Rabu, 06 April 2011

PEMBELAJARAN ILMU-ILMU SOSIAL



 Deskripsi Materi Pembelajaran

1. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sebagai Kegiatan Keilmuan
Memasuki milineum ketiga, lembaga pendidikan formal telah tersebar di seluruh dunia dan semakin menunjukkan dirinya sebagai salah satu institusi terkuat dalam tataran kehidupan masyarakat modern. Pada umumnya sekolah telah diterima sebagai sarana untuk merekonstruksi masyarakat tertentu, dalam arti mengubah masyarakat lama menjadi masyarakat baru. Penerimaan sekolah sebagai lembaga rekonstruksi masyarakat tersebut mengakibatkan beberapa kalangan salah pengertian. Salah mengerti itu antara lain berwujud (i) harapan yang berlebihan pada sekolah, seperti pembentukan disiplin nasional sebagai tugas sekolah, (ii) anggapan bahwa sekolah mampu memecahkan segala masalah masyarakat, seperti sekolah mampu memberi lapangan kerja, dan (iii) anggapan bahwa sekolah mampu menyampaikan segala unsur kebudayaan, seperti kurikulum yang bermuatan unsur kebudayaan sangat padat.
Lembaga pendidikan formal (sekolah) merupakan lembaga yang dibuat oleh masyarakat, berbeda fungsinya dengan keluarga dan lembaga agama, serta berbeda pula fungsinya dengan lembaga kesenian. Sekolah berfungsi sebagai media pendidikan kepribadian, socio-civics, dan intelektual. Fungsi pendidikan kepribadian bersifat membantu keluarga dan lembaga agama, sebab (i) keluarga dan lembaga agama mampu mengenal segala aspek kepribadian anak didiknya, (ii) iklim informal, luwes, dan manusiawi lebih hidup dalam keluarga, (iii) lama waktu pendidikan di dalam keluarga dan lembaga agama sangat panjang dan sangat leluasa, (iv) jangkauan tujuan pendidikan keluarga dan lembaga agama meliputi jangkauan umat dan makhluk yang universal. Sebaliknya, pendidikan kepribadian yang dilakukan oleh sekolah terbatas pada (i) rumus kepribadian atau citra kepribadian seperti yang dirumuskan oleh setiap sistem pendidikan nasional, (ii) lama waktu pendidikan sekolah terbatas, dan (iii) sekolah hanya mampu melakukan penilaian aspek perilaku sebagai dampak pembelajaran seperti tertulis di raport sekolah artinya sekolah tidak mampu menilai dampak pengiring. Dengan kata lain sekolah hanya dapat membantu tugas keluarga dan lembaga agama dalam kapasitas yang sangat terbatas.
Substansi sekolah dalam memainkan perannya berkait dengan pendidikan socio-civics, sekolah memainkan peranan yang sangat esensial, khususnya dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan kewarganegaraan. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari perkembangan masyarakat yang sangat cepat. Kalangan remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di luar sekolah dan keluarganya, sehingga yang lebih banyak berperan adalah masyarakat dan institusinya. Untuk melanjutkan dan memantapkan pendidikan kepribadian seputar menjadi warga negara yang baik, maka lembaga keagamaan bisa memainkan peran yang dominan. Peranan keluarga dan lembaga agama dalam hal pendidikan perilaku socio-civics lanjut sangat dominan, sebab perilaku tersebut merupakan suatu nurturant effects yang justru berada pada jangkauan kewibawaan keluarga dan lembaga agama. Sekolah hanya megajarkan pengetahuan dan perilaku socio-civics, tetapi tidak dapat menilai dampak pengiringnya.
Lembaga sekolah berperan sebagai lembaga pendidikan intelektual. Dalam hal ini kedudukan sekolah tampak berbeda secara signifikan dengan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan lainnya. Apabila lembaga agama memusatkan perhatian pada aspek keimanan, lembaga kesenian memusatkan perhatian pada aspek estetis, atau aspek intelektual tersebut sudah barang tentu tidak mengabaikan keseluruhan developing personalities. Dengan kata lain, peran pendidikan intelektual adalah peran utama sekolah, walaupun sekolah juga terbebani tugas pendidikan kepribadian dan socio-civics.
Sekolah bertugas melakukan pendidikan keilmuan, dalam arti mendidikkan sikap ilmiah dan sekaligus mengajarkan ilmu pengetahuan. Pendidikan sikap keilmuan dan sekaligus mengajarkan ilmu pengetahuan. Pendidikan sikap keilmuan tersebut meliputi pendidikan nilai-nilai: (i) nilai dasar keilmuan, seperti objektivitas, keinginan ilmiah, kreativitas, dan kejujuran, (ii) nilai yang mendukung keberhasilan peneletian, seperti ketekunan, kebebasan, keluwesan, pemahaman subjektif, (iii) nilai sistem sosial keilmuan, komunalitas keilmuan, kepekaan tugas keilmuan, dan (iv) kebebasan ekspresi keilmuan, seperti kebebasan berfikir, meneliti, berada pandangan, originalitas, bereksperimentasi.
Pendidikan nilai-nilai keilmuan ini terjalin dalam materi keilmuan, dan umumnya hasil didikan nilai-nilai keilmuan tersebut adalah dampak pengiring. Pembelajaran ilmu pengetahuan merupakan bagian integral dari kegiatan pendidikan di sekolah. Selanjutnya, bila ilmu pengetahuan dipandang sebagai sistem, maka pembelajaran ilmu pengetahuan juga merupakan suatu aktivitas bertujuan, suatu metode rasional sistematik, dan suatu bentukan pengetahuan sistematik. Sebagai suatu aktivitas bertujuan, maka ilmu pengetahuan bertujuan memperoleh kebenaran, pengetahuan, pemahaman, penjelasan, prediksi, pengendalian, dan penerapan berdasarkan temuan. Sebagai suatu metode rasional sistematik, maka ilmu pengetahuan melakukan penelitian keilmuan dengan seperangkat pendekatan keilmuan-metode penelitian-teknik penelitian-alat keilmuan sehingga mampu mencapai tujuan ilmu pengetahuan. Dengan melakukan penelitian keilmuan maka hasil keilmuan terwujud. Hasil penelitian keilmuan tersebut dapat berupa teori ilmiah, model-model ilmiah, atau temuan-temuan teknologis.
Sebagai bentukan pengetahuan rasional yang terstruktur tentang dunia empiris, bangunan pegnetahuan rasional terstruktur tentang materi keilmuan. Pada umunya bangunan pengetahuan rasional terstruktur tersebut dapat ditemukan pada buku-buku ilmu pengetahuan dan laporan penelitian keilmuan.
Pembelajaran ilmu pengetahuan merupakan bagian integral kegiatan keilmuan. Hal ini mengacu pada ilmu pengetahuan sebagai aktivitas bertujuan, metode rasional sistematik, dan bentukan pengetahuan sistematik. Sedang untur kebudayaan, maka sistem ilmu pengetahuan merupakan bidah keahlian, suatu unsur speciality yang dilakukan oleh ilmuwan. Pembelajaran imu pengetahuan seharusnya memang dilajukan oleh ilmuwan.,  seperti halnya pendidikan agama dilakukan oleh agamawan, atau pendidikan kesenian dilakukan oleh seniman. Pembelajaran ilmu pengetahuan rasional sistematik berarti bahwa :
1.     Pembelajaran dan bentuk pengetahuan merupakan kegiatan mengolah materi keilmuan secara objektif. Materi keilmuan yan diolah berupa idea abstrak, benda fisik, jasad hidupp, gejala rohani, peristiwa sosial, dan proses tanda. Dalam oleh materi keilmuan tersebut keterampilan berfikir rasional, keterampilan penalaran dengan alat-alat ilmiah digunakan oleh si pegajar dan pelajaran ilmu pengetahuan.
2.     Pembelajaran ilmu pengetahuan merupakan kegiatan menggunakan pendekatan keilmuan penggunaan berbagai metode penelitian-teknik penelitian dan alat-alat ilmiah. Dalam hal ini perilaku si pebelajar ilmu pengetahuan serupa dengam seorang ilmuwan yang sedang melakukan penelitian keilmuan
3.     Pembelajaran ilmu pengetahuan merupakan ekplanasi tentang bangunan rasional sistematik terstruktur. Dalam hal ini perilaku si pembelajar, di lain fihak, menerima dan memahami pengetahuan rasional. Pada umunya salah mengerti pembelajaran ilmu pengetahuan terletak pada hanya mengutamakan kegiatan eksplanasi pengetahuan. Slah mengerti tersebut terkenal dengan pandangan statis tentang ilmu pengetahuan.

Pembelajaran ilmu pengetahuan merupakan kegiatan mengajar dan belajar oleh ilmu pengetahuan. Kegiatan tersebut suddah tentu berhubungan denan pembangaunan pengetahuan rasional terstruktur. Bangunan pengetahuan tersebut secara statis berada dalam buku-buku ilmu pengetahuan. Bangunan pengetahuan rasional  tersebut terdidi dai unsur-unsur pengerahuan berupa fakta, konsep, generalisai yang terdiri dari kesimpulan, hukum, prinsip atau teori. Unsur-unsur tersebut berhubunab secara fungsional, berangkaian secara terstruktur dan terfokus pada kebenaran ilmiah.
Bangunan pengetahuan rasional tersebut pada umunya berupa uraian tentang objek ilmu pengetahuan. Uraian tengang objek tersebut dituangkan dalam kalimat pernyataan, simbol ilmiah, dan model-nodel ilmiah. Kumpulan pernyataan yang memuat pengetahuan ilmiah dapat dibedakan menjadi empat bentuk, seperti:
1.     Rekonstruksi historis, suatu pernyataan yang berusaha menggambarkan pertumbuhan objek ilmiah pada masa lampau. Cabang ilmu yang banyak mengandung pernyataan ini adalah sejarah, ilmu purbakala, paleontologi, historiografi.
2.     Deskripsi, suatu pernyataan yang berusaha memberikan  pemerian mengenai bentuk, susunan, peranan, dan hal-hal terperinci lainnya tentang objek ilmiah. Cabang ilmu yang bercorak deskriptif dapat ditemukan pada geografi, ilmu anatomi.
3.     Preskripsi, suatu pernyataan yangberuha memberikan petunjuk atau ketentuan tentang apa yang sedang berlangsung, atau apa yang berlaku dalam hubungannya dengan objek ilimah sebenarnay. Bentuk prespektif ini dapat ditemukan pada ilmu-ilmu administrasi, managemen, ilmu pendidikan.
4.     eksposisi pola, suatu derungan, dan proses pada objek ilmiah. Pernyataan eksposisi pola tersebut dapat ditemukan pada banyak ilmu diantaranya antropologi dan sosiologi.
Bangunan pengetahuan rasioanl yang berupa kalimat pernyataan ditemukan pada hampir setiap cabang ilmu. Bangunan berupa angka-angka, simbol ilmiah, dan model ilmiah dtemuak pada ilmu alam, kimia, matematika, statistik, biologi, dan logika. Di samping bentuk pernyaan, simbol ilmiah, dan model ilmiah tersebut, juga ditemukan proporsi yang dikenal sebagai azas, kaidah ilmiah, dan teori ilmiah.
Azas ilmiah adalah suatu proposisi yang mengandung kebenaran umum berdasarkan fakto-fakta yang telah di observasi. Kaidah ilmiah atau hukum dalma pengetahuan suatu proposisi yang mengungkapkan kejagaan atau hubungan tertib yang dapat diperiksa kebenarannya pada fakta auatu gejala yang diobservasi, sehingga hubungan tertib tersebut juga berlaku pada berbagai fakta atau gejala lain yang sejenis. Kaidah ilmiah juga diartikan sebagai pernyataan prediktif dan universal.
Sebagai pernyataan prediktif, karena jika kondisi-kondisi tertentu berhubungan, maka apa yang akan terjadi dapat diramlakan. Sebagai pernyataan prediktif. Karena jika kondisi-kondisi tertentu berhubungan, maka apa yan akan terjadi dapat diramalkan. Sebagai pernyataan universal, jika hubungan yang dijelaskan dianggap dapat selalu terjadi, meskipun ada keterbatasan. Teori ilmiah adalah sekumpulan proposisi yang saling berkaitan secara logis yang memberikan penjelasan tentang yagn saling berkaitan secara logis yang memberikan penjelasan tentang sejumlah gejala. Teori ilmiah berguna untuk (i) membantu mensistemasikan dan menyusun data, atau pemikiran tentang data sedemikian rupa sehingga tercapai pertalian logis antara data ilmu, (ii) memberikan skema tentang fenomena sedemikian rupa sehingga terdapat titik pijak orientasi, dan (iii) menunjukan arah penelitian lebih lanjut. Bangunan pengetahuan rasional atau bahan engetahuan ilmiah adalah hasil penelitian ilamiah.
Bahan pengetahuan ilmiah tersebut berupa buku ilmu pengetahuan dan laporan hasil penelitian. Berbeda dengan buku ilmu pengetahuan, maka laporan hasil enelitian selalu memaparkan jalannya proses penelitian. Laporan penelitian di samping mengemukakan teori ilmiah atau model ilmiah juga mengemukakan hipotesis atau asumsi ilmu pengetahuan. Dipandang dari segi penelitian, maka laporan hasil penelitian dapat dbedakan menjadi bahan pengetahuan ilmiah sebagi produk penelitian kuantitatif atau produk penelitian kualitataf. Ciri utama bahan pengetahuan ilmiah adalah:
1.     adanya sistematisasi,
2.     paparan yang bersifat umum.
3.     paparan rasional, artinya merupakan uraian pemikiran rasional yang mematuhi logika,
4.     objektif,
5.     verifibilitas, artinya merupakan paparan ilmiah yang dapat diteliti atau dikaji ulang,
6.     merupakan karya komunal.

Ilmu-ilmu sosial sebagai rumpun ilmu pengetahuan juga merupakan hasil penelitian, baik penelitian kuantitatif atau kualitatif. Pembelajaran ilmu-ilmu sosial juga merupakan bagian integral dari kegiatan penelitian ilmu sosial. Dari segi materi keilmuan yaitu peristiwa sosial atau gejala rokhani, maka pengejaran ilmu-ilmu sosial diduga memerlukan pendekatan mengajar, metode mengajar, teknik mengajar, dan alat mengajar yang berbeda dengan pembelajaran ilmu pembelajaran ilmu pengetahuan yang lain. kelainan tersebut bukan hanya karena sifat ilmiah ilmu sosial, tetapi juga disebabkanoleh nilai ilmu-ilmu sosial tersebut pada konteks masyarkat dan kebudayaan tertentu.

2. Perkembangan Pembelajaran Ilmu-ilmu Sosial di Amerika Serikat
Amerika sebagai salah satu negara super power dewasa ini, pada dasarnya telah menunjukkan kedigjayaannya pada abag 19, khususnya menyangkut bidang kajian ilmu pengetahuan, sehingga tidak jarang sebuah disiplin ilmu pengetahuan mendapatkan otominasinya setelah kalangan ilmuwan Amerika melakukan berbagai justifikasi terhadap ilmu bersangkutan. Penduduk Amerika Serikat bagian besar berasal dari Eropa. Kaum emigran eropa tersebut mendambakan suatu kehidupan baru di daratan Amerika. Gelombang emigran ke Amerika terdiri dari banyak tahap, dan pada umunya sejalan dengan terjdinya peristiwa-peristiwa besar di dunia. Arus emigrasi ke Amerika terus berlangsung sampai kini.
Imigran pada abad 17-18 pada umunya bersal dari Eropa Barat, dan mereka kemudian hidup bermasyarakat di daerah jajahan negara Inggris. Berkat perjuangan kemerdekaan maka rakyat Amerika berhasil memperoleh kemerdekaan dan membentu negara Amerika Serikat pada 4 Juli 1776. Negara Amerika Serikat merupakan tanah harapan untuk memperoleh kebebasan, demokrasi, dankekayaan.
Secara substansial peradaban Amerika Serikat  bersifat unik dalam sejarah dunia, dalam hal struktur alam wilayah negara, ciri khas mental dan emosi rakyat, dan norma-norma perilaku penduduknya. Peradaban ini berakar di Erompa, khususnya Inggris. Peradaban Amerika terbentuk berkat integrasi beberapa kekuatan besar yang  ada dalam masyarakat.
Kekuatan-kekuatan besar tersebut berupa konsep moral dan sikap ekonomis yang disebut Puritanisme, semangat menerapkan metode berfikir keilmuan, penciptaan alat dan teknik pengukuran yang terjelma pada teknik permesinan, pengambilan alih, kekuasaan mengontrol pemerintahan menurut kaum Puritan. Kekuatan ini menghasilkan eksploitasi sumber-sumber alam secara besar-besaran, peningkatan standard hidup tinggi dibidang material, penghapusan kesengsaraan hidup, kecintaan hidup di dunia, penghapusan takhayul, dan perluasan dengan penerangan ilmiah. Bersamaan waktunya masyarakat Amerika dibentuk dengan teknologi besar. Tertib sosial masyarakat ditandai dengan dua ciri utama: (i) keinginan akan benda-benda, suatu cara mengumpulkan uang dan kekuasan atas orang lain, dan (ii) mempercepat putaran waktu dan ritme perubahan sosial.
Peradaban Amerika yang berpangkal dari era penjajahan, kemudian pada abad dua puluh berkembang menjadi masyarakat industri maju. Selama dua ratus tahunan lebih masyarakat dan peradaban Amerika mengalami drama hidup yang bergelora, meliputi berbagai segi kemasyarakatan berupa:
1.     Pertma, timbul sikap dan konsep-konsep perekonomian berupa peningkatan perdaganan yang mempengaruhi kehiduan sosial dan politik. Penemuan dan penggunaan uang sebagai ukuran kesempurnaan hidup dan sebagai sumber kekuasaan atas manusia. Standardisasi mesin dan  spesialisasi pekerjaan menghasilkan produksi massal. Pengumpulan modal berperanan dalam pengarahan pemerintahan.
2.     Kedua, timbul konsep-konsep politik seperti demokrasi, kesamaan drajat individu, hak-hak azasi individu, pemerintah yang repsentatip, dan perintah yang disepakati oleh orang yang diperintahkan.
3.     Ketiga, peningkatan penerapan konsep-konsep intelektual, seperti setia pada setiap fakta, memper-cepat perubahan, hukum sebab-akibat, analisis, pengukuran eksak, pengurangan kesalahan, klasifikasi hasil pengamatan dan penemuan hal-hal yang ajeg, hukum-hukum keilmuan, penerapan formula, dan penerapan semua kaidah dalam menambah ketetapan alat untuk mempetinggi produksi dan distribusi barang dan jasa.
4.     Keempat, penerapan konsep-konsep moral seperti rajin, berdisiplin, keseriaan pada kelompok sendiri, lembaga, dan pemerintah. Bila idea-idea ini makin mudah dilakukan maka jalan menuju ke arah teknologi besar akan tercpai. Dengan teknik dan aplikasi ilmu pengetahuan induktif, pandangan politik dan ekonomi Puritan, maka rakyat Amerika membentuk model pemerintahan yang monumental.

Pada saat Amerika memenangkan revolusi kemerdekaannya, maka rakyat Amerika Serikat melakukan perbaikan hidup bermasya-rakat secara pragmatis. Rakyat dan negara melakukan usaha rekonstruksi masyarakat dengan membuat dan melaksankan program  rekonsttuksi ekonomi, sosial, politik, dan pendidikan menuju masyarakt industri berteknologi modern. Rekonstruksi masyarakat Amerika memperhitungkan keinginan dan cita-cita, reaksi, sikap, perilaku individual dan kelompok-kelompok sosial.
Rekonstruksi masyarakat Amerika terjalin erat dalam program jangka panjang rekonstruksi pendidikan, suatu rekonstruksi pendidikan menuju teknologi besar dalam kehidupan ekonomi. Rekonstruksi pendidikan Amerika tercermin pada perubahan lembaga dan struktur pendidikan yang eliptis, dan dibentuknya public school untuk untuk seluruh rakyat Amerika Serikat.
Gerakan public school ini meliputi sekolah dasar, menengah, dan tinggi, dengan tidak membedakan jenis kelamin, warna kulit, lapisan sosial, dan agama. Public school  adalah jenis suatu percobaan, dan penemuan, seperti pendapat Horace Mann (1976) bahwa The Common School is the greatest discovery ever made by man. Our school, with all their dericiences, constitute one of the glories or our Republic.
Sekolah di Amerika Serikat, khususnya public school,  dijadikan sarana merekonstruksi masyarakat, disamping sarana-sarana dan lembaga-lembaga lain. ilmu pengetahuan dikembangkan oleh masya-rakat ilmiah dengan bekerja sama dengan masyarakat industri, dan  lain fihak, sekolah melakukan pendidikan kepribadian, pendidikan socio-civics, dan pendidikan intelektual. Sekolah berjasa dalam hal menyebarkan ilmu pengetahuan, dan secara tidak langsung men-dorong timbulnya sikap-sikap positif yang menggelorakan semangat untuk merekonstruksi masyarakat Amerika.
Kalangan masyarakat Amerika serikat yang tradisional, pra-industri tumbuh menjadi masyarakat indurstri secara bertaha, dalam arti sesuai tahap-tahap rekonstruksi dibidang pemerintahan, polotik, dan ekonomi. Masyarakat Amerika Serikat yang berkembang menjadi masyarakat industri tidak hanya memerlukan dukungan sekolah-sekolah, tetapi juga  lebih membutuhkan ilmu pengetahuan. Ilmu-ilmu sosial di Amerika Serikat juga berkembang sejalan dengan tantangan-tantangan yang terjadi dalam usaha merekonstruksi masyarakat Amerika.
Menurut L.L Bernard perkembangan ilmu-ilmu sosial di Amerika serikat  dapat dibedakan menjaditiga periode, yaitu (i) periode pembentukan sebelum tahun 1860, (ii) periode perkembangan dan diferensiasi dari tahun 1865 sampai 1900-an, dan (iii) periode kematanan dan sitesis, terutama sesudah tahun 1900. Sejak tahun 19000 terdapat kecenderungan-kecenderungan baru di bidang perkembangan ilmu-ilmu sosial. eksperimentasi di bidang metode penelitian, pilihan metode penelitian, diskusi tentang metode penelitian, latihan-latihan profesional bidang ilmu-ilmu sosial dipergiat dan diperluas oleh masyarakat ilmuwan sosial. usaha-usaha sintesis berkat penemuan-penemuan penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial sering dilakukan, sehingga ilmu-ilmu sosial menjadi otonom.
Registrasi suatu mata pelajaran pada suatu kurikulum erat hubungan dengan kebutuhan masyarakat. Perubahan kurikulum sekolah berhubungan denga perubahan-perubahan yang terjadi pada konteks sejarah dan perkembangan sosial suatu masyarakat. Bila disimak secara seksama, perkembangan kurikulum ilmu-ilmu sosial di Amerika melukiskan perubahan kebutuhan utama masyarakat, yang menekankan pentingnya suatu dalam suatu periode tertentu, dengan isi kurikulum.
Isi kurikulum dan organisasi kurikulum berbeda-beda pada periode yang satu dengan yang lain. pembelajaran ilmu-ilmu sosial seerti sejarah geografi, dan good behavior  (perilaku yang baik) timbul sejak periode nasional. Pada periode nasional yang diutamakan adalah soal politik, dan hal ini menunjuka perubahan orientasi, dari kepentingan politik nasional. Sebagai ilustrasin pembelajaran sejarah, berorientasi pada sejarah Amerika Serikat.
Demikian halnya dengan pembelajaran geografi adalah geografi Amerika Serikat bukan geografi Eropa. Perubahan orientasi tampak menyolok pada bidang studi perilaku yang baik, good behavior. Yang dimaksudkan dengan perilaku yang baik berarti baik bagi Amerika Serikat, yangberbeda dengan baik bagi negara Inggris, Perancis, atau yang lain. Good behavior,  sejarah, geografi merupakan pembelajaran ilmu-ilmu sosial yang dapat ditemukan pada kurikulum sekolah di negara manapun.
Eksistensi sekolah umum (public school) dalam hal ini sekolah dasar Amerika Serikat mengajarkan sejarah, geografi, dan good behavior berorientasi kepentingan Amerika Serikat yangberbeda dengan kepentingan warga negara lain. Nama good behavior sebagai nama mata pelajaran  di sekolah sudah menunjukan adanya kepentingan nasional Amerika Serikat.
Ilmu-ilmu sosial memang mempelajari masyarakat dalam arti umum, tetapi pembelajaran ilmu-ilmu sosial di suatu  sekolah di negara tertentu sudah barang tentu akan mengutamakan masyarakat bangsanya, walaupun di kemudian hari juga akan mengajarkan pengetahuan masyarakat bangasa lain. dengan kata lian berbeda dengan mata-mata pelajaran matematika, kimia,biologi, fisika, yang mengutamakan materi pengetahuan umum di dunia, maka mata-mata pelajaran ilmu-ilmu sosial lebih mengutaman pengetahuan masyarakat bangsa sendiri. Ilmu-ilmu sosial merupakan salah satu isi kurikulum sekilah. Perkembangan pembelajaran ilmu-ilmu sosial tidak terpisah dari perkembangan  pengetuahuan-pengetahuan lain sebgai isi kurikulum, dan pengetahuan kurikulum itu sendiri.
Perkembangan social studies misalnya hampir bersamaan waktunya dengan lahirnya filsafat pendidikan tahun 1916, lahirnya bidang studi kurikulum pada tahun 1918, dan gerakan penelitian pembelajaran tahun 1920-an.
Analisis tentang pembelajaran ilmu-ilmu sosial di sekolah-sekolah di Amerika Serikat sejak awal pertumbuhan social studies (IPS) sampai tahunh 1980-an mengungkapkan adanya perubahan konsep IPS, suatu perubahan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu-ilmu sosial. secara khronologis perkembangan pembelajaran ilmu-ilmu sosial di Amerika Serikat sebagai berikut: (i) pembelajaran social studies (IPS) gaya lama, 1916-1930-an, (ii) pembelajaran IPS progresivisme, 1930-1950, (iii) social science education (pembelajaran keilmuan ilmu-ilmu sosial), sejak tahun 1960-an, dalam periode pasca Sputnik, yang populer sejak tahun 1970-an sampai sekarang. Kegiatan pembelajaran merupakan hal kompleks, artinya meliputi wawasan keilmuan, penelitian keilmuan dan pembelajaran, bahan dan setukur pengetahuan, metode mengajar, media dan evaluasi pembelajaran.
Pembelajaran IPS gaya lama, 1916-1930-an. Pembelajaran IPS atau social studies  di Amerika Serikat bermula dai pembelajaran sejarah, geogradi, dan good behavior  yang berlangsung selama periode 1776-1876. Pembelajaran good behavior kemudian menjadi civics pada tahun 11796-an. Pada periode nasional 1776-1876 tersebut yang diutamakan adalah kepentingan politik Amerika Serikat, danilmu-ilmu sosial di Amerika Serikat sedang menuju otonomi keilmuan.
Masyarakat industri merasakan kelemahan-kelelamahan pembelajaran yang dilakukan. Kedatangan emigrant ke Amerika Serikat terus meningkat. Padda awal abad dua puluh imigran bangsa Slavia (Eropa Timur), bangsa-bangsa latin (Eropa Selatan), orang-orang Negro dan bangsa-bangsa lain yang bertambah terus jumlah bangsa-bangsa dari Eropa, dan jumlah dapat mengganggu perkembangan peradaban Anglo Saxon. Selama perang dunia pertama masyarakat Amerika Serikat.
Mata pelajaran sejarah dianggap tidak mampu mencapai tujuan nasional Amerika Serikat. Oleh karena itu Edgar B. Wesly, perintis pembelajaran social studies, mengusulkan perlunya penggabungan mata pelajaran sejarah, geografi, dan civics menjadi mata pelajaran IPS (social studies) pada tahun 1916-an. Edgar B. Wesley merumuskan batasan social studies (IPS) sebagai berikut: “The social studes are the social sciences simplified for pendagogical purposes.  ...... in school the social studies usually consist of geography, history, economic, sociology, and civics, and various combination of these subjects”.
Sejalan dengan pendapat Wesley tersebut, maka National Council for Social Studies merekomendasikan definisi social studies (PIPS) sebagai berikut:
The social studies are concernd with human relationships. Their content is derived principally from the scholarly disciplines of economic, geography, history, political science, and sociology, and includes elements from other social sciences, among them social studies imlies no paticular from of currifulair organization. Its is applicable to curricula in which each course is derived for the most part from a single discipline as well as to curricula in which courses combine materials from several disciplines.

Dilihat dari dimensi konseptual kedua rumusan tersebut serupa. Social studies (IPS) merupakan penjumlahan dari bahan pengetahuan yang berasal dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendagogis. Disamping itu pembelajaran IPS tidak terkait dengan organisasi kurikulum tertentu, artinya IPS berada pada kurikulum yang manapun. Pengajran IPS dapat mengambil bahan pengetahuan yan bagian besar berasal dari cabang yang lain, atau bahan pengetahuan yang berasal dari gabungan berbagai cabang ilmu sosial.
Awal pertumbuhan IPS sebagai bidang studi baru, bidang studi kurikulum juga baru mulai menjadi bidang studi akademis. Pelaksanaan pembelajaran IPS gaya lama sejalan dengan kemajuan pendekatan menajar, metode dan teknik mengajar, pandangan tentang media pembelajaran, dan kemajuan evaluasi pegajaran. Masyarakat Amerika Serikat merasa berkepentingan untuk memajukan pembelajaran di sekolahnya. Oleh karena itu berbagai percobaan dibidang pembelajaran dilakukan.
Di Amerika Serikat terdapat dua kelompok ahli yang mempunyai pengaruh dominan pada pertumbuhan kurikulum. Pengaruh kedua kelompok ahli tersebut silih berganti sejak lahirnya bidang studi kurikulum tahun 1918 sampai sekarang. Kelompok ahli tersebut terkenal sebagai kelompok kaum progresif dan kelompok bussiness-efficienty. Kaum progresif muali berpengaruh sejak tahun 1918, yang kemudian pengaruhnya surut pada tahun 1956-an.
Tampilnya kaum progresif menyebarluaskan kurikulum tipe core yang mengganti separate subject curriculum. Surutnya pengaruh kaum progresif dan tampilnya kelompok business-effecienciy menimbulkan perubahan kurikulum kelompok business-effecienciy mengembangkan  discipline-centered curriculum pada tahun-tahun pasca Sputnik.
Kurikulum yang discipline centered mendapatkan kecaman dari berbagai ahli. Sementara ahli mengemukakan bahwa kurikulum discipline centered tidak relevan dan kurang manusiawi, dan kemudian kelomlpok bussiniss-efficiency mulai susrut sejak tahun 1970-an. Lahirlah gerakan humanisme di bidang kurikulum yang melanjutkan ajaran kaum progresif pad tahun 19700-an. Sementara itu semngat nasional Amerika Serikat bangkit kembali,dan refotmasi sosial Amerika Serikat secara terprogram dilaksankan oleh berbagai kelompok sosial.
Semangat nasional dalam melakukan reformasi sosial tersebut pada tahun 1970-an dapat membangkitkan semangat kelompok bussiness-efficiency untuk melakukan perbaikan-perbaikan kurikulum seperti semula. Pengaruh kelompok business-effecienciy dibidang kurikulum setelah tahun 1970 masih menonjol. Pengaruh tersebut berupa pemberian tekanan penting pada tujuan perilaku, accountability, national assessment, performance contracting dan kurikulum berorientasi perilaku. Demikianlah kedua kelompok ahli kurikulum tersebut berkompetisi dalam usaha memperbaiki pembelajaran sejak tahun 1918 sampai sekarang.

3. Pembelajaran IPS yang Progresivistis
Tahun 1918 di Amerika Serikat didirikan suatu perkumpulan pendidikan yang diberinama Progresive Education Association. Kelompok progressivisme ini ditopang oleh pragmatisme dan menan-tang sistem pendidikan yang otoriter dan absolut. Progressivisme berpandangan bahwa: 
1.     pendidikan bersifat aktif dan dikaitkan dengan minat anak serta kebutuhan anak,
2.     pendidikan merupakan usaha membudayakan hidup dan bukan hanya mempersiapkan utntuk dapat hidup,
3.     anak didik harus memperoleh latihan-latihan memecahkan masalah atas dikemudian hari dapt memecahkan persoalan pribadinya,
4.     pendidikan harus dilaksanakan dalam suasana  yang benar-benar demokratis,
5.     peranan pembelajar pendidik adalah membimbing dan memberi nasehat kepada anak didik untuk memecahkan persoalan,
6.     sekolah merupakan tempat berlatih bekerja sama dengan orang lain bukan tempat untuk bersaing.
Progesivisian memandang kurikulum sebagai program eksperimental, artinya mata pelajaran-matapelajaran adalah pengalam-an yang edukatif. Sekolah yang baik adalah sekolah yang menyelenggarakan bermacam-mcam pengalam belajar sehingga pebelajar dapat tumbuh dengan baik, kemudian mampu memecahkan masalah hidup. Oleh karena itu kurikulum harus meyediakan mata pelajaran yang sesuai dengan minat pebelajar, kebutuhan pebelajar, masyarakat dan kebudayaan setempat. Tradisi pembelajaran yang berpusat pada bahan pembelajaran atau disiplin diganti dengan organisasi content dan activity yang disebut pengalaman pebelajar.
Pembelajaran IPS diorganisasikan sebagai “suatu bidang kehidupan”, “situasi hidup yang berkesinambungan”, dan sebagai “pusat minat” pebelajar. Tipe pembelajaran IPS yang terkenal berupa kegiatan pembelajaran terpadu, di mana batas-batas mata pelajaran diterobos, dan pebelajar bersama pembelajar mempebelajari banyaknya bidang dalam rangka belajar dalam unit-unit yang mengintegrasikan topok atau masalah.
Pembelajaran IPS, melihat hakikatnya, merupakan pembelajaran ilmu sosial yang berperan utama dalam pendidikan umum. Berbeda dengan IPS gaya lama yang berusaha menggabungkan bebagai pembelajaran ilmu-ilmu sosial, maka pembelajaran IPS progressivisme melakukan fusi, atau integrasi berbagai cabang ilmu sosial menjadi unit-unit, bidang kehidupan, situasi hidup bersinambungan, ataupun pusat minat. Pembelajaran IPS progressive ini berpengaruh dominan pada tahun-tahun 1929-1956-an.

4. Pembelajaran Ilmu Sosial: 1970-1980-an
Setelah perang dunia kedua tataran masyarakat dunia mengalami perubahan besar-besaran, dalam arti masyarakat bangsa-bangsa terjajah yang telah menjadi negara merdeka, dan negara-negara maju di Eropa tetap berkompetisi menjadi kekuatan dunia yang dominan. Terjadilah perlombaan kekuasaan antra blok barat dan blok timur, dan sementara itu timbul kekuatan dunia ketiga.
Peluncuran Sputnik Rusia tahun 1957 merupakan babak baru perlombaan ruang angkasa. Keterbelakangan  peluncuran Sputnik menterkejutkan negara bangsa Amerika Serikat, dan masyarakat Amerika Serikat mempersoalkan sistem pendidikannya. Usaha perbaikan sistem pembelajaran dilakukan termasuk perbaikan kurikulum. Mata-mata pelajaran matematika, fisika, kimia, biologi, kemudian bahasa dan IPS diperbaiki kembali.
Ahli-ahli ilmu sosial memandang interaksi masusia sebagai realitas sosial menurut perspektif yang berbeda-beda. Oleh karena itu, menurut pandangan Bruce R. Joce, ahli ilmu sosial harus membantu pebelajar agar dapat melihat kehidupan manusia di dalam berbagai perspektif. Ahli ilmu sosial harus menunjukan bagaimana menggunakan pandangan ilmu sosial untuk memahami hidup seseorang di masyarakat dalam hubungannya dengan kehadiaran orang lain di masyarakat.
Pembelajaran IPS memikul tugas baru, oleh karena itu pembelajaran IPS (social studies) sebaiknya diubah menjadi social science education (pembelajaran ilmu sosial berorientasi keilmuan). Tugas baru IPS terkandung dalam istilah social science education. Menurut Bruce Joyce, dengan istilah social science education yang dimaksudkan sebagai,
The term elementary social science education ... actually expressed the relief that a child best learn a subject discipline by pusuing that discipline in the manner ot a scholar...The tactics ot the social science are taught to the child precisely because they are best tools we have found for helping him comprehend his life and face his problems.

Melalui social science education pembelajar IPS memandang bahwa pebelajar perlu belajar meniru perilaku sarjana ilmu sosial yang mempebelajari masyarakat. Cara belajar pebelajar perlu diubah seperti halnya ahli sosial mempebelajari masyarakat. Hanya dengan mempebelajari berbagai metode dan teknik ilmu sosial seorng pebelajar mampu mengerti kehidupannya dan dapat mengatasi masalah hidupnya sendiri di dalam masyarakat.
Pandangan Bruce R. Joyce tersebut sejajar dengan pandangan Milton E. Ploghoft dan Alber H. Shuster. Kedua ahli tersebut berpendapat bahwa social science education bermaksud untuk mempebelajari secara rasional atau secar ilmiah aspek-aspek sosial dari kondisi manusia.
Social science education terutama berkenaan dengan pendidikan anak dan generasi muda bangsa dengan kerangka tujuan bahwa informasi dan keterampilan akan menghasilkan perilaku efektif untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang kompleks di masyarakat, negara, dan dunia. Oleh karena itu Ploghoft dan Shuster berpendapat bahwa
Social science education is a rational endeavor, hence attention must be given to the kind of behavior that is anticipated as an outcome ot the learning experiences planned for children............ Social science education is concerned with social need and problems now and in the future.

Ploghuft dan Sluster mengemukakan bahwa social science education adalah usaha secara rasional mendidik pebelajar atar mampu mempebelajari masalah-masalah bangsa, negara dan dunia yang kompleks pada saat ini dan masa yang akan datang. Pendapat kedua ahli tersebut telah tercermin dalam pandangan Samuel P. McCutchen yang dikemukakan di dalam sidang National Council for the Scoial Studies bulan November1962. McCuthen berpendapat bahwa penajaran IPS (social studies) sebagai suatu disiplin yang menggabungkan bermacam-macam bahan ilmu-ilmu sosial yang bersama-sama menjadi “bidang khusus dengan integritasnya sendiri”. Menyangkut disiplin baru tersebut McCuthen mengemukakan
If we becom aware of our discipline and of our disciplenship, we need not further suffer under such apologies as “history and the social science” or “interdisciplinary”. Ours are the proud task of (1) patriotism, (2) Western culture, (3) the contemporary world, and (4) rational inquiry.

Social science education  sebagai suatu bidang tunggal yang terintegrasi, sebagai hasil pengaruh kurikulum berorientasi disiplin, merupakan suatu disiplin baru. Disiplin baru tersebut berkenaan dengan pembelajaran ilmu-ilmu sosial berorientasi pada patriotisme, kebudayaan Barat, dunia dewasa ini, serta penelitian rasional. Dengan kata lain social science education  merupakan pembelajaran IPS yang tidak hanya bersifat interdisiplinair, tetapi sudah merupakan suatu disiplin baru. social science education  adalah pembelajaran IPS atau pembelajaran ilmu-ilmu sosial yang bersifat keilmuan. Pebelajar yang belajar IPS serupa dengan ahli ilmu sosial yang mempebelajari masyarakat.

5. Pembelajaran IPS Revolutif

Ilmu-ilmu sosial dapat berkembang berkat adanya penelitian-penelitian tentang masyarakat, dan bahan pengetahuan ilmu sosial tersebut bermanfaat bagi sosial. Pembelajaran ilmu sosial pada gilirannya merupakan bagian integral sistem pengetahuan disiplin ilmu-ilmu sosial. pembelajaran ilmu-ilmu sosial tidak lain adalah eksplanasi hasil penelitian ilmu-ilmu sosial.
Sejak Kongres Amerika Serikat mengesahkan undang-undang penelitian tahun 1954 kegiatan penelitian ilmiah dan penelitian pembelajaran di berbagai jenjang sekolah dipertgiat. Penelitian di bidang ilmu-ilmu juga mengalami kemajuan dan kecenderungan baru. Perbaikan metode dan teknik penelitian ilmu-ilmu sosial berpengaruh pada penelitian di bidang pembelajaran ilmu-ilmu sosial. Dominasi epistemologi psotivistis di bidang penelitian semakin lemah dan epistemologi interpretif, dan intergal makinkuat. Ilmu-ilmu sosial dikembangkan dengan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Realitas sosial yang memang hukum perilaku yang bersifat deskriptif, tetapi juga mengungkapkan hal-hal normatif dan manusiawi yang tidak deterministis. Pembelajaran ilmu-ilmu sosial tidak hanya memerlukan pendekatan inkuiri tetapi juga pendekatan humanistis.
Kelompok ahli kurikulum mengeritik kelemahan-kelemahan social science education dan lahirlah New Social Studies  atau IPS gaya baru. Bernes dan Brgdorf berpendapat bahwa da perbedaan tanggung jawab antara ilmuwan IS dengan pembelajar IPS tentang apa yang dipelajari pebelajar. Ilmuawan IS harus memperlengkap diri dengan pendekatan-pendekatan baru untuk memahami masyarakat yang makin kompleks dan berubah sangat cepat.
Penemuan penelitian tersebut harus disampaikan kepada pebelajar agar pebelajar dapat memecahkan masalahnya sekarang dan pada masa yang akan datang. Sebaliknya pembelajar IPS harus membuat keputusan dasar tentang pembelajaran IPS yang berisi objective, teknik-teknik pemecahan masalah sehubungan dengan masyarakat yang berubah sangat cepat. Pembelajar IPS menghadapi dillemma dalam usahanya mensintesekan unsur-unsur dari berbagai disiplin menjadi program terpadu dengan urutan, kesinambungan dan arah yang baru. Theodore Kaltsounis mengemukakan bahwa sejak tahun 1960 pembelajaran IPS berada di dalam posisi sulit dimasyarakat Amerika. Pembelajaran IPS berubah, tidak menyimpang dari pendekatan konsep tual, tetapi mengarah pada pembelajaran untuk mengambil keputusan.
Social studies  bergerak menjadi new social studies. Pengambilan keputusan mempersyaratkan banyak kecakapan. Pendidikan kewarganegaraan keharusan kebudayaan, dan pengambilan keputusan, kesemuanya mempersyaratkan keterlibatan penalaran individu. Dengan demikian  program pengjaran IPS yang berorientasi pada pengambilan keputsan merupakan program patriotik yang sebenarnya.
Pemikiran sistematis diperluakan dalam rangka pngambilan keputusan seseorang. IPS gaya baru adalah kerangka pemikiran sistematis tentang pembelajaran ilmu-ilmu sosial yang berinterdisiplim, dan berorientasi pada semua nilai kebudayaan dan nilai kemanusiaan. Apabila pembelajaran IPS di Amerika Serikat sejak tahun 1916 sampai tahun 1070/80-an dipelajari, maka dapat dikemukan beberapa kesimpulan penting tentang hal tersebut, yaitu:
1.     Pembelajaran IPS timbul sebagai pemecahan tentang kebutuhan integrasi negara bangsa Amerika Serikat yang berusaha memelihara identitas kebudayaan anglo saxon, dan kelestarian hidup negara bangsa Amerika Serikat pada abad ruang angkasa.
2.     Pembelajaran IPS merupakan perbaikan pembelajaran ilmu sosial yang terpisah-pisah, seperti sejarah, geografi, good behavior, pada awal kemerdekaan Amerika Serikat dan berorientasi pada kepentingan negara Amerika Serikat dan berorientasi pada kepentingan negara Amerika Serikat.
3.     Pembelajaran IPS mengalami pergeserran konseptual sejalan dengan penelitian ilmu-ilmu sosial dan penelitian pembelajaran. Pada awal pertumbuhannya (1916-1930) IPS gaya lama dirumuskan sebagai “the soxial studies are the social sciences simplified for pedagogical perposes”. Pergeseran konsep berkisar pada  “.... are (sic) social sciences....” dan “pendagogical puposes”. Tekanan diletakan sebgai jumlah (jamak) ilmu-ilmu sosial, atau fusi bahkan interasi (tunggal), atau justru menjadi disiplin tersendiri. Tujuan pendidikan (pendagogical perposes) IPS meliputi tiga segi yang tak terpisah-pisah, yaitu humanistic education, socio-civic dan intellectual eduction. IPS progressivisme (1930-1956-an) menekankan fusi bahkan integrasi ilmu-ilmu sosial serta socio-civics. Social science education pasca sputnik menekankan IPS sebagai disiplin tersendiri, dan pendidikan intelektual dengan pendekatan inkuiri. IPS gaya baru menekankan pendidikan humanistik, meletakan pendekatan inkuiri dalam hubungannya dengan nilai-nilai kebudayaan dan kemanusiaan. (sejak tahun 1970-an).
4.     Perkembagan pembelajaran IPS tidak terpisahkan dari perkembangan bidang studi lain ataupun komponen-komponen sistem pembelajaran lain, seperti bidang kurikulum (1918), teori berlajar (1930), pandangan ilmu perilaku tentang media pembelajaran (1950), pendekatan penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial (pasca sputnik).
5.     Secara analitis tipe-tipe IPS di Amerika Serikat sejak 1916 sampai tahun 1980-an dapat dilukiskan pada Bagan 5.02.

6. Perkembangan Pembelajaran Ilmu-ilmu Sosial di Indonesia
Secara geografis Indonesia terletak diantara garis 950 B.T. dan 1410 L.U. dan 110 L.S. Panjang bentangan wilayah dari barat ke timur sepanjang 5.110 km, dan dari utara ke selatan 1,888 km. Indonesia terdiri dari 13.667 pulau, di antaranya baru 6.044 pulau yang telah bernama. Luas wilayah dapat dihuni ada 1.849.731 km2. Analisis berdasarkan ciri bahasa, adat dan agama dikemukakan bahwa pendduduk Indonesia dewasa ini terdiri dari 366 satuan suku bangsa, 106 sub-satuan suku bangsa, dengan bahasa, susunan masyarakat, kebudayaan, dan agama yang berbeda-beda.
Secara historis dapat dikemukakan bahwa masyarakat dan kebudayaan Indonesia bermula sejak hadirnya manusia purba seperti Homo Wajakensis sekitar 40.000 tahun yang lalu. Letak indonesia di jalur lintasan internasional mengakibatkan kebudayaan Indonesia tidak terlepas dari kemajuan kebudayaan dunia. Masyarakat Indonesia selalu bergumul dengan bermacam-macam pengaruh kebudayaan asing. Pasang surut pergumulan pengaruh kebudyaan tersebut tercermin pada timbul dan tenggelamnya begara-negara lokal di nusantara. Hampir dapat dikatakan bahwa selama sembilan belas abad sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, masyarakat Indonesia telah berakulturasi dengan kebudayaan asing, dan sekaligus mengaktualisasi keindonesiaan. Oleh karena itu berbagai unsur kebudayaan nusantara seperti kesenian, macam-macam alat, pengetahuan pra-ilmu, teknologi sederhana, bahasa lokal, dan agama asli dapat ditemukan di seluruh nusantara. Perdagangan internasional dan perpindahan bangsa-bangsa terjadi di Asia, Eropa, Afrika, kemudian Amerika dan Australia.
Adanya perpindahan penduduk dunia tersebut menyebabkan terjadinya persebaran kebudayaan. Secara bergelombang beberapa kebudayaanseperti kebudayaan Hindu, Islam, Kristen dan Barat masuk dalam memperkenalkan bahasa, adat-istiadat, tata kemasyarakatan, dan agama, maka kebudayaan barat (Eropa) memperkenalkan unsur yang lain juga. Kebudayaan eropa memperkenalkan filsafat, ideologi, sistem-sistem persekolahan, sistem pengetahuan dan teknologi. Sistem persekolahan, ilmu pengetahuan, sistem ekonomi dan politik Eropa bertahan tidak langsung, perekonomian dulitstis, sistem pembelajaran dualistis berlangsung selama pemerintahan Hindia Belanda.
Sistem persekolahn dan ilmu pegnetahuan pada masyarakat Eropa berhasil mendorong kecepatan perubahan masyarakat tradisional menjadi masyarakat industri sejak abad tujuh belas. Sistem persekolahan dan ilmu pengetahuan dalam masa pemerintahan Hindia Belanda menghasilkan masyarakat yang dualistis. Masyarakat yang desintegrasi dan kebudayaan yang statis tersebut ditemukan pada akhir pemerintahan Hindia belanda, bahkan jug masih ditemukan pada pasca kemerdekaan. Seperti kategoris kebudayaan Indonesia pasca kemerdekaan masih berada pada tahap mistis dan ontologis. Sistem sekolah telah diadaptasi oleh masyarakat Indonesia selama 450 tahunan terhitung sejak Portugis membuka sekolah di Ternate tahun 1538.
Hadirnya sistem sekolah Barat berarti persebaran ilmu pengetahuan, bahasa asing dan bahasa keilmuan, perilaku semakin sistematis dan intensir. Pembelajaran ilmu-ilmu sosial seperti geografi, sejarah, pengetahuan dagang dibelajarkan di sekolah rendah dan menengah dengan orientasi kepentingan negeri Belanda. Pembelajaran ilmu-ilmu sosial di sekolah-sekolah pada jaman Hindia Belanda berada dalam dilemma.
Apabila pembelajaran ilmu pengetahuan alam di sekolah-sekolah Eropa abad XVII mendorong percepatan terbentuknya masyarakat industri Eropa yang kemudian menjadi negara merdeka dan maju, maka pembelajaran sejarah, geografi, perdagangan dalam rangka sistem pembelajaran dulistis berorientasi pada kepentingan negara Belanda. Hal tersebut tampak pada konflik kepentingan negara pendidikan berupa (i) terbitnya Ordonansi Sekolah liar tahun 1932, tanggal 19 September 1932, dan (ii) polemik tentang bahasa pengantar pendidikan di sekolah-sekolah antara ahli-ahli pendidikan Belanda seperti Nieuwenhuis, Berg,  P.Post, De la Court, M. Vastenhouw dan pemerintah Hindia Belanda yang tanpa keputusan.
Terbitnya Ordonansi Sekolah Liar tahun 1932 justru mempersatukan pergerakan pendidikan dengan terbentuknya Komite Penyokong Perpembelajaran Indonesia  tahun 1933. Kaum pergerakan pendidikan kemudian menyelenggarakan Kongres Pendidikan Nasional Indonesia tahun 1935 dengan tujuan (i) merumuskan maksud pendidikan dan pembelajaran nasional, dan (ii) mencarai berntuk sekolah dan isi pembelajaran. Diantara rumusan adalah bahwa bentuk sekolah dan isi pembelajaran. Diantara rumusan adalah bahwa (i) dasar pendidikan adalah kebudayaan nasional, (ii) isi pendidikan dan pembelajaran adalah kebudayaan nasional, pendidikan agama, bahasa Indonesia (bahasa Melayu, geografi Indonesia, sejarah Indonesia, dan pekerjaan tangan). Secara historis diketahui bahwa pembelajaran ilmu sosial di sekolah dasar dan menengah jaman Hindia Belanda ada di dalam dilemma.
Pembelajaran geografi, sejarah dan cabang ilmu sosial lain pada umunya menggunakan pendekatan meluas, artinya berpangkal dari lingkup terdekat ke yang terjauh. Dengan pendekatan tersebut berarti akan membangkitkan bangsa Indonesia, walaupun secara pendagogis memang releven. Dalam praktek pembelajaran geografi dansejarah berfokus negeri Belanda, akibatnya si pebelajar menjadi terasing dari lingkungannya sendiri.
Sebaliknya kaum pergerakan pendidikan telah memilih pendidikan agama, kebudayaan Indonesia, geografi Indonesia, sejarah Indonesia, bahasa Indonesia sebagai isi pendidikan dan pembelajaran. Hal ini berarti bahwa isi pembelajaran ilmu-ilmu sosial telah mulai dibakukan oleh kaum pergerakan pendidikan Indonesia sejak tahun 1935. Kedudukan pembelajaran ilmu-ilmu sosial pasca kemerdekaan talah bergeserj walaupun belum sepenuhnya keluar dari dilemma.
Pembelajaran ilmu-ilmu sosial  seperti sejarah Indonesia, geografi Indonesia, ekonomi, civics, sosiologi, antropologi diajarakan di sekolah dan perpembelajaran tinggi dengan proporsi berbeda sesuai jenjang sekolah. Pembelajaran ilmu-ilmu sosial di sekolah mengalami kemajuan yang sejalan dengan wawasan pendidikan yang digunakan. Sedangkan ilmu-ilmu sosial di perpembelajaran tinggi dipelajari secara keilmuan, khususnya di fakultas atau jurusan yang memusatkan studi pada cabang ilu sosial tertentu. Dilemma pembelajaran ilmu-ilmu sosial terkait pada kedudukan ilmu-ilmu sosial dalam konteks perkembangan keilmuan di masyarakat Indonesia.
Ilmu pengetahuan secara sosiologi adalah hal yang telah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Telah diketahui bahwa masyarakat suku-suku bangsa di nusantara memiliki pengetahuan pra-ilmu tentang kundisi alam, manusia peroranga ataupun masyarakat, di seamping agama-agama lokal. Berkenaan dengan persebaran lembaga sekolah di seluruh nusantara, secara sosiologis dan psikologis bertemulah jenis pengetahuan “pengetahuan kemasyarakatan pra-ilmu”.
Ilmu-ilmu sosial  dalam arti modern, wawasan-wawasan tentang masyarakat berdasarkan pemikiran religious. Pengetahuan kemasyara-katan pra-ilmu pada umunya masih hidup dan berlaku dalam masyarakat lokal, wawasan religious tentang masyarakat berkembang sesuai dengan perkembangan agama di Indonesia. Dilemma pembelajaran ilmu-ilmu sosial tersebut berupa pergeseran dari berfikir pra-ilmu tentang masyarakat. Dilemma pemikiran ilmu-ilmu sosial ini akan diuraikan lebih lanjut pada bab metode mengajar ilmu-ilmu sosial. Perkembangan pembelajaran ilmu-ilmu sosial pada masa setelah kemerdekaan adalah:
1.     Pembelajaran ilmu-ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, civics dibelajarkan di sekolah dasar, sedangkan ekonomi, sosiologi, dan antropologi dibelajarkan di sekolah lanjutan. Pengjaran ilmu-ilmu sosial ini telah berlangsung sejak awal kemerdekaan Indonesia.
2.     Secara kurikuler pembelajaran ilmu-ilmu sosial tergabung dalam kurikulum sekolah tahun 1947, kurikulum berpusat mata pada pelajaran terurai tahun 1952, kurikulum tahun 1964, kurikulum 1968, kurikulum 1975, dan kurikulum disempurnakan tahun 1984.
3.     Secara kategoris wawasan pembelajaran IPS, pembelajaran ilmu-ilmu sosial di sekolah dasar dan lanjutan sejak tahun 1945 sampai sekarang, dapat dibedakan menjadi jenis IPS sebagai berikut :
1.     Wawasan pembelajaran IPS yang menganut konsep “the social studies are the social sciences simplified for pendagogical purpose”. Pembelajaran IPS dipandang sebagai pembelajaran ilmu sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Konsep pembelajaran ini berlaku pada kurikulum SD dan sekolah lanjutan tahun 1945-1964. Sehingga pada kurikulum ditemukan mata pelajaran sejarah, geografi, civics, kooperasi secara terpisah-pisah. Sedangakan di sekolah lanjutan ditemukan mata pelajaran ekonomi, sosiologi, dan antrapologi.
2.     Wawasan pembelajaran IPS yang menganut konsep “pembelajaran IPS sebagai korelasi dari mata pelajaran ilmu-ilmu sosial”. pada kurikulum 1964 ditemukan adanya mata pelajaran pendidikan kemasyarakatan yangmengkorelasikan ilmu bumi, sejarah dan kewarganegaraan negara (civics). Di samping mata pelalajarn pendidikan kemasyarakatan tersebut, ditemukan juga kelompok keprigelan berupa mata pelajaran kooperasi dan tabungan.
3.     Padakurikulum 1968 terjadi perubahan pengelompokan mata pelajran sebagai akibat perubahan orientasi pedidikan. Mka perlajran di sekolah dibedakan menjadi kelompok-kelompok pembinaan kecakapa khusu. Mata pelarajan pendidikan kemasyarakatan (kurikulum 1964) diubah menjadi pendidikan kewarga negaraan. Mata pelajaran pendidikan kewargaan negara  ini merupakn korelasi dari ilmu bumi, sejarah, dan pengetahuan kewarganeraan negara.
4.     Wawasan  pembelajaran IPS yang menganut konsep “IPS adalah fusi mata pelajaran sejarah, geografi, dan ekonomi”. Pada kurikulum 1975 terjadi pengelompokon baru. Kurikulum sekolah berisi tiga jenis pendidikan, yaitu pendidikan umum, pendidikan akademis, dan pendidikan keahlian khusus. Kurikulum 1975 menge-mukakan bidang studi bernama ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan bidang studi pendidikan moral Pancasila (PMP). Bidang studi IPS termasuk kelompok pendidikan akademis, dan bidang studi PMP termasuk kelompok pendidikan umum. Bidang studi IPS sebagai bidang studi pada pendidikan akademis masih diletakan pada konteks sistem nilai berdasarkan filsafat Pancasila, Pancasila dan UUD 1945, dalam arti bidang studi PMP.
5.     Pada tahun 1980-an kurikulum 1975 diperbaiki. Munculah bidang studi pendidikan sejarah perjuangan bangsa (PSPB) sederajat dengan PMP, dan erat hubungan dengan IPS/Sejarah. Misi PSPB adalah menciptakan suasana belajar ber-CBSA seingga domain kognitif dan efektif tercapai. Usaha-usaha perbaikan tersebut akhirnya terwujud pada kurikulum 1975 yang disempurnakan atau kurikulum 1984. Kurikulum 1975 yang disempurnakan berusaha memperbaiki kelemahan-kelemahan kurikulum 1975. Kemudian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melakukan perbaikan kurikulum pada tahun 1994 yang lebih dikenal dengan “kurikulum 1994”, dimana di dalamnya terjadi perubahan nama mata pelajaran, seperti PMP dan KN menjadi PPKN.
Berdasarkan deskripsi di atas, maka jika dibuat perbandingan pembelajaran IPS di Indonesia dengan yang ada di Amerika, dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.     Pembelajaran IPS di Amerika Serikat berpangkal dari mata pelajaran sejarah, geografi dan good behavior (tahun 1779) yang berorientasi kepentingan nasional Amerika Serikat, bukan berorientasi pada Inggris, Jerman, Perancis dan lain sebagainya. Orientasi kepentingan Amerika Serikat tersebut secara  tegas memebedakan kewargaan negara, artinya warga negara Amerika Serikat berbeda  kepentingan dengan warga negara Inggris walaupun ia keturunan Inggris. Pembelajaran IPS di Indonesia berpangkal dari mata pebelajarn sejarah, geografi, dan pendidikan budi pekerti berorientasi Indonesia tersebut tercetus pada kongres pendidikan nasional tahun 1945. Keputusan kongres pendidikan nasional tahun 1945. Keputusan kongres pendidikan nasional 1955 tentang isi pendidikan kebudyaan nasional Indonesia, agama, sejarah Indonesia, geografi Indonesia, bahasa Indonesia, dan pekerjaan tangan. Apabila Amerika Serikat menentukan orientasi IPS pada tahun-tahun awal kemerdekaan, maka Indonesia menentukan orientasi IPS pada tahun-tahun pertama kemerdekaan.
2.     Pembelajaran IPS di Amerika Serikat berkembang pada perione kematangan dan sintesis ilmu-ilmu sosial yang berkedudukan lemah di Indonesia. Penelitian tentang masyarakat Indonesia baru dilakukan secara baik sesudah tahun 1965-an. Sebagai ilustrasi buku Sejarah Indonesia baru tersusun tahun 1977. Walaupun pentingnya pembelajaran sejarah berorientasi Indonesia telah muncul sebelumnya.
3.     Selama tujuh puluh-delapan tahunan (sejak lahirnya IPS tahun 1916) di Amerika Serikat telah berkembang empat jenis IPS, yaitu IPS gaya lama, IPS progresivisme, social science education, dan IPS gaya baru. Selama empat puluh tahun pasca kemerdekaan, maka sekolah-sekolah di Indonesia baru melaksanakan jenis IPS gaya lama dan IPS progresivisme. Pembelajaran IPS ber CBSA dengan pendekatan inkuiri atau humanistis baru. 
4.     Mata pelajaran yang tergabung dalam IPS di Amerika Serikat dan Indonesi berbeda. Mata pelajaran IPS yang tergabung dalam IPS di Amerika Serikat adalah sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, antropologi, sosiologi dan psikologi sosial. Sedangakan mata-mata pelajaran Ilmu Sosial (IS) yag tergabung dalam IPS di Indonesia adalah sejarah, geografi, dan ekonomi di tingkat sekolah dasar. di sekolah lanjutan ditambah dengan antropologi dan sosiologi. Mata pelajaran civics (bagian dari ilmu politik atau ilmu hukum) diangkat menjadi pendidikan moral Pancasila (PMP), sebab civics tersebut terjalin dengan filsafat dan ideologi Pancasila. Dengan kata lain pembelajaran IPS di Indonesia adalah social studies dan filsafat pancasila. Pemilihan IPS sebagai bidang studi akademis, dan PMP sebagai pendidikan umum yang menekankan domain afektif menimbulkan dilemma praktek pendidikan.
5.     Pembelajaran IS dan IPS di Amerika Serikat telah lama diteliti oleh ahli-ahli pendidikan sejalan dengan perkembangan penilitan ilmu-ilmu sosial. penelitian pegajaran berbagai ilmu di Amerika Serikat semakin intensif sejak perang dunia kedua. Sedangkan penelitian IS dan penelitian IS di Indonesia baru dan dalam tahap permulaan. Oleh karena itu pembelajaran IS dan IPS di Indonesia bvanyak memperoleh bantuan dari hasil penelitian IS dan pembelajaran IPS dari Amerika Serikat dan negara maju.

Pembelajaran ilmu-ilmu sosial atau pembelajaran IPS di Indonesia berada pada konteks posisi ilmu-ilmu sosial yang lemah. Di satu fihak, pembelajaran ilmu-ilmu sosial bermaksud mengerjakan pengetahuan ilmiah tentang masyarakat Indonesia agar pebelajar dapat hidup di masyarakatnya, di lain fihak bahan pengetahuan tentang masyarakat Indonesia hasil penelitian-belum tersusun.
Pembelajaran ilmu-ilmu sosial juga berusaha mengajarkan berfikir keilmuan modern tersebut terhambat dengan latar belakang berfikir pra-ilmu tentang masyarakat atau pula berfikir berdasarkan wawasan-wawasan non-ilmu sosial berada dalam dilemma pembelajaran berfikir keilmuan tentang masyarakat. Ilmuwan sosial dan ahli pendidikan di Indonesia ditantang untuk mampu mengatasi dilemma tersebut.

F. Daftar Pustaka 

Dickinson, Robert E. (1969). The makers of modern geography. New York: Frederick A. Praeger Publisher.

Dimyati, M. (1989). Pengajaran Ilmu-ilmu Sosial di Sekolah: Bagian Integral Sistem Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PLPTK Dirjen Dikti.
Feldman, Martin. (1977). The Social Studies. New York: Prentice Hall, Inc.
Gross, R.E. (1978). Social Studies for Our Times. New York: John Wiley and Son.
Hikam, A.S. (1998). Masyarakat Madani Indonesia: Perspektif  Baru Membangun Indonesia Baru (makalah). Bandung: Universitas Pajajaran Bandung.
Koentjaraningrat. (1984). Antropologi dan Kebudayaan Nasional. Jakarta: Graffiti, Press
Latifau, M.H. (1989). Historistical of social studies. Boston: Reinehart, Publisher.
Martorella, Peter H. (1985). Elementary Social Studies: Developing Reflective, Competent, and Concerned Citizen. Boston, Toronto: Litle, Brown and Company.
Rogers, Calvin. (1998). Speeder: Short Planning Programs. Singapore: Reinehart Publisher.
Sumantri, Endang. (1999). Kualitas Pendidikan IPS: Kualitas, Kendala, dan Proyeksi PIPS di Masa Datang. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan Bandung.
Schunke, G. M. (1988). Elementary Social Studies: Knowing, Doing, and Caring. New York: Collier McMillan Publisher.
Tilaar, H.A.R. (1999). Pendidikan dan Masyarakat Madani: Strategi Reformasi Pendidikan Nasional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Wahab, Azis. (1999). Otonomi Pendidikan: Pokok-pokok Pikiran Pengelolaan Sistem Pendidikan Nasional (makalah). Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar