Kamis, 12 April 2012

DEFINSI ISTILAH PIS Ilmu-Ilmu Sosial : Studi tentang tingkah laku kelompok umat manusia. Studi tentang tingkah laku kelompok umat manusia mengenai cara mereka mengatur dan memenuhi kebutuhan yang diperlukan hidup (ekonomi), mengenai tata cara hubungan anggota kelompok dengan kelompok dan kelembagaan yang mereka perlukan (sosiologi), mengenai berbagai aturan dan nilai dalam kelompok (antropologi), keterhubungannya dengan ruang (geografi), mengenai aktivitas manusia dimasa lalu (sejarah), kelembagaan dan proses pembinaan kelompok generasi muda oleh generasi diatasnya (pendidikan), cara dan aturan main mengenai kekuasaan serta kelembagaan (politik). Pendekatan Terpisah : Pendekatan di mana setiap disiplin dalam ilmu-ilmu sosial diajarkan secara terpisah. Dalam pendekatan ini tujuan dan materi pelajaran sepenuhnya dikembangkan dari disiplin ilmu yang bersangkutan. Pendekatan gabungan : Pendekatan pendidikan ilmu-ilmu sosial yang menggabungkan (korelasi) beberapa disiplin ilmu-ilmu sosial dalam melakukan kajian terhadap suatu pokok bahasan dikenal ada satu disiplin ilmu sosial yang dijadikan sebagai disiplin ilmu utama dalam melakukan kajian terhadap suatu pokok bahasan. Dalam kajian itu, disiplin ilmu yang utama tadi dibantu oleh disiplin ilmu-ilmu sosial lainnya yang digunakan secara fungsional. Pendekatan Multidisiplin : Pendidikan ilmu-ilmu sosial yang menggunakan lebih dari satu disiplin ilmu untuk membahas suatu pokok persoalan. Batas-batas disiplin ilmu itu tetap dipertahankan dan kedudukan satu disiplin ilmu terhadap masalah sama dengan kedudukan disiplin ilmu lainnya (tidak ada disiplin ilmu yang lebih utama dibandingkan disiplin ilmu lainnya). Pendekatan Terpadu : Pendidikan ilmu-ilmu sosial yang memadukan berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial sedemikian rupa sehingga batas-batas antara disiplin satu dengan lainnya sudah tidak tampak. Pendidikan : Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang. Pendidikan Ilmu Sosial : Pendidikan mengenai disiplin-disiplin dari ilmu-ilmu sosial sesuai dengan pendekatan yang digunakan (terpisah, gabungan, atau terpadu). Synthetic Social Sciences : Upaya untuk memadukan berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial menjadi suatu disiplin baru. Upaya ini diantaranya dipelopori oleh Bruner dan kawan-kawannya dari Universitas Harvard (Harvard University). Perkembangan kurikulum di Indonesia menunjukkan posisi pendidikan ilmu-ilmu sosial yang berbeda selama masa 30 tahun terakhir. Dalam kurikulum 1964 pendidikan ilmu-ilmu sosial SMP hanya terdiri atas disiplin. Sejarah dan Geografi, Kedua disiplin ilmu dibagi atas dua bagian yakni Sejarah Kebangsaan dan Sejarah Dunia, Geograpi Indonesia dan Geografi Dunia. Sejarah Kebangsaan dan Geografi Indonesia dalam struktur kurikulum dimasukkan dalam Kelompok Dasar maupun dalam Kelompok Cipta baik dalam Kelompok Dasar maupun dalam Kelompok Cipta, Sejarah dan Geografi diajarkan dengan pendekatan pengajaran disiplin ilmu yang terpisah (separated disciplinari approach). Pendekatan terpisah digunakan pula dalam pengajaran ilmu-ilmu sosial di SMA. Dalam kurikulum 1964 pendidikian ilmu-ilmu sosial di SMA terdiri atas Sejarah, Geografi, dan Ekonomi. Pendidikan Sejarah terdiri atas pendidikan Sejarah Indonesia (istilah yang digunakan bukan Sejarah Nasional seperti yang digunakan untuk SMP), Sejarah Dunia dan Sejarah Kebudayaan. Pendidikan Geografi terbagi atas Geografi Indonesia dan Geografi Dunia. Dalam kurikulum 1968 yang merupakan perbaikan dari kurikulum 64 dan 66, Sejarah dan Geografi tetap mewakili pendidikan ilmu-ilmu sosial di SMP. Kedua disiplin ilmu itu di ajarkan dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia dan Sejarah Dunia, Geografi Indonesia dan Geografi Dunia. Keadaan yang sama dengan kurikulum 1964 berlaku untuk pendidikan ilmu-ilmu sosial di SMA. Bentuk pengajaran yang disarankanpun masih sama yaitu pendekatan pengajaran disiplin ilmu yang terpisah. Upaya untuk menerapkan pendekatan integratif dalam kurikulum ilmu-ilmu sosial hanya dilakukan dalam kurikulum 1975. Meskipun harus dikatakan bahwa upaya itu kurang berhasil baik ditingkat kurikulum apalagi di tingkat pengajaran tetapi kurikulum tersebut adalah sesuatu yang memberikan alternatif lain dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial. Dalam kurikulum 1975 IPS SMP, pendidikan ilmu-ilmu sosial diwakili oleh disiplin Sejarah, Geografi, dan Ekonomi. Pembagian Sejarah menjadi mata pelajaran terpisah Sejarah Indonesia dan Sejarah Dunia dan Geografi menjadi mata pelajaran terpisah. Geografi Indonesia dan Geografi Dunia tidak terjadi dalam kurikulum 75. Keterpaduan yang dikehendaki kurikulum walaupun tidak dapat dikatakan yang dikehendaki kurikulum, walaupun tidak dapat dikatakan berhasoil dirterjemahkan dalam GBPP, menyebabkan materi Sejarah Indonesia dan Sejarah Dunia diramu sedemikian rupa sehingga hanya tergambar pada rumusa. Tujuan Kurikuler demikian pula yang terjadi dengan Geografi yang diperluas dengan Kependudukan. Dalam kurikulum 1975 IPS SMA ditambahkan materi Antropolgi sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan ilmu-ilmu sosial sudah lebih berkembang dalam jumlah disiplin ilmu yang diliput kurikulum. Meskipun demikian, pendekatan terpadu yang diinginkan kurikulum tidak berhasil diterjemahkan dalam GBPP. Upaya mengembangakan pendekatan terpadu untuk pendidikan ilmu-ilmu sosial dapat dikatakan berhasil dalam kurikulum 84 IPSSMP. Rumusan tujuan kurikuler, Tujuan Instruksional Umum, serta rumusan Pokok Bahasan, dan Uraian memberikan petunjuk keberhasilan penerapan pendekatan terpadu dalam GBPP. Pendidikan ilmu-ilmu sosial dalam kurikulum SMA berikutnya (1984 dan 1994) dikembangkan berdasarkan pendekatan disiplin ilmu yang terpisah. Mamang terjadi perbedaan-perbedaan dalam mata pelejaran yang menopang pendidikan ilmu-ilmu sosial kedua kurikulum dan bukan dalam pendekatan pendidikan ilmu sosial yang digunakan. Senarai : Eklintik Pandangan yang berupaya menggabungkan berbagai aliran dengan melihat kebaikan dan keuntungan yang dimiliki setiap aliran. Dalam konteks diskusi dalam baba ini eklitik diartikan secara khusus pada golongan yang menganut pandangan esensialisme tetapi dalam pendekatan pengembangan materi tidak membatasi diri hanya pada pendekatan terpisah tetapi juga gabungan dan terpadu. Esensialisme Aliran dalam filsafat pendidikan yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pengembangan intelektualisme. Unrtuk mencapai tujuan pendidikan itu maka disiplin ilmu yang diajarkan secara terpisah menurut ciri khas keilmuan itu sendiri. Dalam pandangan ini pendektyan ganbungan atau terpadu adalah sesuatu yang tidak benar. Perenialisme Aliran filsafat yang menyatakan bahwa intelektualisme adalah tujuan pendidikan yang utama. Untuk mencapai tujuan tersebut maka siswa harus belajar mengenai liberal arts dan karya-karya Besar. Rekonstruksionisme Aliran filsafat ini berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang palin utama adalah mensejahterakan masyarakat. Oleh karena itu pendidikan harus diarahkan untuk mengembangkan siswa dengan kemampuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi upaya mensejahterakan masyarakat. Akomodasi : Istilah yang digunakan piaget untuk menunjukkan proses perubahan pada skema yang ada sehingga ia mampu menerima informasi baru (yang sudah mengalami asimilasi). Asimilasi Istilah yang digunakan piaget untuk menunjukkan proses perubahan yang terjadi pada informasi agar informasi itu memiliki keterkaitan dengan skema siswa. Belajar Penuh Makna : istilah yang digunakan Ausubel untuk menunjukkan bahwa infornmasi, konsep, generalisasi teori dan bahan lainnya yang dipelajari memiliki keterkaitan makna dan wawasan dengan apa yang sudah diwakili siswa sehingga mengubah apa yang telah menjadi milik siswa. Belajar Tanpa Makna : Istilah yang digunakan Ausubel untuk menunjukkan bahwa informasi, konsep, generalisasi teori dan bahan lainnya yang dipelajari tidak memiliki keterkaitan makna dan wawasan dengan apa yang sudah dimiliki siswa sehingga bahan yang baru dipelajari tidak berkembang menjadi milik siswa. Berpikir Formal : istilah yang digunakan Piaget untuk menunjukkan tahap perkembangan berpikir seseorang yang sudah mampu memahami bukan saja hal-hal yang abstrak tetapi juga yang bersifast induktif dan deduktif. Berpikir KonkrIt : Istilah yang digunakan Piaget untuk menunjukkan kemampuan awal siswa dalam berbagai hal termasuk perbedaan-perbedaan dalam informasi yang dipelajari. Enactive : Istilah yang digunakan Bruner untuk menunjukkan kemampuan berpikir yang dapat diwakilkan melalui tanda-tanda dan sudah mulai melepaskan diri sdari keterbatsan ingatan yang dihubungkan dengan waktu dan tempat tetapi masih terbatas pada informasi yang dinyatakan secara eksplisit. Non-specific transfer : istilah yang digunakan Bruner untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki siswa dalam menerapkan apa yang sudah dipelajarinya dalam berbagai situasi. Preoperasional : Istilah yang digunakan Piaget untuk menggambarkan kemampuan awal seseorang untuk berkomunikasi dengan dunia luar melalui bahasa verbal. Sensori Motor : Istilah yang digunakan Piaget untuk menunjukkan kemampuan seseorang pada tingkat awal hubungannya dengan dunia luar melaluikomunikasi non- verbal Skema : Pengetahuan, pemahaman, kemampuan kognitif dan afektif yang sudah ada dan menjadi milik siswa sebelum ia belajar sesuatu yang baru. Jika sesuatu yang baru dipelajari dapat diterima oleh skema yang ada maka skema itu berkembang menjadi sesuatu yang baru. Specific transfer of training : Istilah yang digunakan Bruner untuk menunjukkan kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dipelajari hanya untuk situasi-situasi khusus. Symbolic : Istilah yang digunakan Bruner untuk menunjukkan kemampuan beropikir yang abstrak, penuh lambang, dan dapat dikembangkan untuk berpikir dalam ilmu. Afektif : adalah aspek kepribadian yang berkenaan dengan perasaan, sikap, nilai dan moral seseorang. Development Objectives : Tujuan yang harus dikembangkan dalam suatu proses pendidikan yang panjang dan oleh karena itu ia tidak mungkin tercapai hanya dalam satu pertemuan kelas. Konatif : adalah aspek kepribadian yang berkenaan dengan kemauan, keinginan, dan pelaksanaannya dalam hidup sehari-hari Kognitif : adalah pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari adalah aspek kepridabian yang berkenaan dengan kemampuan daya pikir dan nalar seseorang. Mastery Objective : Tujuan yang dapat dicapai dalam suatu pertemuan kelas dan umumnya berkenaan dengan pengetahuan dan pemahaman terhadap materi substantif pelajaran tersebut. Tujuan : adalah kualitas yang ingin dikembangkan pada diri siswa setelah mempelajari ilmu-ilmu sosial. Tujuan memberikan arah mengenai pemilihan bahan ajar dan kemana proses belajar siswa harus diarahkan. Tujuan Global : Tujuan yang berkenaan dengan ruang lingkup yang bersifat terbuka terhadap kejadian dan perkembangan yang ada di luar negara Indonesia. Kejadian dan peristiwa itu berpengaruh terhadap kehidupan siswa seharihari dan oleh karenanya tujuan ilmu-ilmu sosial harus juga mempersiapkan siswa untuk berhadapan dengan berbagai peristiwa global. Tujuan Institusional : Tujuan yang hendak dicapai oleh suatu lembaga pendidikan tertentu. SMP memiliki tujuan institusional yang berbeda dari SMA karena fungsi pendidikan yang diemban lembaga tersebut berbeda. Tujuan Pendidikan Nasional : tujuan yang hendak dicapai oleh setiap upaya pendidikan yang dilaksankan di Indonesia. Tujuan ini ditetapkan dalam GBHN, Uunomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan Pendidikan Nasional merupakan tujuan bangsa Indonesia dalam melaksanakan pendidikan. Oleh karena itu setiap upaya pendidikan yang berlaku di tanah air hendaklah diarahkan untuk pencapaian kualitas manusia yang dipersyaratkan dalam tujuan pendidikan nasional. Tujuan Pengajaran : tujuan yang dicapai secara langsung melalui kajian materi dan proses belajar tertentu. Tujuan ini pada dasarnya adalah tujuan yang dikembangkan guru dalam setiap rencana pengejaran dan ia berhubungan langsung dengan tujuan yang dinyatakan dalam kurikulum dan sifat materi pelajaran yang dikaji siswa. Tujuan pengayaan : tujuan pengayaan adalah tujuan yang dicapai siswa sebagai akibat samingan dari kegiatan belajar yang mereka lakukan. Tujuan ini memang merupakan tujuan sampingan dan oleh karena itu tidak berkaitan langsung dengan materi kajian. Tujuan pengayaan terjadi karena suatu kegiatan belajar mengajar tidak hanya berpengaruh terhadap pencapain satu tujuan saja tetapi terhadap berbagai tujuan. Fakta : kesimpulan-kesimpulan yang diambil seseorang berdasarkan cara pandangan keilimuan terhadap data atau sekumpulanm data. Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan itulah maka data yang sudah dikumpulkan itu memiliki makna. Generalisasi : kesimpulan yang berkenaan dengan sifat dan jenis keterhubungan anatara dua konsep atau lebih dan kesimpulan itu dirumuskan dalam bentu pernyataan yang memiliki daya keberlakuan dalam berbagai ruang dan waktu. Dalam kesimpulan yang dinamakan generalisasi itu terdapat juga struktur keterhubungan antar konsep-konsep. Konsep : abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat. Dalam keterhubungan itu terdapat struktur yang menggambarkan keterhubungan antara berbagai atribut suatu konsep. Konsep memiliki nama yang disebut label dan memiliki isi yang dinyatakan dalam definisi. Konsep disjungtif : adalah konsep yang memiliki anggota dengan atribut yang memiliki nilai beragam. Adanya perbedaan dan keragaman dalam nilai atribut itu justru menjadi persamaan diantara keanggotaan konsep. Konsep konjungtif : konsep yang memiliki anggota dengan persamaan yang sangat banyak. Dapat dikatakan persamaan anatara satu anggota dengan anggota lain meliputi hampir sebagian besar nilai atribut konsep. Konsep relasional : konsep yang diangap paling tinggi tingkat abstarksinya karena persamaan yang ada diantara anggota konsep dikembangkan berdasarkan kriteria tertentu dan tidak lagi bersifat konkret. Materi proses : materi yang dipelajari tetapi tidak berkenaan dengan aspek seperti fakta, konsep, generalisasi atau pun teori tetapi berkenaan dengan prosedur yang harus dilakukan. Materi pendidikan yang bersifat proses haruslah dipelajari dalam bentuk kegiatan dan pelaksanaan proses itu sendiri. Materi Substansi : materi yang secara universal dipelajari siswa di kelas-kelas pendidikan ilmu-ilmu sosial saat kini. Dalam materi yang demikian siswa mengkaji fakta, konsep, definisi pendapat, generalisasi, teori, nilai, moral, dan sebagainya. Pendekatan komunitas yang meluas : pendekatan yang dikembangkan Paul Hanna berdasarkan keterdekatan lingkungan terhadap siswa. Lingkungan terdekat adalah keluarga dan diteruskan sampai kelingkungan dunia. Dalam lingkungan-lingkungan tersebut siswa mempelajari sembila aspek kehidupan manusia. Belajar bermakna : belajar yang mempunyai arti bagi siswa secara bermakna karena apa yang dipelajari memiliki : keterhubungan dengan struktur kognitif siswa. Induktif : proses belajar yang mengembangkan kemampuan berpikir abstrak melalui kemampuan menarik kesimpulan yang sifatnya umum dari fenamena yang bersifat khusus. Mnemonic : cara belajar fakta dengan jalan membuat singkatan mengenai fakta tersebut yang memiliki arti yang memiliki arti bagi dirinya sehingga mudah diingat. Pengemas awal : materi yang disajikan guru kepada awal suatu proses belajar yang berisikan abstraksi, generalisasi dan rincian dasar mengenai materi yang akan dipelajari. Berpikir : suatu proses mental berdasarkan mana seseorang menemukan makna dari apa yang sudah dipelajarinya. Isu kontroversial : suatu isu yang menimbulkan perbedaan pendapat dari seseorang atau kelompok lain. Suatu kelompok mungkin setuju sedangkan yang lain tidak setuju tentang suatu masalah. Kasus : berhubungan dengan kehidupan manusia di masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Kasus yang berkenaan dengan kehidupan manusia dimasa mendatang adalah kasus yang fiktif, Meskipun demikian kasus fiktif tidak hanya terbatas untuk suatu yang berhubungan dengan kehidupan masa datang saja; kasus mengenai kehidupan masa lalu atau pun masa kini dapat pula diciptakan. Konsep : abstraksi kesamaan karakteristik sejumlah benda, fenomena, atau stimuli. Suatu konsep memiliki atribut, fakta, label/nama dan definisi. Diagram Vee : diagram y6ang dikembangkan oleh Gowin yang menjelaskan keterhubungan antara kemampuan berfikir dengan kemampuan memroses informasi. Kemampuan proses : kemampuan yang digunakan untuk mengumpulkan informasi mengolah informasi, mengkomunikasikan hasil dan memanfaatkan informasi. Pengajaran Inkuiri : salah satu bentuk pengajaran untuk mengembangkan kemampuan proses yang sudah disistematiskan dalam suatu tata ukuran tertentu dengan kegiatan yang bermula dari perumusan masalah, pengembangan hipotesis, pengumpulan data, pengolahan data, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Pengajaran Pemecahan Masalah : salah satu bentuk pengajaran untuk mengembangkan kemampuan proses yang sudah disistematiskan dalam tata urutan dengan kegiatan bermula dari identifikasi masalah, pengembangan alternatif, pengumpulan data pengujian alternatif dan pengambilan keputusan. Aspek non-teknis profesi guru : aspek yang berkaitan dengan unsur-unsur afeksi keprofesian seorang guru. Dalam aspek ini yang menonjol adalah motivasi, rasa tanggung jawab, kesadaran profesi serta keinginan profesi sebaik-baiknya. Model Tyler : pengembangan kurikulum yang dikemukakan Ralph Tyler dan dianggap sebagai bapak pengembang kurikulum. Dalam model tersebut Tyler sangat menekankan pencapaian tujuan, peran aktif siswa dalam proses dan peran guru dalam melancarkan dan memudahkan proses belajar siswa. Bagi Tyler, kurikulum adalah pedoman untuk siswa dalam belajar dan bukan pedoman guru untuk mengajar. Perencanaan guru : adalah perencanaan yang dibuat guru dalam mempersiapkan suatu proses belajar. Pada dasarnya perencanaan guru adalah terjemahan operasional guru terhadap kurikulum sehingga dari perencanaan guru akan terlihat pandangan dan keinginan profesional guru mengenai hasil belajar siswa, pengalaman belajar siswa serta upaya guru untuk mengetahui hasil belajar siswa.

DEFINSI ISTILAH PIS


Ilmu-Ilmu Sosial  :
Studi tentang tingkah laku kelompok umat manusia. Studi tentang tingkah laku kelompok umat manusia mengenai cara mereka mengatur dan memenuhi kebutuhan yang diperlukan hidup (ekonomi), mengenai tata cara hubungan  anggota kelompok dengan kelompok dan kelembagaan yang mereka perlukan (sosiologi), mengenai berbagai aturan dan nilai dalam kelompok (antropologi), keterhubungannya dengan ruang (geografi), mengenai aktivitas manusia dimasa lalu (sejarah), kelembagaan dan proses pembinaan kelompok generasi muda oleh generasi diatasnya (pendidikan), cara dan aturan main mengenai kekuasaan serta kelembagaan (politik).

Pendekatan Terpisah  :   
Pendekatan di mana setiap disiplin  dalam ilmu-ilmu sosial diajarkan secara terpisah. Dalam pendekatan ini tujuan dan materi pelajaran sepenuhnya dikembangkan dari disiplin ilmu yang bersangkutan.

Pendekatan gabungan      :
Pendekatan pendidikan ilmu-ilmu sosial yang menggabungkan  (korelasi) beberapa disiplin ilmu-ilmu sosial dalam melakukan kajian terhadap suatu pokok bahasan dikenal ada satu disiplin ilmu sosial yang dijadikan sebagai disiplin ilmu utama dalam melakukan kajian terhadap suatu pokok bahasan. Dalam kajian itu, disiplin ilmu yang utama tadi dibantu oleh disiplin ilmu-ilmu sosial lainnya yang digunakan secara fungsional.

Pendekatan Multidisiplin :
Pendidikan ilmu-ilmu sosial yang menggunakan lebih dari satu disiplin ilmu untuk membahas suatu pokok persoalan. Batas-batas disiplin ilmu itu tetap dipertahankan dan kedudukan satu disiplin ilmu terhadap masalah sama dengan kedudukan disiplin ilmu lainnya (tidak ada disiplin ilmu yang lebih utama dibandingkan disiplin ilmu lainnya).

Pendekatan Terpadu  :
Pendidikan ilmu-ilmu sosial yang memadukan berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial sedemikian rupa sehingga batas-batas antara disiplin satu dengan lainnya sudah tidak tampak.

Pendidikan :
Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang.



Pendidikan Ilmu Sosial     :
Pendidikan mengenai disiplin-disiplin dari ilmu-ilmu sosial  sesuai dengan pendekatan yang digunakan (terpisah, gabungan, atau terpadu).


Synthetic Social Sciences :            
Upaya untuk memadukan berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial menjadi suatu disiplin baru. Upaya ini diantaranya dipelopori oleh Bruner dan kawan-kawannya dari Universitas Harvard (Harvard University).

                Perkembangan kurikulum di Indonesia menunjukkan posisi pendidikan ilmu-ilmu  sosial yang  berbeda selama masa 30 tahun  terakhir. Dalam kurikulum 1964 pendidikan ilmu-ilmu sosial SMP hanya terdiri atas disiplin. Sejarah dan Geografi, Kedua disiplin ilmu dibagi atas dua bagian yakni Sejarah Kebangsaan dan Sejarah Dunia, Geograpi Indonesia dan Geografi Dunia. Sejarah Kebangsaan dan Geografi Indonesia dalam struktur kurikulum dimasukkan dalam Kelompok Dasar maupun dalam Kelompok Cipta  baik dalam Kelompok  Dasar maupun dalam Kelompok  Cipta, Sejarah dan Geografi diajarkan dengan pendekatan pengajaran disiplin ilmu yang terpisah (separated disciplinari approach).
                Pendekatan terpisah digunakan pula dalam pengajaran ilmu-ilmu sosial di SMA. Dalam kurikulum 1964 pendidikian ilmu-ilmu sosial di SMA terdiri atas Sejarah, Geografi, dan Ekonomi. Pendidikan Sejarah terdiri atas pendidikan Sejarah Indonesia (istilah yang digunakan bukan Sejarah Nasional seperti yang digunakan untuk SMP), Sejarah Dunia dan Sejarah Kebudayaan. Pendidikan Geografi terbagi atas Geografi Indonesia dan Geografi Dunia.
                Dalam kurikulum 1968 yang merupakan perbaikan dari kurikulum 64 dan 66, Sejarah dan Geografi tetap mewakili pendidikan ilmu-ilmu sosial di SMP. Kedua disiplin ilmu itu di ajarkan dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia dan Sejarah Dunia, Geografi Indonesia dan Geografi Dunia. Keadaan yang sama dengan kurikulum 1964 berlaku untuk pendidikan ilmu-ilmu sosial di SMA. Bentuk pengajaran yang disarankanpun masih sama yaitu pendekatan pengajaran disiplin ilmu yang terpisah.
                Upaya untuk menerapkan pendekatan integratif dalam kurikulum ilmu-ilmu sosial hanya  dilakukan dalam kurikulum 1975. Meskipun harus dikatakan bahwa upaya itu kurang berhasil baik ditingkat kurikulum apalagi di tingkat pengajaran tetapi kurikulum tersebut adalah sesuatu yang memberikan alternatif lain dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial.
                Dalam kurikulum 1975 IPS SMP, pendidikan ilmu-ilmu sosial diwakili oleh disiplin Sejarah, Geografi, dan Ekonomi. Pembagian Sejarah menjadi mata pelajaran terpisah Sejarah Indonesia dan Sejarah Dunia dan Geografi menjadi mata pelajaran terpisah. Geografi Indonesia dan Geografi Dunia tidak terjadi dalam kurikulum 75. Keterpaduan yang dikehendaki kurikulum walaupun tidak dapat dikatakan yang dikehendaki kurikulum, walaupun tidak dapat dikatakan berhasoil dirterjemahkan dalam GBPP, menyebabkan materi Sejarah Indonesia dan Sejarah Dunia diramu sedemikian rupa sehingga hanya tergambar pada rumusa. Tujuan Kurikuler demikian pula yang terjadi dengan Geografi yang diperluas dengan Kependudukan.
                Dalam kurikulum 1975 IPS SMA ditambahkan materi Antropolgi sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan ilmu-ilmu sosial sudah lebih berkembang dalam jumlah disiplin  ilmu yang diliput kurikulum. Meskipun demikian, pendekatan terpadu yang diinginkan kurikulum tidak berhasil diterjemahkan dalam GBPP.
                Upaya mengembangakan pendekatan terpadu untuk pendidikan ilmu-ilmu sosial dapat dikatakan  berhasil dalam kurikulum 84 IPSSMP. Rumusan tujuan kurikuler, Tujuan Instruksional Umum, serta rumusan Pokok Bahasan, dan Uraian memberikan petunjuk keberhasilan penerapan pendekatan terpadu dalam GBPP.
                Pendidikan ilmu-ilmu sosial dalam kurikulum SMA berikutnya (1984 dan 1994) dikembangkan berdasarkan pendekatan disiplin ilmu yang terpisah. Mamang terjadi perbedaan-perbedaan  dalam mata pelejaran yang menopang pendidikan ilmu-ilmu sosial kedua kurikulum dan bukan dalam pendekatan pendidikan ilmu sosial yang digunakan.

Senarai :
Eklintik Pandangan yang berupaya  menggabungkan berbagai aliran dengan melihat kebaikan  dan keuntungan yang dimiliki setiap aliran. Dalam konteks diskusi dalam baba ini eklitik diartikan secara khusus pada golongan yang menganut pandangan esensialisme tetapi dalam pendekatan  pengembangan materi tidak membatasi diri  hanya pada pendekatan terpisah tetapi juga  gabungan dan terpadu.

Esensialisme Aliran dalam filsafat pendidikan yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pengembangan intelektualisme. Unrtuk mencapai tujuan  pendidikan itu  maka disiplin ilmu yang diajarkan secara terpisah menurut ciri khas keilmuan itu sendiri. Dalam pandangan ini pendektyan ganbungan atau terpadu adalah sesuatu yang tidak benar.

Perenialisme Aliran filsafat yang menyatakan bahwa intelektualisme adalah tujuan pendidikan yang utama. Untuk mencapai tujuan tersebut maka siswa harus belajar mengenai liberal arts dan karya-karya Besar.

Rekonstruksionisme Aliran filsafat ini berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang palin utama adalah mensejahterakan masyarakat. Oleh karena itu pendidikan harus diarahkan untuk mengembangkan siswa dengan kemampuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi upaya mensejahterakan masyarakat.

Akomodasi : Istilah yang digunakan piaget untuk menunjukkan proses perubahan pada skema yang ada sehingga ia mampu menerima informasi baru (yang sudah mengalami asimilasi).

Asimilasi Istilah yang digunakan piaget untuk menunjukkan proses perubahan  yang terjadi  pada informasi agar informasi itu memiliki keterkaitan  dengan skema siswa.

Belajar Penuh Makna  : istilah yang digunakan  Ausubel untuk menunjukkan bahwa  infornmasi, konsep, generalisasi teori dan bahan lainnya yang dipelajari  memiliki keterkaitan makna dan wawasan dengan apa yang  sudah diwakili  siswa sehingga mengubah apa yang telah  menjadi milik siswa.

Belajar Tanpa Makna  : Istilah yang digunakan Ausubel untuk menunjukkan bahwa informasi, konsep, generalisasi teori dan bahan lainnya yang dipelajari tidak memiliki keterkaitan  makna dan wawasan dengan apa yang  sudah dimiliki siswa sehingga bahan  yang baru dipelajari  tidak berkembang menjadi milik siswa.

Berpikir Formal  : istilah yang digunakan Piaget untuk menunjukkan tahap perkembangan berpikir seseorang  yang sudah mampu memahami bukan saja hal-hal yang abstrak tetapi juga yang bersifast induktif dan deduktif.

Berpikir KonkrIt  : Istilah yang digunakan Piaget untuk menunjukkan kemampuan awal siswa dalam berbagai  hal termasuk perbedaan-perbedaan dalam informasi yang dipelajari.

Enactive  : Istilah yang digunakan Bruner untuk menunjukkan kemampuan berpikir yang dapat diwakilkan melalui tanda-tanda dan sudah mulai melepaskan diri  sdari keterbatsan ingatan yang dihubungkan dengan  waktu dan tempat tetapi masih terbatas pada informasi  yang dinyatakan secara eksplisit.

Non-specific transfer  : istilah yang digunakan Bruner untuk menunjukkan  kemampuan yang dimiliki siswa dalam menerapkan  apa yang sudah dipelajarinya dalam berbagai situasi.

Preoperasional  : Istilah yang digunakan Piaget untuk menggambarkan kemampuan awal seseorang untuk berkomunikasi dengan dunia luar melalui bahasa verbal.

Sensori Motor  : Istilah yang digunakan Piaget untuk menunjukkan kemampuan seseorang pada tingkat awal hubungannya dengan  dunia luar melaluikomunikasi non- verbal

Skema  : Pengetahuan, pemahaman, kemampuan kognitif dan afektif yang sudah ada dan menjadi milik siswa sebelum ia belajar sesuatu yang baru. Jika sesuatu  yang baru dipelajari dapat diterima  oleh skema yang ada maka skema itu berkembang menjadi sesuatu  yang baru.

Specific transfer of training : Istilah yang digunakan Bruner  untuk menunjukkan kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dipelajari  hanya untuk situasi-situasi khusus.

Symbolic  : Istilah yang digunakan Bruner untuk menunjukkan kemampuan  beropikir yang abstrak, penuh lambang, dan dapat dikembangkan untuk berpikir dalam ilmu.

Afektif   :  adalah aspek kepribadian yang berkenaan dengan perasaan, sikap, nilai dan moral seseorang.

Development Objectives  : Tujuan yang harus dikembangkan dalam suatu proses pendidikan yang panjang dan oleh karena itu ia tidak mungkin tercapai hanya dalam satu pertemuan kelas.

Konatif  : adalah aspek kepribadian  yang berkenaan dengan kemauan, keinginan, dan pelaksanaannya dalam hidup sehari-hari

Kognitif  :  adalah pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari adalah aspek kepridabian yang berkenaan dengan kemampuan daya pikir  dan nalar seseorang.

Mastery Objective  : Tujuan yang dapat dicapai dalam suatu pertemuan kelas dan umumnya berkenaan dengan pengetahuan dan pemahaman terhadap materi substantif  pelajaran tersebut.

Tujuan : adalah kualitas yang ingin dikembangkan pada diri siswa  setelah mempelajari ilmu-ilmu sosial. Tujuan memberikan arah mengenai pemilihan bahan ajar dan kemana proses belajar siswa harus diarahkan.

Tujuan Global  : Tujuan yang berkenaan dengan ruang lingkup yang bersifat terbuka terhadap kejadian dan perkembangan yang ada di luar negara Indonesia. Kejadian dan peristiwa itu berpengaruh terhadap kehidupan siswa seharihari dan oleh karenanya tujuan ilmu-ilmu sosial harus juga  mempersiapkan siswa untuk berhadapan dengan berbagai peristiwa global.

Tujuan Institusional : Tujuan yang hendak dicapai oleh suatu lembaga pendidikan tertentu. SMP memiliki tujuan institusional yang berbeda dari SMA karena fungsi pendidikan yang diemban lembaga tersebut berbeda.

Tujuan Pendidikan Nasional : tujuan yang hendak dicapai oleh setiap upaya pendidikan yang dilaksankan di Indonesia. Tujuan ini ditetapkan dalam  GBHN, Uunomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan Pendidikan Nasional merupakan tujuan bangsa Indonesia dalam melaksanakan pendidikan. Oleh karena itu setiap upaya pendidikan yang berlaku di tanah air hendaklah diarahkan untuk pencapaian kualitas manusia yang dipersyaratkan dalam tujuan pendidikan nasional.

Tujuan Pengajaran : tujuan yang dicapai secara langsung melalui kajian materi dan proses belajar tertentu. Tujuan ini pada dasarnya adalah tujuan yang dikembangkan guru dalam setiap rencana pengejaran dan ia berhubungan langsung dengan  tujuan yang dinyatakan dalam kurikulum dan sifat materi pelajaran yang dikaji siswa.

Tujuan pengayaan : tujuan pengayaan adalah tujuan yang dicapai siswa sebagai akibat samingan dari kegiatan belajar yang mereka lakukan. Tujuan ini memang merupakan tujuan sampingan dan oleh karena itu tidak berkaitan langsung dengan materi kajian. Tujuan pengayaan terjadi karena suatu kegiatan belajar mengajar tidak hanya berpengaruh terhadap pencapain satu tujuan saja tetapi terhadap berbagai tujuan.

Fakta : kesimpulan-kesimpulan yang diambil seseorang berdasarkan cara pandangan keilimuan terhadap data atau sekumpulanm data. Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan itulah  maka data yang sudah dikumpulkan itu memiliki makna.

Generalisasi : kesimpulan yang berkenaan dengan sifat dan jenis keterhubungan anatara dua konsep atau lebih dan kesimpulan itu  dirumuskan dalam bentu pernyataan yang memiliki daya keberlakuan dalam berbagai ruang dan waktu. Dalam kesimpulan yang dinamakan generalisasi itu terdapat juga struktur keterhubungan antar konsep-konsep.

Konsep : abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat. Dalam keterhubungan itu terdapat struktur yang menggambarkan  keterhubungan antara berbagai atribut suatu konsep. Konsep memiliki nama yang disebut label dan memiliki isi yang dinyatakan dalam definisi.

Konsep disjungtif : adalah konsep yang memiliki anggota dengan atribut yang memiliki nilai beragam. Adanya perbedaan dan keragaman dalam nilai atribut itu justru menjadi persamaan diantara keanggotaan konsep.

Konsep konjungtif : konsep yang memiliki anggota dengan persamaan yang sangat banyak. Dapat dikatakan persamaan anatara satu anggota dengan anggota lain meliputi hampir sebagian  besar nilai atribut konsep.

Konsep relasional : konsep yang diangap paling tinggi tingkat abstarksinya karena persamaan  yang ada diantara anggota konsep dikembangkan berdasarkan kriteria tertentu dan tidak lagi bersifat konkret.

Materi proses : materi yang dipelajari tetapi tidak berkenaan dengan aspek seperti fakta, konsep, generalisasi atau pun teori tetapi berkenaan dengan prosedur yang harus dilakukan. Materi pendidikan yang bersifat proses haruslah dipelajari dalam bentuk kegiatan dan pelaksanaan proses itu sendiri.

Materi Substansi : materi yang secara universal dipelajari siswa di kelas-kelas pendidikan ilmu-ilmu sosial saat kini. Dalam materi yang demikian siswa mengkaji fakta, konsep, definisi pendapat, generalisasi, teori, nilai, moral, dan sebagainya.

Pendekatan komunitas yang meluas : pendekatan yang dikembangkan Paul Hanna berdasarkan keterdekatan lingkungan terhadap siswa. Lingkungan terdekat adalah keluarga dan diteruskan sampai kelingkungan dunia. Dalam lingkungan-lingkungan tersebut siswa mempelajari sembila aspek kehidupan manusia.

Belajar bermakna : belajar yang mempunyai arti bagi siswa secara bermakna karena apa yang dipelajari memiliki : keterhubungan dengan struktur kognitif siswa.

Induktif : proses belajar yang mengembangkan kemampuan berpikir abstrak melalui kemampuan menarik kesimpulan yang sifatnya umum dari fenamena yang bersifat khusus.

Mnemonic : cara belajar fakta dengan jalan membuat singkatan mengenai  fakta tersebut yang memiliki arti yang memiliki arti bagi dirinya sehingga mudah diingat.

Pengemas awal : materi yang disajikan guru kepada awal suatu proses belajar yang berisikan abstraksi, generalisasi dan rincian dasar mengenai materi yang akan dipelajari.
Berpikir : suatu proses mental berdasarkan mana seseorang menemukan makna dari apa yang sudah dipelajarinya.

Isu kontroversial : suatu isu yang menimbulkan perbedaan pendapat dari seseorang atau kelompok lain. Suatu kelompok mungkin setuju  sedangkan yang lain tidak setuju tentang suatu masalah.

Kasus : berhubungan dengan kehidupan manusia di masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Kasus yang berkenaan dengan kehidupan manusia dimasa mendatang adalah kasus yang fiktif, Meskipun demikian  kasus fiktif tidak hanya terbatas untuk suatu yang berhubungan dengan kehidupan masa datang saja; kasus mengenai kehidupan masa lalu atau pun masa kini dapat pula diciptakan.

Konsep : abstraksi kesamaan karakteristik sejumlah benda, fenomena, atau stimuli. Suatu konsep memiliki atribut, fakta, label/nama dan definisi.

Diagram Vee : diagram y6ang dikembangkan oleh Gowin yang menjelaskan keterhubungan antara kemampuan berfikir dengan kemampuan memroses informasi.

Kemampuan proses : kemampuan yang digunakan untuk mengumpulkan informasi mengolah informasi, mengkomunikasikan hasil dan memanfaatkan informasi.

Pengajaran  Inkuiri : salah satu bentuk pengajaran untuk mengembangkan kemampuan proses yang sudah disistematiskan dalam suatu tata ukuran tertentu dengan kegiatan yang bermula dari perumusan masalah, pengembangan hipotesis, pengumpulan data, pengolahan data, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan.

Pengajaran Pemecahan Masalah : salah satu bentuk pengajaran untuk mengembangkan kemampuan proses yang sudah disistematiskan dalam tata urutan dengan kegiatan bermula dari identifikasi masalah, pengembangan alternatif, pengumpulan data pengujian alternatif dan pengambilan keputusan.

Aspek non-teknis profesi guru : aspek yang berkaitan dengan unsur-unsur afeksi keprofesian seorang guru. Dalam aspek ini yang menonjol adalah motivasi, rasa tanggung jawab, kesadaran profesi serta keinginan profesi sebaik-baiknya.

Model Tyler : pengembangan kurikulum yang dikemukakan Ralph Tyler dan dianggap sebagai bapak pengembang  kurikulum. Dalam model tersebut Tyler sangat menekankan pencapaian tujuan, peran aktif siswa dalam proses dan peran guru dalam melancarkan dan memudahkan proses belajar siswa. Bagi Tyler, kurikulum adalah pedoman untuk siswa dalam belajar dan bukan pedoman guru untuk mengajar.

Perencanaan guru  : adalah perencanaan yang dibuat guru dalam mempersiapkan suatu proses belajar. Pada dasarnya perencanaan guru adalah terjemahan operasional guru terhadap kurikulum sehingga dari perencanaan guru akan terlihat pandangan dan keinginan profesional guru mengenai hasil belajar siswa, pengalaman belajar siswa serta upaya guru untuk mengetahui hasil belajar siswa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar