Kamis, 07 April 2011

PENDIDIKAN SEBAGAI INVESTASI


ADA 3 ALASAN PENTING PENDIDIKAN SEBAGAI INVESTASI :
1.    SEBAGAI ALAT PERKEMBANGAN EKONOMI  
a.    SEMAKIN BERPENDIDIKAN SESEORANG SEMAKIN BAIK PENDAPATAN/PENGHASILANNYA.
b.    INVESTIGASI MENGENAI TINGKAT PENDIDIKAN DI AMERIKA SERIKAT (1992) MEMBUKTIKAN BAHWA  1)SESEORANG DOKTOR BERPENGHASILAN RATA-RATA PER-TAHUN SEBESAR 55 juta dollar, 2)MASTER 40 JUTA DOLAR & 3) SARJANA (S1) 33 JUTA DOLAR, SEDANGKAN MEREKA YANG BERPENDIDIKAN LANJUTAN BERPENGHASILAN RATA-RATA 19 JUTA DOLAR
c.    DALAM WAKTU YANG BERSAMAAN DI INDONESIA DIKETAHUI MEREKA YANG BERPENDIDIKAN DOKTOR BERPENGHASILAN RATA-RATA PER-BULAN Rp.3,5 JUTA, MASTER Rp. 3 JUTA,  SARJAN Rp.2,5 JUTA, LULUSAN SLTA Rp.1,9, TMATAN SD Rp.1,1.
2.    SEBAGAI NILAI BALIK (RATE OF RETURN)
a.    NILAI BALIK PENDIDIKAN : PERBANDINGAN ANTARA TOTAL BIAYA YANG DIKELUARKAN UNTUK MEMBIAYAI PENDIDIKAN DENGAN TOTAL PENDAPATAN YANG DIPEROLEH SETELAH SESEORANG LULUS DAN MEMASUKI DUNIA KERJA.
b.    DI NEGARA BERKEMBANG NILAI BALIK INVESTASI PENDIDIKAN LEBIH TINGGI (20%) DIBANDINGKAN INVESTASI MODAL FISIK (15. Sedangkan di negara-negara maju nilai balik investasi pendidikan lebih rendah dibanding investasi modal fisik yaitu 9 % dibanding 13 %.
c.    ALASANNYA : KARENA TENAGA KERJA TERDIDIK YANG TERAMPIL & AHLI DI NEGARA BERKEMBANG RELATIF SEDIKIT JUMLAHNYA SEHINGGA TINGKAT UPAH LEBIH TINGGI.
d.    MEMPERHATIKAN KONDISI DI INDONESIA, PROF. KINOSITA DARI JEPANG MENYARANKAN BAHWA YANG SANGAT MENDESAK DIKEMBANGKAN DI INDONESIA ADALAH PENDIDIKAN DASAR. KINOSITA MENYEBUTKAN BAHWA PROSES PENDIDIKAN DI INDONESIA BERTUMPU PADA 4 PILAR UTAMA YAITU : 1)LEARNING TO KNOW, 2) LEARNING TO DO, 3) LEARNING TO BE, 4) LEARNING TO LIVE TOGEHTER yang dapat dicapai melalui delapan kompetensi dasar yaitu membaca, menulis, mendengar, menutur, menghitung, meneliti, menghafal dan menghayal.
3.    MEMILIKI MULTI FUNGSI al. FUNGSI SOSIAL, FUNGSI POLITIS, FUNGSI BUDAYA, DAN FUNGSI KEPENDIDIKAN
a.    FUNGSI SOSIAL  memberi kontribusi terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda.
b.    FUNGSI POLITIS  : membantu mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih warganegara yang benar dan bertanggung jawab.
c.    FUNGSI BUDAYA : Membantu mengembangkan kreativitas, kesadaran estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang baik.
d.    FUNGSI KEPENDIDIKAN : Membantu mengembangkan kesadaran belajar sepanjang hayat (life long learning) dan senang belajar,  selalu merasa ketinggalan informasi, ilmu pengetahuan serta teknologi sehingga terus terdorong untuk maju dan terus belajar.

Kesimpulan
  1. investasi dalam bidang pendidikan tidak semata-mata untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi tetapi lebih luas lagi yaitu perkembangan ekonomi.
  2. Perkembangan ekonomi akan tercapai apabila sumber daya manusianya memiliki etika, moral, rasa tanggung jawab, rasa keadilan, jujur, serta menyadari hak dan kewajiban yang kesemuanya itu merupakan indikator hasil pendidikan yang baik.

PENDIDIKAN SEBAGAI INVESTASI
1.     PEMBENTUKAN SDMM YANG BERKONTRIBUSI PADA PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PEMBANGUANAN BANGASA
2.     SEBAGAI TOLOK UKUR KUALITAS MANUSIA SUATU BANGSA
3.     MEMILIKI 3 TATARAN YAITU : 1)MAKRO, 2) MIKRO & 3)PROSES BELAJAR MENGAJAR.

ADA 7 KARAKTERISTIK YANG MEMBEDAKAN INVESTASI PENDIDIKAN DENGAN INVESTASI FISIK (SCHULTZ  IN PSACHARO- POULOS, 1987) :
1.     SUMBER DAYA MODAL MANUSIA SELALU MELEKAT PADA INDIVIDU SEHINGGA TIDAK DAPAT DIJUAL-BELIKAN ATAU DITRANSFER KEPIHAK LAIN, SERTA HANYA DAPAT DIMANFAATKAN DITEMPAT INDIVIDU ITU BERADA
2.     UNTUK MEMPEROLEH KEUNTUNGAN ATAU NILAI BALIK DARI INVESTASI PENDIDIKAN, INDIVIDU YBS HARUS AKTIF.
3.     LAMA WAKTU PEMANFAATAN SDMM TERGANTUNG KEPADA USIA HIDUP SESEORANG
4.     SESEORANG HARUS AKTIF BERKONTRIBUSI DALAM INVESTASI PENDIDIKAN,PALING TIDAK MENGINVESTASIKAN WAKTUNYA UNTUK MENGANDUNG BEAYA KESEMPATAN;
5.     AKAN LEBIH EFISIEN INVESTASI PENDIDIKAN DILAKUKANA PADA USIA MUDA.
6.     HASIL INVESTASI PENDIDIKAN DAPAT DIMANFAATKAN DALAM KURUN WAKTU YANG BERBEDA, ADA YASNG CEPAT USANG, ADA YANG STAGNASI, ADA YANG MENINGKAT. dan
7.     INVESTASI PENDIDIKAN UNTUK WANITA BERBEDA DENGAN PRIA.

PENDIDIKAN SEBAGAI INVESTASI
1.    KONSEP PENDIDIKAN SEBAGAI INVESTASI TELAH DIYAKINI OLEH SETIAP NEGARA BAHWA PEMBANGUNAN SEKTOR PENDIDIKAN MERUPAKAN PRASYARAT KUNCI BAGI PERTUMBUHAN SEKTOR PEMBANGUNAN LAINNYA.
2.    KONSEP INVESTASI SDMM (HUMAN CAPITAL INVESTMENT) SUDAH ADA  SEJAK JAMAN ADAM SMITH (1776), HEINRICH VON THUNER (1875), TETAPI BARU MENGEMUKA TAHUN  1960-AN SETELAH PIDATO  THEODORE SCHULTZ 1960 YANG BERJUDUL "Investment in humman capital" di hadapan The American Economic Association”  
3.    SCHULTZ (1961) & DENINSON (1962) MEMBUKTIKAN BAHWA PEMBANGUNAN PENDIDIKAN SDMM  MEMBERIKAN KONTRIBUSI YANG SIGNIFIKAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI SUATU NEGARA
4.    TAHUN 1962, BOWMAN MENGENALKAN KONSEP, "REVOLUSI INVESTASI MANUSIA DALAM PEMIKIRAN EKONOMIS”. PARA PENELITI LAINNYA SEPERTI DENINSON (1962), BECKER (1969) DLL TURUT MENGUJI TEORI HUMAN CAPITAL INI. SEJAK SAAT ITU TEORI HUMAN CAPITAL MULAI MENJALAR KESELURUH NEGARA
5.    TAHUN 1970-an, PENELITIAN MENGENAI HUBUNGAN ANTARA  PENDIDIKAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI SEMPAT MANDEG karena kritik sosiolog Gary Becker (1964) mengatakan bahwa teori human capital ini lebih menekankan dimensi material manusia sehingga kurang memperhitungkan manusia dari dimensi sosio budaya.  
6.    PENELITIAN HICK (1980), WHEELER (1980), DAN BEBERAPA PENELITI NEO KLASIK LAINNYA BERHASIL MEYAKINKAN KEMBALI SECARA ILMIAH AKAN PENTINGNYA MANUSIA YANG TERDIDIK ATAU SDMM BAGI PEMBANGUNAN SECARA MAKRO.
7.    ATAS DASAR KEYAKINAN ITU MAKA BANK DUNIA KEMBALI MEREA-LISASIKAN PROGRAM BANTUAN  INTERNATIONALNYA KEBERBAGAI NEGARA. 
8.    KONTRIBUSI PENDIDIKAN TERHADAP PERTUMBUHAN INI MENJADI SEMAKIN KUAT SETELAH PENELITIAN PSACHAROPOULOS 1984  YANG MEMBUKTIKAN BAHWA INVESTASI MODAL FISIK AKAN BERLIPAT GANDA NILAI TAMBAHNYA JIKA PADA SAAT YANG SAMA DILAKUKAN JUGA INVESTASI SDMM yang secara langsung akan menjadi pelaku dan pengguna dalam investasi fisik tersebut.
9.    SEJAK AWAL ABAB KE 19 SEMUA NEGARA MENYADARI BAHWA PENGEMBANGAN SDMM MERUPAKAN UNSUR POKOK BAGI KEMAKMURAN DAN PERTUMBUHAN SUMBER DAYA MODAL FISIK LAINNYA

NILAI BALIKAN PENDIDIKAN
1.     PEMBANGUNAN SDMM BERKONTRIBUSI BAGI PERTUMBUHAN EKONOMI, KARENA ITU PENGELUARAN/BIAYA PENDIDIKAN  HARUS DIPANDANG SEBAGAI INVESTASI YANG PRODUKTIF  (rate of return).
2.     STUDI BANK DUNIA TERHADAP 83 NEGARA BERKEMBANG MENUNJUKKAN BAHWA DI 10 NEGARA YANG TINGKAT PERTUMBUHAN RIIL TERTINGGI DARI GNP PERKAPITA ANTARA 1960 DAN 1977 ADALAH  NEGARA YANG TINGKAT PENDIDIKANNYA TINGGI ( 16%) DARI NEGARA LAIN
3.     INVESTASI PENDIDIKAN MEMPUNYAI PENGARUH LANGSUNG TERHADAP PRODUKTIVITAS INDIVIDU DAN PENGHASILANNYA. CONTOHNYA PERTAMA : PETANI YANG BERPENDIDIKAN RATA-RATA 13% LEBIH TINGGI DARIPADA PETANI YANG TIDAK BERPENDIDIKAN. (World Bank, World Developmen Report, 1990). CONTOHNYA KEDUA : WANITA YANG BERPENDIDIKAN MENGASUH DAN MEMBESARKAN ANAK-ANAKNYA SANGAT BERARTI. Studi-studi TERHADAP 44 NEGARA MENUNJUKKAN ADANYA KORELASI SIGNIFIKAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN IBU DENGAN STATUS GIZI ANAKNYA SERTA ANGKA HARAPAN HIDUP.
4.     STUDI  BANK DUNIA 1980 MEMBUKTIKAN  BAHWA TINGKAT PENGEMBALIAN EKONOMI (RATE OF RETURN) TERHADAP INVESTASI PENDIDIKAN DI  44 NEGARA  BERKEMBANG MEMBUKTIKAN BAHWA NILAI MANFAAT BALIKAN SEMUA TINGKAT PENDIDIKAN BERADA DI ATAS 10 %  NILAI BALIKAN MODAL MANUSIA LEBIH BESAR DARIPADA MODAL FISIK.   TIDAK ADA NEGARA DI DUNIA YANG MENGALAMI KEMAJUAN PESAT TANPA DUKUNGAN SDM YANG RENDAH

PENDIDIKAN DAN INVESTASI MASA DEPAN BANGSA
1.    LAPORAN UNDP TENTANG  HDI TAHUN 2000, BAHWA PERINGKAT INDEK PEMBANAGUNAN MANUSIA INDONESIA  HANYA DIPOSISI 109 DARI 174 NEGARA ANGGOTA PBB. PERINGKAT INI DIBAWAH NEGARA-NEGARA TETANGGA SEPERTI SINGAPURA, MALAYSIA, FILIPINA, & BRUNAI DARUSSALAM. BAHKAN BEBERAPA NEGARA DI AFRIKA SEPERTI TUNISIA  (101) AFRIKA SELATAN (103) MELAMPAUI INDONESIA. IRONISNYA LAGI POSISI INDONESIA SETINGKAT DIBAWAH VIETNAM.
2.    PERINGKAT DAYA SAING SDM INDONESIA JUGA KIAN MEROSOT.  JIKA TAHUN 1997 World Competitiveness Yearbok MENEMPATKAN NDONESIA PADA URUTAN ke-39, MENJELANG AKHIR ABAD KE 20 POSISI NDONESIA BERADA PADA URUTAN ke-46 DARI 47 NEGARA
3.    LAPORAN ASIAWEEK EDISI JUNI 2000 TENTANG PERINGKAT UNIVERSITAS BERMUTU DI ASIA, AUSTRALIA DAN SELANDIA BARU, DIANTARA 77 PT TERBAIK MULTIDISIPLIN  DI KAWASAN INI SEJUMLAH UNIVERSITAS TERKEMUKA DI INDONESIA HANYA BERCOKOL DIKELAS PAPAN BAWAH
4.    UI YANG SELAMA INI DIANGGAP PALING BERGENGSI TERNYATA HANYA BERADA PADA POSISI KE-61, UGM DI URUTAN  KE-68, UNDEPKE-73, & UNAIR PADA URUTAN KE-75. UNTUK BIDANG SAINS & TEKNOLOGI, ITB HANYA PADA PAPAN TENGAH YAITU PERINGKAT KE-21 DARI 39 PT SAINS & TEKNOLOGI  YANG TERMASUK KATEGORI BERMUTU.
5.    INTERNATIONAL OF EDUCATION EVALUATION IN ACHIEVMENT (IEA) MELAPORKAN SURVER HASIL BELAJAR MATEMATIKA DAN IPA BAGI SISWA SEKOLAH USIA 13 TAHUN DI 42 NEGARA MENUNJUKKAN HASIL YANG MENYEDIHKAN.  KEMAMPUAN IPA ANAK-ANAK INDONESIA HANYA PADA POSISI KE-39, MATEMATIKA DI URUTAN KE-40. DIAKUI BAHWA DALAM BEBERAPA KESEMPATAN OLIMPIADE (FISIKA & MT) ANAK-ANAK INDONESIA TERPILIH MEMBAWA BENDERA “MERAH PUTIH” DI TINGKAT DUNIA TETAPI PRESTASI ITU LEBIH PADA TINGKAT/KETEKUNAN INDIVIDU, BUKAN PRESTASI KINERJA PENDIDIKAN NASIONAL. SEMUA INI DIESBABKAN ANGGARAN SEKTOR PENDIDIKAN KITAA YANG SELALU DIBAWAH NEGARA-NEGARA ASIA
6.    MALAYSIA SEJAK TAHUN 1976 TELAH MENGALOKASIKAN AGGARAN PENDIDIKANNYA 20-25. INDONESIA TAHUN 1982/1983 HANYA 3,8% DARI TOTAL APBN TAHUN 2001/2002 MENINGKAT 4,4%, TAHUN 2003/2004 MENJADI 6,2% TAHUN 2004/2005 MENJADI 7,3% TAHUN 2005/2006 MENJADI 8,3%. KEMUDIAN AKHIR MARET LALU MAHKAMAH KONSTITUSI MEMENANGKAN GUGATANNYA SEHINGGA ANGGARAN PENDIDIKAN KITA DIUSULKAN MENJADI 20%. BAGAIMANA REALISASINYA KITA TUNGGU SAJA.
7.    KALAU KITA MAU BERKACA PADA SEJARAH, JEPANG BANGKIT DARI KEHANCURAN AKIBAT KALAH PERANG DUNIA II (1945) KARENA MEREKA PERTAMA-TAMA ADALAH MEMBANGUN SEKTOR PENDIDIKAN, DUA PULUH TAHUN KEMUDIANH, HASIL DARI PILIHAN PRIORITAS ITU MULAI BERBUAH, SEPERTI TERLIHAT MUNCULNYA PRODUK-PRODUK JEPANG DI PASARAN DUNIA.  HINGGA KINI JEPANG MENGUASAI PASARAN DUNIA.   KOREA SELATAN, MALAYSIA, THAILAND, SINGAPUR, DAN BRUNAI DARUSSALAM JUGA TELAH MEMETIK BUAHNYA.

8.    AMERIKA SERIKAT DAN JERMAN SEBAGAI NEGARA MAJU DAN SUPER POWER DENGAN SDM YANG HANDAL HINGGA SAAT INI  MASIH TETAP MENEMPATKAN SEKTOR PENDIDIKAN SEBAGAI ISU SENTRAL.  

9.    BAGAIMANA. DENGAN INDONESIA?!

10. MENJELANG pergantian abad lalu, Indonesia bukan satu-satunya negara yang dilanda krisis ekonomi. Ketika peristiwa itu terjadi, negara-negara seperti Korea Selatan, Thailand dan Malaysia juga mengalami hal serupa. Tetapi, mengapa mereka cepat pulih dan hanya Indonesia yang sulit bangkit dari terpaan badai krisis tersebut?

11. Bahkan keterpurukan yang berawal di bidang ekonomi itu kini kian menjadi-jadi, sehingga berkembang menjadi krisis multidimensi. Di tengah situasi ekonomi yang morat-marit dan kehidupan politik yang amburadul, tatanan budaya, nilai-nilai moral serta penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan pun ikut merosot. Keteladanan makin tipis, sementara di sisi lain kekerasan dan semangat untuk saling "memakan" makin muncul ke permukaan.

12. Terhadap berbagai terpaan itu, tokoh pendidikan Prof Dr Winarno Surakhmad dalam Rakerta PGRI Kalbar tanggal 10 February 2006 mengaku sampai terpaksa bertanya: apa betul kita-sebagai bangsa-selama ini telah mendapat pendidikan dalam arti kata yang sebenarnya? Kalau betul, mengapa hanya karena sebuah krisis lalu nilai-nilai hidup berbangsa yang diajarkan untuk dijunjung tinggi tiba-tiba rontok; sepertinya tidak ada lagi sisa-sisa yang menunjukkan bahwa kita pernah menjadi bangsa yang berbudaya luhur berpendidikan tinggi! Lantas, apa kontribusi pendidikan?

13. "Pendidikan, yang selama ini dijalankan sebagai persekolahan, ternyata tidak dapat memberikan solusi apa pun. Pendidikan yang kita berikan ternyata tidak dapat menyiapkan bangsa ini menjadi bangsa yang bermutu, khususnya untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan jiwa besar. Pendidikan juga tidak berhasil memberdayakan bangsa ini untuk menghormati perbedaan dan memecahkan pertikaian secara beradab. Dengan kata lain, pendidikan telah gagal di banyak hal," kata Winarno, mantan Rektor IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) yang selama beberapa tahun menjadi guru besar tamu di Universitas Brunei Darussalam.

14. Oleh karena itu, tidak usah heran bila kinerja pendidikan nasional dinilai rendah, jelek, dan memprihatinkan. Juga tidak aneh bila ada pendapat bahwa dunia pendidikan kita bukan saja tidak maju, tetapi justru mengalami kemunduran, bahkan mendekati kebuntuan. Dan kita tahu bahwa kebuntuan adalah musuh besar kemajuan. Menghadapi masa depan yang ditandai oleh persaingan yang makin keras, tak ada jalan lain yang bisa ditempuh kecuali berupaya meretas jalan buntu yang selama ini membelenggu. Dan itu menuntut suatu tekad untuk berubah secara mendasar dalam banyak hal, tidak hanya pada pemerintah melainkan juga pada masyarakat luas.

15. Paradigma pendidikan yang selama ini dianut, misalnya, ternyata "kropos" dan oleh karena itu perlu diubah. Mitos-mitos tentang masa lalu, dalam beberapa hal memang masih diperlukan, tetapi ia bukanlah yang utama. Pendidikan yang didasarkan atas paradigma lama, antara lain, dalam wujud lebih menekankan peran pendidikan pada pelestarian nilai-nilai masa lalu jelas tak bisa diandalkan untuk membangun masa depan.

16. Yang dibutuhkan adalah suatu sistem pendidikan yang berorientasi pada perintisan nilai-nilai baru. Suasana birokratis yang selama ini sangat kental dalam praksis pendidikan kita juga harus digeser ke suasana yang lebih longgar, sehingga birokrasi yang ada lebih difungsikan untuk memperlancar aliran tata kerja dan bukan justru berperan sebagai penghambat.

17. Visi pendidikan nasional juga perlu dirumuskan ulang, sehingga benar-benar visioner dalam perspektif masa depan yang sesungguhnya. Bukan seperti selama ini tampak seolah-olah visioner, tetapi sebenarnya feodal; ibarat garis lengkung yang isi dan pelaksanaannya serba seragam dan monolitik.

18. Dalam konteks ini pula kita diingatkan oleh Prof Dr Sofian Effendi, Ketua Program Magister Administrasi Publik UGM, bahwa sekaranglah saat yang tepat bagi bangsa ini untuk memulai sesuatu yang baru, khususnya dalam pengembangan SDM. "Sekarang kita (baru) menyadari begitu banyak kesalahan yang kita buat di masa lampau," katanya.

19. Semua itu tentu berpulang pada niat dan tekad yang sungguh-sungguh, khususnya dari para penentu kebijakan di negeri ini. Setelah dihadapkan pada kenyataan pahit di tahun-tahun terakhir ini, masih adakah kesadaran pada kita semua untuk tak sekadar menempatkan pendidikan sebagai atribut, tetapi benar-benar berpaling pada bidang pendidikan sebagai investasi masa depan bangsa?

20. Akan tetapi, dengan kesadaran bahwa investasi di bidang ini membutuhkan pengorbanan satu generasi untuk bisa memetik buahnya-sementara mental penguasa di negeri ini masih saja dibaluti kepentingan-kepentingan pragmatis jangka pendek-masih mungkinkah kita menitipkan harapan kepada mereka?

21.       Pendidikan merupakan salah satu investasi yang sangat menjanjikan dimasa depan. Banyak orang bijak mengatakan hal senada. Bahkan dalam agama menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang mulai dari ayunan sampai keliang lahat. Namun, terkadang bangsa kita tidak banyak yang menyadari akan hal ini. Hanya segelintir orang yang yang memahami arti penting sebuah pendidikan. Tentu hal ini sangat ironi sekali "hari gini" masih belum menyadarinya.

22.       Tidak sedikit anak di negri tercinta ini datang ke sekolahan hanya sekedar datang/formalitas. Mereka tidak menyadari apa yang harus dilakukan di sekolah. Mereka datang hanya mencari teman atau cari pasangan. selebihnya bersenang-senang. Sementara guru bercuap-cuap hingga berbusa dianggap radio "bodol". Hal seperti ini sepertinya sudah membudaya dikalangan anak sekolah kita.  Ada sebuah anekdot, Seorang ahli bertanya pada seorang siswa di Amerika; untuk apa kalian belajar matematika? Di antara para siswa menjawab, karena ada yang mau jadi insinyur, jadi dokter dll. Tapi saat orang ahli AS tersebut mampir di indonesia dan bertanya hal yang sama, siswa di indonesia menjawab ; karena pada hari Rabu pelajaran matematika.Saya bukannya sinis terhadap pendidikan di indonesia. Tetapi mari kita bersatu padu meningkatkan kesadaran akan pentingnya sebuah pendidikan. Kita tidak perlu saling curiga dan mencari kambing hitam untuk dijadikan tumbal pelampiasan kesalahan. Kesalahan didunia pendidikan kita adalah kesalahan kolektif. Mari kita bangkit, kita bangun pendidikan di Indonesia dengan benar. Mari kita tumbuhkan kesadaran kepada anak cucu kita akan pentingnya sebuah pendidikan.

23.       Ada sebuah kisah Nabi Sulaiman yang berkaitan dengan kesadaran akan pentingnya pendidikan: suatu ketika Nabi Sulaiman dipanggil oleh ayahandanya Nabi Daud. Pada saat itu Nabi daud sudah tua tapi beliau masih memegang kekuasaan (seorang Raja). Hai anaku Sulaiman, kata Nabi Daud. Aku akan mewariskan satu dari dua hal. Pertama, tahtaku dan yang kedua ilmu. Mana yang akan kau ambil?. Nabi Sulaiman muda berpikir sejenak. Kemudian dengan tegas dan tanpa ragu dia memilih Ilmu sebagai warisannya. Singkat cerita, saat dia dewasa Nabi Sulaiman mendapatkan segalanya. Kerajaannya lebih luas dan lebih makmur dari kerajaan ayahnya. Karena Nabi sulaiman Ilmunya. Dari pesan dari cerita ini adalah ilmu dapat membuat hidup kita lebih hidup dan lebih baik

24.       Karena itu membekali anak jangan dengan ikannya, tetapi ber dia kailnya agar bisa dapat banyak dan terus dazpat




TANTANGAN ABAD XXI




                            KRISIS                 
                      EKONOMI                  1. DEGRADASI  NILAI  BUDAYA
   2. LEMAHNYA KEMAMPUAN SEKOLAH
                                                                3. FRUSTASI & MUDAH MARAH
                    TANTANGAN                 4. RAWAN KONFLIK SOSIAL
                       ABAD XXI
                                                                    1.  MENYIAPKAN SDM YG TANGGUH
                                                                    2. MENANAMKAN NILAI MORAL AGAMA
                                                                        SECARA  DISTRIBUTIF & HOLISTIK 
OTDA                        GLOBALISASI 3.  MENANAMKAN SIKAP PANCASILAIS
                                                                        SEJATI (Good Citizenship)
                                                                    4.  MEMBEKALI PESERTA DIDIK DGN
                                                                        KETERAMPILAN HIDUP (Life Skills)
   5.  MEMAHI BUDAYA DAERAH


1.    PENDIDIKAN YG DEMOKRATIS
2.    MEMPERTAHANKAN KERAGAMAN BUDAYA
3.    MEMPERHATIKAN KEPENTINGAN DAERAH
4.    MEMPERHATIKAN KEPENTINGAN MASYARAKAT
5.    BERORIENTASI PD KEPENTINGAN PESERTA DIDIK
6.    TERBATASNYA SDM YG SESUAI DGN KEBUTUHAN LAP.KERJA


CATATAN :
1.    TH.2003 TERCATAT 3.580.000 ANAK USIA (7 – 15 TH) TDK BERSEKOLAH, 7, 9 JUTA  ANAK SLTA  (16-18TH) TDK BERSEKOLAH, 15 JUTA ORANG BERUSIA < 15 TH BUTA AKSARA, USIA 10 – 44 TH. 4 JUTA ORANG.
2.    APK.PT 14% ATAU 86% ANAK USIA  19-24 TH TDK SEKOLAH
3.    TKI BERPENDIDIKAN SD KEBAWAH 63,5%
4.    AKHIR ORBA PENDUDUK MISKIN 35 JUTA ORANG
5.    SAAT INI SEDIKITNYA 60 JUTA ORANG INDONESIA HIDUP  DIBAWAH GARIS KEMISKINAN
6.    TIAP TAHUN TERJADI PENAMBAHAN TENAGA KERJA BARU > 2 JUTA ORANG, YG TERSERAP DILAPANGAN KERJA FORMAL & INFORMAL 10 RIBU ORANG
7.    PENGANGGURAN INDONESIA SAAT INI  SEDIKITNYA 11 JUTA ORANG
8.    SEKITAR ATAU 3000-4000 ORANG INDONESIA TERKONTEMINASI NARKOBA



PENDIDIKAN SEBAGAI INVESTASI
Konsep pendidikan sebagai sebuah investasi (education as investement) telah berkembang secara pesat dan semakin diyakini oleh setiap negara bahwa pembangunan sektor pendidikan merupakan prasyarat kunci bagi pertumbuhan sektor-sektor pembangunan lainya. Konsep tentang investasi sumber daya manusia (human capital investment) yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi (economic growth), sebenarnya telah mulai dipikirkan sejak jaman Adam Smith (1776), Heinrich Von Thunen (1875) dan para teoritisi klasik lainnya sebelum abad ke 19 yang menekankan pentingnya investasi keterampilan manusia. Pemikiran ilmiah ini baru mengambil tonggak penting pada tahun 1960-an ketika pidato Theodore Schultz pada tahun 1960 yang berjudul "Investment in humman capital" di hadapan The American Economic Association merupakan peletak dasar teori human capital modern. Pesan utama dari pidato tersebut sederhana bahwa proses perolehan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata-mata, akan tetapi juga merupakan suatu investasi.
Schultz (1961) dan Deninson (1962) kemudian memperlihatkan bahwa pembangunan sektor pendidikan dengan manusia sebagai fokus intinya telah memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, melalui peningkatan keterampilan dan kemampuan produksi dari tenaga kerja. Penemuan dan cara pandang ini telah mendorong ketertarikan sejumlah ahli untuk meneliti mengenai nilai ekonomi dari pendidikan.  Alasan utama dari perubahan pandangan ini adalah adanya pertumbuhan minat dan interest selama tahun 1960-an mengenai nilai ekonomi dari pendidikan. Pada tahun 1962, Bowman, mengenalkan suatu konsep "revolusi investasi manusia di dalam pemikiran ekonomis". Para peneliti lainya seperti Deninson (1962), Becker (1969) dan yang lainya turut melakukan pengujian terhadap teori human capital ini. Perkembangan tersebut telah memengaruhi pola pemikiran berbagai pihak, termasuk pemerintah, perencana, lembaga-lembaga internasional, para peneliti dan pemikir modern lainnya, serta para pelaksana dalam pembangunan sektor pendidikan dan pengembangan SDM.
Di negara-negara maju, pendidikan selain sebagai aspek konsumtif juga diyakini sebagai investasi modal manusia (human capital investment) dan menjadi "leading sektor" atau salah satu sektor utama. Oleh karena perhatian pemerintahnya terhadap pembangunan sektor ini sungguh-sungguh, misalnya komitmen politik anggaran sektor pendidikan tidak kalah dengan sektor lainnya, sehingga keberhasilan investasi pendidikan berkorelasi dengan kemajuan pembangunan makronya.  Pada tahun 1970-an, penelitian-penelitian mengenai hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sempat mandeg karena timbulnya kesangsian mengenai peranan pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi di beberapa negara, khususnya di Amerika Serikat dan negara berkembang yang menerima bantuan dari Bank Dunia pada waktu itu. Kesangsian ini timbul, antara lain karena kritik para sosiolog pendidikan diantaranya Gary Becker (1964) mengatakan bahwa teori human capital ini lebih menekankan dimensi material manusia sehingga kurang memperhitungkan manusia dari dimensi sosio budaya.  Kritik Becker ini justru membuka persepektif dari keyakinan filosofis bahwa pendidikan tidak pula semata-mata dihitung sebagai investasi ekonomis tetapi lebih dari itu dimensi sosial, budaya yang berorentasi pada dimensi kemanusiaan merupakan hal yang lebih penting dari sekedar investasi ekonomi. Karena pendidikan harus dilakukan oleh sebab terkait dengan kemanusiaan itu sendiri (human dignity).
Penelitian Hick (1980), Wheeler (1980), dan beberapa peneliti neoklasik lain, telah dapat menyakinkan kembali secara ilmiah akan pentingnya manusia yang terdidik menunjang pertumbuhan ekonomi secara langsung bahkan seluruh sektor pembangunan makro lainnya. Atas dasar keyakinan ilmiah itulah akhirnya Bank Dunia kembali merealisasikan program bantuan internasionalnya ke berbagai negara. Kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ini menjadi semakin kuat setelah memperhitungkan efek interaksi antara pendidikan dan investasi fisik lainnya (Psacharopoulos, 1984). Artinya, investasi modal fisik akan berlipat ganda nilai tambahnya di kemudian hari jika pada saat yang sama dilakukan juga investasi SDM, yang secara langsung akan menjadi pelaku dan pengguna dalam investasi fisik tersebut.
Sekarang diakui bahwa pengembangan SDM suatu negara adalah unsur pokok bagi kemakmuran dan pertumbuhan dan untuk penggunaan yang efektif atas sumber daya modal fisiknya. Investasi dalam bentuk modal manusia adalah suatu komponen integral dari semua upaya pembangunan. Pendidikan harus meliputi suatu spektrum yang luas dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.
Nilai balikan pendidikan
Pembangunan SDMM melalui pendidikan menyokong secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, dan karenanya pengeluaran untuk pendidikan harus dipandang sebagai invetasi yang produktif dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang konsumtif tanpa manfaat balikan yang jelas (rate of return).
Sejumlah hubungan telah diuji dalam rangka mencapai kesimpulan tersebut. Sebagai contoh misalnya studi Bank Dunia mengenai 83 negara sedang berkembang menunjukan bahwa di 10 negara yang mempunyai tingkat pertumbuhan riil tertinggi dari GNP perkapita antara tahun 1960 dan 1977, adalah negara yang tingkat melek hurup pada tahun 1960 rata-rata 16 persen lebih tinggi daripada negara-negara lain.

Juga telah digambarakan bahwa investasi dalam bidang pendidikan mempuyai pengaruh langsung terhadap produktivitas individu dan penghasilanya. Kebanyakan bukti berasal dari pertanian. Kajian antara petani yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan di negara-negara berpendapatan rendah menunjukan, ketika masukan-masukan seperti pupuk dan bibit unggul tersedia untuk teknik-teknik usaha tani yang lebih baik, hasil tahunan seoarang petani yang berpendidikan selama 4 tahun rata-rata 13 persen lebih tinggi daripada seorang petani yang tidak berpendidikan. Meskipun masukan ini kurang, penghasilan para petani yang berpendidikan tetap lebih tinggi 8 persen, (World Bank, World Developmen Report, 1980).

Peranan wanita dalam mengasuh dan membesarkan anak begitu penting sehingga membuat pendidikan bagi anak perempuan menjadi sangat berarti. Studi-studi menunjukan adanya korelasi signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan status gizi anaknya dan angka harapan hidup. Lebih jauh, manfat kesehatan dan gizi yang lebih baik dan tingkat fertilitas yang lebih rendah yang diakibatkan oleh investasi dalam pendidikan mendorong produktivitas investasi-investasi lainnya dalam sektor pembangunan lainnya.
Sebuah studi lain oleh dilakukan untuk Bank Dunia dan disajikan dalam World Development Report 1980 menguji perkiraan tingkat pengembalian ekonomi (rate of return) terhadap investasi dalam bidang pendidikan di 44 negara sedang berkembang. Disimpulkan bahwa nilai manfaat balikan semua tingkat pendidikan berada jauh di atas 10 persen.  Berbagai penelitian lainya relatif selalu menunjukan bahwa nilai balikan modal manusia lebih besar daripada modal fisik. Tidak ada negara di dunia yang mengalami kemajuan pesat dengan dukungan SDM yang rendah pendidikannya. Jadi kalau kita mengharapkan kemajuan pembangunan dengan tidak menjadikan modal manusia (sektor pendidikan) sebagai prasyarat utama, maka sama dengan "pungguk merindukan bulan".  

Pendidikan dan Investasi Masa Depan Bangsa
Menurut laporan UNDP tentang Human Development Index (HDI) yang dipublikasikan tahun 2000, peringkat indeks pembangunan manusia Indonesia hanya di posisi 109 dari 174 negara anggota PBB. Peringkat ini jauh di bawah negara-negara tetangga, sebutlah seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam. Bahkan beberapa negara di Afrika-seperti Tunisia (101) dan Afrika Selatan (103)-pun sudah melampaui Indonesia. Lebih ironisnya lagi, posisi tersebut juga masih setingkat di bawah Vietnam, negara yang selama ini dikenal hanya memiliki kelebihan dalam hal berperang di hutan-hutan.
Tengok pula peringkat daya saing SDM Indonesia yang juga kian merosot. Jika tahun 1997 World Competitiveness Yearbok menempatkan Indonesia pada urutan ke-39, maka menjelang akhir abad ke-20 posisi Indonesia berada di urutan ke-46 dari 47 negara. Sementara dalam hal penyediaan tenaga insinyur, survei yang dilakukan Institute For Management Development menempatkan Indonesia di posisi ke-44 dari 46 negara.
Bahkan menurut catatan Ace Suryadi, pengamat pendidikan dan pengembangan SDM yang juga Dirjen PLS Depdiknas, dalam hal kerja sama teknologi antar-industri serta penelitian antara industri dan perguruan tinggi, Indonesia malah berada di posisi "juru kunci". "Rendahnya peringkat Indonesia dalam kualitas SDM tersebut sebaiknya tidak dilihat secara terpisah-pisah, tetapi berkaitan dalam suatu benang merah, yaitu rendahnya kualitas SDM Indonesia di tengah-tengah persaingan dunia yang semakin ketat. Kualitas SDM itu, diakui atau tidak, memiliki kaitan erat dengan mutu pendidikan yang selama ini telah menjadi wacana umum," Ace Suryadi (2004)
Rendahnya kualitas SDM-dan itu dengan sendirinya mempengaruhi kemampuan daya saing-memang sangat terkait dengan mutu pendidikan. Kenyataan bahwa mutu SDM Indonesia berada pada lapisan bawah di tengah pergaulan antarbangsa, yang berimplikasi pada rendahnya daya saing secara global, terbukti memiliki korelasi dengan peringkat mutu pendidikan secara umum.  Paling tidak itu tampak dari laporan Asiaweek edisi Juni 2000 tentang peringkat tahunan universitas bermutu di Asia, Australia dan Selandia Baru. Di antara 77 perguruan tinggi terbaik multidisiplin di kawasan ini, sejumlah universitas terkemuka di Indonesia cuma mampu bercokol di kelas papan bawah.
Universitas Indonesia (UI) yang selama ini dianggap paling bergengsi itu pun hanya ada di posisi ke-61, diikuti Universitas Gadjah Mada (UGM) di urutan ke-68, Universitas Diponegoro (Undip) di peringkat ke-73, dan Universitas Airlangga (Unair) berada di urutan ke-75. Sementara untuk bidang sains dan teknologi, Institut Teknologi Bandung (ITB) hanya mampu menerobos papan tengah, yakni menduduki peringkat ke-21 dari 39 perguruan tinggi sains dan teknologi yang masuk kategori bermutu.
Masih ada indikator lain yang menunjukkan adanya korelasi antara rendahnya mutu dan daya saing SDM Indonesia dengan peringkat mutu pendidikan nasional. Dalam berkala terbitan International of Education Evaluation in Achievment (IEA) tentang survei hasil belajar Matematika dan IPA bagi siswa sekolah untuk usia 13 tahun di 42 negara juga menunjukkan hasil yang sangat tidak menggembirakan. Untuk kemampuan IPA, anak-anak Indonesia hanya berada di posisi ke-39, sedangkan untuk Matematika di urutan ke-40. Betul bahwa dalam beberapa kesempatan Olimpiade (Fisika & Matematika) anak-anak Indonesia yang terpilih membawa bendera "Merah Putih" menunjukkan prestasi cukup membanggakan di tingkat dunia, namun keberhasilan itu sesungguhnya lebih karena ketekunan individu-individu bersangkutan, sehingga tak pantas diklaim sebagai prestasi dari kinerja pendidikan nasional.
Tidak ada perubahan yang cukup substansial, misalnya, berupa kebijakan pemerintah menaikkan anggaran pendidikan secara signifikan. Jangankan mencontohkan Malaysia yang sejak tahun 1976 mengalokasikan anggaran pendidikan 20-25 persen dari total anggaran negara bersangkutan, separuhnya pun tidak dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Bahkan sejak tahun anggaran 1982/1983 alokasi anggaran untuk sektor pendidikan terus susut. Tahun anggaran 2000, misalnya, sektor pendidikan hanya kebagian sekitar 3,8 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tahun 2001 memang ada sedikit peningkatan, tetapi persentase kenaikannnya kurang dari dari satu persen, yakni hanya sekitar 4,4 persen dari total APBN.
Disadari bahwa alokasi anggaran pendidikan bukan satu-satunya ukuran. Akan tetapi, dengan anggaran yang begitu kecil, lalu apa yang bisa dilakukan untuk menggerakkan semua lini dari aspek pendidikan kita agar ke depan terjadi perubahan yang substansial pada SDM anak-anak negeri ini? Jangankan bisa melahirkan manusia-manusia yang andal dalam persaingan global, untuk membenahi ruang-ruang belajar yang layak pun kita masih harus menempuh kebijakan tambal-sulam. Soalnya adalah karena bangsa ini, utamanya pemerintah, masih menganggap pendidikan sebagai "warga" kelas dua. Meski selalu menyuarakan bahwa pendidikan adalah kunci peningkatan mutu SDM, tetapi ketika sampai pada tataran kebijakan dan tindakan semua seperti hilang tak berbekas. Pandangan pragmatisme jangka pendek yang masih berpusat pada aspek material selalu tampil di depan, mengalahkan kepentingan yang lebih besar berupa penanaman fondasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Padahal, kalau kita mau berkaca pada sejarah, Jepang bangkit dari kehancuran akibat kalah dalam Perang Dunia II (1945) karena pertama-tama mereka membangun sektor pendidikan. Dua puluh tahun kemudian, hasil dari pilihan prioritas itu mulai berbuah, seperti terlihat dari munculnya produk-produk industri Jepang di pasar dunia. Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia yang juga menempatkan pendidikan sebagai prioritas pembangunan negara masing-masing, juga telah memetik buahnya.
Bahkan Jerman dan Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara maju dengan SDM yang andal pun masih menempatkan sektor pendidikan sebagai isu sentral. Ketika berbicara di pembukaan Pameran Hannover pada April 1995, Kanselir Jerman (ketika itu) Helmut Kohl menyerukan kepada bangsanya agar melakukan terobosan dengan mengembangkan pendidikan, latihan, dan riset, serta memacu pengembangan SDM. Begitu pula Amerika Serikat. Saat Bill Clinton berkampanye untuk menduduki kembali jabatan presiden periode kedua, ia juga mengangkat isu seputar pengembangan SDM. Ketika itu ia menjanjikan peningkatan 20 persen anggaran untuk pengembangan pendidikan. Perhatian serupa juga ditunjukkan oleh Goh Cok Tong dari Singapura. Setelah ia terpilih sebagai Perdana Menteri, ia mencanangkan program pembangunan SDM sebagai prioritas utama.
Bagaimana dengan Indonesia? Di negeri ini pendidikan bukan saja tidak diperhitungkan sebagai modal ekonomi untuk jangka panjang, tetapi juga tidak dikembangkan sebagai basis bagi modal sosial. Padahal, kedua aspek itu pada gilirannya (meminjam pandangan Paulo Freire) akan berperan menata masyarakat Indonesia-yang teralienasi dalam masa transisi dan krisis seperti sekarang-menjadi manusia mandiri dan kritis. 
Di sinilah pendidikan diharapkan berperan untuk melahirkan masyarakat baru yang kritis dan bermutu. Namun, untuk itu dibutuhkan sejumlah prasyarat, di antaranya perhatian yang sungguh-sungguh dan ketersedian dana yang memadai, yang ironisnya selama ini hal itu justru tidak mendapat prioritas; dikalahkan oleh kepentingan ekonomi jangka pendek!
MENJELANG pergantian abad lalu, Indonesia bukan satu-satunya negara yang dilanda krisis ekonomi. Ketika peristiwa itu terjadi, negara-negara seperti Korea Selatan, Thailand dan Malaysia juga mengalami hal serupa. Tetapi, mengapa mereka cepat pulih dan hanya Indonesia yang sulit bangkit dari terpaan badai krisis tersebut?
Bahkan keterpurukan yang berawal di bidang ekonomi itu kini kian menjadi-jadi, sehingga berkembang menjadi krisis multidimensi. Di tengah situasi ekonomi yang morat-marit dan kehidupan politik yang amburadul, tatanan budaya, nilai-nilai moral serta penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan pun ikut merosot. Keteladanan makin tipis, sementara di sisi lain kekerasan dan semangat untuk saling "memakan" makin muncul ke permukaan.
Terhadap berbagai terpaan itu, tokoh pendidikan Prof Dr Winarno Surakhmad dalam Rakerta PGRI Kalbar tanggal 10 February 2006 mengaku sampai terpaksa bertanya: apa betul kita-sebagai bangsa-selama ini telah mendapat pendidikan dalam arti kata yang sebenarnya? Kalau betul, mengapa hanya karena sebuah krisis lalu nilai-nilai hidup berbangsa yang diajarkan untuk dijunjung tinggi tiba-tiba rontok; sepertinya tidak ada lagi sisa-sisa yang menunjukkan bahwa kita pernah menjadi bangsa yang berbudaya luhur berpendidikan tinggi! Lantas, apa kontribusi pendidikan?
"Pendidikan, yang selama ini dijalankan sebagai persekolahan, ternyata tidak dapat memberikan solusi apa pun. Pendidikan yang kita berikan ternyata tidak dapat menyiapkan bangsa ini menjadi bangsa yang bermutu, khususnya untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan jiwa besar. Pendidikan juga tidak berhasil memberdayakan bangsa ini untuk menghormati perbedaan dan memecahkan pertikaian secara beradab. Dengan kata lain, pendidikan telah gagal di banyak hal," kata Winarno, mantan Rektor IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) yang selama beberapa tahun menjadi guru besar tamu di Universitas Brunei Darussalam.
Oleh karena itu, tidak usah heran bila kinerja pendidikan nasional dinilai rendah, jelek, dan memprihatinkan. Juga tidak aneh bila ada pendapat bahwa dunia pendidikan kita bukan saja tidak maju, tetapi justru mengalami kemunduran, bahkan mendekati kebuntuan. Dan kita tahu bahwa kebuntuan adalah musuh besar kemajuan. Menghadapi masa depan yang ditandai oleh persaingan yang makin keras, tak ada jalan lain yang bisa ditempuh kecuali berupaya meretas jalan buntu yang selama ini membelenggu. Dan itu menuntut suatu tekad untuk berubah secara mendasar dalam banyak hal, tidak hanya pada pemerintah melainkan juga pada masyarakat luas.
Paradigma pendidikan yang selama ini dianut, misalnya, ternyata "kropos" dan oleh karena itu perlu diubah. Mitos-mitos tentang masa lalu, dalam beberapa hal memang masih diperlukan, tetapi ia bukanlah yang utama. Pendidikan yang didasarkan atas paradigma lama, antara lain, dalam wujud lebih menekankan peran pendidikan pada pelestarian nilai-nilai masa lalu jelas tak bisa diandalkan untuk membangun masa depan.
Yang dibutuhkan adalah suatu sistem pendidikan yang berorientasi pada perintisan nilai-nilai baru. Suasana birokratis yang selama ini sangat kental dalam praksis pendidikan kita juga harus digeser ke suasana yang lebih longgar, sehingga birokrasi yang ada lebih difungsikan untuk memperlancar aliran tata kerja dan bukan justru berperan sebagai penghambat.
Visi pendidikan nasional juga perlu dirumuskan ulang, sehingga benar-benar visioner dalam perspektif masa depan yang sesungguhnya. Bukan seperti selama ini tampak seolah-olah visioner, tetapi sebenarnya feodal; ibarat garis lengkung yang isi dan pelaksanaannya serba seragam dan monolitik.
Dalam konteks ini pula kita diingatkan oleh Prof Dr Sofian Effendi, Ketua Program Magister Administrasi Publik UGM, bahwa sekaranglah saat yang tepat bagi bangsa ini untuk memulai sesuatu yang baru, khususnya dalam pengembangan SDM. "Sekarang kita (baru) menyadari begitu banyak kesalahan yang kita buat di masa lampau," katanya.
Semua itu tentu berpulang pada niat dan tekad yang sungguh-sungguh, khususnya dari para penentu kebijakan di negeri ini. Setelah dihadapkan pada kenyataan pahit di tahun-tahun terakhir ini, masih adakah kesadaran pada kita semua untuk tak sekadar menempatkan pendidikan sebagai atribut, tetapi benar-benar berpaling pada bidang pendidikan sebagai investasi masa depan bangsa?
Akan tetapi, dengan kesadaran bahwa investasi di bidang ini membutuhkan pengorbanan satu generasi untuk bisa memetik buahnya-sementara mental penguasa di negeri ini masih saja dibaluti kepentingan-kepentingan pragmatis jangka pendek-masih mungkinkah kita menitipkan harapan kepada mereka?.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar