Selasa, 17 April 2012

KONSEP DASAR PENELITIAN PENDIDIKAN



A. PENDAHULUAN
Untuk mengetahui sesuatu yang masih asing dan baru, seorang peneliti dapat diibaratkan sebagai orang baru yang baru saja tiba di kota atau di negara baru itu. Semuanya tampak asing, mau pergi kemana tidak tahu letaknya geografis dan penduduknya, padahal mungkin jaraknya dekat dan banyak kendaraan seperti taksi, bus, becak, dan sepeda tetapi tidak tahu menggunakan kendaraan atau alat transportasi yang ada untuk menuju kesuatu tempat yang akan dituju itu. Banyak dan sring dijumpai or­ang-orang lewat di sekitarnya, mau bertanya juga kurang berani karena mungkin beda budaya, beda kepentingan, dan mengganggu kesibukan orang lain dengan orang-orang yang ada di sekitar tempat tersebut. Banyak kenalan di tempat tinggal yang lama tetapi jauh tempat tinggalnya dan tidak tahu nomor telepon untuk menghubunginya. Orang lain di sekitarnya juga menganggap asing pula terhadap dia. Dia memerlukan bantuan agar dapat memecahkan masalah keterasingannya tersebut. Tetapi siapa dan kemana agar memperoleh bantuan untuk mencapai arah yang dituju itu.
Keterasingan para peneliti terutama peneliti muda, juga terjadi seperti keterasingan orang yang tinggal di tempat baru. Banyak masalah penelitian tetapi tidak mengetahui bagaimana mengenali dan memilih masalah yang layak untuk sebuah penelitian; banyak instrumen untuk mengambil dan mengumpulkan data tetapi kurang mengetahui apa instrumen yang baik itu banyak alat analisis data tetapi tidak dapat memilih yang tepat dan dapat memberikan informasi. Mereka bingung dan bahkan sebagian ada yang frustrasi untuk melakukan penelitian.
Mereka memerlukan alat untuk dapat memecahkan problem keterasingan tersebut. Alat atau instrumen yang hendak dibahas secara luas dan sistematik adalah metodologi penelitian yang biasanya berisi tentang cara­-cara menggunakan beberapa metode pendekatan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Ada pendekatan dari yang global menuju ke spesifik, dari spesifik menuju ke global dan ada pula pendekatan ilmiah dan scientific.
Modal yang pertama adalah mengetahui sesuatu tersebut dimulai dari yang global atau besar menuju ke arah lebih mendetail atau khusus. Untuk mengetahui struktur mobil misalnya, seseorang dapat menguasainya dengan dimulai dari apa fungsi dan kegunaan mobil itu bagi manusia, apa peranan mobil, kearah apakah bagian utama dari mobil, mekanisme kerja mobil, dan apa material setup bagian dari mobil itu.
Model yang kedua adalah menggunakan pendekatan dari yang spesifik menuju ke arah yang global. Seseorang untuk mengetahui tentang apakah mobil itu dimulai dengan mengadakan kunjungan kerja ke bagian bengkel. Di sana ditunjukkan bagian-bagian utama kendaraan mobil dan diajarkan pula bagian-bagian dan proses kerja mobil baik yang dua tak maupun empat tak baru mengarah kepada bagian lain yang lebih besar sehingga orang tersebut mengetahui secara menyeluruh apakah dan bagaimanakah fungsi mobil tersebut.
Cara mengetahui dengan model kedua ini banyak diterapkan pada ilmu­ilmu biologi, kedokteran, dan sebagainya. Kedua pendekatan tersebut juga populer disebut sebagai model deduktif dan induktif.
Modal ketiga adalah menggunakan pendekatan secara ilmiah. Tokoh yang mempelopori pendekatan ini diantaranya ialah John Dewey. Untuk mengetahui sesuatu seseorang dapat memulai dengan mencari masalah, mencari data pendukung, dan mencari jawaban permasalahan tersebut. Cara ini adalah yang banyak dimanfaatkan dan dikembangkan dalam metodologi penelitian yang biasa disebut dengan menggunakan model pendekatan ilmiah.
Ketiga cara tersebut pada prinsipnya baik dan akan memberikan keberha­silan yang memuaskan, bila dilaksanakan secara intensif dan teliti. Dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan pendekatan penelitian yang sering dilakukan dan diterapkan dalam bidang pendidikan.

Manusia selalu ingin mencari jawaban atas sebab musabab dari suatu atau serentetan akibat. Dengan berbagai cara manusia ingin memperoleh berbagai pengetahuan tentang berbagai fenomena. Semenjak dahulu kala,manusia menunjukan hasratnya yang besar untuk mengetahui rahasia alam sekelilingnya, bahkan juga manusia berikhtiar ingin menguasainya. Karena rendahnya kemampuan berfikir manusia, bukan manusia yang menguasai alam tetapi justru sebaliknya,manusia justru takut dan mendewa-dewakan kekuatan alam. Iklim ini menyuburkan kepercayaan terhadap dukun itulah yang dipandang dapat berkomunikasi dengan sumber kekuatan gaib yang mereka sakralkan. Dengan demikian otoritas kebenaran berada ditangan para dukun. Di masyarakat yang sederhana hal ini berlaku turun-temurun dan berakar kuat yang sudah barang tentu menghambat cara berfikir ilmiah.
Hasrat manusia yang tak pernah padam untuk memperoleh pengetahuan dan untuk dapat memanfaatkan alam mendorong manusia untuk selalu mengembangkan metode-metode pendekatan tertentu sesuai dengan tingkat kemampuannya. Pada prinsipnya pendekatan-pendekatan itu dapat digolongkan menjadi dua, yaitu metode non ilmiah dan metode ilmiah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar