 1991:47,421-424; 2004:225-228.
35     Lickona 1991; Marvin W. Berkowitz & Melinda C Bier. 2005. What Works In Character Education: A research-driven guide for educators. Washington DC: Character Education Partnership, p. 2.
36     Lickona 1991:31; Lickona 2004:35; Terri Akin, Garry Dune, Susanna Palomares, dan Dianne Schiling.l995.Character Education in Amerka's School. California: Innerchoice Publishing, p. 1,
37     Lickona 1991:31.
38     Bandingkan dengan Basis, 05-06, Tahun ke- 52, Mei-Juni 2003 Edisi "Keluarga: Bahtera Yang Sudah Karam".
39)   Akin et al 1995:1-2. Bandingkan dengan Lickona 1991:20-22,
dan 29. 40.   Koesoema 2007:13.
41.   Thomas Lickona. "The Return of Character Education".
Educational Leadership, Vol. 51 Number 3, p. 6-11, Nov 1993. 42.   Lickona 1991; Berkowitz & Bier 2005. 43.     Lickona 1991:12-19; Lickona 2004:12-14. 44.   Lickona 2004:12.
45. Thomas Lickona.1996. "Eleven principles of effective character education". Journal of Moral Education, 25 (1), 93-100. Sebagai­mana dimuat dalam James Arthur "Traditional Approaches to Character Education in Britain and America" dalam Larry P.Nucci & Darcia Narvaez [Ed].2008. Handbook of Moral and Character Education. New York: Routledge, p.94.
lu Lickona 1991: 53. Dimensi pengetahuan moral meliputi: kesadaran moral, pengetahuan nilai-nilai moral, sudut pandang moral, argumen moral, pembuatan keputusan dan pemahaman diri. Adapun dimensi perasaan moral meliputi: hati nurani, kepercayaan diri, sikap empati, cinta kebaikan, pengendalian diri, dan kerendahan hati. Sedangkan dimensi tindakan moral meliputi: kecakapan, kemauan, dan kebiasaan.
47.   Lickona 1991:69-70.
48.   Lickona 2004:220, 261.
49. Lickona 2004, khususnya Chapter 11 "Make Your School a School of Character".
50   Lickona 2004, khususnya Chapter 12 "Involve Students in Creating
a School of Character". 51.   Lickona 2004, khususnya Chapter 3 "Build a Strong Home-School
Partnership"
52. Lickona 2004, khususnya Chapter 13 "Involve The Whole Community in Building Good Character

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar