Sabtu, 26 November 2011

Karakter yang Kuat dan yang Lemah


Dalam perbincangan  karakter manusia dalam keseharian, kita
sering mendengar istilah yang kuat dan yang lemah. Apabila kita
mengaitkannya dengan karakter, memang kita sering menjumpai orang
yang berkarakter kuat dan yang lemah. Kita juga melihat bangsa yang
berkarakter kuat dan berkarakter lemah.
     Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kuat berarti: 102
1) Banyak tenaganya (gayanya, dayanya); mampu mengangkat
   (mengangkut dan sebagainya) banyak;
2) Tahan (tidak mudah patah, rusak, putus, dsb); awet;
3) Tidak mudah goyah (terpengaruh); teguh (tentang iman, pendirian,
   kemauan, dan sebagainya);
4) Ketat (tentang pertahanan, penjagaan, dan sebagainya);
5) Tahan (menderita sakit, dan sebagainya);
6) Kencang (angi n);
7) Berat (tekanannya);
8) Keras; nyaring (teriakannya);
9) Erat (ikatan);
10) Mampu dan kuasa (berbuat sesuatu);
11) Mempunyai keunggulan (kecakapan, dan sebagainya).
     Sebaliknya, arti kata lemah adalah sebagai berikut: 103
1) Tidak kuat; tidak bertenaga;
2) Tidak keras hati; lembut; tidak tegas;
3) Tidak kuat; kurang  berdasar.
     Dari pengertian tersebut, kita bisa memahami bagaimana orang
yang berkarakter kuat dan bagaimana yang lemah. Orang yang
102. Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi IV (Jakarta: Departemen Pendidikan
    Nasional bekerja sama dengan PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), him. 746.
103. Ibid., hlm. 807.

berkarakter kuat memiliki karakter yang jelas dengan ciri-cirinya yang
menunjukkan yang kuat, sedangkan yang lemah itu bisa berarti tidak
memiliki karakter maupun yang menunjukkan ciri-ciri lemah.
    Pertama-tama, harus dibedakan di sini antara sifat fisik dan
karakter mental. Ada adagium "di dalam tubuh yang sehat terdapat
pikiran dan jiwa yang sehat pula". Akan tetapi, apakah di dalam tubuh
yang kuat, dengan tenaga yang kuat, fisik yang sehat, dan kondisi
tubuh yang bagus dan prima, dengan serta-merta memiliki karakter
kepribadian mental yang kuat?
    Jadi, apa yang kita diskusikan dalam buku  ini adalah karakter
manusia yang menyangkut kepribadian dan mentalitas yang
diperlukan untuk menjalani kehidupan agar mendapatkan kesuksesan
pada masing-masing individu, dan yang lebih penting, karakternya
mendukung relasi sosial yang membuat peradaban dan kebudayaan
berjalan baik, mendukung kemajuan masyarakat dan bukannya malah
memundurkan dan mengacaukan relasi sosial kemasyarakatan.
    Dari ciri-ciri yang penulis rujuk dari kamus di atas, karakter
kuat dan lemah yang didefinisikan memang mencakup ciri-ciri
yang mewakili kehidupan sehari-hari dari penglihatan kita terhadap
orang-orang dengan karakternya yang ingin kita lihat, untuk selanjutnya
digunakan untuk membangun karakter mana yang baik bagi kita dan
terutama generasi muda kita.
    Pertama, karakter kuat itu memang ditunjukkan oleh banyaknya
tenaga dan daya yang digunakan untuk menjalani pekerjaan yang
positif—menunjukkan giatnya dalam menjalani pekerjaan dan peran
yang dilakukan. Orang yang mobilitasnya tinggi, giat bekerja, dan
aktif dalam kegiatan yang membutuhkan gerak dan tindakan, tampak
di hadapan kita sebagai orang yang berkarakter baik dan tampak
menyenangkan. Penulis suka sekali melihat anak-anak muda yang
energik, dan memiliki mobilitas tinggi, tampak bertenaga bagus, dan

tidak hanya diam dan malas. Sedangkan, yang malas bergerak dan
hanya diam tak melakukan apa-apa tampak sebagai manusia lemah.
     Kedua, sesuatu yang kuat itu tidak mudah rusak, tahan, dan tidak
mudah putus. Itu kalau barang atau benda. Jika ditarik dalam karakter
manusia, karakter yang kuat itu adalah yang tidak mudah putus asa,
semangatnya berkobar terus, konsisten melakukan sesuatu usaha dan
akan belajar untuk memperbaiki tindakan dan usahanya. Karakter
manusia yang kuat adalah yang tidak mudah putus asa atau pesimis.
Jika mendapatkan suatu musibah dan peristiwa yang mengecewakan,
ia tak patah hati, tetapi akan segera bangkit memperbaiki dirinya.
Jiwa yang kuat adalah jiwa yang ketika menghadapi masalah ia tak
ditenggelamkan masalah itu, tetapi mampu mengatasinya. Sedangkan,
karakter yang lemah adalah kebalikannya, mudah patah hati, tak tahan
cobaan, putus asa, dan kadang sebagai reaksinya mengambil jalan pintas
untuk mengatasi masalah yang mengorbankan wataknya—yang bisa
tampak menjadi kuat pada penampakan, tetapi sejatinya rapuh.
     Ketiga, karakter yang kuat itu menunjukkan adanya sifat (ciri-ciri)
tidak mudah goyah atau mudah dipengaruhi, teguh pendirian, punya
kemauan yang teguh untuk mencapainya. Artinya, ini berkaitan
juga dengan prinsip dan kemampuan memersepsi sesuatu yang bisa
mengendalikan dirinya dan membuatnya dapat merespons sesuatu di
luar dirinya secara arif dan bijaksana. Apa yang datang padanya, rayuan,
godaan, iklan, dan lain sebagainya tidak mudah untuk memengaruhinya
karena ia punya pendirian. Sedangkan, orang yang berkarakter lemah
itu sangat mudah ikut-ikutan, mudah tergoda, kompromis, konformis,
dan biasanya mudah terombang-ambing oleh keadaan.
     Lemah berarti kurang berdasar, kurang punya prinsip. Oleh karena
itulah, tidak ada nilai dan patokan dalam diri yang membantunya melihat
keadaan luar dirinya. Apa yang datang padanya tidak bisa dibedakan
mana yang baik dan benar, mana yang lebih berguna dan yang tidak,

mana yang lebih bermakna dan yang dangkal. Karena tak punya prinsip
sebagai pengendali kepribadian, ia hanya menuruti tuntutan praktis saja,
memenuhi kebutuhan mendesak saja. Apa yang datang padanya akan
diterima selama menyenangkan kebutuhan mendesaknya.
     Keempat, orang yang karakternya kuat itu juga tahan menderita
atau mendapatkan cobaan. Ia mampu bertahan di tengah situasi
sulit. Sisi baiknya adalah bahwa kesetiaan akan  tetap dipertahankan
meskipun ada berbagai godaan. Sikap ini menyenangkan, karakter
orang yang melakukan hal itu amatlah baik daripada mudah sehngkuh
karena tak tahan godaan dan cobaan.
     Kita mengenal orang-orang yang kita kenal sebagai takoh besar
dan pejuang umat manusia karena mereka  tetap berjuang di tengah
kesulitan yang dihadapi. Nabi Muhammad dan  Yesus tetap berjuang
untuk menebarkan keyakinan agamanya meski mendapatkan cobaan
dan reaksi keras dari orang-orang yang tidak menyukainya. Konsistensi
dalam memegang keyakinan dan pendirian yang melampaui ketakutan
menunjukkan daya tahan untuk menghadapi kesuhtan. Pada akhirnya,
karakternya justru dipandang sebagai patokan yang  baik yang harus
ditiru umat manusia yang belakangan menjadi pengikutnya meskipun
mereka sudah tiada. Sejarah perjuangan bangsa  kita  mengenal orang
yang tak takut pada penjara dan tak takut ditangkap atau dibunuh
karena memegang pendiriannya untuk menuntut kemerdekaan dan
revolusi, misalnya Tan Malaka yang karena perjuangannya, ia hampir
meninggalkan sama sekali pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tubuhnya,
yang membuatnya sering sakit-sakitan dan tak pernah menikmati
hidup mewah, bahkan sentuhan wanita meski dia sendiri berasal dari
keluarga  ningrat dan  berlatar pendidikan tinggi. Orang-orang yang
tahan banting semacam itu dapat dikatakan memiliki karakter kuat
yang luar biasa, dan layak menjadi teladan kita semua.

    Kelima, karakter kuat itu ibarat angin yang kencang, punya
tekanan yang berat, ibarat suara juga nyaring. Maka, orang yang
berkarakter kuat adalah orang yang keberadaannya membawa pengaruh
bagi orang lain karena ia bersuara keras untuk menyebarkan ide. la
berlari kencang seperti angin untuk mempercepat gerakan perubahan
dari kesadaran lama menuju kesadaran baru. Suaranya nyaring karena
ia ingin berteriak keras untuk menyebarkan apa yang diyakininya. Ia
ingin mengada bukan dengan cara diam, melainkan menegaskan idenya
untuk menggugah sejarah.
    Orang yang berkarakter kuat, misalnya Soekarno yang
pidato-pidatonya menggelegar mengubah kesadaran massa rakyat yang
telah lama tertidur dalam kesadaran lama. Orang-orang berkarakter
kuat itu bergerak membangun organisasi dan mencari teman  untuk
membagikan idenya. Maka, orang lain pun mendengarnya dan
memahaminya. Dalam  hal ini, orang kuat itu adalah subjek dan
penggerak sejarah, sedangkan orang lemah adalah orang yang hanya
ikut-ikutan, terutama ikut-ikutan menerima ide-ide yang buruk bagi
kehidupan dan kepribadian. Ikut-ikutan  terhadap ide besar juga
akan membuat kita menjadi orang kuat. Sedangkan, hanya diam dan
menerima hal-hal dangkal akan membuat kita berkarakter kerdil.
    Keenam, orang yang berkarakter kuat itu memiliki kemampuan
dan kekuasaan untuk berbuat sesuatu. Ketujuh, orang yang berkarakter
kuat itu memiliki keunggulan dan kecakapan yang  mungkin bisa
jadi berbeda dengan orang lain atau orang  kuat lainnya. Maka, kita
akan melihat keunggulan orang-orang kuat dalam kehidupan kita.
Mereka punya ilmu pengetahuan, punya pengaruh, punya harta, dan
kekuasaan, atau mungkin punya hal lain yang lebih unggul di antara
orang lain. Karena kepemilikan dan kemampuan yang melekat pada
dirinya itulah, ia bisa berbuat sesuatu untuk mengatasi kesulitan dan

kelemahan, dan mampu berbuat banyak melampaui kebutuhan dirinya
semata, tetapi juga berbuat yang berpengaruh pada orang lainnya.
    Adapun orang berkarakter lemah adalah orang yang tak punya
apa-apa, tak mampu, dan tak kuasa berbuat apa-apa. Orang yang
berkarakter lemah hanya diam dan menerima peran yang ditimpakan
pada dirinya oleh kekuatan di luar dirinya. Orang yang lemah adalah
orang yang  tak tahu potensi dirinya karena tak mampu memahami
dunianya, tak berbuat apa-apa untuk mengatasi dunianya, mudah
putus asa, dan akhirnya menjadi mata rantai paling rendah dalam
hubungan manusia, baik secara material maupun mental.


1. Karakter Progresif vs Karakter Konservatif
     Diskusi karakter progresif dan karakter konservatif ini penting
untuk melihat bagaimana watak manusia yang ada dalam masyarakat,
terutama masyarakat kita yang berada pada tahap yang belum maju
dibandingkan masyarakat dunia lainnya.
     Kata progresif berasal dari bahasa Inggris progress yang berarti
kemajuan. Dengan demikian, sifat progresif berarti sifat ke arah
kemajuan atau perbaikan dari kondisi yang telah ada (dari yang buruk
menjadi yang baik, dari yang baik menjadi yang lebih baik lagi). Orang
yang berkarakter progresif berarti orang yang menyukai kemajuan,
memikirkan kemajuan, dan ingin berbuat untuk kemajuan—bahkan
sering menyerukan kemajuan atau perubahan. Dalam kamus sejarah
politik, kaum progresif berarti kaum yang menginginkan perubahan
menuju masyarakat yang baru yang lebih baik dan lebih maju. Kaum
ini biasanya adalah yang berjuang dalam bentuk perbuatan dan
pergerakan untuk mengubah suatu tatanan politik, membuat organisasi
ilengan program-programnya untuk mengubah dan mengganti sistem
yang telah ada yang dianggapnya menghambat kemajuan. Dengan

demikian, kaum progresif sering berlawanan dengan kekuasaan yang
sedang berlangsung sehingga mereka juga kadang berusaha ditumpas
dan dihabisi oleh kekuasaan yang bercokol.
    Jadi, ini sekaligus menjelaskan bahwa pihak yang berkuasa itulah
yang disebut kaum konservatif atau kalangan yang berwatak konservatif
Kata konservatifh&TasA dari kata conserve yang berarti mengawetkan,
melestarikan, atau menjaga kondisi yang ada. Kaum konservatif identik
dengan kaum yang "kolot" karena ingin menjaga sifat lama yang
dalam banyak hal sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman.
Sedangkan, dalam istilah politik, kaum konservatif adalah kaum yang
ingin melanggengkan kekuasaannya, menjaganya dari pihak yang ingin
merebutnya. Dia selalu menentang orang-orang yang menginginkan
perubahan (kaum progresif).
    Watak konservatif selalu muncul dalam suatu masyarakat, tinggal
sejauh mana keberadaannya meluas atau tidak, kuat atau tidak. Watak
konservatif  ini biasanya membuat orang takut dan enggan untuk
berpikir maju, berpikir alternatif dan berpikir terbuka karena ia merasa
nyaman dengan cara pandang dan kebiasaan lama yang menurutnya
sesuai dengan tradisinya. Ia biasanya memandang hidup berdasarkan
perasaan (subjektivitas) dan bukan pengetahuan (objektivitas) sehingga
kadang ia lupa bahwa dunia objektif terus  berubah.
    Kaum konservatif adalah kaum yang memersepsi keadaan bukan
atas dasar analisis terhadap situasi kenyataan, melainkan atas dasar ide
(subjektif), prasangka, mitos, dan sesuatu di luar dunia nyata—langit,
bukan bumi. Jadi, watak konservatif atau  progresif sebenarnya lebih
dapat dianalisis berdasarkan filsafat atau cara pandang mereka meskipun
juga ada aspek ekonomi-politik. Cara pandang seseorang atau kelompok
orang juga berkaitan dengan posisi ekonomi-politiknya.
    Analisis ekonomi-politik akan membawa kita pada pemahaman
tentang pola-pola seperti ini: pengetahuan dan sudut pandang terjadi

dan dibentuk dari kondisi material atau posisi kelasnya. Orang yang
berkuasa dan mendapatkan keenakan (kenikmatan) hidup biasanya
tidak terpikirkan akan perubahan, terutama perubahan yang membuat
posisi enaknya akan berkurang atau hilang. Tidak pula terpikirkan akan
perubahan dan pengetahuan yang menuntun mereka menginginkan
perubahan karena mereka sudah dimanjakan oleh posisi yang enak.
lagian, posisi yang enak menunjukkan bagaimana mereka tak terbiasa
berpikir karena proses berpikir itu biasanya lahir dari keadaaan
kontradiksi dan keadaan yang dipenuhi masalah. Terutama, kelas atas
yang tak terbiasa bersentidian dengan masalah dan tak terbiasa melihat
kondisi kehidupan di luar lingkungannya yang penuh  keenakan,
mereka akan kesulitan (dan  tak ada syarat-syarat untuk dimasuki
pengetahuan dan pemikiran progresif).
    Kondisi  material  melahirkan watak  dan bangunan psikologis.
Dalam pikiran dan hati orang-orang yang hidupnya nikmat dan
enak itu terjadi kehendak subjektifnya selalu cocok dengan kondisi
objektif Kehendak subjektif adalah kondisi objektif  Misalnya,
kehendak subjektifnya: "Saya ingin kesenangan"; objektifnya: semua
tersedia. Dalam hal ini, "Subjektif saya adalah objek yang ada. " Dalam
dialektika sejarah, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ini adalah
latihan psikologis yang membentuk watak sepihak, subjektif  Pada
akhirnya, jika kondisi  objektifnya tidak cocok, akan muncul watak
atau sikap memaksa. Dengan demikian, watak dan sudut pandang
(ilmu pengetahuan) ternyata adalah murni bentukan material sejarah
sehingga pada akhirnya penindasan selalu butuh alat pemaksa.
    Di situlah kebiasaan subjektif dilatih dari hari ke hari, dengan
memupuk akar sosial posisi konservatif Ada orang-orang kaya yang
bisa berwatak terbuka  dan meninggalkan  cara pikir kolot, tetapi itu
hanyalah sebatas gaya hidup, budaya, dan  cara pandang saja. Apabila
kekuasaannya, apalagi struktur yang menyangga kekuasaannya,

terancam, ia akan segera kembali pada posisi konservatifnya untuk
mempertahankan kedudukannya dan kadang justru berbalik melawan
pihak-pihak yang ingin menggugat posisinya, ia bersebarangan dengan
kaum progresif yang kemudian menyatakan sebagai musuhnya.
    Akan tetapi, ada juga orang-orang kaya yang mau melakukan
"bunuh diri kelas", yang meninggalkan watak konservatif dan posisi
kelasnya menuju  posisi baru dengan karakter yang progresif Ini
berkaitan dengan kesadaran akan kontradiksi dan kekuatan pikiran
terhadap kenyataan yang mendorong pada keterlibatan di kenyataan.
Kesadaran akan kontradiksi besar biasanya dimulai dengan pergumulan
konkret kita akan kontradiksi nyata. Jika  tak ada kontradiksi, dari
mana munculnya kesadaran? Dari luar kontradiksi diri. Dari informasi.
Dari pikiran yang lahir atas kesadaran dari luar. Dari membaca, dari
informasi kata-kata yang menjelaskan kontradiksi. Dari mana asalnya?
Dari orang-orang yang menemukan kontradiksi.
     Soekarno adalah anak pejabat—meski pejabat rendahan, tetapi
minimal tak terlalu sulit mencari makan sebagaimana halnya rakyat
jelata. Namun, mengapa dia akhirnya menyadari kontradiksi besar
(penjajahan, kolonialisme, dan imperialisme) yang menjajah itu?
     Che Guevara juga adalah anak kaum kelas atas, ternyata lebih
memilih bergerilya untuk membela kaum tertindas. Kari Marx,
anak  kaum kaya juga, namun ia lebih banyak menghabiskan waktu
untuk menyuarakan kelas tertindas, menghabiskan banyak waktu
untuk melahirkan karya-karya ilmiah yang sangat berguna untuk
menyediakan alat analisis bagaimana terjadinya penindasan. Di masa
tuanya bahkan ia lebih banyak menghabiskan waktu menulis daripada
tidur dan mencari kesenangan.
     Tan Malaka, anak bangsawan  dari Tanah Minang itu, bahkan
menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk berjuang, memberikan
inspirasi pada perjuangan  rakyat, membangun sekolah rakyat

untuk anak-anak rakyat jelata, menulis sejarah kelas pekerja dan
filsafat maha-dalam, hingga ia bahkan lebih peduli pada  perjuangan
dibandingkan pada dirinya sendiri. Seorang jurnalis menulis, "Tan
Malaka itu adalah kesunyian, militansi ideologi dan keteguhan prinsip
mengalahkan keinginan naluriah-libidonya... tak mengenal baik yang
namanya wanita dan pernikahan. " Tan Malaka disebut pula sebagai
seorang "Revolusioner yang Kesepian" gara-gara tak pernah bersentuhan
dengan perempuan saking seriusnya berjuang, di tengah situasi ketika
ia sering dicari-cari dan berkali-kali ditangkap dan dipenjara.
    Jadi, peran perjuangan  universal kemanusiaan dalam bentuk
perlawanan terhadap sistem penindasan (kontradiksi  pokok) itu
ternyata justru banyak dikobarkan oleh kalangan yang  berasal dari
kelas menengah atas, justru bukan kelas bawah. Kelas menengah atas
itu justru melakukan "bunuh diri kelas", dan mengidentifikasikan
diri dalam hidupnya bukan sebagai kelas atas yang bisa foya-foya dan
bersenang-senang dan memamerkan status dan hartanya.
    Salah satu faktor penyebab anak-anak kelas atas itu justru tampil
sebagai para penggugat sistem yang sebenarnya menguntungkan dirinya
secara material maupun kebudayaan adalah pendidikan. Pendidikan
yang memungkinkan mereka berpikir secara objektif dan dialektis
melampaui kepentingan kelasnya. Mereka justru menegaskan bahwa
kepentingan kelas tertindas itulah yang membawa pada filsafat dan
pengetahuan lebih dalam. Prinsip semacam itu ditemukan oleh Karl
Marx ketika ia menegaskan bahwa tidak ada teori revolusioner tanpa
praktik revolusioner. Kita tahu bahwa praktik itu bukan diam dan
pasrah, melainkan kerja untuk mengatasi (kesulitan dan kontradiksi)
alam kehidupan. Di sini kelas pekerja adalah puncak dari kedudukan
manusia tertinggi yang harus dibela. Maka, para kelas menengah atas
yang progresif yang sebagian tak takut melakukan "bunuh diri kelas"
itu kemudian lebih suka terjun berpihak pada kelas tertindas dan

mengobarkan perlawanan untuk menghancurkan sistem penindasan
dan penjajahan yang pilarnya adalah tatanan ekonomi yang mengisap
kerja orang banyak.
    Akan tetapi, bukan berarti sejatah juga menunjukkan pada
kita bahwa dari kalangan kelas bawah (tertindas) pun juga muncul
perlawanan, kesadaran yang memberanikan perlawanan dari kesadaran
murni karena tertindas. Ambil contoh Sema'oen, seorang laki-laki
progresif dalam sejarah Indonesia yang di usia 19  tahun sudah
memimpin organisasi Serikat Islam (SI) yang  menjadi  organisasi
yang membangkitkan gerakan perlawanan terhadap penjajah Belanda
dengan menekankan para pengorganisasian kaum buruh.
     Sejarah Yunani juga mengisahkan seorang  pejuang  demokrasi
dan kesejahteraan yang berasal dari kelas budak, Spartakus. Karena
kaum miskin mendapatkan perlakuan yang nyata dirasakan, mereka
pun melawan dan melontarkan ide-ide keadilan dan demokrasi.
Sebab, mustahil orang yang tak pernah mendapatkan  ketidakadilan
bisa membayangkan cita-cita keadilan. Ide-ide kesetaraan, keadilan,
kesejahteraan, dan demokrasi terbukti muncul dari sejarah berlawan,
bukan sejarah kemapanan.
     Karena orang kaya tak merasakan kontradiksi, cenderung senang
dan apa yang diinginkan selalu terpenuhi, sulit sekali menemukan
kesadaran berlawan dan ide perubahan. Lalu, mengapa bisa dari
kalangan pemuda kelas menengah dan kaya itu lahir  para pejuang,
kaum berlawan, yang bahkan meninggalkan  atribut dan status
kekayaannya?
     Inilah kekuatan ide  sejarah. Ide tentang persamaan, kesetaraan,
demokrasi, dan hak asasi manusia, yang merupakan capaian sejarah
perlawanan dari rakyat miskin itulah yang membuat mereka tidak mau
hanya diseret pada kepentingan kelasnya (kelas  atas yang posisinya
menindas dalam sistem sosial-ekonomi).

    Tak heran jika seorang pemuda, seperti Tjiptomangoenkusumo,
justru merasa jijik dengan diskriminasi kelas dalam tatanan Jawa yang
disebutnya sebagai "penyakit". Ia memilih untuk memperjuangkan
ide persamaan agar nyata di tengah susunan masyarakat penjajahan
yang menindas dan mendiskriminasi. Tak heran jika orang seperti
Tirtoadisuryo menolak disekolahkan di pendidikan yang akan
menuntunnya jadi pengganti ayahnya yang Bupati, tetapi lebih memilih
belajar jurnalisme yang kemudian membuatnya mampu menuliskan
gugatan pada budaya penindasan. Meski ia harus menghadapi ancaman
penjara, ia tak takut.
    Itulah yang membuat pula seorang pemuda keturunan bangsawan,
bahkan secara tegas mengatakan bahwa ia tak butuh gelar bangsawan,
seperti Suryopranoto yang secara tegas mengatakan, "Siapa butuh titel
Raden Mas, boleh ambil ini, saya tidak butuh. "104 Adiknya, Raden
Mas Soewardi Soerjaningrat, juga lebih suka disebut sebagai Ki Hajar
Dewantoro. Suryopranoto memilih  untuk terjun di dunia  gerakan
dengan  mengorganisasi kaum buruh (kelas pekerja). Dia  dikenal
sebagai "si raja mogok"—melawan penjajah dengan menggerakkan
buruh agar mogok kerja untuk menuntut hak-haknya.
    Kini, siapakah anak-anak muda yang menyukai ide-ide sejarah?
Persamaan, kesetaraan, dan demokrasi adalah kata-kata yang tak
dipikirkan. Para pemuda borjuis yang jelas bisa menjalani gaya hidup
karena kekayaannya, yang dipamerkan lewat media (TV dan tabloid
gaul), jelas hanya sibuk berpikir tentang bagaimana bisa menggunakan
posisi kelasnya untuk mencapai kesenangan (fun) dengan semaksimal
mungkin, mencoba jadi pemimpin-pemimpin budaya yang seakan
berlagak mengajari seluruh anak muda di  penjuru negeri bagaimana
caranya "gaul", "modis", "tak ketinggalan tren", dan agar suka membeli

104. Muhidin M. Dahlan, "Bangsawan Bersulih Jalan", dalam rubrik "Ruang Putih", Jawa
    Pos, Minggu 29 Mei 2011, hlm. 13.

dan meniru. Mereka jelas tak punya ide persamaan kecuali liberalisme
semu, dan pikirannya yang udak melayang terlena tak memungkinkan
berpikir seperti itu.
    Lantas, bagaimana dengan para pemuda miskinnya? Pemuda di
perkotaan yang tersingkir dari pekerjaan dan di pedesaan yang juga
mengalami hal yang sama: mereka justru menjadi korban desain (rekayasa)
budaya kaum borjuis yang dikendalikan oleh keinginan pemilik modal
untuk menciptakan budaya konsumen dan budaya bisu.
    Namun, apakah akan tetap seperti itu? Penulis pun tak mau
dikibuli dengan sistem, berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya
terjadi pada anak-anak muda. Bahkan, sebenarnya ada anak-anak muda
yang justru memberi semangat pada penulis. Pelan, tapi pasti, mereka
ternyata telah mulai sadar bahwa kemandirian mengambil sikap,
lepas dari dominasi budaya dominan, itu  sangat penting. Memang
kita tak bisa bersuara sendiri, kita membutuhkan teman. Ini adalah
perjuangan. Penyadaran adalah kegiatan nyata, perubahan tak bisa
ditunggu. Mengada membangun dunia sendiri yang berbeda. Bersama
anak-anak muda yang mau menerima ide-ide besar sejarah, sembari
mendorong mereka berhasil mengatasi kontradiksi-kontradiksi kecil.
Selamat datang generasi baru yang mulai bangkit!


2. Karakter Produktif-Kreatif Vs Karakter Parasit, Imitatif, dan
   Tergantung
    Para filsuf seperti Karl Marx percaya bahwa manusia hanya akan
hidup hanya jika ia produktif menguasai dunia di luar dirinya dengan
tindakan untuk  mengekspresikan kekuasaan manusiawinya secara
khusus, dan menguasai dunia dengan kekuasaannya ini. Sebagaimana
dikatakan oleh Erich Fromm, "Manusia yang tidak produktif adalah
manusia yang reseptif dan pasif; dia tidak ada dan mati. Dalam proses

produksi ini, manusia mewujudkan esensinya sendiri, dia kembali pada
esensinya, yang dalam bahasa teologi dia kembali pada Tuhan. 105
    Dalam kamus, kata produktif berarti bersifat atau mampu
menghasilkan; mendatangkan atau memberi hasil dan manfaat; mampu
menghasilkan terus dan  dipakai secara teratur untuk membentuk
unsur-unsur baru. 106 Dari situ dapat dipahami bahwa sifat produktif
itu adalah dasar bagi terbentuknya karakter lainnya. Karena produksi
berarti menghasilkan, dengan menghasilkan kita akan mampu
memenuhi kebutuhan, selanjutnya pemenuhan kebutuhan mendasar
akan membuat kita  mampu meraih peluang untuk memenuhi
kebutuhan lainnya yang lebih  maju.
    Kegiatan produktif manusia sebenarnya adalah hasil dari proses
evolusi budayanya. Awalnya, manusia (primitif) memiliki kemampuan
produksi yang minimal dan terbatas. Mereka hidup  dari alam,
mengikuti logika alamiah. Pada perkembangannya, ternyata manusia
mampu melakukan proses evolusi yang cepat (dibandingkan binatang)
dan bisa menemukan alat-alat yang mampu membantu memudahkan
dalam memenuhi kebutuhan  hidup, mengatasi kesulitan alam, dan
bahkan juga menggunakan alat-alat itu untuk memproduksi  bagi
kebutuhan ekonominya. Masyarakat yang awalnya menjalani kehidupan
dengan mengumpulkan  makanan dari alam (foodgathering), pada
perkembangannya juga mampu menghasilkan makanannya dengan
bertanam, dan kemudian juga berkembang menjadi kemampuan
untuk membuat barang-barang yang tidak sekadar untuk memenuhi
kebutuhan pokok, tetapi juga barang-barang untuk keperluan yang



105. Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx (Yogyakarta. Pustaka Pelajar, 2001), hlm.
   39).
106. Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi IV (Jakarta: Departemen Pendidikan
   Nasional bekerjasama dengan PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 1103.

lain. Dengan demikian, kemampuan membuat barang-barang ini
sering dipahami sebagai kemampuan manusia dalam kebudayaan.
     Di zaman modern, kemampuan manusia dalam  membuat
barang-barang untuk mengatasi kesulitan alam telah melampaui abad
revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan juga melahirkan
abad canggih ketika komputer dan penemuan-penemuan baru bidang
genetika kadang terasa terlampau cepat dan mengkhawatirkan. Manusia
yang bisa menikmati produk-produk canggih itu bisa hidup dengan
mudah. Waktu sepertinya berjalan amat cepat, dan ruang sepertinya
menyempit.
     Adapun apa yang dimaksud dengan hasil produksi manusia pada
kenyataannya bukan hanya berupa benda-benda, melainkan juga apa
yang (dalam istilah ekonomi sehari-hari) dinamakan "jasa" (pelayanan,
services). Sebuah bank swasta menuliskan jasa-jasa yang bisa diberikan
pada masyarakat: "Inilah Produk Pelayanan  Kami. " Artinya, baik
barang maupun jasa, semuanya bisa dianggap sebagai  produk, dan
bisa diperjual-belikan.
     Lalu, bagaimana karakter produktif sebagai basis umat manusia
bisa menghilang dalam sejarah masyarakat modern?
     Memang, sejarah peradaban didasari oleh kegiatan produksi yang
dengan ini arahnya menjadi maju (progresif). Namun, ketika kita
bicara soal apakah manusia berkarakter produktif atau tidak, yang
harus kita lihat apakah syarat-syarat produktifnya terpenuhi atau tidak.
Syarat-syarat terjadinya proses produksi adalah tersedianya faktor-faktor
produksi. Adakah syarat-syarat bagi manusia untuk menghasilkan?
Kita bisa melihat mengapa produktivitas masyarakat kita rendah,
salah satunya bisa dilihat dari tiadanya faktor produksi. Indonesia
yang katanya negara agraris, tetapi para rakyatnya tidak punya tanah
karena tanah dikuasai oleh para tuan  tanah dan tanah adalah milik

negara (terutama—untuk daerah seperti Kabupaten Trenggalek tempat
penulis tinggal—adalah milik Perhutani).
    Di daerah Trenggalek tempat penulis tinggal, barangkali 70% dari
tanah adalah tanah milik perhutani (negara). Sedangkan, mayoritas
rakyat tidak memiliki tanah atau tanah hanya untuk tempat hidup.
1 alu, bagaimana mereka bisa berproduksi? Bagaimana mereka bisa
menghasilkan pendapatan. Berdagang? Tidak ada iklim yang kondusif
untuk mengembangkan perdagangan. Dengan  demikian, fenomena
yang bisa kita jumpai adalah pengangguran atau mencari kerja ke
daerah lain (daerah perkotaan dan kebanyakan ke negara lain alias jadi
buruh migran). Ini menjelaskan mengapa daerah-daerah pinggiran
jawa Timur, seperti Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek, menyuplai
jumlah buruh migran terbanyak.
    Masih banyak penduduk yang menganggur alias deproduktif,
hanya menjadi parasit dalam keluarga, sementara keluarganya sudah
miskin. Karakter deproduksi alias menganggur menimbulkan efek
psikologis yang luar biasa  berupa kerusakan moral dan tingkah
laku budaya yang  sering melahirkan apa yang sering disebut sebagai
"sampah masyarakat". Kita bisa melihat bagaimana karakter "sampah
masyarakat" ini, sebuah kalangan dengan watak yang sering membuat
takut, jijik, dan merepotkan. Pencuri, pengemis, pelacur, juga anak-anak
yang suka berkelahi dan mengonsumsi obat-obatan terlarang adalah
produk deproduksi dalam suatu masyarakat. Parasit adalah karakter
ketergantungan yang menunjukkan bagaimana orang yang tak bisa
mendapatkan penghasilan dan sering memenuhi kebutuhannya dengan
cara meminta pada orang lain.
    Dalam istilah  sosiologi Marxis, kaum parasit disebut sebagai orang
yang tergantung pada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya
dengan cara meminta, mencuri, baik dengan cara halus maupun
kasar-disebut sebagai "lumpen  proletariat". Kaum ini  bukanlah

orang yang terlibat langsung dalam proses produksi atau kerja
produktif. Mereka bukan buruh dan bukan pula majikan (modal)
yang merupakan faktor-faktor yang mensyaratkan terjadinya produksi.
Mereka pengangguran dan mereka mendapatkan penghasilan dengan
cara mengemis dan mencuri.
     Sebenarnya, buruh  (kelas pekerja) dalam hubungan produksi
merupakan pihak yang menderita juga dalam masyarakat yang
disangga hubungan pengisapan (kapitalis) seperti sekarang ini. Namun,
mereka toh masih mendapatkan gaji (upah)  dari kegiatan di wilayah
produksi materialnya. Kerja memberi basis bagi karakter mereka
dibandingkan orang yang tidak kerja. Dengan kerja, para buruh (kelas
pekerja) terdidik untuk disiplin. Dengan kerja yang nyata, berhadapan
dengan kontradiksi berupa penindasan di pabrik-pabrik dan tempat
kerja (memahami bahwa dirinya diisap oleh  majikan dan oleh sistem
kapitalisme) itu pulalah yang menyebabkan kelas buruh sebagai
kelas progresif yang mencita-citakan perubahan. Dengan demikian,
mereka menjadi kalangan yang kritis dan saat tertentu memiliki
semangat berlawanan yang menempa wataknya yang tak mau tunduk
pada bentukan karakter sistem dominan. Pada saat tertentu, mereka
membangun gaya budaya dan karakter keseharian yang berbeda. Sejarah
menunjukkan bahwa dari gerakan kelas buruh telah menghasilkan
filsafat, seni, dan gaya hidup yang khas kaum buruh. Seni dan filsafat
progresif yang jejak-jejaknya akan terus tersisa dan bahkan akan terus
menegaskan karakter mereka jika perlawanan mereka menang.
     Adapun yang kita lihat dari kalangan yang tidak terserap pada
kerja produksi dan hubungan produksi nyata adalah kelas parasit yang
karakternya "menjijikkan", sebagai parasit dan hanya memanfaatkan
ruang kesempatan dari wilayah-wilayah abu-bu. Wilayah ini memang
bisa menyokong perekonomian, termasuk melahirkan sub-kultur yang
memunculkan komunitasnya tersendiri. Anda tahu bahwa preman

dan pengemis atau pengamen juga memiliki komunitas. Sebagai
kelas lumpen, mereka memang bisa diseret kepada kepentingan, baik
kelas yang melawan penindasan seperti munculnya serikat pengamen
maupun organisasi kaum miskin perkotaan yang berbalik menyerang
tatatan kapitalisme dengan kekuatannya yang berubah-ubah. Akan
tetapi, Anda pun juga tahu bahwa  mereka juga bisa dimanfaatkan
untuk membela kepentingan kelas penindas dan pengisap. Buktinya,
tak jarang para perampok dan preman dimanfaatkan oleh bos pabrik
untuk melawan kaum buruh yang menuntut hak-haknya, melawan,
dan mengintimidasi  kalangan  aktivis mahasiswa yang menyerang
kekuasaan pemerintahan kapitalis yang kejam.
    Apakah kelas yang tak terlibat dalam proses produksi fisik-material
itu hanyalah orang-orang miskin dan para gembel saja. Orang yang
tidak terlibat dalam proses produksi material-fisik ternyata juga bisa
menjadi kalangan yang kaya raya. Akan tetapi, tentu saja kita akan bisa
melihat bagaimana karakter yang mereka bangun. Kalangan ini dalam
sosiologi Marxis disebut sebagai "lumpen borjuis"—kelas parasit yang
memanfaatkan pemberian  penghasilan dari kaum borjuis (pemilik
industri dan bos-bos  atau majikan besar) untuk digunakan sebagai
"modal" dalam menciptakan dan mengembangkan gaya hidup dan
kebudayaan borjuis. Mereka mendapatkan upah bukan karena kerja
fisik seperti buruh  di pabrik, melainkan mendapatkan upah  untuk
menciptakan seni budaya borjuis agar tatanan borjuis terkesan  indah,
layak ditiru, dan memperbaharui budayanya—di samping yang penting
adalah untuk memperbarui citra produk hasil buatan pabrik agar tetap
laku dengan citra dan promosinya melalui tampilan seni-budaya.
    Jika parasit yang disebut "lumpen proletariat" adalah mereka yang
lahir dari orang miskin, "lumpen borjuis" ini adalah parasit budaya
yang berasal dari kalangan kaya (bisa jadi dari kalangan miskin yang
direkrut sebagai pekerja budaya dan seni borjuis). Mengapa disebut

"lumpen"? Artis selebritis kebanyakan memang tidak memiliki—dan
bukan penguasa—alat-alat produksi, jarang yang merangkap sebagai
pemilik perusahaan besar. Dapat dikatakan, "alat produksi" mereka
hanyalah tubuhnya (penampilan fisik yang cantik/seksi/ganteng/
atletis, suara yang merdu, gerak tari yang indah, suara mulut yang
pandai bercuap-cuap atau melawak). Dengan modal pantat (dan
kemampuannya untuk menggoyangnya) seperti Inul Daratista, Dewi
Persik, dan penyanyi dangdut lainnya—atau dengan suara merdu dan
wajah seksi seperti Krisdayanti—dan mulut latah ala pelawak, mereka
mendapatkan banyak uang.
    Pendapatan yang didapat sungguh  luar biasa: hanya dengan
tampil di panggung dan ditayangkan TV selama dua jam, honor yang
didapat seorang artis selebritis tak mungkin didapatkan oleh seorang
buruh yang bekerja setahun. Pada saat para selebritis selalu tampil
cantik karena biaya yang dihabiskan untuk merawat tubuh saja senilai
puluhan juta rupiah dalam tiap minggunya, bagi perempuan miskin:
jangankan membeli bedak atau gincu, untuk membeli beras dan
kebutuhan-kebutuhan sehari-hari saja sulitnya minta ampun. Belum
lagi pada saat harga-harga kian mahal seperti sekarang ini.
    Artinya, dengan ini kita dapat mengetahui makna ketidakadilan
dari kedua kelas yang berbeda. Peradaban kapitalistik terlanjur
manipulatif karena lebih menghargai aktivitas gampangan yang tak
membutuhkan kerja keras atau kerja sejati dalam makna berhadapan
dengan realitas dan benda-benda yang ada di alam lalu mengubahnya
menjadi sesuatu yang berguna. Orang-orang yang malas kerja dan lebih
banyak memiliki waktu luang, atau kerja ringan dan santai, lebih bisa
menikmati kekayaan yang melimpah.
    Sejak awal, ada seorang sosiolog melontarkan kritik pedas atas
gejala kebudayaan santai, yang merongrong  kebudayaan Amerika
Serikat (AS). Sosiolog tersebut bernama Thorsten Veblen (1857-1929).

Dalam bukunya yang berjudul  The Theory of the Leisure Class, ia
merasa jijik dengan budaya kolektif pada kelas yang malas bekerja,
tetapi menghabiskan banyak waktu senggang dan menjalani gaya
hidup yang bebas. Mereka adalah kelas non-produktif karena mampu
mengumpulkan modal dalam dorongan  pembajakan {predatory
instinct). The Leissure Class atau kelas pemboros ini berminat pada
urusan manajemen (mengurus orang lain, kelompok pekerja lapangan
atau pelaksana teknis), atau berperang (militer, angkatan bersenjata),
mengurus upacara keagamaan (kaum ulama), atau berolahraga.
    Sebagai sosiolog kritis, Veblen tampaknya begitu membenci
para spekulan, makelar, cukong, lintah darat, plutokrat, birokrat,
dan kaum manipulator, yang mengerumuni kota-kota besar Amerika
waktu itu. Didorong oleh insting penyamun atau pembajak, mereka
berusaha  memperkaya diri tanpa kerja produktif  sibuk memajukan
pelbagai pengetahuan yang tidak relevan dengan keadaan yang nyata,
memamerkan gengsi dari dalam budi bahasa halus dan etiket eksklusif
untuk memikat perhatian kelas bawah—tetapi pada saat tertentu juga
bisa menjadi agresif dan galak serta mampu menggunakan cara-cara
yang kotor, keras, dan korup untuk mencapai tujuannya.
    Dari kelas "pemboros" dan "pemalas" inilah tercipta gaya hidup
snobisme, mode-mode yang meledak dan hilang dalam sekejap, lagu
dan novel pop, selera eksklusif Merekalah pencipta kebudayaan
kota yang belakangan membawa dampak besar  pada kebudayaan
desa. Dengan singkat kata, Veblen lebih menghargai manusia kerja
{homo faber) karena menurutnya kebudayaan kerja {workmanship)
memunculkan sosialitas manusia yang paling nyata.
    Dari fakta  tersebut bahwa kelas selebritis tidak berdiri sendiri
dalam relasi kelas fundamental (kapitalis-buruh), menyelidiki posisi
dan perannya sebagai kelas non-fundamental—entah disebut "borjuis
kecil", "kelas menengah", "lumpen borjuis"—tetap akan berguna bagi

kita untuk memahami secara objektif bagaimana kapitaUsme yang
menindas sekarang ini berjalan dan bagaimanakah flingsi dan peran
yang dimainkan oleh kalangan artis selebritis.
    Dari situ pulalah, kita bisa melihat bagaimana desain budaya
mereka juga menghasilkan secara kuat pembangunan karakter yang
sangat meluas di kalangan kaum muda-mudi kita. Tentu saja karena
yang mendoktrin adalah kaum parasit, yang hidup bukan karena kerja
fisik, melainkan mengeksploitasi potensi seni dari tubuhnya. Maka,
yang diteladankan bukanlah budaya bekerja keras, melainkan budaya
instan dan ambil jalan pintas untuk meraih kesuksesan. Impian menjadi
seperti selebritis, dan bisa hidup enak, mewah, gaya dan gaul seperti
selebritis, tidak membuat anak-anak muda kita bekerja dan berpikir
keras untuk meningkatkan potensi produktifnya, tetapi malah terilusi
terlalu jauh dan para praktik keseharian lebih banyak menempuh
jalur instan. Bahkan, racun gaya hidup seiebrisme juga merasuk pada
benak orangtua yang menginginkan sekali anak-anaknya sukses seperti
selebritis.
    Orangtua yang tak punya prinsip tentang bagaimana membentuk
anak—bahkan mungkin tak paham  membentuk  dirinya di masa
mudanya—tampaknya juga  akan mudah tergoda untuk membentuk
anak-anaknya sesuai dengan kesemarakan kebudayaan pasar. Mereka
menempuh jalur pragmatis  agar anaknya sukses sesuai dengan cara
berpikirnya yang hendak dipaksakan pada anaknya.
    Ambisi  orangtua  (terutama ibu-ibu) untuk menjadikan
anaknya sebagai ikon TV kini semakin meluas sejak dunia hiburan
juga membuka partisipasi yang lebih longgar dengan munculnya
acara-acara, seperti AFI versi anak, pemilihan mubalig anak, pemilihan
presenter anak, dan lain-lain. Di tengah-tengah godaan globalisasi pasar
yang membutuhkan biaya besar untuk melakukan ritualitas konsumsi
material dan konsumsi budaya, menjejalkan anak ke dalam dunia TV

menjadi cara mudah untuk menegaskan status, kekayaan, popularitas,
dan kekuasaan dalam masyarakat pasar. Sebagian orangtua bahkan
juga memanajeri anaknya untuk mempertahankan dan meningkatkan
popularitasnya, seperti terjadi pada artis remaja Marshanda yang
dimanajeri oleh ibunya.
    Dunia selebritis memang menjadi corong bagi kebudayaan
dan gaya hidup. Kiblat bertata bahasa, mendefinisikan diri (tubuh,
perasaan, dan pikiran), dan cara memaknai relasi sosial memang selalu
bersumber dari bagaimana artis selebritis melakukannya. Televisi adalah
media paling dekat dalam komunitas keluarga tempat anak-anak
tumbuh. Sedangkan, ucapan dan ide-ide artis selebritis muncul paling
banyak.
    Konon, setelah kesuksesan Joshua, banyak ibu-ibu yang
memasukkan anaknya ke lembaga-lembaga pelatihan model dan
akting. Mereka juga begitu getolnya berusaha agar anaknya dapat
menjadi bintang terkenal. Karena memulai karier sebagai artis mulai
anak-anak berarti merebut popularitas sejak dini.
    Dalam pengertian tersebut, Agnes Monica juga tidak bisa dilupakan
sebagai ikon sejarah artis selebritis yang secara tak terhindarkan selalu
dijadikan contoh bagi ibu-ibu yang menginginkan anaknya sering
muncul di TV ini. Bagaimana tidak, Agnes Monica, yang sekarang
menjadi artis yang berpenghasilan paling mahal dan sekaligus terkenal
sangat produktif dan kreatif (serba-bisa) memainkan perannya sebagai
artis (penyanyi, pemain sinetron, presenter, bintang iklan, koreografer,
dan lain-lain), telah memulai kariernya sejak dia menjadi "bintang
cilik"  ketika bergabung di Trio Kwek-Kwek. Selain berbakat, konon
profesionalitasnya memang didukung oleh kedisiplinan  dalam
mengikuti kursus-kursus  kepribadian dan pelatihan-pelatihan serta
dilakukan dengan manajemen yang baik.

     Padahal, artis selebritis sendiri bukanlah manusia yang dianggap
sebagai acuan. Bahkan, tak jarang para pengamat budaya mengatakan
bahwa kalangan tersebut memberikan dampak yang buruk bagi
perkembangan generasi. 107  Salah satu pengamat budaya itu, Michael
ReGault, bahkan mengatakan bahwa para artis selebritis tak lebih dari
"orang barbar", "Orang-orang barbar tak lagi menggempur gerbang
kota kita, mereka sedang makan malam bersama kita. Nama mereka
adalah J. Lo, Ja Rule, dan Paris Hilton. 108
     Pendapat ReGault patut kita pertimbangkan pada saat serangan
budaya selebritis Barat memang telah berhasil membuat anak-anak kita
ingin menirunya. Lihadah penampilan Agnes Monica atau (belakangan)
Cinta Laura yang lagu, video klip, dan tampilan panggungnya
menjiplak hampir seratus persen gaya Britney Spears, yang sensual dan
menggoda—dengan suara atau kemampuan vokal yang tidak istimewa
sama sekali. Dengan demikian, anak-anak kita masukkan pada ruangan
budaya tempat mereka hanya bisa meniru para artis. Mental meniru
ini telah menghancurkan mental kreativitas dan mental yang menuntut
anak-anak menciptakan sesuatu untuk diri mereka.
     Anak-anak perempuan harus dibiasakan untuk mengumbar tubuh
demi popularitas, harus menghafal lagu-lagu agar dianggap tidak
gaul sehingga mereka lupa belajar untuk mencari ilmu pengetahuan.
Mereka harus hidup untuk merayakan narsisme diri, bukan untuk
peduli sesama.
     Mengapa kita membentuk anak-anak seperti itu? Apakah semua
anak-anak harus meniru arti-selebritis? Tidak ada celah sedikit pun


107. Nurani Soyomukti, Selebritis Gitu Lho(h): Menguak Realitas di Balik Dunia Gemerlap
    Selebritis (Surabaya: Prestasi Pustakaraya, 2008).
108. Michael R. LeGault, Sekarang Bukan Saatnya untuk "Blink" Tetapi Saatnya untuk
    THINK: Keputusan Penting Tidak Bisa Dibuat Hanya dengan Sekejap Mata Qakarta:
    PT. Transmedia, 2006).

bagi anak-anak untuk berbeda dalam hal preferensi (kesukaan), obsesi,
keinginan, tingkah laku, selain model kapitalis yang melemahkan,
menumpulkan, dan menebalkan iman imitatif anak-anak itu?
    Inilah masyarakat penindasan yang memang mendesain
masyarakat untuk bisa tergantung, dan tidak bisa mandiri karena
berproduksi—mungkin ini adalah desain besar dari kapitalisme global
agar generasi bangsa ini hanya bisa membeli (bagi yang mampu dan
yang punya uang), agar produk-produk mereka dari luar masuk dan
menjadikan kita sebagai konsumen. Mereka ingin menumpulkan daya
dan karakter produktif kita agar kita tak menjadi pesaing mereka karena
kalau kita bisa berproduksi, mereka tak akan bisa mencari keuntungan
dengan kepastian pasar yang diperolehnya di sini.
    Maka, karakter yang hendak dibentuk adalah ketergantungan.
Karakter ini adalah  karakter seseorang yang menggantungkan diri
pada orang lain  untuk memenuhi dirinya meskipun  ada hal lain
yang dikorbankan selama ia mendapatkan sesuatu yang membuatnya
tergantung. Kita  butuh sesuatu dari orang lain yang seakan tak bisa
tergantikan lagi  kebutuhan itu dan  tak ada  lagi orang lain yang
memenuhi kita meskipun dengan syarat bahwa kita kehilangan hal
besar dan hal penting, kehilangan kemandirian kita untuk menentukan
diri kita. Dalam. istilah psikologis, definisi ketergantungan bisa
dipahami dari uraian seperti ini:
     "Pada mulanya ketergantungan adalah cara normal bagi  bayi
     untuk berhubungan dengan orang lain. Kemudian, pada masa
     anak-anak dan orang dewasa, ketergantungan merupakan suatu
     cara untuk  menghadapi stres, suatu reaksi terhadap frustasi.
     Ketergantungan dapat berbentuk afeksional—tuntutan perilaku
     afektif (kasih sayang) atau protektif orang  lain, terutama dari
     seorang dewasa. Perilaku tergantung  juga dapat merupakan
     perilaku penanggulangan—orang memperoleh pertolongan

      untuk memecahkan masalah yang tak dapat dipecahkan sendiri.
      Ketergantungan juga dapat bersifat agresif—dengan cara merampas
      perhatian atau afeksi bagi diri sendiri, sehingga orang lain
      terhambat menerimanya.... "109
     Saking tergantungnya kita pada produk material dan produk seni
budaya yang dicekokkan kapitalis (dengan pemaknaannya terhadap diri
dan peran diri), kita seakan merasa tertekan kalau tidak bisa meniru
dan memenuhi gaya hidup kecuali seperti yang mereka doktrinkan.
     Ketergantungan itu muncul karena kita tak punya kemandirian.
Ketidakmandirian kita disebabkan kita tak berproduksi. Sebab,
produksi adalah basis karakter dan watak. Tidak mampu memenuhi
sesuatu dari kita sendiri berarti kita akan tergantung pada orang lain,
memberikan sesembahan pada orang lain sebagai pengganti dari apa
yang kita berikan pada orang lain itu.
     Hal yang paling mencolok dari gejala ketergantungan bisa kita
lihat dalam relasi eksklusif seperti laki-laki dan perempuan. Ada nuansa
patriarkal di dalamnya yang memperkuat ketergantungan sebagai
peninggalan masyarakat feodal, tetapi juga ada nuansa pertukaran
dalam makna pengupahan di masa sekarang ketika kita semakin
mengadopsi pasar bebas (rasionalisme individualisme dan liberalisme
untuk mewarnai tawar-menawar harga). Ini melahirkan sejenis karakter
parasit di kalangan kaum perempuan.
     Di kalangan perempuan kelas bawahan, kita mengetahui bagaimana
seorang perempuan yang tak punya lagi pekerjaan, penghasilan, dan
alat produksi, yang tak mau lagi terikat dalam  pernikahan dengan
laki-laki (mungkin karena pernikahan yang dialaminya sangatlah buruk
yang membuatnya tak percaya lagi pada ikatan emosional dengan
laki-laki). Mereka lebih memilih—atau terpaksa—menjadi pelacur

109. Judith M. Bardwick, The Psychology ofWomen: A Study ofBioctiltuml Conflict (HtviYoxk:
    Harper and Row, 1971).

untuk bertahan hidup. Tak punya modal dan alat produksi yang bisa
dikembangkan sebagai sumber penghasilan, baik bagi dirinya maupun
mungkin untuk anaknya untuk hidup dan berkembang. Maka, ia pun
menggunakan tubuh dengan bagian-bagiannya untuk dipertukarkan
dengan upah (uang).
    Sesungguhnya, ini bukan gejala perempuan kelas bawahan.
Kaum perempuan borjuis—atau yang "sok" borjuis, atau yang awalnya
miskin dan menjadi borjuis—adalah barisan dari kalangan parasit yang
hanya mengharap belas kasihan dari laki-laki, berharap menemukan
pasangan hidup yang kaya sehingga status kian meningkat. Merekalah
yang sering disebut sebagai parasist eves (hawa-hawa parasit)—bahasa
kasarnya: pelacur papan atas. Ketakutan utama mereka adalah kalau
tidak bisa bertahan hidup dengan menunjukkan kecantikan tubuh dan
citra diri narsistik, dan ketakutan itu dibayar dengan kerja rekayasa
yang keras agar dapat mendapatkan laki-laki kaya atau kerja-kerja apa
saja yang menghasilkan penghasilan tetap. Mereka hanya menyadari
potensi tubuhnya dan kecerdasan artifisialnya yang hanya relevan untuk
merayu, melayani, dan memanipulasi hubungan sejati.
    Betapa banyak pengagum kaum perempuan yang hanya tampil
cantik (entah mereka punya otak atau tidak)! Tubuh direkayasa agar
menarik agar laku di pasaran budaya, entah menjadi model, menjadi
bintang  porno, mengeluarkan suara bagus lalu jadi artis (penyanyi),
atau memunculkan akting lalu terlibat dalam film, hingga gerakan
yang menghasilkan tari {dance), atau mungkin langsung membuat
laki-laki kaya tertarik untuk membelinya, baik sebagai istri sah atau
sekadar  simpanan atau istri kontrak. Potensi tubuh dengan rekayasa
budayanya itulah yang membuat mereka mendapatkan upah, bayaran,
bingga fasilitas yang  membuatnya bisa hidup bukan hanya cukup
dan kemudian bisa tampil pula bergaya dalam panggung budaya.
Bedanya dengan pelacur miskin adalah jumlah upah yang didapat,

dan sama-sama berangkat dari memerankan tubuh karena tak punya
alat produksi lain—karena ini memang masyarakat tempat alat-alat
produki dikuasai oleh sedikit orang yang mendapatkan keuntungan
banyak di tengah kemiskinan orang banyak, terutama kemiskinan yang
dialami kaum perempuan plus efek bias gender dalam relasi mereka
di masyarakat.
    Jadi, karakter deproduktif tergantung, dan parasit pada kaum
perempuan ternyata membawa cerita tersendiri dalam relasi gender,
dan hasilnya memang sering menempatkan perempuan sebagai objek
tertindas—baik sadar atau tidak. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan
apa yang ditunjukkan sejarah pada masa lalu. Sebenarnya, kaum
perempuan selalu berada pada garda depan produktivitas, memberi
makan generasi dan bukan pihak yang tergantung. Dalam sejarah,
kaum perempuan adalah makhluk yang produktif dan menegaskan
peran mereka sebagai pengayom  kehidupan {pro-life). Pada zaman
dulu, sementara kaum laki-laki di zaman dulu lebih disibukkan dengan
pekerjaan berburu dan membunuh hewan-hewan di hutan-hutan dan
menebangi pohon-pohon, pada saat yang sama kaum perempuan
disibukkan dengan usaha pertanian, bumbu-bumbu  masakan yang
dibutuhkan bagi keperluan hidup sehari-hari, dan peralatan-peralatan
masak lainnya. Artinya, kaum perempuan berhasil menemukan
teknologi bagi keberlangsungan hidup, kesehatan, dan pertumbuhan
manusia.
    Sebagaimana dikisahkan Nawal El Sadawi dalam buku Pergolakan
Pemikiran dan Politik Perempuan, 110  perempuan-perempuan Mesir
Kuno adalah nenek moyang penemu kebudayaan bercocok tanam di
Mesir di sepanjang pesisir Sungai Nil. Di antara mereka bahkan ada
yang dikenal dalam sejarah kemanusiaan yang disimbolkan sebagai dewi

110. Nawal El Sadawi, Pergolakan Pemikiran dan Politik Perempuan (Esai-Esai Nawal El
    Sadaawi) (Jakarta: Kalyanamitra, 2004), him. 68.

langit, yaitu Nut; dewi hikmah, yaitu Izis; dewi keadilan, yaitu M'at;
dan dewi kedokteran, yaitu Sekhmet. Kaum perempuan Mesir waktu
itu benar-benar leluasa untuk melakukan aktivitas yang produktif dan
kreadf Mereka tidaklah terkekang oleh hijab ataupun tembok-tembok
kukuh rumah dan dapur. Akan tetapi, di antara perempuan ada yang
menjadi pemikir, ahli filsafat, ahli ilmu pengetahuan dalam disiplin
ilmu kedokteran, ilmu falak, ilmu arsitektur, ilmu perundang-undangan
sosial, politik, ekonomi, strategi perang, dan ilmu perdamaian.
    Memang telah muncul masyarakat modern yang memungkinkan
keterlibatan kaum perempuan berpartisipasi dalam ranah publik,
baik sektor industri maupun pengambilan keputusan (sosial-politik).
Namun, aturan yang diberlakukan (biasanya dikukuhkan secara legal
oleh negara) juga masih tetap diskriminatif Bahkan, dalam masyarakat
yang telah menuju fase industri (kapitalis), keterlibatan perempuan di
sektor industri dapat dikatakan lebih banyak dari pada laki-laki, tetapi
sering imbalan dan pendapatan yang diperoleh juga masih dibedakan
daripada laki-laki.
    Di Indonesia, sektor industri membutuhkan lebih banyak
perempuan untuk kerja di pabrik-pabrik daripada laki-laki. Upah
mereka lebih rendah, bahkan terlalu rendah dan tak mencukupi untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Industrialisasi kapitalis
memang menarget  kaum perempuan dalam menjalankan proses
produksinya. Modal asing begitu senang menanamkan modalnya di
I ndonesia karena buruh perempuan Indonesia dapat diupah dengan
biaya murah, sangat jauh dibandingkan buruh-buruh perempuan di
negara-negara Barat.
    Selain itu, bagi pemilik modal  yang menjalankan industri,
perempuan merupakan sasaran pasar yang lebih potensial daripada
laki-laki. Perempuan yang berjumlah lebih banyak daripada
laki-laki adalah konsumen yang diharapkan akan menjadi pembeli

produk-produk yang dihasilkan untuk mencari keuntungan. Tak heran
jika kebanyakan iklan lebih banyak memengaruhi kaum perempuan
daripada laki-laki.
    Tidak adakah jalan bagi pembebasan perempuan pada saat
tatanan penindasan semakin keranjingan dalam melaksanakan proyek
dehumanisasinya? Tentunya, kita harus melihat bagaimana sistem
kapitalisme beroperasi dan bagaimana melihat peluang-peluang agar
perlawanan yang dilakukan akan membawa hasil yang signifikan bagi
perjuangan kaum perempuan. Fakta menunjukkan bahwa sistem
ekonomi kapitalisme bekerja dengan begitu canggih melalui hegemoni
politik dan budaya. Akan tetapi, pada saat yang sama betbagai bentuk
perlawanan kaum  perempuan mulai muncul di mana-mana. Kaum
perempuan tidak ketinggalan dalam memainkan peran berjuang dalam
melawan penindasan dan menuntut tatanan ekonomi yang adil dan
beradab.
    Ajaran ketergantungan perempuan pada laki-laki dan pada sistem
kadangkala juga dibentuk oleh orangtua dalam keluarga. Ketika
orangtua punya anak perempuan  yang mulai  menginjak dewasa,
ia harus bersaing agar sukses dalam hidupnya. Sayangnya orangtua
tersebut tak mampu—atau mungkin juga tak mau—membekali
dengan pengetahuan dan keterampilan kerja, bahkan negara juga
tak mau memberikan pendidikan dan pelatihan (subsidi pendidikan
dicabut dan sekolah semakin mahal). Apa yang terjadi pada anak
perempuan itu? Dia kalah bersaing dengan modal dan potensi individu
yang tumpul.
    Jika Anda adalah orangtua dari anak perempuan itu, apa yang bisa
Anda lakukan agar ia mampu bertahan hidup atau tentunya diharapkan
bisa hidup layak?
    Anda akan  menikahkannya dengan laki-laki kaya agar anak Anda
bisa berlindung dengan kekayaan dan mendapatkan kenyamanan

finansial karena menjadi bagian dari laki-laki kaya? Kalau laki-laki itu
baik hati dan mencintainya dengan tulus, namun bagaimana kalau
laki-laki itu hanya menginginkan  kecantikan fisik anak Anda atau
hanya ingin agar anak perempuan Anda menjadi pelayannya yang
memenuhi kebutuhan seks laki-laki itu, memasakkan, mencucikan
pakaiannya, hingga merawat anak-anaknya?
    Deproduksi  dengan karakter ketergantungan, parasit, dan
ketidakmandirian membawa efek  ikutan atau mungkin membawa
watak yang bersanding dengannya: kebodohan dan kepasrahan.
Padahal, pengetahuan dan pikiran  kritis adalah pembangun karakter
yang penting, sedangkan kepasrahan adalah karakter yang lemah.
(ioethe mengatakan, "Manusia mengetahui dirinya sebanyak
pengetahuannya tentang dunia; manusia mengetahui dunia hanya
dalam dirinya sendiri dan dia menyadari dirinya sendiri hanya dalam
dunia ini. Setiap objek yang benar-benar baru dikenal membuka sebuah
organ baru dalam diri kita. 111 Sementara itu, Julian  Short, seorang
psikolog, mengatakan, "Pengetahuan memberi kita kekuatan, atau
setidaknya perasaan bahwa kita memegang kendali. 112
    Akan tetapi, ketika pengetahuan dienyahkan, karakter mandiri
pun hilang, anak-anak muda tak lagi mampu mengendalikan dirinya
(lengan prinsip dan ukuran objektif Bahkan, semuanya serba-tak jelas,
yang dominan hanyalah ketakutan-ketakutan dan janji-janji dunia gaib
yang tak jelas, untuk membuat situasi ketertekanan, ketergantungan,
dan ketertindasan  tidak dipahami—agar para penguasa dan penindas
bisa menyembunyikan berjalannya sistem yang mengisap.



111. Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx {Yog/skanx Pustaka Pelajar, 2001), him.
, 38.
112. Julian Short, An Intelligent Life: Anatomi Hidup Bahama (Jakarta: Transmedia, 2006),
    hlm. 10.










































J

     Kita telah melihat kebangkitan fatalisme dalam keberagamaan
untuk menumpulkan nalar ilmiah, kreatif, dan kritis. Seorang
pengamat bernama Rees-Mogg berkata, "Dibangkitkannya agama
adalah sebuah senjata yang kukuh untuk mengikat kaum yang kurang
beruntung di tempat mereka. "
      "Semakin rendah kemungkinan untuk  pergerakan sosial ke atas,
      semakin rasional bagi kaum miskin untuk menganut pandangan
      dunia yang anti-ilmiah dan penuh khayalan. Bukannya memakai
      teknologi, mereka menggunakan sihir. Bukannya memilih
      telaah yang dilakukan sendiri, mereka memilih membebek
      pada pemikiran-pemikiran ortodox. Bukannya mempercayai
      sejarah, mereka  mempercayai mitos. Bukannya mengagumi
      biografi, mereka memuja para pahlawan. Dan mereka biasanya
      mengalihkan keterikatan tingkah-laku  berdasarkan kekerabatan
      dengan kejujuran impersonal yang dituntut oleh pasar. 113
     Uraian itu cukup memberikan gambaran bahwa kemiskinan dan
deproduksi melahirkan karakter individu  yang disokong oleh watak
anti-ilmiah, pasrah pada mitos, dan tunduk pada khotbah agama yang
ditafsirkan oleh agamawan borjuis yang, para pengkhotbah yang tampil
dengan bayaran sangat besar dari majikan  dan bos yang mensponsori
acara TV. Pada saat kita butuh karakter  yang menguatkan dengan
dukungan pikiran ilmiah dan kritis untuk bangkit, pada saat kehidupan
semakin menyengsarakan, pembodohan dilakukan, ketakutan, dan
keraguan dipelihara. Para penindas terus menggilas. Para dixkun dan
agamawan pim bicara, "Ini takdir, pasrah dan berdoa saja, pasti selamat.
Biarlah sengsara di dunia, yang penting  nanti mati dibalas surga. "
Ya, penindas pun terus menggilas. Orang susah kian mabuk surga


113. W. Rees-Mogg dan J. Davidson, "The Great Reckoning, How the World Will Change
    in the Depression of the 1990s", dalam Allan Woods, Reason and Revolt (Yogkarta: IRE
    Press, 2006).

(karena dijejali terus dengan hal itu), tak mampu berbuat apa-apa,
dan kebodohan itu dimanfaatkan penguasa untuk terus menipu dan
merampas hak untuk nikmat hidup sendiri. Kaum muda mabuk cinta
palsu ala lagu-lagu cengeng. Pikiran cerdas kritis berusaha dihilangkan.
ladilah peragu, pengecut, dan badut!
     Tengok saja acara TV, tempat budaya tidak ilmiah hanya muncul
di berbagai acara klenik, mistik, dan takhayul yang semakin semarak.
juga, di berbagai media lain dengan acara-acara atau bacaan-bacaan
yang tidak mendidik, dan justru hanya menjadi pengalihan ketakutan
atau kegilaan masyarakat. Serangan media, seperti TV dengan ilusi
dan kleniknya, membuat proses  pendidikan dan sekolah telah gagal.
Anak-anak (mulai dari SD hingga perguruan tinggi), misalnya, ketika
di kelas diajarkan tentang peristiwa alam yang dialektis dengan hukum
sebab akibatnya, misalnya mengapa terjadi gempa bumi, tsunami,
gerhana, dan lain-lain. Di kelas mereka sangat menerima logika ilmu
pengetahuan alam tentang kejadian-kejadian semacam itu. Akan tetapi,
ketika mereka keluar dari kelas atau sekolah, pola pikir semacam itu
kembali menghilang. Buktinya, ketika terjadi peristiwa alam, seperti
tsunami, gempa, dan gerhana, mereka masih banyak yang kembah
pada penjelasan-penjelasan tak ilmiah (mistis, gaib, dan lain-lain).
Celakanya, sekolah justru semakin kalah dengan propaganda mistik
yang datang dari berbagai penjuru, mulai dari pola pikir guru di kelas
yang feodal, juga dari media (terutama televisi).
     Situasi itu dikhawatirkan akan membuat bangsa ini akan
tambah terbelakang. Kalah dengan bangsa lain yang produktivitas
dan kreativitasnya semakin meningkat. Ketika ketika filsafat fatalistik,
cara  pandang anti-ilmiah disebar-luaskan, bangsa ini akan semakin
jauh tertinggal dan nantinya akan mengompensasikan ketertindasan
dan kekalahan bersaing dengan bangsa lain dengan cara mengatakan,
"Inilah aku Indonesia, kami memang kalah bersaing dan kalah maju

dengan bangsa lain yang semakin kuat dan terus saja menyerang
rakyatku dengan produk-produk barunya, sementara kami terus
ketinggalan. Tapi kami masih percaya diri, sebab kami masih punya
akhirat, jadi tak apa meskipun kami kalah bersaing di dunia, kami akan
menang di surga. " Penulis ingat apa yang pernah ditulis oleh Pramoedya
Ananta Toer dalam roman Rumah Kaca, "Dalam kekeliruan filsafat...
yang dnggal hanya usaha membela diri... hanya tahu melakukan defensi,
bertahan dan terus kalah, karena kekalahan filsafat. Semakin merosot
filsafatnya, semakin kalah dia di medan perang.... 114
     Penulis yakin bahwa pengetahuan dan karakter produktif itu
tak dapat dipisahkan. Artinya, pengetahuan akan bermanfaat bagi
peningkatan karakter produktif kreatif dan terciptanya nalar kritis.
Pertama, pengetahuan mendukung produktivitas dan kerja. Semua
orang bisa  menciptakan produk-produk yang mencirikan sesuai
dengan inisiatifnya sendiri, bukan untuk diperjualbelikan guna
mencari keuntungan, melainkan untuk menandai kreativitasnya yang
membedakan dengan kreativitas orang lain. Bayangkan tidak ada
monopoli terhadap teknologi dan pengetahuan, semua orang itu cerdas
dan hidup indah.
     Anak-anak dan kaum muda kira bukan lagi sekolah untuk
mencari pekerjaan dan uang, melainkan untuk belajar agar menemukan
suatu pengetahuan dan teknologi yang baru, karya dan kreativitas
yang baru. Bukan untuk dijual agar mereka mendapatkan untung
untuk diri sendiri, bukan penelitian yang dijual-belikan, melainkan
untuk  diketahui bersama. Semua tahu dan paham, semua mampu
menggunakan, bukan memiliki. Maka, kebanggaan adalah mencipta
sesuai keunikan kreativitas  dan produktivitas kita masing-masing:



114. Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca (Jakarta: Lentera Dipantara, 2006), hlm. 106.

bukan kebanggaan untuk memiliki atau membeli yang dipamerkan
dan membuat yang lain iri.
    Kedua, pengetahuan menguak selubung ideologi lama yang
palsu dan melanggengkan kebenaran. Maka, kalau semua paham dan
memahami dunia, selubung-selubung palsu ide lama hilang, antara
satu orang dan lainnya (antara satu kelompok dan kelompok lainnya)
tidak akan bentrok atau konflik.
    Masalahnya, kebanyakan konflik dan percekcokan yang terjadi di
masyarakat kita kebanyakan disebabkan tidak adanya pemahaman dan
pengetahuan yang objektif. Misalnya, pada saat masyarakat mengalami
masalah ekonomi akibat penindasan dan perbedaan kelas (antara kelas
tertindas dan ditindas), mereka tidak paham bahwa sumber utamanya
adalah masalah ekonomi (material—yang sesungguhnya bisa diketahui
dan ditata kembali). Dengan demikian, ketidaktahuan itu membuat
mereka salah memahami persoalan sehingga seakan yang muncul
adalah masalah lainnya, seperti masalah agama, suku, ras, budaya,
dan lain-lain. Tak heran jika konflik berdasarkan SARA (suku, ras,
agama) banyak muncul di negeri kita pada saat masyarakat tidak paham
kalau masalah sebenarnya adalah masalah ekonomi  (penindasan dan
ketimpangan ekonomi yang semakin parah).
    Ketiga, pengetahuan membuat orang mampu meninggalkan
kesalahpahaman. Pengetahuan  mampu mengubah suatu masyarakat
dengan ide-ide kreatif dan produktivitas yang dihasilkannya. Ketika
setiap orang mampu mendapatkan pengetahuan dan keterlibatan
(praktik), masyarakat itu pasti telah mampu mengatasi masalah
penindasan dan  ketidakadilan ekonomi. Jika banyak orang masih
tertindas secara ekonomi (miskin dan dimiskinkan), biasanya mereka
masih sibuk  mengurusi urusan ekonomi (bagaimana bertahan hidup
dengan makan, minum, dan kebutuhan-kebutuhan material). Waktunya
dihabiskan untuk mengurusi hal-hal yang material atau mendasar, tidak

ada waktu—dan biasanya juga tidak ada akses—untuk mendapatkan
pengetahuan: tidak bisa sekolah. Bahkan, bayangkan, di negeri yang
di dalam UUD ditegaskan bahwa tugas negara (pemerintah) adalah
"mencerdaskan bangsa", masih banyak anak-anak yang terpaksa bekerja
membantu orangtua sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk
sekolah. Celakanya, pemerintah yang pro-penindasan seakan memang
mendukung jual beli pendidikan. Harga (biayanya) pendidikan pun
semakin mahal dan jarang tak terjangkau oleh orang miskin yang kian
banyak jumlahnya.
    Itu membuktikan kekuatan pengetahuan terletak pada tersebarnya
pengetahuan bagi semua orang. Semakin banyak orang yang "pintar",
"sadar", dan memahami berbagai macam persoalan hidup, baik secara
filsafati maupun teknis, semakin besar pula kemungkinan masyarakat
bangsa negara untuk maju. Setelah orang terbebaskan dari penindasan
dan semuanya mampu memenuhi kebutuhan mendasarnya, mereka
akan segera beranjak untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi,
yaitu  kebutuhan estetik-autentik: berkarya demi  keindahan dan
keunikan masing-masing, bukan berkarya untuk dijual-belikan.
    Keempat, pengetahuan membuat hidup  bergairah, penuh
semangat, dan bermental kemajuan. Dalam masyarakat yang dipenuhi
dengan pikiran untuk mencari keuntungan, tempat sedikit orang
bisa menikmati kekayaan sementara lainnya tidak, biasanya karya
dan hasil kerja hanya digunakan untuk membodohi. Kebanyakan
rakyat miskin yang bekerja dieksploitasi (diisap) untuk keuntungan
orang-orang bermodal. Akan tetapi, segelintir orang  kaya dan
kalangan-kalangannya, yang melahirkan karyanya, juga memiliki
tingkat kreativitas yang rendah. Sedikit sekali yang bisa berkarya seni
(menyanyi, menari, melukis, menulis lirik atau puisi), tetapi lainnya
hanya sebagai penonton dan  peniru.

    Apakah kita ingin anak-anak kita menjadi generasi manipulatif
yang suka menjadi peniru (plagiat). Kosakata saja meniru, seperti.
kata-kata "Plish Dech", Gitu Lho(h)", "Capek Dech, "  "Ya iyalah"
Belum lagi lagu-lagunya, kebanyakan anak-anak dan remaja kita hanya
jadi pengagum, peniru, dan tak bisa tampil atau menampilkan karyanya
sendiri. Mereka hanya hanya bisa menonton. Toh, kalau mereka
melantunkan lagu, bukan lagu-lagunya sendiri yang ditampilkan,
melainkan lagu orang-orang lain, band-band atau penyanyi-penyanyi
yang ada. Pertanyaannya adalah mana kreasi mereka sendiri? Mana
otentitas dan keunikan mereka?
    Itu saja masih lagu, belum lagi model rambut, dan lain-lain.
Betapa palsunya mereka, mereka palsu karena kamu tidak memiliki
dirimu sendiri, tetapi hanya menjiplak orang lain. Mereka adalah
generasi copy paste. Pribadinya yang sejati, unik, dan asli hilang—karena
mereka hanya menjiplak model orang lain. Sebenarnya, generasi inilah
yang layak mendapatkan semprotan kata-kata "Kasihan Dech Lho"
    Intinya adalah bahwa kita harus menyadari bahwa kita dituntut
sejarah sebagai kalangan yang harus mengejar dan menggapai
pengetahuan, produktivitas, kreativitas, karya, dan peran untuk
memajukan masyarakat. Penyair dan sufi besar Islam, Jallaluddin Rumi,
menulis, "Kamu dilahirkan dengan sayap... Mengapa kamu lebih suka
merangkak dalam hidup?"
    Kata-kata  itu tentunya mengajak kita untuk terbang tinggi
bukan secara fisik, melainkan bahwa kita bisa terbang untuk pergi
ke mana pun sesuka kita untuk mengetahui apa yang terjadi di bumi
ini, berkeliling, dan meneliti detail-detail yang ada dalam kehidupan
dengan pengetahuan kita.

3. Karakter Terbuka Vs Tertutup (Inklusif Vs Eksklusif)
     Pembedaan karakter seseorang yang dapat kita lihat pada diri
seseorang yang cukup penting adalah karakter terbuka dan karakter
tertutup. Karakter ini berkaitan dengan hubungan seseorang terhadap
dunianya dan orang lain dalam kaitannya dengan persepsi diri sebagai
akibat dari proses komunikasi dari dalam diri yang terbentuk selama
kehidupannya, juga persepsi tentang orang lain. Ada juga faktor
psikologis.
     Ada orang pribadi yang berjiwa tertutup dan ada yang terbuka.
Karakter dengan kepribadian terbuka umumnya kelihatan menarik
karena orang tersebut bisa menerima terhadap dunia sekelilingnya,
ia menyadari potensi dirinya. Perasaan dan pikirannya terbuka untuk
pengalaman-pengalaman hidup yang menyedihkan dan menyenangkan,
pekerjaan, dan sebagainya. Ia lebih spontan dan bersikap jujur dan apa
284

adanya pada orang lain.

Mencari informasi dari berbagai
sumber.
Mencari informasi tentang
kepercayaan orang dari sumbernya
sendiri, bukan kepercayaan orang
lain.
Lebih bersifat provisionalisme dan
bersedia mengubah kepercayaan.
Secara kaku mempertahankan
dan memegang teguh sistem
kepercayaan.
Mencari pengertian pesan yang
tidak sesuai dengan rangkaian
kepercayaan.
Menolak, mengabaikan, menolak
pesan yang tidak konsisten dengan
sistem kepercayaan.

          Tabel 2. Perbedaan Sikap Terbuka dan Tertutup


    Kepribadian terbuka atau tertutup berkaitan dengan konsep diri
dan kemampuan berkomunikasi. Orang yang terbuka biasanya akan
suka untuk bergaul dengan orang lain dan menyukai komunikasi,
baik sebagai penyampai pesan (komunikator) maupun penerima pesan
(komunikan). Ia menerima siapa saja yang datang padanya karena ia
sangat bisa menerima informasi dan pandangan dari orang lain, bahkan
ia berusaha mencari-cari sesuatu informasi dari orang lain. Dia  tak
membeda-bedakan latar belakang orang lain  yang  datang padanya.
Dengan demikian, orang yang terbuka pada orang lain biasanya
pengetahuan dan wawasannya akan luas. Jika terbuka pada orang yang
berlatar belakang berbagai suku dan bahasa, biasanya pemahaman
nmltikulturalnya akan bertambah dan kosakatanya akan banyak.
    Orang yang menutup diri (tertutup) biasanya  memiliki konsep
diri yang negatif kurang percaya pada diri sendiri. Orang yang  tak
menyukai dirinya  sendiri biasanya juga akan sulit dalam mengatasi
permasalahan. Ia akan cenderung menghindari komunikasi dengan
orang lain. Istilah dalam  ilmu  komunikasi yang digunakan untuk
menggambarkan adanya ketakutan untuk melakukan komunikasi

disebut sebagai communication apprehension. Kondisi aprehensi dalam
komunikasi biasanya akan menarik diri dari pergaulan, berusaha sekecil
mungkin berkomunikasi, dan hanya akan berbicara apabila berada
dalam kondisi terdesak saja.
    Dalam proses pengembangan karakter dan kepribadian, situasi
menutup diri dan kurang komunikasi ini umumnya dipandang sebagai
proses penghambat pembangunan karakter. Ia umumnya memang
disebabkan oleh pengalaman-pengalaman individual di awal-awal
perkembangan karakter sejak usia dini. Karakter ini menghambat
perkembangan kepribadian secara keseluruhan menuju usia dewasa.
Orangtua dan  para guru sebaiknya harus memberi perhatian bagi
anak (didiknya) yang memiliki sifat tertutup. Kalau tak segera diubah,
karakter ini akan mengganggu perkembangan kognitif dan afektifnya
kelak***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar