Senin, 04 April 2011

KOMPETENSI MENGAJAR GURU IPS SMA KABUPATEN BENGKAYANG*)

Abstrak

Penelitian ini berjudul “Kompetensi Mengajar Guru IPS SMA Kabupaten Bengkayang”. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan: (1) tingkat kompetensi mengajar  guru  IPS  SMA  Kabupaten Bengkayang;  (2)  sumbangan  latar  belakang  pendidikan, pengalaman  mengajar  dan  etos  kerja  terhadap  kompetensi  mengajar  guru  IPS  SMA Kabupaten Bengkayang.   Populasi  penelitian  ini  seluruh  guru  IPS  SMA  Kabupaten Bengkayang yang berjumlah  149  orang  guru  yang dibedakan  menjadi  lima  kelompok  guru  yang mengajar bidang studi  IPS,  yaitu :(1) Ekonomi,  (2) Geografi, (3) Sejarah, (4) Sosiologi dan  (5)  Antropologi.  Sampel  penelitian  ini  berjumlah  112  orang,  ditentukan  dengan berpedoman pada formula Cohen. Pengambilan sampel untuk masing-masing kelompok bidang  studi  menggunakan  teknik proportional  random  sampling.  Instrumen pengumpulan  data  menggunakan  angket  dengan  memakai  skala  Likert  dan  test.Teknik analisis data yang digunakan adalah analsis deskriptif dan analisis inferensial. Hasil  analisis  deskriptif  menunjukkan  bahwa  kompetensi  mengajar  guru  IPS SMA  Kabupaten Bengkayang:19,6  %  tergolong  tinggi,  59,8  %  tergolong  cukup,  dan 20,5% tergolong kurang. Berdasarkan perhitungan korelasi parsial menunjukkan bahwa: (1)  latar  belakang  pendidikan  guru  memberi  sumbangan  sebesar  11,11  %  (  ry1.23  = 0,3333; p < 0,05) terhadap kompentensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Bengkayang, (2) pengalaman mengajar guru memberi sumbangan sebesar 6,35% (ry2.13 = 0,2520; p < 0,05) terhadap kompetensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Bengkayang, (3) etos kerja  memberi  sumbangan  positif  sebesar  16,59%  (  ry3.12  =  0,4074;  p  <  0,05)  terhadap kompetensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Bengkayang. Hasil analisis regresi ganda mengungkapkan  adanya  sumbangan  positif  yang  signifikan  secara  bersama-sama  dari latar  belakang  pendidikan,  pengalaman  mengajar  dan  etos  kerja  sebesar  46,3  %  (R  = 0,680;  F  =  30,990;  sig.  <  0,05)  terhadap  kompetensi  mengajar  IPS  SMA  Kabupaten Bengkayang. 

Kata kunci : kompetensi, pengalaman  mengajar, tingkat pendidikan, etos kerja


Pendahuluan
Pemberlakuan  kurikulum  baru   tahun  2006  yang  berbasis  kompetensi
menuntut  peningkatan  kualitas  guru.  Kepala  Pusat  Kurikulum,  Siskandar    mengatakan bahwa  kurikulum  berbasis  kompetensi  yang  diberlakukan  sekarang memerlukan kualitas  guru  yang  memadai.  Oleh  karena  itu  agar  pelaksanaan  kurikulum  berjalan seperti  yang  diharapkan  banyak  pihak,  perlu  diadakan  upgrade  terhadap  kemampuan  guru (http://www.puskur.or.id/kurikulum masa depan-shtml:1 Mei 2008). 
Kebutuhan akan peningkatan kompetensi guru tidak semata-mata karena adanya
kurikulum  baru,  namun  juga  karena  adanya  kenyataan  bahwa  tidak  sedikit  guru  yang
kompetensinya  tidak  seperti  yang  diharapkan.  Hal  ini  dibuktikan  dari  hasil  penelitian
tentang mutu dan kompetensi guru yang dilakukan oleh Kanwil Diknas DKI Jakarta pada
tahun 2001. Hasilnya sungguh mengagetkan. Dalam uji pemahaman ilmu dan kurikulum
terhadap 3000 guru SMA di Jakarta, 421 di antaranya adalah guru fisika. Dari jumlah itu,
lebih  dari  90  %  hanya  mendapat  nilai  di  bawah  lima.  Bahkan  dalam  seminar  tentang
rivalitas  sumber  daya  manusia  dalam  upaya  pemberdayaan  madrasah  di  Jakarta,
pertengahan  bulan  September  2001,  terungkap  bahwa  jumlah  guru  madrasah  yang
berkualitas di Indonesia hanya 203.485 orang saja atau 53,2 % dari jumlah seluruh guru
madrasah yang ada di Indonesia. Sedangkan sisanya, 179.329 atau 46,8 % dianggap tidak
berkualitas  (http://  www.  gamma.co.id/artikel/31-3/pendidikan-GM.10109-98,shtml,:19
Juni  2004).  Bahkan  menurut    Fuad  Hasan,  hanya  30%  guru-guru  masa  kini  yang  layak mengajar  (http://www.Mentawai.org./pot.9htm:  10  Oktober  2004).  Di  sisi  lain  sekitar
20%  guru  SLTA  masih  berpendidikan  kurang  dari  yang  dituntut  (under  qualified),
sehingga  dari  hasil  uji  kompetensi  guru  yang  dilaksanakan  oleh  tim  Direktorat  Tenaga
Kependidikan  bekerjasama  dengan  Pusat  Kurikulum,  PGRI,  dan  LPTK,  hasilnya
menunjukkan  bahwa  penguasaan  guru  terhadap  materi  pelajaran  untuk  semua  pelajaran
rata-rata  di bawah 50%. Hasil tersebut menurut Siskandar masih konsisten dengan hasil
penelitian  sebelumnya,  di  mana  penguasaan  guru  terhadap  materi  pelajaran  yang
diajarkan  di  SD,  SLTP,  dan  SLTA  masih  rendah  (http://www  suara  merdeka  harian.
com./harian/0304/21/htm : 10 Oktober 2003)

Dilihat dari Nilai Ebatanas Murni (NEM), perolehan hasil pembelajaran  IPS di
sejumlah  SMA  Kabupaten Bengkayang  belum  menunjukkan  hasil  yang  maksimal  karena  rata-rata  di bawah angka 5. Hasil tersebut berlaku tidak hanya untuk sekolah swasta tetapi juga untuk  sekolah  negeri.  Bahkan  untuk  sekolah  swasta  nilai  rata-rata  untuk  bidang  studi  IPS  (Sosiologi  dan  Ekonomi)    berada  di  bawah  angka  4.  Hal  tersebut  menunjukkan  bahwa hasil pembelajaran bidang studi IPS di tingkat SMA untuk wilayah Kabupaten Bengkayang kurang menggembirakan. Pada  dasarnya  terdapat  berbagai  faktor  yang  mempengaruhi  keberhasilan pembelajaran  di  sekolah,  antara  lain  :  guru,  siswa, sarana  dan  prasarana,  lingkungan pendidikan,  kurikulum.  Dari  beberapa  faktor  tersebut,  guru  dalam  kegiatan  proses pembelajaran  di  sekolah  menempati  kedudukan  yang  sangat  penting  dan  tanpa mengabaikan  faktor  penunjang  yang  lain,  guru  sebagi  subyek  pendidikan  sangat
menentukan  keberhasilan  pendidikan  itu  sendiri.    Studi  yang  dilakukan  Heyneman  &
Loxley  pada  tahun  1983  di  29  negara  menemukan  bahwa  di  antara  berbagai  masukan
(input) yang menentukan mutu pendidikan (yang ditunjukkan oleh prestasi belajar siswa)
sepertiganya  ditentukan  oleh  guru.  Peranan  guru  makin  penting  lagi  di  tengah
keterbatasan  sarana  dan  prasarana  sebagaimana  dialami  oleh  negara-negara  sedang
berkembang.    Lengkapnya hasil studi itu adalah : di 16 negara sedang berkembang, guru
memberi  kontribusi  terhadap  prestasi  belajar  sebesar  34%,  sedangkan  manajemen  22%,
waktu belajar 18% dan sarana fisik 26%.   Di 13 negara industri, kontribusi guru adalah
36%, manajemen 23%, waktu belajar 22% dan sarana fisik 19% ( Dedi Supriadi, 1999:
178 )
Rendahnya  prestasi  belajar  siswa  dalam  bidang  IPS  disebabkan  oleh  berbagai
macam  faktor.  Di  antaranya  adalah    faktor  guru  ,tidak  sedikit  mata  pelajaran  IPS  yang
disampaikan  oleh  guru-guru  yang  bukan  berasal  dari  pendidikan  IPS,  penelitian  yang
dilaksanakan oleh Konsorsium Ilmu Pendidikan mengungkapkan bahwa 33% guru SMA
mengajar  bidang  studi  di  luar  bidang  keahliannya  (Neni  Utami.  2003:  1).  Di  sisi  lain
tidak menutup kemungkinan guru yang mengajar mata pelajaran IPS kompetensi maupun
tingkat pendidikannya kurang dari yang dituntut.

Rumusan Masalah
1.       Seberapa tinggi kompetensi mengajar guru IPS, SMA Kabupaten Bengkayang ?.
2.       Seberapa besar sumbangan latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar dan etos
kerja guru baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama terhadap tingkat
kompetensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Bengkayang ?.


Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap beberapa hal berikut :
1.       Kompetensi mengajar guru IPS , SMA Kabupaten Purworejo.
2.       Besarnya sumbangan latar belakang pendidikan guru, pengalaman mengajar guru dan
etos  kerja  guru  baik  secara  sendiri-sendiri  maupun  secara  bersama-sama  terhadap
kompetensi mengajar guru SMA Kabupaten Purworejo

Kajian Teori
1.       Kompetensi Guru
a.  Pengertian Kompetensi
Istilah kompetensi berasal dari bahasa Inggris, yakni “competence means
fitness  or  ability”  yang  berarti  kemampuan  atau  kecakapan,.  Depdikbud  (1982:
51)  menyebutkan:  kompetensi  menunjukan  kepada  kemampuan  melaksanakan
sesuatu  yang  diperoleh  melalui  pendidikan  atau  latihan.  Dalam  hubungannya
dengan  tenaga  professional  kependidikan,  kompetensi  menunjuk  kepada
perbuatan  yang  bersifat  rasional  dan  memenuhi  spesifikasi  tertentu    di  dalam
melaksanakan tugas-tugas kependidikan. 
Kompetensi  guru  adalah  kemampuan  melakukan  tugas  mengajar  dan
mendidik  yang  diperoleh  melalui  pendidikan  dan  latihan  (Sahertian,1994:  73).
Menurut  rumusan  Pendidikan  Guru  Berdasarkan  Kompetensi  (PGPK),
kompetensi  adalah  kemampuan  professional  yang  berhubungan  dengan  suatu
jabatan  tertentu,  atau  dalam  hal  ini  kompetensi  professional  guru  dan  tenaga
kependidikan  lainnya  (Depdikbud,  1982).  Senada  dengan  itu  Soeleman  (1985)
mengartikan  kompetensi  mengajar  sebagai  kemampuan  dasar  yang  dapat
mengimplikasikan  apa  yang  seharusnya  dilakukan  oleh  seorang  guru  dalam
melaksanakan tugasnya.
Adapun  kompetensi  guru  (teacher  competency)  menurut  Barlow  (1985:
132)  adalah  the  ability  of  teacher  to  responsibly  perform  his  or  her  duties
appropriately”.  Artinya  kompetensi  guru  merupakan  kemampuan  seorang  guru
dalam melaksanakan kewajibannya secara bertanggung jawab.


b.  Komponen-komponen Kompetensi Guru
Menurut  Cece  Wijaya  (1994  :  30)  kemampuan  dasar  professional  guru
dalam proses pembelajaran meliputi :
1)       Kemampuan menguasai bahan bidang studi.
2)       Kemampuan merencanakan program pembelajaran
3)       Kemampuan melaksanakan program pembelajaran 
Menurut  Winarno  Surakhmad  (1982  :  61-62)  seorang  guru  hendaknya
memiliki kecakapan serta pengetahuan dasar dalam empat bidang utama, yaitu:
1).  Guru harus mengenal setiap murid yang dipercayakan  kepadanya.
2).  Guru harus memiliki kecakapan memberikan bimbingan.
3).  Guru  harus  memiliki  dasar  pengetahuan  yang  luas  tentang  tujuan
pendidikan di Indonesia.
4).  Guru harus memiliki pengetahuan  yang bulat  dan baru mengenai
ilmu  yang  diajarkannya.  Guru  yang  dapat  mengajar  dengan  baik
adalah  guru  yang  benar-benar  menguasai  pengetahuan  yang  akan
diajarkannya.
National    Project  on  the  Quality  of  Teaching  and  Learning  (NPQTL)
Australia membedakan kompetensi guru menjadi tiga macam, yaitu : a) teaching
competencies,  b)  organizational  competencies,  dan  c)  educational  competencies
(Colin,  1996:  322).  Atau  kompetensi  mengajar,  kompetensi  organisasi  dan
kompetensi  pendidikan.  Menurut  konsep  pendidikan  berdasarkan  kompetensi
guru,  haruslah  orang  yang  memiliki  tiga  macam  kompetensi.  Ketiga  macam
kompetensi itu adalah kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi
pribadi (Universitas Terbuka 1984/1985 : 31).
Kompetensi  profesioanl  seorang  guru  berkenaan  dengan  keahlian
profesinya. Ada sepuluh kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh seorang
guru,  guru  SMTP  maupun  SMA.  Kesepuluh  kompetensi  profesional  yang
dimaksud adalah :
1).  Menguasai bahan  yang diajarkan
2).  Mengelola program belajar dan mengajar
3).  Mengelola kelas
4).  Penggunaan media/sumber
5).  Menguasai landasan-landasan kependidikan
6).  Mengelola interaksi belajar mengajar
7).  Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
8).  Mengenal  fungsi  dan  program  layanan  bimbingan  dan
penyuluhan
9).  Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
10).  Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian
pendidikan guna  keperluan  pengajaran.  (Universitas  Terbuka
1984/1985 : 25-26)

Kompetensi  sosial  atau  kompetensi  kemasyarakatan  menuntut  seorang
guru  untuk  berpartisipasi  dalam  kegiatan  kemasyarakatan  dalam  kaitannya
sebagai  anggota  masyarakat.  Sedangkan  kompetensi  pribadi  berkaitan  dengan
nilai pribadi guru sebagai individu.(Universitas Terbuka, 1984/1985 : 46)
Jika  ditelaah  maka  delapan  dari  sepuluh  kompetensi  profesional  guru
yang disebutkan di atas lebih diarahkan kepada kompetensi guru sebagi pengajar.
Untuk  keperluan  analisis  tugas  sebagai  pengajar,  maka  kemampuan  guru  yang
banyak berhubungan dengan usaha meningkatkan proses dan hasil pembelajaran
dapat digolongkan ke dalam empat kemampuan, yaitu :
(1)  merencanakan  program    pembelajaran,  (2)    melaksanakan  proses 
pembelajaran,  (3)  menilai  kemajuan  proses    pembelajaran,  (4)  menguasai
bidang  studi  atau  mata  pelajaran  yang  diajarkannya.  Keempat  kemampuan
tersebut  merupakan  kemampuan  yang  sepenuhnya  harus  dimiliki  oleh  guru
yang bertaraf professional (Nana Sudjana, 2002 : 19)

1)       Merencanakan Program  Pembelajaran
Kemampuan  merencanakan  program  pembelajaran  merupakan  muara  dari
segala  pengetahuan  teori,  ketrampilan  dasar,  dan  pemahaman  yang  mendalam
tentang obyek belajar dan situasi pembelajaran.
Kemampuan dalam merencanakan program pembelajaran dapat dilihat dari
kemampuan :
a.         Merencanakan pengorganisasian bahan pembelajaran
b.         Merencanakan pengelolaan kegiatan pembelajaran
c.          Merencanakan pengelolaan kelas
d.         Merencanakan penggunaan media dan sumber pembelajaran
e.         Merencanakan    penilaian  prestasi  siswa  untuk  kepentingan  pembelajaran
(Depdikbud, 1985 : 87)

2)       Melaksanakan Proses  Pembelajaran
Pada  tahap  ini  selain  memerlukan  pengetahuan  tentang  pembelajaran  juga
memerlukan  ketrampilan  membuka  dan  menutup  pembelajaran,  ketrampilan
memilih  dan  menggunakan  strategi  pembelajaran  yang  tepat,  ketrampilan
memilih  dan  menggunakan  media  pembelajaran,  ketrampilan  mendorong
keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
Menurut Hasibuan, dkk. (1988: 121 - 125) kemampuan membuka pelajaran
meliputi  :  kemampuan  menarik  perhatian  siswa  dan  kemampuan  menumbuhkan
motivasi  siswa.    Kemampuan  menarik  perhatian  siswa  dapat  dilakukan  dengan
gaya mengajar guru yang bervariatif, memberi acuan dan membuat kaitan antara
pokok  bahasan  yang  akan  dipelajari  dengan  pengetahuan  maupun  pengalaman
yang  telah  dimiliki  siswa  serta  dengan  mengadakan  pre-test.  Sedangkan    untuk
menutup  pelajaran  dapat  dilakukan  dengan  mengadakan           post-test,  maupun
dengan merangkum kembali bahan pelajaran yang baru dipelajari.

3)       Menilai Kemajuan Proses  Pembelajaran
Kemampuan melaksanakan penilaian kemajuan proses pembelajaran dapat
dilihat  dari  :  kemampuan  melakukan  penilaian  selama  proses  pembelajaran
berlangsung, baik secara lisan, tertulis maupun dengan pengamatan, kemampuan
memilih  alat  evaluasi  yang  tepat,  kemampuan  menyusun  alat  evaluasi  yang
bervariatif 


4)       Menguasai Bahan Pelajaran
Guru  yang  profesional  harus  menguasai  bahan  pelajaran  yang  akan
diajarkannya.  Penguasaan  bahan  pelajaran  akan  memberi  pengaruh  yang  besar
terhadap  hasil  belajar  siswa.  Seperti  dikemukakan  oleh  Peters  (Nana  Sudjana,
2002  :  22)  bahwa  :  ”proses  dan  hasil  belajar  siswa  tergantung  pada  penguasaan
guru  atas  mata  pelajaran  yang  diampunya  dan  ketrampilan  mengajarnya”.  
Penelitian  dalam  bidang  pendidikan  kependudukan  di  Indonesia  menunjukkan
bahwa 32,58% dari hasil belajar siswa dipengaruhi oleh penguasaan  guru dalam
hal materi pelajaran (Dedi Supriadi, 2002 : 22-23).


c.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kompetensi Guru
Kompetensi  guru  dipengaruhi  oleh  berbagai  faktor.  Dengan  mengadopsi
pendapat  Sutermeister  (1976:  82)  tentang  faktor-faktor  yang  mempengaruhi  kerja
karyawan,  maka  kompetensi  guru  juga  dipengaruhi  oleh  faktor  diri  atau  faktor
internal  dan  faktor  situasional  atau  faktor  eskternal.  Faktor  internal  adalah  faktor
yang  berasal  dari  diri  individu  guru  yang  meliputi:  latar  belakang  pendidikan,
pengalaman  mengajar,  penataran  dan  pelatihan,  etos  kerja,  dan  sebagainya,
sedangkan faktor situasional yang dapat mempengaruhi kompetensi guru meliputi:
iklim  dan  kebijakan  organisasi,  lingkungan  kerja,  sarana  dan  prasarana,  gaji,
lingkungan  sosial  dan  sebagainya.  Faktor-faktor  tersebut  saling  berinteraksi  dan
mempengaruhi  kompetensi  guru  dalam  mengajar.  Oleh  karena  itu    untuk
meningkatkan kompetensi guru perlu dikaji faktor-faktor yang kemungkinan besar
mempengaruhinya.

1).  Latar Belakang Pendidikan
Latar  belakang  pendidikan  dapat  dilihat  dari  dua  sisi,  yaitu  kesesuaian
antara  bidang  ilmu  yang  ditempuh  dengan  bidang  tugas  dan  jenjang
pendidikan.  Untuk  profesi  guru  sebaiknya  juga  berasal  dari  lembaga
pendidikan keguruan. Guru pemula dengan latar belakang pendidikan keguruan
lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Karena dia sudah
dibekali  dengan  seperangkat  teori  sebagai  pendukung  pengabdiannya.
sedangkan  guru  yang  bukan  berlatar  belakang  pendidikan  keguruan  akan
banyak  menemukan  masalah  di  kelas.  Terjun  menjadi  guru  mungkin  dengan
tidak  membawa  bekal  berupa  teori-teori  pendidikan  dan  keguruan  (Djamarah.
1997: 17). 

2).  Pengalaman Mengajar
Pengalaman  mengajar  pada  hakekatnya  merupakan  rangkuman  dari
pemahaman seseorang terhadap hal-hal yang dialami dalam mengajar, sehingga
hal-hal  yang  dialami  tersebut  telah  dikuasainya,  baik  tentang  pengetahuan,
ketrampilan  maupun  nilai-nilai  yang  menyatu  pada  dirinya.  Apabila  dalam
mengajar seseorang guru menemukan hal-hal yang baru, dan hal-hal yang baru
dipahaminya,  maka  guru  tersebut  akan  memperoleh  pengalaman  kerja  baru.
Dengan  pengalaman  kerja  seseorang  akan  banyak  mendapatkan  tambahan
pengetahuan dan ketrampilan tentang bidang kerjanya.
Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek
yang  mempengaruhi  kompetensi  seorang  guru  di  bidang  pendidikan  dan
pengajaran  (Djamarah,  1997:  28).  Guru  pemula  dengan  latar  belakang
pendidikan  keguruan  lebih  mudah  menyesuaikan  diri  dengan  lingkungan
sekolah.  Karena  dia  sudah  dibekali  dengan  seperangkat  teori  sebagai
pendukung  pengabdiannya.  Pengalaman    mengajar  guru  dapat  diukur  dari
jumlah  tahun  lamanya  ia    mengajar,  khususnya  dalam  mata  pelajaran  yang
diampunya.


Menurut  Dedi  Supriadi  (1999  :  180)  bahwa  profesionalisme  guru
merupakan  hasil  dari  profesionalisasi  yng  dijalaninya  secara  terus  menerus.
Artinya semakin lama seseorang menekuni profesi sebagai seorang  guru  akan
samakin tinggi juga tingkat profesionalismenya, begitu juga sebaliknya.


3).  Etos Kerja
Dalam  kamus  umum  bahasa  Indonesia  (Depdikbud,1991  )  etos  kerja
diartikan  sebagai  semangat  kerja  yang  menjadi  ciri  khas  dan  keyakinan
seseorang atau suatu kelompok. 
Tinggi  rendahnya  etos  kerja  seseorang  banyak  dipengaruhi  oleh
lingkungan kerja dan faktor diri seseorang. Seorang guru yang mempunyai etos
kerja  yang  tinggi  akan  mengerjakan  pekerjaannya  lebih  semangat  dan
menekuni  pekerjaannya  dengan  tanggung  jawab  besar,sehingga  akan
berpengaruh  terhadap  keberhasilan  kerjanya.Guru  yang  memiliki  etos  kerja
yang  tinggi  akan  memiliki  motivasi  yang  tinggi  dalam  bekerja.  Hamid  Hasan 
(1998  :  73)  mengatakan  bahwa  Guru  yang  memiliki  motivasi  tinggi  dalam
mengajar ilmu-ilmu sosial akan memperlihatkan unjuk kerja yang jauh berbeda
dari guru yang memiliki motivasi rendah. 


Metode Penelitian
Dilihat  dari  segi  permasalahan  yang  diangkat  dan  tujuan  penelitian  ini,  maka
penelitian  ini  merupakan  penelitian  yang  bersifat  Ex-post  facto”.  Populasi  dalam
penelitian ini adalah seluruh guru bidang studi IPS di tingkat SMA di lingkungan Dinas
Pendidikan  Nasional  Kabupaten  Purworejo  yang  berjumlah  149  orang  guru.  Bidang 
studi IPS  masih dibedakan menjadi empat sub bidang studi, yaitu : Ekonomi, Geografi,
Sejarah,  Sosiologi dan Antropologi.
Penentuan  ukuran  sampel  menggunakan  formula  yang  dikemukan  oleh  Cohen
(1977),  dengan  asumsi  bahwa  penelitian  yang  bersifat  korelasional  dengan
mempertimbangkan besarnya signifikansi (), power (1-), jumlah ubahan bebas (u) dan
effect size (f2).  Selanjutnya dengan menggunakan rumus dari Cohen diperoleh diperoleh 
sample  sejumlah  112.  Pengambilan  sampel  dari  masing-masing  kelompok  bidang  studi
menggunakan  teknik    proportional  random  sampling.  Metode  pengumpulan  data
menggunakan  angket dan observasi.  Isi  angket dikelompokkan menjadi tiga,  yaitu isian
tentang  sikap,  self  report  dan  test  untuk  penguasaan  materi.  Teknika  analisis  data  yang
digunakan  meliputi  analisis  deskriptif  dan  analisis  inferensial.  Analisis  inferensial
menggunakan korelasi parsial dan regresi ganda.


Hasil Penelitian dan Pembahasan
Kompetensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Bengkayang dalam penelitian ini
ditinjau  dari  empat  aspek,  yaitu:  aspek  kemampuan  merencanakan  program
pembelajaran, aspek kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, aspek kemampuan
melaksanakan   evaluasi     pembelajaran    dan      aspek      penguasaan   materi
pembelajaran.Berdasarkan hasil analisis deskriptif, secara umum dapat diketahui bahwa
kompetensi  mengajar  guru  IPS  SMA  Kabupaten Bengkayang pada  umumnya  dalam
kategori  cukup  (59,8%).  Berdasarkan  hasil  perbandingan  skor  rerata  ideal  (mean  ideal) sebesar  141,50  dengan  skor  rerata  yang  diperoleh  sebesar  149,85  maka  dapat
disimpulkan  bahwa  tingkat  kompetensi  mengajar  guru  IPS  SMA  Kabupaten Bengkayang
berada pada kategori cukup. 
Dilihat  dari  latar  belakang  pendidikan  maka  guru  dengan  latar  belakang
pendidikan  lebih  tinggi  pada  umumnya  cenderung  memiliki  kompetensi  mengajar  lebih
baik dibandingkan dengan guru yang latar belakang pendidikannya lebih rendah. Hal ini
dapat  dibuktikan  dari  persentase  kecenderungan  latar  belakang  pendidikan  guru  dengan
kategori  cukup  28,4%  mempunyai  kompetensi  dengan  kategori  tinggi  sedangkan  guru
yang memiliki latar belakang pendidikan rendah tidak ada yang mempunyai kompetensi 
tinggi. Untuk kompetensi mengajar dengan kategori kurang, guru dengan latar belakang
pendidikan rendah mencapai 28,6% sedangkan yang latar belakang pendidikannya cukup
hanya 20,3%.
Pengalaman  mengajar  guru  mempunyai  pengaruh  terhadap  tingkat  kompetensi
mengajar  guru. Hal ini dapat dilihat dari persentase kecenderungan bahwa guru dengan 
pengalaman belajar tinggi 66,7% mempunyai kompetensi mengajar yang tinggi dan tidak
ada  yang  mempunyai  kompetensi  mengajan  kategori  kurang,  sedangkan  untuk  guru
dengan  pengalaman  mengajar    kategori  rendah  hanya  4,8%  yang  memiliki  kompetensi
tinggi,  untuk  kompetensi  kategori  kurang  mencapai  35,7%.  Temuan  ini  memperkuat 
pendapat  yang mengatakan bahwa latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar
adalah  dua  aspek  yang  mempengaruhi  kompetensi  seorang  guru  di  bidang  pendidikan
dan pengajaran (Djamarah,1997: 17).

Etos  kerja  seorang  guru  cukup  berperan  dalam  menentukan  tingkat  kompetensi
mengajar.  Hal  ini  dibuktikan  dari  persentase  kecenderungan  yang  menunjukkan  bahwa
guru  dengan    etos  kerja  tinggi,  23,7%  memiliki  kompetensi  mengajar  yang  tinggi  dan
hanya  11,8%  yang  memiliki  kompetensi  mengajar  kategori  kurang.  Untuk  guru  dengan
etos kerja cukup tidak ada yang memiliki kompetensi  kategori tinggi, tetapi justru lebih
banyak  yang  memiliki  kompetensi  mengajar  kategori  kurang,  yaitu  mencapai  63,2%.
Temuan ini selaras dengan pendapat Hamid Hasan (1998 : 73) mengatakan bahwa guru
yang  memiliki  motivasi  tinggi  dalam  mengajar  ilmu-ilmu  sosial  akan  memperlihatkan
unjuk kerja yang jauh berbeda dari guru yang memiliki motivasi rendah.
Kemampuan  guru  menguasai  materi  pembelajaran  (materi  IPS)  pada
umumnya cenderung pada kategori baik (60,7%). Dibandingkan  skor rerata ideal (mean
ideal)  sebesar  9  dengan  skor  rerata  yang  diperoleh    sebesar  13,80  memberi  gambaran
bahwa  tingkat  kemampuan  guru  IPS  SMA  Kabupaten Bengkayang dalam  penguasaan
materi pembelajaran berada pada kategori baik. 
Dilihat  dari  aspek  latar  belakang  pendidikan  maka  guru  yang  memiliki  latar
belakang  pendidikan  lebih  tinggi  pada  umumnya  cenderung    lebih  menguasai  materi
pembelajaran  dibandingkan  dengan  guru  yang  latar  belakang  pendidikannya  lebih
rendah.  Hal  ini  dapat  dibuktikan  dari  persentase  kecenderungan  latar  belakang
pendidikan  guru  dengan  kategori  cukup  75,7%  mempunyai  kemampuan  penguasaan
materi  dengan  kategori  baik,  sedangkan  guru  yang  memiliki  latar  belakang  pendidikan
rendah hanya 14,3% yang menguasai materi pembelajaran dengan kategori baik. 
Pengalaman mengajar guru mempunyai pengaruh terhadap guru dalam menguasai
materi  pembelajaran.  Hal  ini  dapat  dilihat  dari  persentase  kecenderungan  guru  yang
memiliki  pengalaman  belajar  tinggi  100%  mampu  menguasai  materi  pembelajaran  IPS
dengan baik, sedangkan guru dengan pengalaman mengajar kategori rendah hanya 42,9%
yang  mampu  menguasai  materi  pembelajaran  IPS  dengan  baik,  sedangkan  sisanya
kemampuan dalam penguasaan materi pembelajaran masuk dalam kategori cukup.
Etos  kerja  yang  dimiliki  oleh  seorang  guru  cukup  berperan  dalam  menentukan
tingkat  penguasaan  materi  pembelajaran.  Hal  ini  dibuktikan  dari  persentase
kecenderungan yang menunjukkan bahwa guru yang mempunyai etos kerja tinggi, 66,7%
mampu  menguasai  materi  pembelajaran  dengan  baik  dan  hanya  33,3%  yang  memiliki
kemampuan  penguasaan  materi  pembelajaran  dengan  kategori  cukup,  sedangkan  untuk
guru dengan etos kerja cukup hanya 31,6% yang mampu menguasai materi pembelajaran
dengan  baik  sedangkan  sisanya  (68,4%)  mempunyai  kemampuan  penguasaan  materi
pembelajaran dengan kategori cukup.
Berdasarkan  hasil  analisis  korelasi  parsial  dengan  mengendalikan  variabel
pengalaman  mengajar  dan  etos  kerja  diketahui  bahwa  latar  belakang  pendidikan  guru
mempunyai  sumbangan  signifikan  terhadap  tingkat  kompetensi  mengajar  guru.  Hal  ini
ditunjukkan  dari  nilai  ry1.23  sebesar  0,3333  (p=0,000<0,05).  Sedangkan  besarnya
sumbangan  latar  belakang  pendidikan  terhadap  kompetensi  mengajar  guru  adalah
11,11% (r2y1.23= 0,1111). Atau dengan kata lain 11,11% kompetensi mengajar  guru  IPS
SMA Kabupaten Purworejo ditentukan oleh  latar belakang pendidikan guru. 

Berdasarkan  hasil  analisis  korelasi  parsial  dengan  mengendalikan  variabel  latar
belakang  pendidikan  dan  etos  kerja  diketahui  bahwa  pengalaman  mengajar  guru
mempunyai  sumbangan  signifikan  terhadap    kompetensi  mengajar  guru.  Hal  ini
ditunjukkan dari nilai ry2.13 = 0,2520 (p= 0,000 < 0,05). Sedangkan besarnya sumbangan
pengalaman  mengajar  terhadap  kompetensi  mengajar  guru  adalah  6,35%  (r2y2.13  =
0,0635).  Atau  dengan  kata  lain  6,35%  kompetensi  mengajar  guru  IPS  SMA  Kabupaten Bengkayang ditentukan oleh pengalaman mengajar guru. 
Berdasarkan  hasil  analisis  korelasi  parsial  dengan  mengendalikan  variabel  latar
belakang  pendidikan  dan  pengalaman  mengajar  diketahui    bahwa  etos  kerja  guru
mempunyai  sumbangan  signifikan  terhadap  kompetensi  mengajar  guru.  Hal  ini
ditunjukkan  dari  nilai  ry3.12  sebesar  0,4074  (p=0,000<0,05).  Besarnya  sumbangan  etos
kerja guru terhadap kompetensi mengajar guru adalah 16,59% (r2y3.12 = 0,1659). Dengan
kata lain 16,59% kompetensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Bengkayang ditentukan
oleh tingkat latar belakang pendidikan guru.
Berdasarkan hasil analisis regresi ganda ditemukan  koefisien determinan (R2) =
0,463  yang  berarti  sekitar  46,3%  perubahan-perubahan  pada  variabel  kompetensi
mengajar  guru  dapat  dijelaskan  oleh  ketiga  variabel  prediktor,  secara  bersama-sama,
yaitu:  latar  belakang  pendidikan  guru  (X1),  pengalaman  mengajar  guru  (X2)  dan  etos
kerja guru (X3). Hasil uji F diperoleh Fhitung = 30,990 (sig=0,000<0,05). Dengan kata lain
ketiga  variabel  independen  tersebut  (latar  belakang  pendidikan,  pengalaman  mengajar
dan  pengalaman  mengajar)  secara  bersama-sama  memberikan  sumbangan  yang  cukup
berarti terhadap kompetensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Bengkayang.
Berdasarkan  besarnya  nilai  koefisien  korelasi  parsial  masing-masing  variabel
independen menunjukkan bahwa variabel  yang paling dominan sumbangannya terhadap
kompetensi  mengajar  guru  adalah  etos  kerja    (16,59%),  diikuti  oleh  variabel  latar
belakang  pendidikan  guru  (11,11%)  dan  terakhir  adalah  pengalaman  mengajar  guru
(6,35%).


Kesimpulan 
Berdasarkan  analisis  deskriptif  menunjukkan  bahwa  kompetensi  mengajar  guru
IPS SMA Kabupaten Bengkayang: 19,6 % tergolong tinggi, 59,8 % tergolong cukup, dan
20,5% tergolong kurang.
Berdasarkan perhitungan korelasi parsial menunjukkan bahwa: (1) latar belakang
pendidikan  guru    memberi  sumbangan  sebesar  11,11  %  (  ry1.23  =  0,3333;  p  <  0,05)
terhadap  kompentensi  mengajar  guru  IPS  SMA  Kabupaten Bengkayang,  (2)  pengalaman
mengajar  guru  memberi sumbangan sebesar 6,35% (ry2.13 = 0,2520; p < 0,05) terhadap
kompetensi  mengajar  guru  IPS  SMA  Kabupaten Bengkayang,  (3)  etos  kerja    memberi
sumbangan  positif  sebesar  16,59%  (  ry3.12  =  0,4074;  p  <  0,05)  terhadap  kompetensi
mengajar guru IPS SMA Kabupaten Bengkayang. 
Hasil  analisis  regresi  ganda  mengungkapkan  adanya  sumbangan  positif  yang
signifikan  secara  bersama-sama  dari  latar  belakang  pendidikan,  pengalaman  mengajar
dan etos kerja sebesar 46,3 % (R = 0,680; F = 30,990; sig. < 0,05) terhadap kompetensi
mengajar IPS SMA Kabupaten Purworejo. 


Daftar Pustaka :

Ani  M.Hasan.  (2003).  Pengembangan  profesionalisme  guru  di  abad  pertengahan.
Artikel  diakses  pada  tanggal  4  Oktober  2003  dari   http://www.artikel.us/
amhasan.html.

Cece  Wijaya  dan  Tabarani  Rusyan.  (1994).  Kemampuan  dasar  guru  dalam  proses
belajar – mengajar . Bandung : Remaja Rosdakarya

Charles E, Johson Cs. (1974). A meaning for competency. New York : Sage Publication.

Dedi Supriadi. (1999). Mengangkat citra dan martabat guru. Yogyakarta : Adicita Karya
Nusa

Depdiknas. (2001). Standar kompetensi dasar guru. Jakarta : Ditjen Dikti.

Djamarah, Saiful Bakri. (1994). Prestasi belajar dan kompetensi Guru. Surabaya: Usaha
Nasional

                 Hamid Darmadi, (2008) Profesi Kependidikan. Landasan Konsep Dasar dan Implementasi
                            Penerbit Bandung ; Alfabeta

Laureance  J.  Peter.  (1979).  Competencies  for  teaching:  Teacher  education.  Belmont:
Wadsworth Publising Company, Inc.

Neni  Utami.  (2003).  Kualitas  dan  profesionalisme  guru.  artikel  diambil  pada  tanggal  4
Oktober 2003 dari http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/102/15/ 0802/htm

Parkay, Forrest W. & Stanford. (1998). Becoming a teacher  (4th ed.), Boston: Allyn  &
Bacon A Viacom Company

Said Hamid Hasan, (1998). Pendidikan ilmu sosial. Jakarta ; Proyek Pendidikan Tenaga
Akademik Ditjen Dikti, Depdikbud

Singgih Santoso. (2002). SPSS statistik multivariat.  Jakarta: Elex Media Komputindo.

Suara  Merdeka.  (2003),  Rendah,  penguasaan  guru  atas  materi  pelajaran,  artikel,
Diambil  pada  tanggal  10  Oktober  2003,  dari       http://  www.suara  merdeka
harian.com/harian/0304/21/htm 

Universitas Terbuka. (1984/1985). Pendidikan tenaga kependidikan berdasar kompetensi
(PTKBK). Jakarta

Usman, M.U. (2002). Menjadi guru profesional. Bandung:  Remaja Rosdakarya



































14

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar