Rabu, 23 November 2011

Pidato Pembukaan Focus Group Discussion (FGD) : Penguatan Nilai Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama yang diadakan oleh Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat Pontianak, 23 November 2011


Yth Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat
Yth Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (yang mewakilinya)
Yth Ketua KKG/MGMP Pendidikan Agama : Islam, Katolik Protestan, Hindu
      dan Budha
Yth Komisioner Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat
Yth Para Nara Sumber Focus Group Discussion (FGD)
Yth Para Stakeholder Pendidikan, Hadirin-Hadirat Para Undangan Sekalian yang Saya Muliakan

Selamat Pagi dan Salam Sejahtera.

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya dengan izin dan perkenan-Nya jualah kita dapat berkumpul bersama di ruang rapat Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat ini dalam rangka mengikuti  “Focus Group Discussion (FGD) yang bertemakan : “Penguatan Nilai Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama” yang diselenggarakan oleh Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat”. Kegiatan “Focus Group Discussion” (FGD) ini bertujuan untuk meningkatkan pengembangan wawasan guru tentang Pendidikan Karakter pada umumnya dan guru Pendidikan Agama pada khususnya.
Bapak/Ibu/Hadirin sekalian peserta “FGD” yang saya hormati!
Pendidikan Karakter menjadi isu yang sangat “Hangat” sejak dicanangkan oleh Pemerintah Presiden SBY dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010 lalu. Mengingat kerusakan moral bukan hanya terjadi dikalangan birokrasi Pemerintahan dan kalangan penegak hukum, melainkan juga sudah meracuni masyarakat. Pelanggaran moral menyebar di berbagai lapisan masyarakat, termasuk dalam Institusi Pendidikan. Mulai dari kasus penyalahgunaan dana BOS, jual beli sertifikat, penipuan Ques Telepon, hingga kasus sontek massal.
            Salah satu penyebab terjadinya kemunduran moral bangsa tersebut   adalah karena lemahnya Pendidikan Karakter. Pendidikan Karakter sesungguhnya dapat memperbaiki  dan mencegah kondisi-kondisi seperti yang disebutkan di atas.  Sesungguhnya sejak tahun 2010, Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional  mencanangkan penerapan Pendidikan Karakter bagi semua tingkat pendidikan,baik sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Program ini dicanangkan bukan tanpa alasan. Sebab, selama ini, dunia pendidikan dinilai kurang  berhasil dalam mengantarkan generasi bangsa menjadi pribadi-pribadi yang bermartabat.     Dunia pendidikan dinilai hanya mampu melahirkan lulusan-lulusan manusia dengan tingkat intelek-tualitas yang memadai. Banyak dari lulusan sekolah yang memiliki nilai tinggi (itu pun terkadang sebagian nilai diperoleh dengan cara tidak murni), berotak cerdas, brilian, serta mampu menyelesaikan berbagai soal mata pelajaran dengan sangat tepat. Sayangnya, tidak sedikit pula di antara mereka yang cerdas itu justru tidak memiliki perilaku cerdas dan sikap yang brilian, serta kurang mempunyai mental kepribadian yang baik, sebagaimana nilai akademik yang telah mereka raih  di  bangku-bangku sekolah ataupun kuliah.
Fenomena tersebut jelas menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi banyak kalangan. Apa jadinya jika negeri ini memiliki banyak orang cerdas, namun ternyata mental dan perilaku mereka sama sekali tidak cerdas? Bahkan, tidak ada korelasi antara tingginya nilai yang diperoleh dibangku pendidikan dengan perilaku mereka di tengah-tengah masyarakat. Akibatnya, muncullah sosok-sosok orang pandai yang memperalat orang  bodoh atau orang pandai yang menindas orang lemah.  Padahal, pada hakikatnya, pendidikan dilaksanakan  bukan sekadar  untuk mengejar  nilai-nilai, melainkan memberikan pengarahan kepada setiap orang agar dapat bertindak dan bersikap benar sesuai dengan kaidah-kaidah dan spirit keilmuan yang dipelajari.
Tercapainya prinsip tersebut tentunya sangat berhubungan erat dengan tugas guru sebagai tenaga pendidik. Seorang  guru umumnya dan guru agama khususnya harus benar-benar  mampu memberikan penjelasan mengenai tujuan pendidikan dan cara bersikap yang semestinya. Sebab, mendidik adalah kegiatan memberi pengajaran kepada peserta didik, membuatnya mampu memahami sesuatu, dan dengan pemahaman yang dimilikinya, ia dapat mengembangkan potensi dirinya dengan menerapkan sesuatu yang telah dipelajarinya.
Apa dan bagaimana sebenarnya peran Pendidikan Karakter tersebut? Semunya dikupas tuntas  dalam “Focus Group Discussion” ini bersama nara sumber kita yang terpercaya dan berkompetensi di bidangnya.
Jika kita kilas baiik kebelakang, dalam konteks kenegaraan, sesungguhnya ada tiga Tujuan Pendidikan. Ketiga tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Menurut Undang-Undang No. 2 Tahun  1989,  Pendidikan bertujuan  mencerdaskan kehidupan   bangsa dan mengembangkan  manusia yang   seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan   bertakwa kepada  Tuhan Yang  Maha Esa dan   berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan   keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,   kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa   tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
2.    Dalam TAP MPR No. II/MPR/1993 disebutkan  bahwa pendidikan bertujuan meningkatkan   kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang   beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha   Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian,   mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil,  berdisiplin, beretos kerja profesional, serta sehat   jasmani dan rohani.
3.    TAP MPR No. 4/MPR/1975 menyatakan bahwa   Tujuan Pendidikan adalah membangun di bidang   pendidikan yang didasarkan atas falsafah Negara   Pancasila dan diarahkan untuk membentuk   manusia-manusia pembangun yang ber-Pancasila   sekaligus membentuk manusia yang sehat jasmani   dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreativitas dan   tanggung jawab, bisa menyuburkan sikap   demokratis dan  penuh  tenggang rasa, mampu   mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan   disertai budi pekerti yang luhur, serta mencintai   bangsa dan  sesama manusia sesuai  dengan   ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945 Bab   II (Pasal 2, 3, dan 4).

Kepada Narasumber, dan semua peserta “Focus Group Discussionyang telah bersedia hadir memenuhi undangan Dewan Pendidikan ini kami haturkan Terima Kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Atas nama Dewan Pendidikan, saya selaku Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat mengucapkan selamat mengikuti “Focus Group Discussionini dengan harapan mampu melahirkan solusi guna mengatasi masalah kebermoralan bangsa yang terjadi selama ini. Solusi yang akan dilahirkan oleh peserta seminar tersebut ibarat setetes air bagi pengembara di padang pasir yang luas dan merupakan obat mujarab guna meningkatkan keberartian Pendidikan Karakter dan kebermoralan bangsa di Kalimantan Barat.

Mengakhiri sambutan ini ; DENGAN MEMOHON BERKAT KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA, FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) YANG BERTEMAKAN: ”PENGUATAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA SECARA RESMI DIBUKA”. Selamat mengikuti FOCUS GROUP DISCUSSION.

Atas segenap perhatiannya saya haturkan banyak terimakasih. Selamat Pagi

Pontianak,  23  Nopember 2011
Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat


Prof.DR Hamid Darmadi,M.Pd
Ketua

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar