Sabtu, 16 April 2011

LAPORAN PENELITIAN PEMBELAJARAN IPS MELALUI METODE INQUIRI PADA SISWA SMP NEGERI DI KABUPATEN BENGKAYANG (Studi Pengembangan Model Pembelajaran IPS Di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang Tahun Pelajaran 2010/2011)















 
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha  Esa karena dengan berkat dan perkenanNya jualah penelitian kerjasama antara Lembaga Pendidikan Pentaloka Khatulistiwa Kalimantan Barat dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkayang yang berjudul “Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  Melalui Metode Inquiry  Pada SMP Negeri Kabupaten Bengkayang dengan Studi Pengembangan Model Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  Di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang Tahun Pelajaran 2010/2011 dapat dislesaikan”.
Latar belakang diadakannya penelitian ini adalah karena  “Adanya keprihatinan masyarakat terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  di sekolah-sekolah karena pelajaran IPS sering kali dianggap sebagai suatu bidang studi yang kurang populer dan kurang menarik perhatian di kalangan siswa karena berbagai faktor antara lain; Faktor cara penyampaian materi Ilmu Pengetahuan Sosial  oleh guru kepada siswa kurang menyentuh pada kebutuhan siswa”. Pengajaran IPS merupakan pengajaran yang kompleks. Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  di sekolah secara umum masih di dominasi dengan metode ceramah. Pemberlakuan RPP IPS oleh guru belum sepenuhnya mengarah kepada pembelajaran  berpikir kritis, melainkan lebih banyak menekankan pada aspek yang bersifat menghafal. Penggunaan metode pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  secara komtemporer klasik 89,66% masih di dominasi oleh metode ceramah. Dalam proses pembelajaran siswa kurang/tidak diberi kesempatan untuk ber- latihan memecahkan masalah-masalah sosial. Dalam pembelajaran IPS guru lebih banyak menekankan pada  masalah yang bersifat hafalan, tidak sampai pada asfek mengaktifkan siswa berpikir kritis dan menganalisa masalah seperti yang diisyaratkan oleh metode inquiry.
Dalam penyelesaian penelitian ini Tim Peneliti banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak, untuk itu seyogyanyalah apabila dalam lembaran ini Tim Peneliti menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada;
  1. Bupati Kepala Daerah Kabupaten Bengkayang yang telah dengan antosias memberi kesempatan kepada Tim Peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah-sekolah
  2. Ketua DPRD dan Staf DPRD Kabupaten Bengkayang yang sangat konsen kepada dunia pendidikan dan kekonsenannya senantiasa bersedia berkolaborasi bersama Tim Peneliti untuk mencari dan mengungkap data dan fakta yang melambankan kemajuan dunia pendidikan
  3. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkayang yang punya cara tersendiri untuk memadu kolaborasi dan kerjasama dengan Tim Peneliti guna mencari selah yang tepat dan akurat untuk mengatasi permasalahan pendidikan yang terjadi saat ini.
  4. Kepala-Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP Negeri) Kabupaten yang yang telah dengan semangat kerjasama yang tinggi, memberikan informasi dan data yang diperlukan oleh Tim Peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini.
  5. Kepada semua pihak yang telah ikut serta mewarnai penelitian ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Semoga amal baik dan kerjasama yang telah terbina tetap terjaga dan Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan limpahan rahmatNya kepada kita semua. Amin Menyadadari kekurangan dan kelemahan selaku manusia biasa, Tim Peneliti bersemboyan kecil telapak tangan nyiru kami tadahkan menunggu perbaikan dan saran yang bersifat konstruktif dari semu pihak demi perbaikan penelitian ini. Akhirnyanyha semoga penelitian ini bermanfaat dalam membangun dunia pendidikan Indonesia umumnya dan pendidikan di Kabupaten Bengkayang khususnya.
                                                            Bengkayang, 8 Desember 2010
                                                            Peneliti,



 

ABSTRAK

   Penelitiaan ini berjudul Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  Melalui Metode Inquiry  Pada SMP Negeri Kabupaten Bengkayang dengan Studi Pengembangan Model Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  Di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang Tahun Pelajaran 2010/2011.
Latar belakang penelitian ini adalah ; Adanya keprihatinan masyarakat terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  di sekolah-sekolah karena pelajaran IPS sering kali dianggap sebagai suatu bidang studi yang kurang populer dan kurang menarik perhatian di kalangan siswa karena berbagai faktor antara lain; Faktor cara penyampaian materi Ilmu Pengetahuan Sosial  oleh guru kepada siswa kurang menyentuh pada kebutuhan siswa. Pengajaran IPS merupakan pengajaran yang kompleks. Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  di sekolah secara umum masih di dominasi dengan metode ceramah. Pemberlakuan RPP IPS oleh guru belum sepenuhnya mengarah kepada pembelajaran  berpikir kritis, melainkan lebih banyak menekankan pada aspek yang bersifat menghafal. Penggunaan metode pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  secara komtemporer klasik 89,66% masih di dominasi oleh metode ceramah. Dalam proses pembelajaran siswa kurang/tidak diberi kesempatan untuk ber- latihan memecahkan masalah-masalah sosial. Dalam pembelajaran IPS guru lebih banyak menekankan pada  masalah yang bersifat hafalan, tidak sampai pada asfek mengaktifkan siswa berpikir kritis dan menganalisa masalah seperti yang diisyaratkan oleh metode inquiry.

Pemecahan masalah dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah: Memperbaiki rencana pembelajaran guru, terutama yang sesuai dengan pengembangan kemampuan berpikir siswa menggunakan pendekatan inkuiri sosial. Memperbaiki kemampuan guru dalam mengembangkan dan menguasai metode pembelajaran, terutama dengan pendekatan inkuiri sosial. Memperbaiki kemampuan guru dalam melatih siswa untuk belajar memecahkan masalah-masalah sosial.

Tujuan utama dari penelitian ini adalah: untuk Membantu guru mengatasi kesulitan dalam mengembangkan dan menguasai metode pembelajaran,yang mampu membentuk anak berpikir kritis, terutama dalam pembelajaran IPS.  Membantu guru dalam mengembangkan pendekatan inkuiri sosial untuk mencapai ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  pada tingkat SLTP. Melatih serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  di SLTP.    Prosedur penelitian ini dengan langkah-langkah:        Justifikasi Rencana Pembelajaran: Guru bersama instruktur melakukan urun rembug atau brainstorming untuk memulai rencana pembelajaran yang telah dibuat oleh guru untuk diperbaiki sesuai dengan standar minimal.Monitoring Pelaksanaan Proses Pembelajaran: Guru teman sejawat dan instruktur melakukan monitoring atau pengamatan di kelas terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru bidang studi. Hasil monitoring direfleksikan kepada guru bidang studi lainnya untuk diperbaiki pelaksanaan pembelajaran di kelas pada siswa yang akan dilaksanakan. Mengidentifikasi Temuan Masalah: dari hasil kegiatan justifikasi rencana pembelajaran dan monitoring pelaksanaan proses pembelajaran, ditemukan masalah yang terdapat dalam pembelajaran di kelas. Urun Rembug Cara-cara Pemecahan Masalah Dan Menentukan Langkah-langkah Tindakan Mengatasinya: masalah yang telah ditemukan bersama oleh guru sejawat dan dosen, kemudian dianalisis bersama-sama dengan pendekatan brainstorming untuk dapat ditentukan penyebab timbulnya masalah. Apabila telah ditemukan penyebab masalah, kemudian penyebab ini didiskusikan pula cara-cara untuk mengatasi penyebab timbulnya masalah tersebut. Menyusun Rencana Tindakan: Rencana tindakan disini dimaksudkan sebagai suatu urutan langkah-langkah tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini. Urutannya terdiri dari beberapa siklus tindakan yang disusun oleh guru bersama tim peneliti yang digunakan sebagai acuan yang dirinci dalam bentuk skenario tindakan pembelajaran di kelas. Rencana pembelajaran itu sendiri dapat dimaksudkan sebagai bagian dari skenario tindakan. Namun demikian pelaksanaan pembelajaran tetap mengacu kepada apa yang telah dituangkan dalam rencana pembelajaran.

Populasi dalam penelitian ini teridi dari dua kelompok yaitu kelompok guru dan siswa. Guru Ilmu Pengetahuan Sosial sebanyak 12 orang dan siswa kelas VIII berjumlah 30 orang. Teknik dan alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Mengumpulkan dan memeriksa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Memantau Pelaksanaan Metode Inquiry  Memantau Keaktifan belajar Siswa Memeriksa Kendala Penerapan Metode Inkuri

Penelitian ini melakukan dua kali siklus tindakan yaitu  siklus pertama dan siklus kedua dengan membandingkan hasil antara sebelum dan setelah dilakukan treatment terhadap obyek penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di 12 SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 30 orang, jumlah guru yang mengajar sebanyak 12 orang, sekaligus menjadi partisipan dalam penelitian ini, yaitu guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011.  Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 22 s/d 25 Oktober 2010 siklus kedua pada tanggal 26 dan 30 Nopember 2010 Sesuai dengan kesepakatan pada tahap perencanaan bahwa yang melaksanakan tindakan adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  tahun pelajaran 2010/2011.

Berdasarkan pengolahan dan analisis data, tim peneliti menyimpulkan bahwa : Kemampuan siswa dalam praktek mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  sebelum diterapkan metode inkuiri tergolong baik. Hal ini terbukti dengan perolehan hasil penelitian sebesar 6,23. Kemampuan siswa menyerap pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  sesudah diterapkan metode inkuiri tergolong baik dengan perolehan hasil penelitian sebesar 7,73.  Pewlaksanaan siklus kedua menunjukkan hasil 8,12 kategori baik sekali, Terdapat perbedaan mutu pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  sebelum dan sesudah diterapkan metode inkuiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang  baik pada siklus pertama maupun pada siklus kedua.



ABSTRACT

  This Research entitled Learning Through Social Sciences Inquiry Methods Secondary Schools In County Bengkayang with Learning Model Development Study of Social Sciences in Secondary Schools Bengkayang District Academic Year 2010/2011.
The background of this research are: The existence of public concern against the Social Science subjects in schools because of social studies lessons are often regarded as a field of study is less popular and less interest among students due to various factors, among others; factor means the delivery of material science Social Knowledge by teachers to students is less touched on the needs of students. Teaching IPS is a complex instruction. Lessons of Social Sciences at the school in general is still dominated by the lecture method. Entry Draft IPS by teachers not fully lead to learning critical thinking, but more emphasis on aspects that are memorized.
The use of learning methods in contemporary Social Sciences 89.66% classic still is dominated by the lecture method. In the process of student learning is less / not given the opportunity to exercise her solve social problems. In social studies teacher learning more emphasis on issues that are rote, not to the asfek enable students to think critically and analyze problems such as that implied by the method of inquiry. Solving problems in the study conducted by the steps: Improving teacher lesson plans, especially in accordance with the development of thinking skills students use social inquiry approach. Improving teachers' ability to develop and master the methods of learning, especially with social inquiry approach. Improving the ability of teachers to train students to learn to solve social problems.

The main purpose of this study are: to help teachers overcome the difficulties in developing and mastering methods of learning, which is capable of forming a child's critical thinking, especially in social studies learning. Assist teachers in developing a social inquiry approach to achieve mastery learning students in Social Sciences at the junior level. Train and improve students' critical thinking skills through the study of Social Sciences in secondary school. The procedure of this study with the steps: Justification Lesson Plan: Teacher with instructors do urun rembug or brainstorming to start learning plan that was created by teachers for service in accordance with standard minimal.Monitoring Learning Process Implementation: Teacher peers and instructor monitoring or observation in the classroom to the learning process conducted by the teacher field of study. The results reflected the teacher monitoring other areas of study for improved implementation of learning in the classroom in which students will be implemented. Findings Identify Problems: the results of the justification for lesson plans and monitoring implementation of the learning process, found problems inherent in learning in the classroom. Dialog Troubleshooting Ways And Determine Action Steps fix: problems that have been found together by peer teachers and lecturers, and then analyzed together with a brainstorming approach to be determined the cause of the problem. If have found the cause of the problem, then this causes were also discussed ways to overcome the causes of the problem. Develop Plan of Action: Action plan here is intended as a sequence of action steps undertaken in this study. The order consists of several cycles of action drawn up by teachers with the research team used as a reference scenario specified in the form of action learning in the classroom. Lesson plan itself can be intended as part of a scenario action. However, the implementation of learning still refer to what has been stated in the lesson plan.

The population in this study teridi of two groups: the group of teachers and students. Master of Social Sciences as many as 12 people and eighth grade students numbered 30 people. Techniques and data collection tool used in this study were: To collect and examine Learning Implementation Plan (RPP) Monitor the Implementation of Inquiry Method Activity Monitor the Implementation of Constraint Checking Students learn Inkuri Method

This research was conducted two times a cycle of action is the first cycle and second cycle by comparing the results between before and after treatment to the object of research. The research was conducted in 12 Junior High School District Bengkayang 2010/2011 school year with student numbers 30 people, the number of teachers who teach as many as 12 people, as well as a participant in this research, namely teachers and students of State Secondary School in the District Bengkayang academic year 2010 / 2011. The first cycle performed on 22 s / d October 25, 2010 the second cycle on 26 and 30 November 2010 In accordance with an agreement at the planning stage of implementing the actions that are the subjects of Social Sciences academic year 2010/2011.

Based on the processing and data analysis, the research team concluded that: The ability of students in practical subjects of Social Sciences before coming into force inquiry method is fair. This is evidenced by the acquisition of research results by 6.23. Student's ability to absorb the lessons of Social Sciences is applied after the inquiry method is fair to the acquisition of research results by 7.73. Implementation second cycle shows the results of 8.12 category very well, There is a difference in the quality of teaching Social Studies before and after the inquiry method is applied to the State Junior High School students in the District Bengkayang good on first cycle and second cycle.





BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Penelitian
Adanya keprihatinan terhadap mata pelajaran IPS di sekolah-sekolah mendasari diadakannya penelitian ini. Pelajaran bidang studi IPS sering kali dianggap sebagai suatu bidang studi yang kurang populer di kalangan siswa. Banyak faktor yang menyebabkan anggapan demikian, faktor utama diduga karena cara penyampaian materi IPS kepada siswa yang dirasa kurang menyentuh kepada kebutuhan siswa.
Pengajaran IPS merupakan pengajaran yang kompleks. Pada tingkat SLTP tujuan pembelajaran IPS adalah memberikan bekal kemampuan akademik pada siswa agar mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di samping itu bertujuan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis sehingga dapat menganalisis dan memecahkan masalah sosial yang dihadapinya.
Berdasarkan hasil pemantauan peneliti, maka sebagian besar mengatakan bahwa dalam pelajaran IPS di sekolah (SLTP) secara umum masih di dominasi dengan metode ceramah tau ceramah bervariasi dengan tanya jawab.
Apabila dicermati lebih jauh tujuan pengajaran IPS yang mengarah kepada kemampuan berpikir kritis dan analitis, tentu metode ceramah dan tanya jawab belum cukup untuk melatih siswa berpikir kritis dan analitis.
Temuan di lapangan yang diungkapkan oleh para guru IPS dalam pembelajaran di kelas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Rencana pembelajaran IPS yang dibuat guru belum sepenuhnya mengarah kepada pembelajaran  berpikir, lebih banyak kepada menghafal. Sehingga dalam memecahkan soal-soal berbentuk uraian banyak mengalami kelemahan.
2.    Metode pembelajaran masih di dominasi oleh metode ceramah (89.66%) atau divariasikan dengan tanya jawab.
3.    Siswa kurang diberi latihan untuk memecahkan masalah-masalah sosial. Guru lebih banyak bertanya mengenai sub-sub yang sifatnya hafalan, bukan analisa.

Dengan adanya temuan-temuan tersebut, lalu secara bersama didiskusikan dengan seluruh anggota tim penelitian, dan diperoleh kesepakatan atau disimpulkan bahwa penyebabnya adalah guru kurang mampu merancang rencana pembelajaran yang mengarah kepada kemampuan  berpikir kritis siswa. Keadaan ini apabila tidak segera diperbaiki tentu akan mempengaruhi mutu pembelajaran atau mutu kelulusan sekolah, selain itu juga pencapaian tujuan pembelajaran IPS yang sesuai dengan tuntutan kurikulum tidak akan dapat tercapai dengan baik.
Pembelajaran berpikir kritis lebih banyak melibatkan siswa dalam suatu proses penemuan dan pemecahan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian rencana pembelajarannya diarahkan lebih banyak mengaktifkan siswa melalui Inkuiri Sosial.  Sebagai suatu pendekatan mengajar membantu melatih siswa mengembangkan kemampuan untuk menemukan dan merefleksikan sifat kehidupan sosial melalui pengembangan kemampuan inkuiri siswa. Orientasi pendekatan mengajar inkuiri sosial adalah:
1.    Adanya aspek-aspek sosial dalam kelas yang dapat menumbuhkan terciptanya suasana diskusi.
2.    Adanya hipotesis sebagai arah dalam pemecahan masalah.
3.    Menggunakan fakta sebagai pengujian hipotesis (Bruce Joyce dalam Dahlan, 1984)

Pembelajaran berpikir kritis pada taraf pendidikan SLTP penting dalam membentuk sikap kritis bagi siswa dalam menghadapi masalah-masalah sosial sehingga mampu memecahkan masalah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Menyadari akan pentingnya pembelajaran berpikir kritis bagi siswa pada pembelajaran IPS di SLTP tersebut, maka masalah yang perlu diatasi oleh guru dalam mengimplementasikan metode inkuiri sosial adalah sebagai berikut:
1.    Mengembangkan dan memperbaiki rencana pembelajaran IPS dengan membuat strategi yang mengarah kepada kemampuan berpikir siswa aktif terutama yang sesuai dengan pengembangan kemampuan berpikir siswa menggunakan pendekatan inkuiri sosial.
2.    Menetapkan dan melatih penggunaan metode pembelajaran yang mengarah kepada kemampuan berpikir siswa guna memperbaiki kemampuan guru dalam mengembangkan dan menguasai metode pembelajaran, terutama dengan pendekatan inkuiri sosial.
3.    Meningkatkan pemberian latihan memecahkan soal-soal yang berbentuk uraian atau essay.
4.    Melatih siswa untuk belajar memecahkan masalah-masalah sosial dalam kehidupan sehari-hari serta memperbaiki kemampuan guru dalam melatih siswa untuk belajar memecahkan masalah-masalah sosial.

B.   Tindakan Pemecahan Masalah
Pembelajaran IPS selama ini masih pada tingkat penggunaan ulangan atau “mengatakan kembali” atau “mengungkapkan kembali” sebagai cara pembelajaran, cara demikian sesungguhnya sangat tidak sesuai dengan pendekatan berpikir kritis, dan tidak efisien.
Dalam melaksanakan pembelajaran IPS diperlukan adanya langkah-langkah yang sistematis sehingga mencapai hasil belajar siswa yang optimal. Langkah yang sistematis dan optimal dalam proses pembelajaran IPS merupakan bagian penting dalam strategi mengajar, yakni usaha guru dalam mengatur dan menggunakan variabel-variabel pembelajaran agar dapat mempengaruhi siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Teaching is the guidance of learning activities (Sudjana, 1996). Pandangan atau pengertian mengajar tersebut pada hakekatnya adalah memberi tekanan kepada optimalnya kegiatan belajar siswa. Dengan kata lain, mengajar tidak semata-mata berorientasi kepada hasil (by product) tetapi berorientasi juga kepada proses (by proces).
Atas dasar pemikiran tersebut maka, tidak ada pilihan lain bagi guru agar mengupayakan pengembangan strategi mengajar yang diarahkan kepada optimal belajar siswa. Ini berarti bahwa salah satu usaha peningkatan kualitas hasil belajar dapat ditempuh melalui penggunaan strategi mengajar yang mampu mengembangkan cara belajar siswa aktif yang berpusat pada siswa (studen centred).
Metode pembelajaran Inkuiri sosial merupakan salah satu pendekatan yang sesuai dengan CBSA tersebut. Pendekatan inkuiri  dalam proses pembelajaran mencakup pendekatan modern yang sangat didambakan untuk dilaksanakan di setiap sekolah. Adanya tuduhan bahwa sekolah menciptakan “kultur bisu” tidak akan terjadi apabila pendekatan inkuiri sosial ini digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Secara teoritis istilah inkuiri telah lebih dari satu abad lamanya mengandung makna sebagai salah satu usaha ke arah pembaharuan pendidikan. Ada beberapa kelompok/institusi yang menggunakan istilah inkuiri dalam hubungannya dengan pengertian strategi belajar yang berpusat pada siswa (child centered learning) yang memberikan lebih banyak pembentukan segi-segi pendidikan berdasarkan adanya sifat inkuiri pada anak. Ada juga yang menghubungkan istilah inkuiri dengan pengembangan kemampuan siswa untuk menemukan dan  merefleksikan sifat kehidupan sosial, terutama sebagai latihan berkehidupan sosial dalam masyarakat.   
Disamping praktisi di atas Byron Massialas dan Benyamin Cox (dalam Dahlan, 1984) juga menggambarkan bahawa pendekatan inkuiri sosial sangat cocok dan layak diguna guna melatihan kehidupan sosial siswa dalam menjalankan kehidupan sosial bermasyarakat. Pandangan tersebut  terutama ditujukan pada perbaikan pergaulan hidup bermasyarakat dalam pemecahan masalah-masalah sosial dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut berpandangan bahwa sekolah mempunyai peranan yang aktif dan kreatif membangun kehidupan sosial yang disebut “creative reconstruction” tentang kebudayaan. Sekolah tidak hanya berkewajiban memelihara nilai-nilai dan norma dalam masyarakat, tetapi juga harus memberi keaktifatn kepada siswa dan secara kritis membawa/menggiring siswa agar mampu menghadapi masalah-masalah sosial kemasyarakatan.
Pendekatan inkuiri ini dapat dilakukan oleh guru/pembelajar apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.    Guru harus terampil memilih permasalahan yang cock dan relevan untuk diajukan kepada siswa di kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa atau problementasi) serta sesuai dengan daya nalar pikir siswa;
2.    Guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa serta mampu menciptakan situasi belajar yang menyenangkan;
3.    Tersedianya fasilitas dan sumber belajar yang cukup memadai;
4.    Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya, dan berdiskusi;
5.    Adanya partisipasi setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar; dan
6.    Guru tidak banyak campur tangan terhadap kegiatan belajar siswa. (Sudjana, 1999).
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pemecahan masalah dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Memperbaiki rencana pembelajaran guru, terutama yang sesuai dengan pengembangan kemampuan berpikir siswa menggunakan pendekatan inkuiri sosial.
2.    Memperbaiki kemampuan guru dalam mengembangkan dan menguasai metode pembelajaran, terutama dengan pendekatan inkuiri sosial.
3.    Memperbaiki kemampuan guru dalam melatih siswa untuk belajar memecahkan masalah-masalah sosial.

Pemecahan masalah di atas dilakukan dengan cara brainstorming dan kolaborasi dengan guru lain yang sama-sama mengajar bidang studi IPS, terutama dalam hal ini adalah guru yang terlibat dalam tim penelitian tindakan kelas.

C.   Tujuan Penelitian
Sesuai dengan konteks dan permasalahan yang ingin dipecahkan dalam penelitian ini, maka tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk:
1.    Membantu guru mengatasi kesulitan dalam mengembangkan dan menguasai metode pembelajaran,yang mampu membentuk anak berpikir kritis, terutama dalam pembelajaran IPS.
2.    Membantu guru dalam mengembangkan pendekatan inkuiri sosial untuk mencapai ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada tingkat SLTP.
3.    Melatih serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pembelajaran IPS di SLTP.

D.   Lingkup Penelitian
Penelitian tindakan ini utamanya ditujukan kepada usaha untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan metode-metode mengajar untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam memecahkan masalah-masalah sosial. Dengan demikian lingkup penelitian ini dibatasi pada:
1.    Kemampuan guru untuk menguasai dan menggunakan metode pembelajaran IPS yang mengarah kepada peningkatan kemampuan siswa untuk berpikir. Kemampuan berpikir siswa di sini diartikan sebagai suatu kemampuan siswa untuk berpikir kritis, dapat memecahkan soal-soal berbentuk uraian atau essay. Dalam hal ini berarti terkandung makna:
a.    Urutan kegiatan yang direncanakan guru yang sesuai dengan metode yang digunakan.
b.    Media pembelajaran, yaitu peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan oleh guru maupun siswa dalam kegiatan pembelajaran.
c.    Penetapan masalah-masalah yang harus diselesaikan oleh siswa.
2.    Kemampuan menguasai dan menggunakan metode pembelajaran untuk keperluan penelitian ini, metode pembelajaran yang dikembangkan dalam mencapai tujuan pembelajaran berpikir kritis siswa difokuskan  pada pengembangan metode tanya jawab dan diskusi kelompok.

E.   Manfaat dan Signifikansi Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan signifikansi hasil penelitian kepada semua pihak khususnya kepada:
1.    Bagi Pihak sekolah, yaitu:
a.    Memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan dan meningkatkan kinerja profesi, terutama dalam penguasaan metode pembelajaran IPS.
b.    Memberikan kesempatan siswa untuk melatih diri dalam bergaul, berkehidupan sosial serta bekerja sama antar siswa, menghargai serta menghormati pendapat dan  hasil karya orang lain.
c.  Sekolah berkesempatan untuk melatih siswa berani berpikir kritis dalam memecahkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan .
2.    Bagi Pihak LPTK dan Lembaga Peneliti
a.    Dosen memperoleh informasi yang bermanfaat tentang pendalaman dan pengembangan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang akurat dan berguna dalam meningkatkan kinerjanya untuk menyiapkan calon guru melalui LPTK dan Lembaga Peneliti.
b.    LPTK dan Lembaga Peneliti dapat memperoleh masukan yang sangat berharga guna pengembangan lembaga dalam rangka mempersiapkan calon-calon guru yang profesional.
3. Bagi Dinas Pendidikan dan Pemda dapat dijadikan sebagai pedoman acuan dalam rangka membina kemampuan profesional guru-guru guna menghidupkan suasana proses belajar mengajar yang menyenangkan, membina kemampuan profesional guru-guru dalam menggunakan metode  mengajar yang tepat dan akurat serta dalam rangka membina dan melatih kemandirian guru dalam mengambil kebijakan yang tepat guna mencapai ketuntasan belajar maksimal


BAB II
PEMBELAJARAN INQUIRY

A.  Metode Pembelajaran Inquiry

Metode pembelajaran inquiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan. Langkah-langkah kegiatan inquiri menurut Depdiknas (2002: 19) adalah sebagai berikut:
1)    Merumuskan masalah
2)    Mengamati atau melakukan observasi
3)    Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya
4)    Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiens yang lain

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa inkuiri adalah bagian inti kegiatan yang berasal dari penemuan sendiri siswa dari materi yang telah disampaikan.
Salah satu model pembelajaran yang sampai sekarang masih tetap dianggap sebagai model yang cukup efektif adalah model inquiry.  David L. Haury (1993) mengutip definisi: “inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu”. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu.
Alasan rasional penggunaan model inquiry adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai sains dan akan lebih tertarik terhadap sains jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” sains. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung model inquiry. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep Sains dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berfikir ilmiah tersebut (Blosser, 1990).
Model inquiry yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap sains (Haury, 1993). Dalam makalahnya Haury menyatakan bahwa model inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa model inquiry tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam sains saja, melainkan juga membentuk sikap keilmiahan dalam diri siswa.
Model inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan model inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi (Sagala, 2004).
Walaupun dalam praktiknya aplikasi model pembelajaran inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan model inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources (Garton, 2005).
Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini – sesuai dengan Taxonomy Bloom – siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau dikonstruksi.
Student Engangement. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi.
Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar.
Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi.
Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dan lain-lain.

B. Tahap -Tahap Pemotodelan Inquiry
Tahap-tahap pemodelan Inquiri menurut Made Wena (2009:81) terdiri atas 6 tahapan, yaitu:
1.      Orientasi
2.      Hipotesis
3.      Definisi
4.      Eksplorasi
5.      Pembuktian
6.      Generalisasi

Tahapan-Tahap pelaksanaan metode pembelajaran Inquiry selanjutnya dijabarkan dalam bentuk bagian demi bagian sebagai berikut:

1.  Tahap Orientasi
Tahap orientasi ini merupakan tahap awal dari model Inquiry ilmu sosial. Dalam tahap ini guru dituntut mampu membangun/ mengembangkan rasa peka siswa terhadap masalah-masalah sosial atas objek yang dibahas. Kepekaan siswa mungkin akan muncul dari pengamatan situasi kehidupan sosial sehari-hari dari hasil refleksi terhadap suatu bacaan/topik, dari situasi konflik yang ada di masyarakjat, di kelas dan dari  sejumlah sumber lain. Menurut Cardielo (1996:14) bahwa “kriteria paling penting dalam tahap ini adalah semua aspek harus berpusat dari suatu masalah yang menjadi subjek pembelajaran. Dalam tahap ini guru diminta membantu siswa menjadi peka dan membantu siswa untuk mengembangkan kepekaannya terhadap permasalahan sosial yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari baik yang terjadi di sekolah maupun yang terjadi di masyarakat luas. 

2.  Tahap Pengembangan Hipotesis
Dalam tahap pengembangan hipotesis ini guru diminta mmebantu siswa mengembangkan hipotesis yang berhubungan dengan masalah yang telah dirumuskan. Hipotesis-hipotesis yang diajukan oleh siswa kemudian diuji oleh guru dan oleh kelompok siswa lain terkait dengan validitas, kompabilitas, dan kesesuaian dengan fakta dan bukti yang mendukung atau bukti yang tidak mendukung.

3.  Tahap Melakukan Definisi
Dalam tahap melakukan definisi ini, hipotesis yang diajukan diklarifikasi dan didefinisikan, sehingga semua kelompok siswa dapat memahami dan mengkomunikasikan permasalahan yang dibahas. Untuk tahap ini pendefinisian suatu konsep/teori harus menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami oleh siswa.

4.  Tahap Melakukan Eksplorasi
Dalam tahap ini hipotesis yang diajukan diperluas/ dianalisis, implikasinya, asumsi-asumsinya, dan deduksi yang mungkin dilakukan dari hipotesis tersebut. Dalam hal ini dilakukan kajian terhadap kualitas dan kekurangan hipotesis, yang diuji tingkat validitas logisnya dan konsistensi internalnya. Menurut Willen (1996:29) bahwa “salah satu tujuan pembelajaran ilmu sosial adalah menumbuhkembangkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam melakukan eksplorasi terhadap gejala-gejala sosial yang multi kompleks.

5.  Tahap Pembuktian
Pada tahap pembuktian ini data yang didapat dimaksudkan untuk mendukung hipotesis yang telah dikumpulkan, sesuai dengan karakteristik hipotesis yang diajukan. Dalam tahap ini siswa dibimbing cara-cara mengumpulkan bukti, fakta, data yang berhubungan dengan hipotesis yang diajukan. Menurut Joice &Weil (1992:12) bahwa “siswa didorong untuk belajar memverifikasi, mengklasifikasikan, mengkategorikan, dan mereduksi data-data“.

6.  Tahap Generalisasi
Tahap terakhir ini adalah pengungkapan penyelesaian masalah yang dipecahkan. Dari data-data (bukti, fakta) yang telah dikumpulkan dan dianalisis, siswa didorong untuk mencoba mengembangkan beberapa kesimpulan, dan dari berbagai kesimpulan yang telah dibuat, siswa diajar bagaimana memilih pemecahan masalah yang paling cepat.

C.  Orientasi Model

Ada tiga ciri pokok dalam model mengajar inkuiri sosial.
  1. Adanya aspek-aspek sosial dalam kelas yang dapat menumbuhkan terciptanya suasana diskusi kelas.
  2. Adanya penetapan hipotesis sebagai arah dalam pemecahan masalah.
  3. Mempergunakan fakta sebagai pengujian hipotesis.

  1. Tahap Sistem Sosial
Dalam pelaksanaan model mengajar dengan inkuiri sosial, para siswa diatur dalambentuk struktur sosial yang sederhana. Mereka akan membentuk system sosial yang berubah atau bergerak dari tiap tahap ke tahap berikutnya. Norma-norma dalam inkuiri diusahakan agar tercipta diskusi secara bebas dan terbuka, serta memiliki rasa tanggung jawab untuk berusaha mengadakan penemuan sendiri.


  1. Tahap Prinsip Reaksi
Selama proses inkuiri, guru harus berperan sebagai seorang pembimbing, yaitu memberikan bantuan kepada para siswa dalam menjelaskan kedudukan mereka dalam proses belajarnya, cara-cara belajarnya dan dalam setiap penyusunan rencana yang akan mereka lakukan. Demikian pula guru harus dapat membantunya dalam merumuskan dan menjelaskan setiap istilah yang ada pada hipotesis maupun masalah, membantu dalam memilih dan menyusun asumsi-asumsi yang akan digunakan, serta cara diskusi dan berpikir efektif dan objektif. Peranan guru yang utama adalah sebagai reflector bukan sebagai Instruktor

Tahap pertama                                             Tahap Kedua
Orientasi                                                        Hipotesis

Menetapkan masalah sosial sebagai mencari beberapa hipotesis dan Pokok bahasan yang dirumuskan merumuskan hipotesis yang
Dalam bentuk pernyataan atau dijadikan sebagai acuan dalam
Pertanyaan, dan dibatasi dalam ruang   inkuiri, serta yang dapat diujikan
Lingkup yang tidak luas

Tahap ketiga                                                 Tahap Keempat
Definisi                                                          Eksplorasi

Menjelaskan dan menguraikan         menguji hipotesis dengan
                                                           Logika Istilah-istilah yang
                                                           ada dalam deduksi, yaitu
                                                           menghubungkan
Rumusan hipotesis                              hipotesis dengan
                                                           implikasionya
                                                                 Dan asumsi-asumsinya
Tahap Kelima                                               Tahap Keenam
Pembuktian                                                  Generalisasi

Membuktikan hipotesis dengan                Menyatakan pemecahan
                                                                masalah
Fakta-fakta                                                    yang dapat digunakan

Bagan : Tahapan Model Mengajar Inquiri Sosial

  1. Tahap Sistem Pendukung
Hal yang sangat penting dalam melaksanakan model inkuiri adalah adanya kepercayaan dari guru, bahwa :
a.    Pengembangan sesuatu penemuan dilakukan dengan tidak tergesa-gesa.
b.    Pemecahan masalah dilakukan dengan pendekatan terhadap kehidupan
c.    Banyak sumber-sumber kepustakaan yang dapat digunakan dalam pengumpulan informasi yang diperlukan
d.    Mempergunakan pendapat ahli dan sumber lain di luar sekolahnya.
e.    Suatu sumber yang kaya akan informasi yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan inkuiri sosial yang betul-betul.

 

D. Implikasi Inqury

            Para siswa SMP menemukan masalah dari sumber bacaan surat kabar. Setelah masalah urbanisasi ditanggapi bersama oleh para siswa, timbullah pokok masalah lain, yaitu kependudukan di kota. Mereka memutuskan masalah urbanisasi dijadikan pokok pembahasan dalam pelajaran kelas.
            Dengan bantuan guru, pada tahap orientasi ini para siswa mengembangkan masalah urbanisasi dalam bentuk perumusan masalah dan pembatasan masalah. Sebagai langkah awal (starting point) dalam inkuiri. Mereka merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan “ mengapa orang-orang desa mengalir pergi ke kota ?”  pertanyaan ini mengandung ajakan kepada para siswa untuk berpikir mengadakan penelitian dan pemecahan.
            Para siswa mulai berpikir berdasarkan kemampuan dan pengalamannya masing-masing. Mereka mengajukan bermacam-macam jawaban. Kemudian diadakan pengklasifikasian jawaban yang disetujui oleh para siswa, dan merumuskan hipotesis bersama yang dapat dipahami oleh semua siswa.
Hipotesis yang mereka rumuskan adalah :
a.    Lapangan pekerjaan di kota lebih banyak daripada di desa sehingga orang desa mudah dapat pekerjaan di kota.
b.    Lapangan pekerjaan di desa kurang memberikan peningkaan taraf hidup sehingga orang desa banyak pergi ke kota.
c.    Uang lebih mudah diperoleh di kota sehingga orang desa banyak mencari uang ke kota.
d.    Kebutuhan hidup lebih mudah dipenuhi di kota sehingga orang desa lebih senang tinggal di kota.
e.    Pergaulan di kota lebih luas dan lebih bebas daripada di desa sehingga orang desa senang hidup dalam pergaulan di kota.

Setelah perumusan hipotesis diadakan penjelasan istilah sebagai usaha agar terdapat persepsi yang sama pada semua siswa. Demikian pula terhadap rumusan masalah diberikan penjelasan.
            Pada tahap berikutnya, para siswa mengadakan pengujian hipotesis dengan teori atau asumsi secara logis. Mereka mencoba melihat hubungan antara yang satu dengan yang lain.
Lapangan pekerjaan – mudahnya mendapat pekerjaan.
Lapangan pekerjaan  -- peningkatan taraf hidup.
Mencari uang di kota – mencari uang di desa.
Kebutuhan hidup – kebahagiaan hidup
Pergaulan – kesenangan hidup
            Untuk menguji hipotesis, para siswa mengadakan pengumpulan data empirik. Mereka melakukan kunjungan dan mengadakan wawancara dengan orang-orang desa yang baru tinggal di kota maupun kepada orang-orang desa yang sudah lama tinggal di kota.
            Setelah para siswa melakukan pengujian dengan data empiris, mereka dapat menyimpulkan jawaban bahwa orang-orang desa mengalir pergi ke kota disebabkan karena di kota lebih banyak lapangan pekerjaan, mudah mencari uang dan kebutuhan hidup yang lebih terjamin. Dengan diperolehnya jawaban, maka para siswa dapat merumuskan pemecahan masalah urbanisasi. Misalnya, di desa perlu diciptakan lapangan pekerjaan yang lain dari pekerjaan tani dan dibangun sarana-sarana kebutuhan hidup. Diharapkan orang-orang desa tidak lagi pergi ke kota, dan masalah kependudukan di kota dapat teratasi.

E. Dampak Instruksional dan Penyerta

            Tujuan belajar yang eksplisit diusahakan dengan tindakan instruksional tertentu dinamakan dampak instruksional.
Dampak instruksional dalam inkuiri sosial adalah :
1.    Dapat melakukan penelitian masalah-masalah sosial
2.    Dapat mengembangkan tanggung jawab dalam perbaikan masyarakat

Tujuan yang lebih merupakan hasil ikutan dari instruksional tertentu dinamakan dampak penyerta. Dampak penyerta yang dapat dicapai melalui inkuiri sosial adalah :
1.    Akan timbul rasa hormat para siswa terhadap martabat semua orang.
2.    Para siswa akan memiliki sikap toleran terhadap orang lain.
3.    Para siswa akan membiasakan berprilaku yang diharapkan oleh masyarakat




   MODEL INQUIRY
SOSIAL


Dapat meneliti masalah-masalah sosial
Bertanggung jawab terhadap perbaikan masyarakat
Rasa Hormat terhadap martabat manusia
Kebiasaan akan tindakan sosial
Toleran terhadap orang lain
 










                        Dampak Instruksional
            Dampak Penyerta

Bagan : Dampak Model Mengajar dengan Inkuiri Sosial

F. Tahap Diskusi

            Model mengajar dengan inkuiri sosial mempunyai kelebihan dan kelemahan.
1. Kelebihan inquiri
Ditinjau dari segi ilmu pengetahuan, khususnya mengenai prinsip-prinsip penelitian ilmiah, model inkuiri sangat cocok untuk penelaahan gejala-gejala sosial. Suatu kebenaran ilmiah dilakukan dengan pengujian logis dan pembuktian empiris. Dalam inkuiri sosial hal ini dilakukan oleh para siswa. Dengan demikian keuntungan lain dari inkuiri sosial, para siswa terlatih dalam menemukan dan mempergunakan prinsip-prinsip penelitian ilmiah.
Kelebihan lain dari inquiri sosial adalah para siswa dapat berpikir dan mencari sendiri dalam situasi bebas yang terarah (adanya hipotesis), sehingga hal ini akan menimbulkan semangat belajar pada siswa.

2. Kelemahan Inquiry
Pelaksanaan inkuiri sosial memerlukan waktu yang lama serta usaha yang tinggi dari para siswa. Jika para siswa tidak memiliki kesadaran dan usaha yang tinggi, pelaksanaan inkuiri sosial tidak akan mencapai hasil sebagai model mengajar yang baik. Dengan waktu yang lama para siswa tidak akan segera mendapatkan pengetahuannya. Padahal para siswa dituntut untuk belajar memperoleh pengetahuan yang luas ruang lingkupnya.
            Masih banyak model PBM pengembangan intelektual lainnya. Berikut contoh model PBM pengembangan kreativitas, suatu kecerdasan siswa lainnya yang jarang disentuh pada sekolah-sekolah biasa. Pada SMP Unggulan model ini perlu dikembangkan.


BAB III
PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN

A.   Setting Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di beberapa Sekolah Menengah Pertama Kabupaten Bengkayang. Sekolah tempat penelitian ini merupakan  sekolah-sekolah yang disukai dan menjadi rebutan untuk dapat diterima, sehingga siswa-siswa yang masuk ke Sekolah Menengah Pertama Negeri tersebut memiliki rata-rata nilai yang baik.

B.   Prosedur Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan ini mengikuti prosedur kerja yang terdiri dari beberapa rencana tindakan. Langkah-langkah yang ditempuh terdiri dari kegiatan-kegiatan berikut:
1.    Justifikasi Rencana Pembelajaran: Guru bersama instruktur melakukan urun rembug atau brainstorming untuk memulai rencana pembelajaran yang telah dibuat oleh guru untuk diperbaiki sesuai dengan standar minimal.
2.    Monitoring Pelaksanaan Proses Pembelajaran: Guru teman sejawat dan instruktur melakukan monitoring atau pengamatan di kelas terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru bidang studi. Hasil monitoring direfleksikan kepada guru bidang studi lainnya untuk diperbaiki pelaksanaan pembelajaran di kelas pada siswa yang akan dilaksanakan.
3.    Mengidentifikasi Temuan Masalah: dari hasil kegiatan justifikasi rencana pembelajaran dan monitoring pelaksanaan proses pembelajaran, ditemukan masalah yang terdapat dalam pembelajaran di kelas.
4.    Urun Rembug Cara-cara Pemecahan Masalah Dan Menentukan Langkah-langkah Tindakan Mengatasinya: masalah yang telah ditemukan bersama oleh guru sejawat dan dosen, kemudian dianalisis bersama-sama dengan pendekatan brainstorming untuk dapat ditentukan penyebab timbulnya masalah. Apabila telah ditemukan penyebab masalah, kemudian penyebab ini didiskusikan pula cara-cara untuk mengatasi penyebab timbulnya masalah tersebut.
5.    Menyusun Rencana Tindakan: Rencana tindakan disini dimaksudkan sebagai suatu urutan langkah-langkah tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini. Urutannya terdiri dari beberapa siklus tindakan yang disusun oleh guru bersama tim peneliti yang digunakan sebagai acuan yang dirinci dalam bentuk skenario tindakan pembelajaran di kelas. Rencana pembelajaran itu sendiri dapat dimaksudkan sebagai bagian dari skenario tindakan. Namun demikian pelaksanaan pembelajaran tetap mengacu kepada apa yang telah dituangkan dalam rencana pembelajaran. Skenario tindakan hanya diperlukan pada waktu guru bersama tim peneliti untuk memberikan tindakan terhadap masalah yang ditemukan dalam pembelajaran di kelas. Dalam rencana tindakan dibuat instrumen yang terdiri dari:
a.    Skenario tindakan
b.    Ketentuan observasi; isinya tentang segala ketetapan aturan observasi tim peneliti dan sasaran yang diobservasi serta cara merefleksinya.
c.    Indikator Kinerja Tindakan; yaitu untuk mengukur keberhasilan rencana tindakan.
6.    Melakukan Observasi Pelaksanaan Tindakan Dan refleksi : instrumen rencana tindakan dijadikan dasar dalam melakukan observasi yang dilaksanakan oleh guru sejawat dan dosen. Hasil observasi atau pengamatan segera direfleksikan bersama oleh tim untuk menentukan perubahan pembelajaran dalam bentuk penyusunan siklus tindakan berikutnya.

C.   Gambaran Umum Penelitian
Pada bagian ini akan diuraikan bahasan hasil temuan penelitian yang terinci berdasarkan siklus tindakan. Supaya lebih jelas laporan ini, maka sistematika dalam penyajian hasil penelitian ini dibahas dengan urutan seperti berikut ini:
1.    Paparan temuan awal sebelum pemberian tindakan, di sini akan dijelaskan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh tim untuk memperoleh gambaran tentang setting kelas, masalah yang ditemukan dan penyebab masalah.
2.    Uraian tentang siklus tindakan bagi setiap tindakan yang dilakukan selama penelitian tindakan yang berisikan uraian tentang:
a.    Rencana Tindakan
b.    Skenario Tindakan
c.    Indikator Kinerja Tindakan
d.    Cara Observasi
e.    Hasil Observasi dan Refleksi
f.     Rencana Tindakan Selanjutnya

Siklus tindakan dalam penelitian yang telah dilakukan terdiri dari dua siklus tindakan. Setiap siklus tindakan mempunyai pola umum prosedur.

D.   Rincian Prosedur Penelitian
1.    Persiapan Tindakan
Masalah:
Dalam penelitian tindakan ini yang melaksanakan skenario tindakan adalah guru bidang studi IPS yang ada di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang. Hasil refleksi setelah melakukan diskusi bersama guru dan dosen diperoleh kesepakatan tentang masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:
a.    Siswa lemah dalam berpikir kritis untuk memecahkan soal-soal berbentuk uraian atau essay. Hal ini terlihat dari kemampuan siswa dalam menguraikan jawaban yang sangat terbatas atau jawaban siswa sangat dangkal.
b.    Siswa kurang bergairah dalam mengikuti pelajaran. Apabila diberi pertanyaan yang sifatnya uraian, hampir tidak ada siswa yang menunjukkan jari untuk menanggapi.
c.    Guru kurang memotivasi siswa untuk memecahkan soal-soal berbentuk uraian.
Penyebab Masalah:
Hasil diskusi bersama tim peneliti disepakati bahwa penyebab masalahnya adalah sebagai berikut:
a.    Guru masih terfokus pada penggunaan metode ceramah, belum ada kemampuan guru untuk mengembangkan pendekatan inkuiri sosial dengan metode-metode mengajar yang lain.
b.    Guru kurang melakukan inovasi atau pengembangan dan perubahan dalam pembelajaran.

2.    Setting Kelas
Kondisi kelas dan siswa yang diberi tindakan dalam penelitian tindakan dapat digambarkan sebagai berikut:
a.    Sebagian besar guru-guru yang mengajar di SMP umumnya menggunakan metode ceramah, sedikit sekali yang menggunakan metode yang melatih anak untuk berpikir kritis dan mengembangkan daya nalarnya.
b.    Siswi-siswi yang berada di kelas II ini, jika dilihat dari nilai rata-rata harian secara umum mempunyai kemampuan di atas cukup.

3.    Implementasi Tindakan
Siklus Tindakan I
1.    Rencana Tindakan                       : Melatih kemampuan guru dalam
                                                       menggunakan  pendekatan inquiry sosial
       Pokok Bahasan                 : Koperasi Indonesia
       Sub Pokok Bahasan         : Penyelenggaraan Koperasi Sekolah
2.    Skenario Tindakan:
a.    Berdasarkan tujuan dan bahan pengajaran guru merencanakan pembelajaran, merumuskan tujuan yang harus dicapai atau menyusun strategi pembelajaran yang mengacu pada pendekatan inquiry sosial.
b.    Guru menyajikan pokok bahasan dengan urutan sebagai berikut:
1)    Melakukan pendahuluan, tujuannya adalah untuk memberikan motivasi awal kepada siswa sebelum pembahasan lebih lanjut dari seluruh pokok bahasan. Kegiatan pendahuluan ini meliputi:
a)    Deskripsi singkat tentang pokok bahasan yang akan disajikan.
b)    Relevansi: guru menghubungkan pokok bahasan yang akan disajikan dengan lingkungan kehidupan anak, ataupun dengan pokok bahasan yang telah dikuasai oleh siswa.
c)    Menyampaikan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK); di sini guru menjelaskan secara singkat mengenai tujuan dari pokok bahasan yang akan dipelajari siswa.
2)    Menyajikan materi dari pokok bahasan; Pada langkah ini guru melakukan kegiatan:
a)    Menyajikan materi dari pokok bahasan, dalam hal ini hanya konsep-konsepnya atau prinsip-prinsip.
b)    Memberi kesempatan bertanya; apabila ada siswa yang belum jelas mengenai konsep, prinsip yang dijelaskan guru memberi kesempatan untuk bertanya.
c)    Berdasarkan konsep, prinsip, hukum atau kaidah yang telah dijelaskan, guru merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan.
d)    Bersama-sama dengan siswa menentukan dugaan masalah yang diajukan berdasarkan pemahaman konsep, prinsip, yang telah diajarkan. Dalam penentuan jawaban sementara, sebaiknya guru memberi seluas-luasnya kesempatan kepada siswa untuk merumuskan dugaan sendiri. Guru lebih berperan memberikan arah dan membimbing pendapat siswa (merumuskan hipotesis)
e)    Siswa diminta untuk mencari informasi, keterangan, bahan, data dan lain-lain yang diperlukan untuk menguji jawaban terhadap masalah yang diajukan.
f)     Berdasarkan data, informasi, keterangan yang diperoleh siswa mendiskusikan keterangan itu, apakah data itu benar atau salah, kemudian menghimpun data tersebut untuk dicocokkan dengan jawaban atau dugaan sementara (menguji hipotesis).
g)    Siswa dengan bantuan guru mencoba menarik kesimpulan. Kesimpulan yang dibuat adalah menerima atau menolak jawaban sementara atau dugaan sementara yang telah ditetapkan.
3)    Menutup  Pelajaran; Kegiatan menutup pelajaran tidak selalu harus memberikan soal untuk keperluan evaluasi. Dalam kegiatan ini guru memberi komentar terhadap pekerjaan siswa.

3.    Indikator Kinerja Tindakan
Untuk mengkur keberhasilan pelaksanaan rencana tindakan ditetapkan indikasinya, yaitu:
a.    Apabila dari seluruh siswa 50 persen telah mampu merumuskan hipotesis terhadap pemecahan masalah sosial yang dihadapi.
b.    Keberhasilan penggunaan pendekatan ini apabila minimal 75 persen dari seluruh siswa telah menunjukkan kemampuan berpikir kritis yang dibuktikan dengan hasil jawaban tes uraian atau essay yang diberikan setelah pemberian tindakan.

4.    Cara Melakukan Observasi
Pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan oleh tim peneliti. Cara melakukan observasi:
a.    Tim peneliti bersama-sama menetapkan cara mengobservasi. Observasi disepakati dalam penelitian ini dilakukan di dalam kelas. Tim peneliti berada di dalam kelas yang diberi tindakan.
b.    Menyepakati hal-hal yang diobservasi, yaitu:
1.    Pelaksanaan rencana pembelajaran.
2.    Interaksi kelas selama proses pembelajaran. Apakah guru telah lancar menerapkannya. Bagaimana partisipasi siswa selama mengikuti pelajaran.
3.    Partisipasi siswa yang berani merumuskan jawaban sementara.
4.    Cara siswa membuat argumentasi, mengkritik teman, dugaan sementara yang dirumuskan.

5.    Hasil Observasi dan Refleksi
Hasil  observasi terhadap pelaksanaan rencana pembelajaran dan pendekatan yang dikembangkan diamati oleh tim peneliti. Setiap anggota tim yang melakukan observasi terlibat untuk mendiskusikan hasil temuannya masing-masing sebagai refleksi bagi guru bidang studi. Berdasarkan catatan yang dibuat atau temuan yang diperoleh didiskudikan bersama-sama dan hasil diskusi tersebut diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
a.    Guru dalam melaksanakan rencana pembelajaran masih banyak menggunakan metode ceramah saja, belum berupaya untuk menanamkan konsep dan memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan pemikirannya. Seharusnya setelah guru memberikan konsep-konsep siswa diberi kesempatan untuk bertanya tentang konsep yang telah dijelaskan.
b.    Masalah yang dilontarkan guru pada siklus I sudah relevan dengan pokok bahasan, namun pada pelaksanaan tindakan awal ini terkesan siswa agak bingung dan kurang memahami maksud guru. Hal ini terlihat ketika terjadi kevakuman untuk beberapa menit. Setelah guru menegaskan kembali masalah yang dilontarkan kepada siswa, baru terlihat 2 orang dari 2 kelompok yang berani mengemukakan jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan guru.

E.  Populasi dan Sampel Penelitian
Peneliti menentukan populasi penelitian dengan seleksi sederhana yaitu mencari subyek yang relevan dengan kedudukan atau jabatan yang disandangnya serta melihat keikutsertaannya dalam masalah yang diteliti. Populasi yang dijadikan acuan dalam penelitian ini yaitu mencari informasi yang dibutuhkan dan untuk memudahkan penelitian ini, yaitu:
1.    Guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berjumah 12 orang.
2.    Siswa kelas VIII berjumlah 30 orang.

F. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik adalah cara yang digunakan dalam mengumpulkan data dan informasi. Sehubungan dengan itu Hadari Nawawi (2003: 94-95) mengatakan bahwa untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian ada beberapa teknik atau cara yang dapat dipergunakan. Dalam penelitian ini, data yang diambil adalah:
1.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Untuk mengambil data ini, peneliti menggunakan cara dokumentasi atau teknik studi dokumenter. Cara ini digunakan selain untuk melihat mutu pembelajaran IPS melalui metode inkuiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang juga untuk mendukung argumentasi pada bab II.
Teknik dokumenter ini digunakan karena dalam penelitian ini terdapat data yang diperlukan melalui dokumen seperti Rencana Pembelajaran dan dokumen Program Kerja Sekolah untuk gambaran umum penelitian.
2.    Pelaksanaan Metode Inquiry  
Untuk mengambil data ini, peneliti menggunakan cara observasi dalam kelas secara langsung atau dengan kata lain menggunakan teknik observasi partisipan dengan alat berupa pedoman observasi. Observasi dilakukan terhadap guru yang mengajar Data yang diambil melalui observasi ini untuk melihat pelaksanaan pembelajaran IPS melalui metode inquiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang.
3.    Keaktifan Siswa
Untuk mengambil data keaktifan siswa ini, peneliti menggunakan cara yang sama seperti pada bagian b, yaitu observasi dalam kelas secara langsung atau dengan kata lain menggunakan teknik observasi partisipan dengan alat berupa pedoman observasi. Observasi dilakukan terhadap siswa yang mengikuti pelajaran. Data yang diambil melalui observasi untuk melihat keaktifan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran IPS memalui metode inquiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama Menegeri di Kabupaten Bengkayang.
4.    Kendala Penerapan Metode Inquri
Untuk mengambil data ini, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang sudah dipersiapkan alatnya berupa pedoman wawancara atau dengan kata lain menggunakan teknik komunikasi langsung dengan alat berupa pedoman wawancara. Wawancara dilakukan terhadap guru untuk mengetahui kendala penerapan metode inquiri dalam penyampaian materi pada mata pelajaran IPS  di Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang.
5.    Hasil Belajar Siswa
Untuk mengambil data ini, peneliti menggunakan cara dokumentasi atau teknik studi dokumenter. Cara ini digunakan untuk melihat hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang.

G. Teknik Analisis Data
Di bab Hasil dan Pembahasan Penelitian, peneliti terlebih dulu menyajikan paparan data yang mendeskripsikan secara ringkas apa saja yang dilakukan peneliti sejak pengamatan awal (sebelum penelitian) yaitu kondisi awal guru dan siswa diikuti refleksi awal vang merupakan dasar perencanaan tindakan, dilanjutkan dengan paparan mengenai pelaksanaan tindakan, hasil wawancara terhadap guru dan siswa, observasi situasi dan kondisi kelas dan hasil observasi kegiatan siswa. Paparan data itu kemudian diringkas dalam bentuk temuan penelitian yang berisi pokok-pokok hasil observasi dan wawancara.
Penelitian ini melakukan dua kali siklus tindakan. Jadi peneliti hanya membandingkan hasil antara sebelum dan setelah dilakukan treatment terhadap obyek penelitian. Untuk mengetahui mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri, peneliti menggunakan rumus sebagai berkut:
M =
Dimana :   M        = (Mean)  rata-rata
SX       = Jumlah skor total siswa
N         = (Number) jumlah siswa
Kemudian skor rata-rata siswa diinterpretasikan dengan menggunakan kategori seperti pada tabel berikut:
Tabel 1
Kategori Kemampuan Siswa
Interval
Kategori
0,00 - 1,99
2,00 - 3,99
4,00 - 5,99
6,00 - 7,99
8,00 - 10,00
Buruk sekali
Buruk
Sedang
Baik
Baik sekali
Sumber : David P. Harris (1986:136)
Sementara untuk menvanalisa mutu pembelajaran IPS dalam hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah penerapan metode inquiri, peneliti pertama-tama menyajikan tabel hasil penelitian sebelum dan sesudah siklus tertentu. hasil penjumlahan pada tabel dimasukkan ke dalam rumus berikut.
SD =
Kemudian diadakan perhitungan SD standar kesalahan perbedaan antara dua rata-rata dengan rumus sebagai berikut:
SD =
Untuk mendapatkan nilai t adalah dengan mengunakan rumus sebagai berikut:
t =  
selanjutnya t hitung tersebut dibandingkan dengan t tabel dengan terlebih dahulu menentukan derajat kebebasannya atau disingkat dk dan taraf kesalahan 5 %. Dalam ha ini berlaku ketentuan bila t hitung lebih besar dari t tabel maka hipotesis tindakan diterima, begitu sebaliknya.

H. JADWAL KEGIATAN PENELITIAN
Penelitian ini akan dilakukan dari bulan Oktober hingga Nopember 2010 dengan rincian sebagaimana tertera pada tabel berikut ini.

Jadwal Penelitian


JENIS KEGIATAN

B  U  L  A  N  

Okt
Nop








A. PERSIAPAN
1.     Penyusunan Proposal Penelitian
2.     Pengembangan Instrumen
      Penelitian
3.     Pengurusan Izin Penelitian
4.     Pengumpulan Data Awal (Need
Assessment) Siswa.


xx

xx
xx
xx


















B. PELAKSANAAN
1. Studi Kepustakaan (Bibliografi)
2. Pengumpulan Data/Survey
    lapangan
3. Penyusunan Mode/l Awal Model
    Pembelajaran
4. Uji-cobaTerbatas, Revisi Model
    Model Belajar
5. Pelatihan Guru/Pemodelan
6. Uji-coba Model  Pembelajaran
7. Revisi Model Pembelajaran
8. Seminar dan Desiminasi

Xx

xx

xx








xx
xx
xx
xx
xx









C. PENYUSUNAN LAPORAN
1.     Penyusunan Draft Awal Penelitian
2.     Seminar Hasil Penelitian
3.     Penyusunan Laporan Akhir Pene-
litian



xx

xx
xx









BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A.   Deskripsi Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di 12 Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 30 orang, jumlah guru yang mengajar sebanyak 12 orang, sekaligus menjadi partisipan dalam penelitian ini, yaitu guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011.
Pelaksanaan tindakan dilakukan sebanyak dua siklus dengan materi RPP,  pelajaran meliputi: perencanaan atau persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada siklus pertama dan ketentuan-ketentuan sama dengan pada siklus ke dua, yaitu dengan melihat mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri. Pada bagian penutup. kesimpulan yang dibuat guru, evaluasi, tindak lanjut. memberi motivasi kepada siswa dan salam penutup dengan doa.
Sehubungan dengan penelitian ini paparan deskripsi hasil penelitian meliputi  mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri sesudah diterapkan metode inquiri  dan sebelum diterapkan metode inquiri oleh guru dalam menghadapi kendala penerapan penerapan metode inquiri, serta perbedaan mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri .
Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 22 s/d 25 Oktober 2010 siklus kedua pada tanggal 26 dan 30 Nopember 2010 Sesuai dengan kesepakatan pada tahap perencanaan bahwa yang melaksanakan tindakan adalah mata pelajaran IPS tahun pelajaran 2010/2011. Dalam pelaksanaan tindakan kelas ini tidak diikuti secara lengkap oleh seluruh siswa yang berjumlah 30 siswa.

B.   Analisis Data Sebelum Dilakukan Treatment
Pada bagian ini peneliti akan menganalis data sebelurn diterapkan metode inquiri di Sekolah Menengah Pertama tahun pelajaran 2010/2011. Mutu Pembelajaran IPS melalui metode inquiri di Kabupaten Bengkayang Tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Mutu Pembelajaran IPS  
Sebelum diterapkan Metode Inquiry  
No.
Aspek kemampuan Siswa
Jumlah Nilai
Nilai Rata-Rata
1
2
3
4
5
6
Penyebab terjadinya gempa bumi
Kaitan interaksi sosial dan proses sosial
Penyebab terjadinya perubahan musim
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk
Ciri-ciri negara maju dan berkembang
Faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda
188
157
185
186
184
191
6,27
6,23
6,17
6,20
6,13
6,37
Sumber: Rekapitulasi Data Hasil Observasi tentang kemampuan siswa dalam menerima materi pelajaran sebelum diterapkan metode inquiry.

Interpretasi:
a.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanvak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,00, berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 1 adalah 6,27 dengan merujuk pada tabel I pada Bab III perolehan ini berkisar antara dengan merujuk pada tabel 1 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjawab terjadinya gempa buki sebelum diterapkan metode inkuiri dalam praktek mata pelajaran IPS di Kelas VII SMP Negeri  Kabupaten Bengkayang  tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik.
b.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 2 adalah 6,23 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab III perolehan ini berkisar antara 6,00-799 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam kaitan interaksi sosial dengan proses sosial sebelum diterapkan metode inquiri dalam praktek mata pelajaran IPS di Kelas VII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong, baik.
c.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 3 adalah 6,17 dengan merujuk pada tabel I pada Bab III perolehan ini berkisar antara tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam penyebab terjadinya perubahan iklim sebelum diterapkan metode inquiry  dalam praktek mata pelaiaran IPS di Kelas VIII  SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik.
d.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 4 adalah 6,20 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab III  perolehan ini berkisar antara 6,00-799 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk sebelum diterapkan metode inquiry dalam praktek mata pelajaran IPS Kelas VIII SMP Negeri Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong, baik.
e.    Berdasarkan perhitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor rnaksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 5 adalah 6,13 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab III perolehan ini berkisar antara tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam ciri-ciri Negara maju dan berkembang sebelum diterapkan metode inkuiri dalam praktek mata pelajaran IPS Kelas IX tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik.
f.     Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10.0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 6 adalah 6,317 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 6,00-799 tergolong baik. Dengan kemampuan siswa dalam faktor-faktor penyebab konflik Indoneia dengan Belanda sebelum diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS di Kelas XI SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik.
Secara keseluruhan aspek, kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sebelum diterapkan metode inkuri di Sekolah Menengah Pertama Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut:
M=
    =
    = 6, 23
Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, maka peroleh ini berkisar antara 6,00-7,99 tergolong baik. Hal ini berarti bahwa kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sebelum diterapkan metode inkuri di Sekolah Menengah Pertama Kabupaten bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 dikategorikan baik.

C.   Analisis Data Siklus Pertama
Persiapan untuk siklus pertama ini, peneliti dengan dibantu oleh guru IPS yang lain di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 20108/2011 membuat dua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus pertama. Siklus pertama dilakukan dua kali pertemuan.
Pada pertemuan pertama, materi pokoknya adalah 1)  Menjelaskan penyebab terjadinya gempa bumi, 2) Menjelaskan penyebab terjadinya perubahan musim,  3) Menyebutkan ciri-ciri negara maju dan berkembang,. Standar Kompetensinya adalah 1) Memahami kehidupan soaial manusia, 2) memahami pranata dan penyimpangan soaial, 3) dan memahami usaha mempertahankan kemerdekaan.  Dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Pendahuluan
a.    Memberi salam
b.    Menyapa dan mengabsen siswa
c.    Melakukan appersepsi
d.    Memulai pelajaran
2.    Kegiatan Inti
a.    Membantu siswa mengidentifiikasi pengertian kehidupan sosial, pranata dan penyimpangan sosial dan usaha mempertahankan kemerdekaan
b.    Membacakan dalil yang berkenaan dengan materi tersebut di atas
c.    Mengidentitikasi penyebab (materi tsb)
d.    Tanya jawab tentang materi yang disampaikan
e.    Mengelompokkan siswa
f.     Memberikan tugas untuk masing-masing kelompok
g.    Mendemontrasikan
h.    Setiap kelompok rnelakukannya dan kelompok yang lain mengamatinya
i.      Menjelaskan perbedaan
3.    Penutup
a.    Menyimpulkan bersama-sama
b.    Memberitahukan tugas yang harus dilakukan oleh siswa di rumah
c.    Melakukan refleksi tentang materi yang telah dipelajari
Pada pertemuan kedua, materi pokoknya adalah 1) Kaitan interaksi sosial dan proses sosial, 2) Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, 3) Faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda. Kompetensinya adalah 1) Menjelaskan kehidupan sosial manusia, 2) Menjelaskan pranata dan penyimpangan sosial, 3) Menjelaskan usaha mempertahankan kemerdekaan, dengan Kompetensi Dasar 1 ) Mendeskripsikan kaitan interaksi sosail dan proses sosial; 2) Mendeskripskan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk,   3) Mendeskrispsikan faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1.    Pendahuluan
a.    Memberi salam
b.    Menyapa dan mengabsen siswa
c.    Melakukan appersepsi
d.    Memulai pelajaran dengan berdoa
2.    Kegiatan Inti
a.    Membantu siswa mengidentifikasikan pengertian kehidupan sosial manusia, pranata dan penyimpangan sosial, dan usaha mempertahankan kemerdekaan
b.    Mengidentfikasi manfaat kehidupan sosial, pranata dan penyimpangan sosial serta usaha mempertahankan kemerdekaan
c.    Mendemonstrasikan tata cara kehidupan sosial, pranata dan penyimpangan sosial, serta usaha mempertahankan kemerdekaan
d.    Mengelompokkan siswa
e.    Mengsimulasikan
f.     Setiap kelompok mengamati praktek kelompok lainnya
g.    Tanya jawab sekitar materi 
3.     Penutup
a.    Menyimpulkan materi bersama-sama
b.    Memberitahukan tugas yang harus dilakukan oleh siswa di rumah
c.    Melakukan refleksi tentang materi yang di pelajari
Setelah dilakukan treatment di atas sambil melakukan observasi sehingga diperoleh 1) Skor kemampuan siswa pada mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri siklus pertama melalui observasi; 2) Perbedaan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS antara sebelum diterapkan metode inquiri dengan melihat hasil pretest dan sesudah diterapkan matode inquiri melalui observasi pada siklus pertama dengan penjelasan sebagai berikut:
1.    Kemampuan siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sesudah diterapkan metode inquiri siklus pertama
Kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri siklus pertama Sekolah menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/'2011 seperti terlihat dalam tabel dibawah ini :

Tabel ; 3
Kemampuan Siswa Pada Mata Pelajaran IPS
Sesudah diterapkan Metode Inquiri  Siklus Pertama
No.
Aspek kemampuan Siswa
Jumlah Nilai
Nilai Rata-Rata
1
2
3
4
5
6
Penyebab terjadinya gempa bumi
Kaitan interaksi sosial dan proses sosial
Penyebab terjadinya perubahan musim
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk
Ciri-ciri negara maju dan berkembang
Faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda
229
233
231
236
232
230
7,63
7,77
7,70
7,87
7,73
7,67

Jumlah
1391
46,37
Sumber:    Rekapitulasi Data Hasil Observasi tentang Kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS setelah diterapkan Metode Inquiri siklus pertama


Interpretasi
a.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0.00 berarti sangat rendah Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 1 adalah 7,63 dengan merujuk pada tabel I pada Bab III perolehan ini berkisar antara 6,00 - 7.99 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjawab penyebab terjadinya gempa bumi sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Bengkayang  tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik.
b.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 3,0 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksirnal adalah 10.0 berarti sangat baik. sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 2 adalah 7,77 dengan merujuk pada tabel ( pada Bab II) perolehan ini berkisar antara 6.00 - 7.99 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam kaitan interaksi sosial dan proses sosial sesudah diterapkan metode inkuri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik.
c.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 dipero1eh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item s adalah 7,70 dengan merujuk pada tabel I pada Bab III perolehan ini berkisar antara 6,00 - 7,99 tergolong balk. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan penyebab terjadinya perubahan musim sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik.
d.    Berdasarkan perhitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal) adalah 10.0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 4 adalah 7,87 dengan merujuk pada tabel I pada Bab III perolehan ini berkisar antara 6,00-799 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam  menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik
e.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebayak 6 diperoleh skor maksimal adalah (0,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah  0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembaiikan pada nilai rata-rata item 5 adalah 7,7; dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab III perolehan ini berkisar antara 6,00 - 7,99 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menyebutkan ciri-ciri Negara maju dan berkembang sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun peiajaran 2010/2011 tergolong sangat baik.
f.     Berdasarkan perhitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah ,Iika dikembalikan pada nilai rata-rata item 6 adalah 7,67 dengan merujuk pada tabel I pada Bab II perolehan ini berkisar antara 6,00-7,99 tergolong  baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda sesudah diterapkan metode inkuiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus pertama di kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong, baik.
Secara keseluruhan aspek,  kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut

M=
    =
    = 7, 73
Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, maka perolehan ini dengan merujuk pada tabel I pada Bab III berkisar antara 6,00 - 7,99 tergolong, baik. Hal ini berarti bahwa kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 dikategorikan baik.
2.    Perbedaan Kemampuan Siswa dalam Mata Pelajaran IPS antara sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri  pada Siklus Pertama
Perbedaan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten  Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut:
Tabel 4
Perbedaan Kemampuan Siswa dalam Mata Pelajaran IPS antara Sebelum dan Sesudah Diterapkan Metode Inquiry Pada Siklus Pertama
No.
Sebelum (X1)
Sesudah Siklus Pertama (X2)
D = (X2 – X1)
D2
1
2
3
4
5
6
6,27
6,23
6,17
6,20
6,13
6,37
7,63
7,77
7,70
7,87
7,73
7,67
1,36
1,54
1,53
1,67
1,60
1,30
1,85
2,37
2,34
2,79
2,56
1,69

S X1 = 37,37
S X2 = 46,37
S D = 9,00
SD2 = 13,60

Hasil penjumlahan pada tabel di atas dimasukkan ke dalam rumus berikut:
SD      =         
      =   
      =   
      =   
      =   
      =   
      =    0,184
Perhitungan SD standar kesalahan perbedaan antara dua rata-rata adalah sebagai berikut:
SD      =         
      =   
      =   
      =    0,075

Untuk mendapatkan nilai t adalah sebagai berikut:
t  =
   =
   =
   = 20,00
Hasil perhitungan nilai t 20,00. Jika dicek distribusi t tabel pada signifikansi 5% dengan db = n – 1, diperoleh:
db  = n – 1
      = 6 – 1
      = 5
db 5 = 2,571

Karena nilai t hitung lebih besar daripada t tabel (20,00>2,571), maka ini berarti bahwa hipotesis dalam penelitian ini berbunyi, “Mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bengkayang dapat meningkatkan kemampuan siswa mata pelajaran IPS secara signifikan” diterima. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan mutu pembelajaran IPS melalui metode inquiri dalam mata pelajaran IPS antara sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang  tahun pelajaran 2010/2011.

D.   Analisis Data Siklus Kedua
Persiapan untuk siklus kedua ini, peneliti masih dibantu oleh guru IPS  kelas VIII dan kelas IX Sekolah Menengah Pertama Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 membuat dua buah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk dua pertemuan.
Pada pertemuan pertama, materi pokoknya adalah 1) penyebab terjadinya gempa bumi, 2) kaitan interaksi sosial dan proses sosial, 3) penyebab terjadinya perubahan musim, 4) faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, 5) ciri-ciri negara maju dan berkembang, 6) faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda. Kompetensinya adalah memahami kehidupan sosial manusia, pranata dan penyimpangan sosial, serta usaha mempertahankan kemerdekaan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1.    Pendahuluan
a.    Memberi salam
b.    Menyapa dan mengabsen siswa
c.    Melakukan apersepsi
d.    Memulai pelajaran dengan berdoa
2.    Kegiatan Inti
a.    Membantu siswa mengidentifikasi materi
b.    Mengidentifikasi materi
c.    Berdiskusi tentang materi dan mencari perbedaannya
d.    Berdiskusi tentang perbedaan materi
e.    Mengelompokkan siswa untuk mengidentifikasi tentang materi .
f.     Setiap kelompok mempresentasikan materi
3.    Penutup
a.    Menyimpulkan materi bersama-sama
b.    Memberitahukan tugas yang harus dilakukan oleh siswa di rumah
Melakukan refleksi tentang materi yang telah dipelajarinya

Pada pertemuan kedua, materi pokoknya adalah 1) penyebab terjadinya gempa bumi, 2) kaitan interaksi sosial dan proses sosial, 3) penyebab terjadinya perubahan musim, 4) faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, 5) ciri-ciri negara maju dan berkembang, 6) faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda. Standar Kompetensinya adalah memahami kehidupan sosial manusia, memahami pranata dan penyimpangan sosial, dan memahami usaha mempertahankan kemerdekaan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1.    Pendahuluan
a.    Memberi salam
b.    Menyapa dan mengabsen siswa
c.    Melakukan apersepsi
d.    Memulai pelajaran dengan berdoa
2.    Kegiatan Inti
a.    Membantu siswa mengidentifikasi pengertian tentang materi
b.    Membaca materi
c.    Mengidentifikasi materi
d.    Berdiskusi tentang tata materi
e.    Mengelompokkan siswa untuk mengidentifikasi materi
f.     Setiap kelompok mempresentasikan materi
g.    Mendemonstrasikan materi
3.    Penutup
a.    Menyimpulkan materi bersama-sama
b.    Memberitahukan tugas yang harus dilakukan oleh siswa di rumah
Melakukan refleksi tentang materi yang telah dipelajarinya

Setelah dilakukan treatment di atas sambil melakukan observasi atau pengamatan, pada kesempatan berikutnya dilakukan post test siklus kedua, sehingga diperoleh: 1) Kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua; 2) Perbedaan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS antara sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua dengan penjelasan sebagai berikut:
1.    Kemampuan siswa dalam pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua.
Kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri kabupaten Bengkayang  tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut:

Tabel 5
Kemampuan Siswa dalam Mata Pelajaran IPS Sesudah Diterapkan Metode Inquiri  Pada Siklus Kedua

No,
Aspek Kemampuan siswa
Jumlah Nilai
Nilai Rata-rata
1
2
3
4
5
6
Penyebab terjadinya gempa bumi
Kaitan interaksi sosial dan proses sosial
Penyebab terjadinya perubahan musim
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk
Ciri-ciri negara maju dan berkembang
Faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda
246
247
242
241
242
243
8,20
8,23
8,07
8,03
8,07
8,10
Jumlah
1461
48,70
Sumber :  Rekapitulasi Data Hasil Observasi tentang Kemampuan Siswa dalam  Mata Pelajaran IPS Setelah Diterapkan Metode Inkuiri  Siklus kedua

Implementasi
a.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 1 adalah 8,20 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 – 10,00 tergolong baik sekali. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan penyebab terjadinya gempa bumi sesudah diterapkan strategi metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus kedua di kelas VII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik.
b.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 2 adalah 8,23 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 – 10,00 tergolong baik. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan kaitan antara interaksi sosial dan proses sosial sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS  pada siklus kedua di kelas VII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik.
c.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 3 adalah 8,07 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 – 10,00 tergolong baik sekali. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan penyebab terjadinya perubahan musim sesudah diterapkan metode inkuiri dalam  mata pelajaran IPS pada siklus kedua di kelas VIII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik
d.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 4 adalah 8,03 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 – 10,00 tergolong baik sekali. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS  pada siklus kedua di kelas VIII SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik.
e.    Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 5 adalah 8,07 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 – 10,00 tergolong baik sekali. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menyebutkan ciri-ciri negara maju dan berkembang sesudah diterapkan metode inquiri dalam mata pelajaran IPS pada siklus kedua di kelas IX SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik.
f.     Berdasarkan penghitungan statistik deskriptif dengan sampel sebesar 30 dan item sebanyak 6 diperoleh skor maksimal adalah 10,0 berarti sangat baik, sedangkan skor minimal adalah 0,00 berarti sangat rendah. Jika dikembalikan pada nilai rata-rata item 6 adalah 8,10 dengan merujuk pada tabel 1 pada Bab II perolehan ini berkisar antara 8,00 – 10,00 tergolong baik sekali. Dengan demikian kemampuan siswa dalam menjelaskan faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda sesudah diterapkan metode inquiri dalam  mata pelajaran IPS pada siklus kedua di kelas IX SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong sangat baik.
Secara keselurhan aspek, kemamuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua di Sekolah menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut:
M   =
      =
      = 8,12

Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, maka perolehan ini dengan merujuk ada tabel 1 pada Bab II berkisar antara 8,00 – 10,00 tergolong baik sekali. Hal ini berarti bahwa Mutu Pembelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang  tahun pelajaran 2010/2011 dikategorikan baik sekali.
  1. Perbedaan Kemampuan Siswa dalam Mata Pelajaran IPS antara Sebelum dan Sesudah Diterapkan Metode Inquiry pada Siklus Kedua.
Perbedaan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut:
Tabel 6
Perbedaan Kemampuan Siswa dalam Mata Pelajaran IPS  antara Sebelum dan Sesudah Diterapkan Metode Inquiri Pada siklus Kedua
No.
Sebelum (X1)
Sesudah Siklus Kedua (X2)
D = (X2 – X1)
D2
1
2
3
4
5
6
6,27
6,23
6,17
6,20
6,13
6,37
8,20
8,23
8,07
8,03
8,07
8,10
1,93
2,00
1,90
1,83
1,94
1,73
3,72
4,00
3,61
3,35
3,76
2,99

S X1 = 37,37
S X2 = 48,70
S D = 11,33
SD2 = 21,43

Hasil penjumlahan pada tabel di atas dimasukkan ke dalam rumus berikut:
SD      =         
      =   
      =   
      =   
      =   
      =   
      =    0,279
Perhitungan SD standar kesalahan perbedaan antara dua rata-rata adalah sebagai berikut:
SD      =         
      =   
      =   
      =    0,11
Untuk mendapatkan nilai t adalah sebagai berikut :
  =
  =
  = 17,18

            Hasil perhitungan nilai t adalah 17,18 jika dicek distribusi t tabel pada singnifikasi  5% dengan db = n-1, diperoleh :
db  = n-1
            = 6-1
            = 5
Db 5 =2,571
Karena nilai t hitung lebih besar daripada t tabel (17,18>2,271), maka ini berarti bahwa Hipotesis dalam penelitian ini berbunyi, “Mutu Pembelajaran IPS Melalui Metode Inquiri Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bengkayang  dapat meningkatkan kemampuan siswa pada mata pelajaran IPS secara signifikan,” diterima. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan Mutu Pembelajaran IPS Melalui Metode Inquiri Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bengkayang antara sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siklus kedua di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang  Tahun Pelajaran 2010/2011.

E. Pembahasan
      1.   Mutu Pembelajaran IPS Sebelum dan sesudah diterapkan Metode Inquiri.
                        Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 dalam mata pelajaran IPS termasuk baik pada siklus pertama dan baik sekali siklus kedua. Hal ini disebabkan siswa termotivasi dengan metode inquiri yang diterimanya. Hal ini sejalan dengan pendapat Syaiful Bahri Djamarah (2002 :38) bahwa dalam belajar, seorang siswa tidak akan dapat menghindari dari suatu situasi motivasi. Motivasi ini akan menentukan aktivitas apa yang akan dilakukan dalam rangka belajar. Bahkan motivasi itulah yang akan mempengaruhi dan menentukan aktivitas belajar apa yang akan dilakukan kemudian. Setiap motivasi dimanapun dan kapanpun memberikan kesempatan belajar kepada siswa. Oleh karena itu berikut ini dibahas beberapa aktivitas belajar siswa tahun pelajaran 2010/2011 dalam mata pelajaran IPS.
a.    Penyebab terjadinya gempa bumi
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan siswa dalam menjelaskan terjadinya gempa bumi termasuk baik setelah diterapkan metode inquiri. Hampir seluruh siswa sesudah diterapkan matode inquiri dapat menjelaskan materi ini. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian 6,27 sebelum diterapkan menjadi 7,63 setelah diterapkan metode tersebut.
b.    Kaitan interaksi sosial dan proses sosial
Sebelum diterapkan metode inquiri kemampuan siswa dalam menjelaskan kaitan interaksi sosial dan proses sosial dalam mata pelajaran IPS termasuk baik. Kemudian ada kemajuan setelah dilakukan treatment. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan siswa dalam menjelaskan interaksi sosial dan proses sosial termasuk baik sesudah diterapkan metode inquiri. Hal ini di buktikan dengan hasil penelitian sebelum diterapkan metode tersebut 6,23 menjadi 7,77 setelah diterapkan.
c.    Penyebab terjadinya perubahan musim
Sebelum diterapkan metode inquiri kemampuan siswa 6,17 setelah diterapkannya metode inquiri tersebut menjadi 7,70. hal ini terbukti kemampuan siswa dalam menyebutkan penyebab terjadinya perubahan musim meningkat sesudah diterapkan metode inquiri.  
d.     Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Penduduk
Hasil penelitian menunjukan kemampuan siswa dalam menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk meningkat dari 6,20 setelah diterapkan metode inquiri   menjadi 7,87 setelah diterapkan metode tersebut.
e.    Ciri-ciri negara maju dan berkembang
Hasil penelitian yang menunjukan bahwa penyebutan ciri-ciri negara maju dan berkembang oleh siswa tergolong baik pada siklus pertama dan baik sekali pada siklus kedua, meskipun sebelum diterapkan matode inquiri memang sudah tergolong baik. Hal ini disebabkan karana guru IPS disekolah menggunakan metode inquiri dan masih teringat oleh pendidikan yang mereka peroleh pada saat mereka belajar dulu ditambah dengan kondisi sekolah yang sangat memungkinkan mereka belajar dengan metode baru.
f.     Faktor penyebab konflik antara Indonesia dengan Belanda
Berdasarkan temuan dalam peneltian ini, maka kemampuan siswa dalam menjelaskan konflik antara Indonesai dengan Belanda meningkat tajam dari 6,37 sebelum diterapkan metode inquiri  menjadi 8,10 setelah diterapkan metode pembelajaran tersebut.
  1. Mutu Pembelajaran IPS sebelum dan sesudah. diterapkan Metode Inquiri pada siklus kedua
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kemampuan siswa dalam  dalam Mata Pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inkuiri pada siklus kedua di SMP Negeri Kabupaten Bengkayang termasuk baik sekali sedangkan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sebelum diterapkan metode inquiri termasuk baik. Perbedaan hasil pembelajaran ini disebabkan siswa sesudah diteapkan metode inquiri lebih termotivasi secara ekstrinsik dengan strategi inquiri  yang diterimanya. Hal ini sejalan dengan pendapat Syaiful Bahri Djamarah (2002: 38) bahwa dalam belajar, seorang siswa tidak akan dapat menghindar dari situasi motivasi. Motivasi ini akan menentukan hasil belajar siswa melalui aktivasi belajarnya yang lebih baik.

BAB  V
P E N U T U P

A.   Kesimpulan
Berdasarkan analisis data pada bab III, peneliti menyimpulkan sebagai berikut:
1.    Kemampuan siswa dalam praktek mata pelajaran IPS sebelum diterapkan metode inquiri baru hanya tergolong baik. Hal ini terbukti dengan perolehan hasil penelitian sebesar 6,23.
2.    Kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS sesudah diterapkan metode inquiri tergolong baik pada siklus pertama yang diterapkan dengan cara mensimulasikan praktek dengan perolehan hasil penelitian sebesar 7,73. pada siklus kedua hasilnya baik sekali, hal ini terbukti dengan perolehan hasil penelitian sebesar 8,12. Pada siklus ini inquiri  diterapkan dengan cara praktek langsung.
3.    Terdapat perbedaan mutu pembelajaran IPS sebelum dan sesudah diterapkan metode inquiri pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Bengkayang  baik pada siklus pertama maupun pada siklus kedua. Hal ini terlihat dari nilai t hitung lebih besar daripada t tabel (20,00 > 2,571) pada siklus pertama dan (17,8 > 2,571) pada siklus kedua.

B.   Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti dapat memberi rekomendasi dalam penelitianini  sebagai berikut:
1.    Hasil mata pelajaran IPS siswa sebelum diterapkan metode inquiri di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kabupaten Bengkayang tahun pelajaran 2010/2011 tergolong baik. Hal tersebut dilakukan dengan cara banyak demonstrasi sedikit praktek, sehingga waktu terbuang dalam kegiatan demonstrasi. Oleh karenanya tim peneliti merekomendasikan kepada guru agar tidak terlalu sering menggunakannya.
2.    Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan mutu pembelajaran  IPS sesudah diterapkan metode inkuiri dan sebelum diterapkan metode inquiri.
3.    Guru mata pelajaran IPS seharusnya menggunakan metode inquiri, terutama yang berupa praktek langsung (tidak hanya berupa simulasi).
4.    Oleh karenanya kepada pihak sekolah untuk lebih giat lagi mencarikan sumber dana bagi penerapan metode inkuiri.

















DAFTAR PUSTAKA

Andi H. Nasution. (1991)  Kurikulum Pendidikan Dasar dan Struktur Pendidikan Dasar Lanjutan. Surabaya: Gema Kliping Service.

----------------, (1986) Metodologi Pengajaran IPS. Jakarta: P2LPTK

Badan Pusat Statistik (BPS) (2005) BPS Provinsi Kalimantan Barat., Kalimantan Barat Dalam Angka, 2004 - 2005; 2005 –2006; 2006 - 2007  Pontianak; Badan Pusat Statistik

Brenda, Dorn Conard. (1988) Cooperative Learning and Prejudice Reduction.  USA: Social Studies Journal. Aplir/May.

Departemen P dan K RI. (1993) Pedoman Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar di Sekolah Dasar. Jakarta.

---------------,(1994)  Kurikulum Sekolah Dasar: GBPP. Bidang Studi IPS. Jakarta.

---------------,(1992)  UU RI Nomor 2 Tahun 1989 (UUSPN) dan Peraturan Pelaksanaan-nya. Jakarta: Sinar Grafika.
]
Depdiknas (2003) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

------------------- (2004)Departemen Pendidikan Nasional RI, Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, Jakarta ; Depdiknas

Dunkin, Michael J. and Bruce J. Biddle. (1974). The Study of Teaching. USA: Holy, Rinehart and Winston, Inc.

Finch, Curtis R. et.al. (1979) Curriculum Development in Vocational and Technical Education: Planning, Content, and Implementation. Boston: Allyn and Bacom, Inc.

Hopkins, David. (1993) A Teacher’s Guide to Classroom Research. Philadephia: Open University Press.

Hamid Darmadi (2005) Himpunan Data sekolah TK,SD, SMP,SMA,SMK dan SLB di Kalimantan Barat Tahun 2005. Pontianak ; STKIP-PGRI. Lemlit

Hamid Darmadi (2006) Pendidikan Ilmu Sosial; Landasan Konsep dan Implentasi; Pontianak STKIP-PGRI; Lemlit
Hamid Darmadi (2006) Pembelajaran IPS (Model Pembelajaran IPS Berbasis Lingkungan) Pidato Pengukuhan Guru Besar ; Diucapkan pada Rapat Terbuka Senat STKIP-PGRI Pontianak November 2006; Pontianak STKIP-PGRI; Lemlit
Hamid Hasan, S. (1996) Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial (buku I). Bandung: Jurusan Sejarah FPIPS IKIP Bandung.

---------------, (1996) Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial (buku II) Bandung: Jurusan Sejarah FPIPS IKIP Bandung.

Jarolimek, John. (1967) Social Studies in Elementary Education. 5th. edition. NY: McMillan Co. Inc.

Kosasih H. Djahiri. (1994) Buku Pedoman Guru Pengajaran IPS.  Jakarta:   Departemen P dan K.

----------------,(1996) Teknik Pengembangan Program Pengajaran   
Pendidikan Nilai-Moral. Bandung: Lab Pengajaran PMP IKIP    Bandung.

----------------,(1992) Dasar-dasar Metodologi Pengajaran. Bandung: Lab Pengajaran PMP IKIP Bandung.

Krathwohl, dkk (1977) Taxonomy of Educational Objectives, Handbook II : affective domain, New York : Mckay

Krugg, M.M  (1982) Hiestory and the social sciences : New approach to the teaching of social science. Waltham, Massachussetts : Blaisdell Publishing

Mathew B. Milles and A. Michael Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif (terjemahan). Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Shaver, J.P. (1991) Handbook of Research on Social Studies Teaching and Learning. NY: McMillan  Publishing Co.

Skeel, Dorothy J. (1994). Elementary Social Studies: Challenges for Tommorrow’s World. USA: Harcourt Brace and Co.

Schuncke, George M. (1988). Elementary Social Studies: Knowing, Doing, Caring. NY: McMillan Pub. Co.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 ; Baltbang Depdiknas Jakarta

Sukamto, (1994) Panduan Penelitian Tindakan: Sri Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Lembaga penelitian IKIP Yogyakarta.
Suwarma Al Muchtar, (1992)  Pengembangan Kemampuan Berfikir dan Nilai dalam Pendidikan IPS (Disertasi) Tidak Diterbitkan. Bandung.

Suwarsih, Madya, dkk.(1994) Panduan Penelitian Tindakan. Jogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Jogyakarta.

Semiawan. Conny R. (1996)  Pendidikan IPS Ditinjau dari Perspektif Pendidikan. Jakarta: Dedikbud.

Sumantri, M. Nu’man. (1996). Pendidikan IPS ditinjau dari Perspektif Aktualisasinya: Strategi dan Pengembangan Pendidikan IPS dalam Menghadapi Abad XXI jakarta: IKIP Jakarta.

Suwarsih, Madya, dkk.(1994) Panduan Penelitian Tindakan. Jogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Jogyakarta.

Shaver, J.P. (1991) Handbook of Research on Social Studies Teaching and Learning. NY: McMillan  Publishing Co.

Weiner,B. (1979) Theory of Motivation for Some Classroom Experiences, Journal of Abnormal Psychology, 71, 1-12

Weiner,B. (1986) Attribution Theory and Attribution Therapy : Some  Theoritical Observation and  Suggestions. British Journal of Clinical Psychology, 27, 93-104.

Weiner,B.(1990) History of Motivational Research in Education, Journal of Personality and Social Psychology, 55, 738-748

Weiner,B. (1992) Motivation dalam Marvin C. Alkin.(Ed), Encyclopedia of Educatiol Research, 3, 860 – 865.








PANDUAN WAWANCARA UNTUK GURU

A. Identitas:
      Nama        : ......................................
      NIP            : .......................................

B. Pertanyaan:
1.    Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu  mengarahkan siswa terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar ?
2.    Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu  mengarahkan siswa agar peka terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar ?
3.      Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa melalui pengamatan terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar ?
4.      Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu  mengarahkan langkah-langkah yang ditempuh dalam pengamatan terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar ?
5.      Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan mengarahkan siswa dalam mengemukakan latar belakang yang menyangkut hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar ?
6.      Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam mengemukakan hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar ?
7.      Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam mengemukakan latar belakang hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dengan melakukan uji masalah secara bersama ?
8.       Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam mengemukakan hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dengan melakukan uji masalah secara bersama ?
9.      Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam mengemukakan latar belakang hipotesis terhadap masalah yang dihadapi yang disesuaikan dengan kesesuaian fakta ?
10.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam mengemukakan hipotesis terhadap masalah yang dihadapi yang disesuaikan dengan kesesuaian fakta ?
11.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam memahami masalah yang dihadapi dalam belajar ?
12.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam memahami pemecahan masalah yang dihadapi dalam belajar ?
13.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam mengkomunikasikan masalah yang dihadapi dalam belajar ?
14.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam mengkomunikasikan pemecahan masalah yang dihadapi dalam belajar ?
15.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam memahami masalah yang dihadapi dengan bahasa yang jelas ?
16.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam memahami pemecahan masalah yang dihadapi dengan bahasa yang jelas ?
17.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam melakukan kajian terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar?
18.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam melakukan langkah-langkah kajian terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar?
19.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam mengembangkan keterampilan terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar?
20.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam mengembangkan keterampilan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi dalam belajar?
21.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam mendukung hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar?
22.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam menerima hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar?
23.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam melakukan kajian terhadap masalah yang dihadapi sesuai dengan karakteristik siswa?
24.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam melakukan kajian terhadap pemecahan masalah yang dihadapi sesuai dengan karakteristik siswa?
25.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam melakukan pengungkapan masalah individu yang dihadapi dalam belajar?
26.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam melakukan pengungkapan masalah bersama yang dihadapi dalam belajar?
27.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam membuat kesimpulan terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar?
28.   Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam membuat kesimpulan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi dalam belajar?
29.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam memilih masalah yang tepat terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar?
30.  Apakah sebelum melaksanakan proses pembelajaran, Bapak/Ibu mengarahkan siswa dalam memilih masalah yang tepat terhadap pemecahan masalah yang dihadapi dalam belajar?

PANDUAN OBSERVASI


NO.
ASPEK YANG DITELITI
Ya
Tdk
1


2



3



4



5



6


7




8




9




10



11


12



13



14



15



16



17



18



19



20



21



22



23



24



25



26



27



28



29



30

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan agar peka terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan melalui pengamatan terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan langkah-langkah yang ditempuh dalam pengamatan terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam mengemukakan latar belakang yang menyangkut hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS mengarahkan siswa dalam mengemukakan hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam mengemukakan latar belakang hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dengan melakukan uji masalah secara bersama

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam mengemukakan hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dengan melakukan uji masalah secara bersama

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam mengemukakan latar belakang hipotesis terhadap masalah yang dihadapi yang disesuaikan dengan kesesuaian fakta

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam mengemukakan hipotesis terhadap masalah yang dihadapi yang disesuaikan dengan kesesuaian fakta

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam memahami masalah yang dihadapi dalam belajar
Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam memahami pemecahan masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam mengkomunikasikan masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam mengkomunikasikan pemecahan masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam memahami masalah yang dihadapi dengan bahasa yang jelas

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  membantu siswa dalam memahami pemecahan masalah yang dihadapi dengan bahasa yang jelas

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam melakukan kajian terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam melakukan langkah-langkah kajian terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam mengembangkan keterampilan terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam mengembangkan keterampilan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam mendukung hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam menerima hipotesis terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam melakukan kajian terhadap masalah yang dihadapi sesuai dengan karakteristik siswa

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam melakukan kajian terhadap pemecahan masalah yang dihadapi sesuai dengan karakteristik siswa

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam melakukan pengungkapan masalah individu yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam melakukan pengungkapan masalah bersama yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam membuat kesimpulan terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam membuat kesimpulan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam memilih masalah yang tepat terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru IPS  mengarahkan siswa dalam memilih masalah yang tepat terhadap pemecahan masalah yang dihadapi dalam belajar
1.            




BIO DATA DAN RIWAYAT HIDUP
                                                                                                                  
PROF.DR.HAMID DARMADI.,M.PD : Pembina Utama Madya Golongan IV/d.  Dosen/Ketua Jurusan/Pgram Sudi PPKn STKIP-PGRI Pontianak, Ketua STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, Lahir di Sintang, 30 Maret 1955 adalah cicit Panglima Perang Laut Belantau, Cucuk Panglima Perang Singa Kancau  anak kedua dari sembilan bersaudara, dari enam bersaudara yang hidup. Ayah bernama Djala, Ibu bernama Sindja. Alamat: 1)Jl.Purnama Gg.Purnama Karya No.4 (0561) 763429 Pontianak Selatan;   2)Jl.Perdamaian Ary Karya Indah IV Jalur 2  Blok G No.1 Kota Baru Pontianak-78114 Telpon (0561)6590395; HP.0561 7060356;  HP.0813 5232 6303


N A M A                                : HAMID DARMADI
TEMPAT TGL/LAHIR                  : SINTANG, 30 MARET 1955
N I P/ KARPEG                         : 131 584 171 / E.332971
NIP Baru                                   : 19550330 1986 021 001
No.Sertifikat Pendidik                : 08373603231
PANGKAT & JABATAN              : PEMBINA UTAMA MADYA GOL  IV/d  GURU BESAR                                          
UNIT KERJA                             : KOPERTIS WILAYAH XI KALIMANTAN
                                                             DIPEKERJAKAN PADA STKIP-PGRI PONTIANAK
A L A M A T                              : Jl.Perdamaian Ary Karya Indah IV Jalur 2  Blok G No.1
                                                             Kota Baru Pontianak-78114 Telpon (0561)6590395;
                                                             HP.0561-7060356; HP.0813 5232 6303.

PENDIDIKAN :
1.     SDN Sintang Tamat   1968
2.     SMPN Sintang Tamat 1971
3.     SPGN Sintang Tamat 1974
4.     Sarjana Muda (BA) FIP-Untan Pontianak 18 Desember 1979
5.     Sarjana Pendidikan (Drs) FKIP-Untan Pontianak 17 Mei 1984
6.     Magister Pedidikan (M.Pd) IKIP Malang 16 Januari  1995
7.     Magister Of Scince (M.Sc) 19 Juni Jakarta 1999
8.     Doktor Pendidikan (DR) UPI-Bandung, 23 April 2003
9.     Guru Besar (Prof.DR.) Kopertis Willayah XI Kalimantan dipekerjakan pada STKIP-PGRI Pontianak dalam Pendidikan IPS TMT 1 Maret 2006 dikukuhkan dengan Surat Keputusan Mendiknas No.15841/A2.7KP/2006.
           
PENGALAMAN MENGAJAR :
1.     Guru SD Negeri 67 Pontianak 1974 s/d 1985
2.     Guru SMP St.Fransiscus Asisi Pontianak, 1979 s/d 1985
3.     Guru PGAK-Pniel Pontianak, 1987 s/d 1992
4.     Guru SMAK-Abdi Wacana Pontianak, 1987 s/d 1992
5.     Tim Penatar P-4 Prov.Kalbar 1987 s/d 1992
6.     Dosen D.II PAK Eka Shinta Pontianak Cabang Palangkaraya 1987 s/d 1992
7.     Dosen Tetap STKIP-PGRI Pontianak, 17 Mei 1984 s/d Sekarang
8.     Dosen Terbang STKIP-PGRI Singkawang 1995 s/d Sekarang 
9.     Dosen/Ketua STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, 2005 s/d Sekarang
10.  Ketua Lembaga Pendidikan Pentaloka Khatulistiwa Kalbar 2007 s/d Sekarang
11. Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Kalbar periode 2009-2013

PENGALAMAN AKADEMIK :
1.     Sekretaris Jurusan Pendidikan IPS Prodi PMP STKIP-PGRI Pontianak 1987-1992
2.     Tim Penatar P4 Provinsi Kalbar 1987 s/d 1992
3.     Tim Instruktur LP2P4 Provinsi Kalbar 1997 s/d 1999
4.     Ketua Jurusan Pendidikan IPS Prodi PMP STKIP-PGRI Pontianak 1995-1999
5.     Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapuslitbang) STKIP-PGRI Pontianak periode 2003-2007 Pembina Utama Muda IV.c Guru Besar
6.     Ketua STKIP Persada Khatulistiwa Sintang
7.     Ketua Tim Studi Kelayakan Pembukaan Program Studi Baru STKIP-PGRI Pontianak
8.     Ketua Tim Pengembangan STKIP-PGRI Singkawang

ANGGOTA KELUARGA
1.     Istri             :  Mariana Nurgia Ama.Pd
2.     Anak           :  1. Morita Sri Hadmadari,S.P.d
3.     Anak           :  2. Ferry Hadmadari,SE.,M.Si
4.     Menantu      :  Agung Arif Gunawan,SE
5.     Menantu      :  Ema Sartika,S.Pd
6.     Cucu’          :  Belva Charity Agita
7.     Cucu”          :  Jesica Natali Prima Putri

PENGALAMAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN & KEPEMUDAAN (OKP):
1.     Ketua Biro Pendidikan dan Kaderisasi AMPI Kalbar 1985-1990
2.     Wk.Ketua DPD AMPI Kalbar 1990-1994
3.     Ketua Biro Pemuda dan Kaderisasi  DPD KNPI 1987-1991
4.     Wk.Ketua Pemuda Kiara Kalbar 1995-1999
5.     Wanhat AMPI Kalbar 1994-1999
6.     Sekretaris Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana Kalbar di Bandung 2001-2002
7.     Ketua Umum Mahasiswa Pascasarjana dan Alumni Program Pascasarjana UPI Bandung 2002-2003
8.     Tim Penatar P4 Provinsi Kalbar 1987 s/d.1999,
9.     Tim Instruktur LP2P4 Tingkat I Propinsi Kalbar 1997 s/d 1999
10.  Tim Steering Committee (SC) Seminar Nasional Revisi UU SPN 26 April 2001 di Bandung,  27-28 April Jakarta.
11.  Pengurus PGRI Provinsi Kalimantan Barat, Sekbid Hubungan Kerjasama Luar Negeri Periode 2006 s/d 2011
12.  Ketua Lembaga Pendidikan “PENTALOKA KHATULISTIWA”  Kalimantan Barat tahun 2007 s/d  sekarang



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar